Mulutmu Harimaumu, Bertutur Kata yang Baik Atau Diam!

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau lebih baik diam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Alkisah, setelah kepemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir (era tabi’in), di kota Baserah, Irak, hiduplah seorang ulama besar yang bernama Imam Hasan Al-Bashri. Beliau adalah ulama tabi’in terkemuka. Meskipun menyandang predikat sebagai ulama besar, tapi beliau jauh dari sifat sombong. Kehidupan dunia dijalani dengan sederhana dan berbuat baik dengan semua orang dari semua kalangan. Oleh karena itu beliau dicintai oleh rakyat kecil dan disegani oleh orang-orang besar.

Imam Hasan Al Bashri tinggal di sebuah rumah susun yang sederhana. Beliau bertetangga dengan seorang nasrani yang tinggal dilantai atas rumahnya. Tetangganya ini, si nasrani, memiliki toilet  tempat buang air kecil yang letaknya persis di atas kamar tidur Sang Imam. Dia tidak tahu bahwa pipa saluran pembuangan air toiletnya sudah bocor. Jadi, setiap dia buang air kecil sebagian airnya merembes dan menetes ke kamar tidur Imam Hasan Al Bashri. Bisa kita bayangkan betapa menjijikkannya air yang jatuh itu.

Sebagian besar dari kita pastilah akan cepat-cepat memberitahukan tentang keadaan buruk itu kepada tetangga tersebut sesegera mungkin. Tak perlu menunggu sehari atau dua hari. Tentu saja kita akan dengan lancang mendatangi dan menggedor pintunya dengan raut muka yang tidak sedap dilihat karena marah. Apalagi orang yang melakukan itu adalah seorang nasrani, kaum minoritas pada masa itu.

Namun ternyata, tidak demikian halnya dengan imam besar yang zuhud ini. Beliau dengan sabar menghadapi air kotor, najis, yang berbau itu. Beliau meminta isterinya untuk menaruh ember kecil tepat di bawah tetesan air yang merembes itu untuk menampungnya. Bisa kita bayangkan betapa rendah hatinya sang Imam. Orang besar, terpandang, dan memiliki kedudukan mulia di masyarakat memilih menutup mulut dengan keadaan seperti itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kurang lebih hampir dua puluh tahun keadaan menjijikkan itu terus berlanjut tanpa diketahui oleh si Nasrani. Sang Imam dan keluarganya tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak ingin menyinggung perasaan tetangganya. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Suatu hari Sang Imam berhati mulai ini jatuh sakit. Sakitnya agak parah. Sehingga beliau hanya bisa berbaring saja di dalam kamarnya. Kabar tentang sakitnya sang imam besar ini tersebar di kota Baserah. Banyak orang yang datang membesuk dari berbagai kalangan masyarakat. Sebagai tetangga yang baik, tentu saja si nasrani juga ikut menjenguk keadaan Sang Imam. Dia langsung masuk ke kamar Imam Hasan Al Bashri.

Namun apa yang dilihatnya di dalam kamar sang imam sungguh tidak disangka-sangka. Ia melihat ada air yang terus-menerus menetes dari atas loteng ke dalam kamar sang Imam. Ia mengamati dengan seksama, ternyata tetesan air yang terkumpul dalam wadah itu adalah air kencing!

Si nasrani langsung menyadari bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang terletak persis diatas loteng kamar tidur sang imam. Dia betul-betul malu dan bercampur heran, kenapa Imam Hasan Al Bashri tidak memberitahukan keadaan itu padanya.

“Imam, sejak kapan Engkau bersabar dengan tetesan air kencing kami ini?” tanya si tetangga.

Imam Hasan Al Bashri diam tidak menjawab. Beliau hanya tersenyum. Beliau tidak mau membuat tetangganya itu merasa tidak enak.

“Imam, katakanlah dengan jujur sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing ini?” ulang  tetangganya lagi.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu,” jawab Imam Hasan Al Bashri dengan suara parau.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Imam Hasan Al Bashri berusaha bangun untuk duduk dengan segenap kekuatannya. Beliau berucap, “Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu memuliakan tetangga, beliau bersabda, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya…”

Si nasrani tertegun mendengar jawaban sang imam. Lama dia terdiam. Rasa sedih, malu, penasaran, tertarik, dan kagum berbuncah-buncah didadanya. Dia goyah, dan tak dapat menahan air mata yang keluar.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba si nasrani memeluk Imam Hasan Al Bashri dengan pelukan erat. Sambil terisak dan bercucuran air mata dia berbisik ketelinga Imam Hasan Al Bashri, “Ashadualla Ilahailallah, Wa’ashadu anna Muhammad Rasulullah…

“Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.” Jawab sang Imam menangis gembira sambil memeluk kembali si nasrani yang kini sudah menjadi mualaf.

