Sekolah Itu Seharusnya Menjadikan Kita Manusia, Bukan Robot!

equilibrium-robot-artwork-by-daniel-arnold-mist

Membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, kita akan menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja Alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat Al-Qur’an memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnya diawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; “apakah kamu tidak memperhatikan?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak mendengar?”, “Apakah kamu tidak melihat?”. Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti “Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”, “Tidak dipahami kecuali oleh Ulul Albaab“. Demikianlah Mukjizat terakhir Rasul, yang selalu mengingatkan manusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikan segala hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

sumpah_pemuda_by_ayib-d5jlt57“Emang orang Indonesia harus makan pizza? Lalu mengapa orang Italia tidak kenal karedok?” Pertanyaan balik saya, ketika ada seseorang yang menyebutkan makan pizza adalah tren terkini dan dampak globalisasi. Jujur, saya mencurigai istilah globalisasi atau apalah itu sebagai penghalusan dari ekspansi politik ekonomi pangan, yang begitu mulusnya menggelincir seperti hipnosis terselubung, “Indonesia begitu kaya loh dengan puluhan varian ubi, hingga talas, ganyong, kimpul, dan berderet sumber karbohidrat lain. Jadi buat apa kita makan pizza?”

”Oh ya! pizza juga bisa lho dibuat dari bahan umbi!” Ya Tuhan, dipaksakan lagi. Malu kah bangsa ini makan ubi rebus?

Globalisasi tidak selayaknya membuat kita lupa sebagai orang Indonesia. Tidak semuanya harus sama dimana-mana. Kita indah, karena kita punya apa yang mereka tidak punya. Biarkan Jepang punya onigiri, kita punya lemper. Yang tidak boleh dan tidak etis, bila kita bilang lemper atau arem-arem isi oncom itu kampungan dan onigiri keren. Baca lebih lanjut

Kisah Monyet, Angin dan Negeri 4 Musim

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Alkisah, di sebuah hutan, tampak seekor monyet sedang bergelantungan di pepohonan. Tak jauh dari sana, ada sekelompok angin yang sedang bertiup. Ada angin topan, angin puting beliung, serta ada angin badai. Ketiga jenis angin itu sedang berdebat tentang siapa yang paling hebat di antara mereka.

Makin lama, adu mulut ketiga angin itu makin seru. Maka, karena tak ada yang mengalah, mereka pun sepakat untuk saling adu kekuatan. Mereka lalu melihat sekelilingnya. Dan tampaklah di dekat mereka, monyet yang sedang asyik bergelantungan itu. Ketiga angin pun sepakat adu kuat dengan berusaha menjatuhkan monyet dari pohon. Baca lebih lanjut

Hidupku, Adalah Hidup Yang Paling Indah

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.

Lewatlah sebuah motor di depan mereka. Berkatalah petani ini pada istrinya: “Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah.”

Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka. Baca lebih lanjut

Pantaskah Kita Berkeluh Kesah?

“…Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmatKu kepadamu; sebaliknya jika kamu mengingkari nikmat itu, tentu siksaanku lebih dahsyat. (QS Ibrahim [14]: 7)

Bagi yang memiliki akun sosmed aktif, pastinya seringkali menuliskan apa yang ada di pikirannya, bahkan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Otomatis orang-orang akan mengetahui apa yang dia pikirkan atau apa yang dia rasakan. Hanya saja, sangat disayangkan banyak dari pengguna sosmed (khususnya kalangan muda-mudi) yang isi statusnya mengenai masalah yang sedang dia hadapi, entah itu tentang perasaan, cinta, teman, keluarga, atau yang lainnya.

Padahal status dan cuitan di sosmed itu mencerminkan sifat seseorang. Jika seseorang itu sedikit-sedikit punya masalah update status: sedang galau update status, sedang sedih update status, pokoknya apa yang dilakukan dan rasakan langsung ditulis jadi status, seakan sosmed itu adalah obat dari segala keluh kesah dan galau. Sifat seperti inilah yang mencerminkan seseorang memiliki sifat tidak tegar atau kurang tabah dalam menjalani hidup. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quranul Karim. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS Al Ma’arij [70] : 19). Baca lebih lanjut

Menjadi Padi, Makin Berisi Semakin Merunduk

Sikap rendah hati, membuat kita lebih terbuka. Mau tetap belajar dan menerima hal baru. (Andrie Wongso)

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum, termahsyur dimana-mana. Semua orang memujinya. Kemanapun beliau pergi selalu disambut dengan teriakan penuh pujian. Ya! Bahkan beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus (Saifullah Al-Maslul).

khalidibnalDalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Lawannya lebih banyak dari 5 kali lipatnya. Namun, dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkan begitu mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun berada dalam puncak popularitas. Baca lebih lanjut

Aku Adalah Juara!

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS Al-Insyirah, 94: 1-8)

WinnerDalam hidup, setiap orang ingin menjadi sang juara. Bukan sekadar soal menjadi lebih unggul daripada orang lain, namun ini soal cara meraih tujuan yang hendak dicapai. Seorang juara selalu memiliki tujuan yang jelas.  Para juara tidak dibuat di arena. Arena hanya alat atau media untuk menjadi juara. Muhammad Ali, petinju paling berpengaruh di dunia pernah memberitahu resep menjadi juara. Ia berkata, bahwa para juara dibuat dari sesuatu yang ada di dalam diri mereka – sebuah hasrat, sebuah impian, sebuah visi. Mereka memiliki keterampilan dan kemauan, tetapi kemauanlah yang terbesar. Bukan hanya mengikuti pertandingan, karena akan percuma tanpa hasrat, impian, dan visi. Maka, tentukanlah tujuan hidupmu. Tentukanlah mimpi, cita-citamu dan gapailah. Terus jadikan setiap langkah hidup untuk mencapai tujuan itu. Baca lebih lanjut

Membangun Peradaban Dengan Islam

Indonesia selama ini dikenal dengan jumlah penduduk Islam terbesar di seluruh dunia bahkan mengalahkan populasi penduduk Islam di negara Arab Saudi. Saat ini populasi umat Islam di dunia berjumlah sekitar 23,4 persen dari total penduduk dunia dan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.

Peningkatan populasi umat Islam ini diikuti oleh negara-negara Islam lainnya seperti India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Turki, dan Maroko. Populasi umat Islam yang terus bergerak naik ini sangat memungkinkan untuk bangkitnya kembali peradaban Islam pada tahun 2045.

Mengapa tahun 2045? Tahun 2045 merupakan golden year untuk Indonesia sendiri karena pada tahun tersebut menjadi puncak dimana usia produktif penduduk Indonesia meningkat secara drastis. Banyaknya pemuda berlandaskan Islam saat ini memberikan angin segar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban. Baca lebih lanjut

Meraih Kejayaan dengan Membaca

6360308249342725132125989783_book

Meskipun dalam kondisi Ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis), wahyu yang pertama kali turun kepada Rasullulah saw adalah “Iqra!” atau “Bacalah!”

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq :1-5)

Pepatah mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Pepatah itu benar adanya. Ayat di atas menunjukkan bagaimana Allah swt telah mengutamakan kewajiban membaca bagi hamba-hambaNya. Karena dengan membaca setiap manusia dapat memahami dan mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya. Dan dengan membaca seseorang dapat memperoleh informasi. Sebuah jalan memahami ilmu pengetahuan dan menjadi bijaksana. Baca lebih lanjut

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

indonesia-merdeka

Indonesia memiliki hampir segalanya. Gunung tembaga dan emas, minyak bumi, kayu, sumber daya lautan, tanah subur, kecakapan buruh para rakyatnya dsb. Indonesia dijajah oleh Belanda diabad ke 16, dijarah oleh Barat selama ratusan tahun. Indonesia di hisap semua kekayaanya oleh negara Barat sehingga mereka mampu menjadi kuat dan besar seperti sekarang ini.

Sepertinya kini keadaan tak jauh berbeda. Hanya saja penjajahannya bukan lagi tampak secara fisik dengan berbagai penyiksaan dan pertumpahan darah. Akan tetapi penjajahan yang sistematis secara ekonomi. Misalnya saja, sekarang kita didikte oleh IMF, oleh bank dunia. Negeri yang sangat kaya ini diubah menjadi negara pengemis, negeri dengan lilitan hutang. Baca lebih lanjut