***

Imam Hasan Al Bashri, orang besar terpandang, ulama tabi’in terkemuka, punya kedudukan mulia di masyarakat, dihormati, dan disegani, telah memberikan pelajaran kepada kita dengan contoh teladan yang mulia.  Beliau mampu berlaku sedemikian rendah hati demi memuliakan tetangganya. Dia bertahan dengan keadaan yang sangat menjijikkan itu dengan tetap mengunci mulutnya dan keluarganya agar tetangganya tidak tersinggung.

Orang bijak mengatakan, “Mulutmu, harimaumu”. Artinya, waspada terhadap mulut sendiri. Bila tak hati-hati, salah-salah yang keluar dari mulut justru akan mencelakai si empunya. Bak harimau yang tiba-tiba berbalik menerkam pawangnya. Ungkapan “Mulutmu Harimaumu” merujuk pada arti segala perkataan yang terlanjur dikeluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri. Memang masalah lisan ini dapat menimbulkan berbagai macam hal yang tidak diinginkan. Dari sekedar pertengkaran, perceraian, perkelahian, hingga pembunuhan bisa berasal dari lidah/ucapan yang tajam.

Sebagai makhluk sosial, tentu semua orang tidak bisa lepas dari interaksi dengan sesama. Siang dan malam kita pasti bertutur kata. Tak satu pun manusia yang bisa hidup tanpa berbicara. Berbicara merupakan media utama dari seluruh proses interaksi sosial. Baik buruknya proses interaksi sosial salah satunya dipengaruh oleh bagaimana kita bertutur kata. Karenanya, agar apa yang kita ucapkan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, lebih-lebih membahayakan orang lain baik di dunia maupun di akhirat, kita mesti cermat dalam berbicara.

Cermat dalam arti mengerti dengan baik bahwa kita hanya boleh berbicara yang memiliki kandungan manfaat, ilmu, atau nasehat, serta yang bisa menjernihkan sebuah permasalahan. Sekiranya kita tidak mengerti apa yang harus kita ucapkan sebaiknya berpikirlah lebih dulu, sebelum memutuskan untuk ikut berbicara.

Seringkali seseorang berbicara tanpa diawali proses berpikir dan tidak melalui pertimbangan sebelumnya. Tindakan seperti itu berpotensi mengundang masalah baru yang boleh jadi akan berlarut-larut, sehingga memperkeruh keadaan dan mengancam tali ukhuwah dengan sesama Muslim. Apabila hal ini terjadi maka tidak ada tempat bagi orang yang berbicara kecuali neraka. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan -baik atau buruknya-, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq ‘alaih)

Dengan lisan setiap orang dapat mengucapkan syahadat, sesuatu yang paling disukai Allah. Dengan lisan pula kita bershalawat, sesuatu yang juga disukai Allah. Dan jika kita mau dan mampu, dengan lisan pula kita bisa berkomunikasi dengan orang lain, sesuatu pekerjaan yang teramat susah bila dilakukan oleh mereka yang mengalami ketunaan. Itu pula sebabnya Nabi Musa, lantaran lidahnya yang cacat, selalu memohon kepada Allah dengan doanya yang amat populer di kalangan masyarakat Islam sampai kini: “Lepaskan kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS Thaahaa [20] 27-28) Beliau pun lalu memohon kepada Allah: “Saudaraku Harun lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataanku)…” (QS Al-Qashash [28]:34)

Di sisi lain Allah dan Rasul-Nya pun memperingatkan kita agar waspada dan sangat berhati-hati terhadap lisan. Bahwa lisanlah yang menjadi sumber, pangkal dan alat dari segala penyakit yang bisa saja tanpa disadari dan begitu ringannya sehingga mudah kita lakukan tanpa menganggapnya berbahaya. Lisan jualah yang menjadi pangkal dan sumber fitnah yang kejamnya lebih dari pembunuhan.

Ingatlah sewaktu kamu menerima kabar bohong itu dari mulut ke mulut, lalu kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan saja. Padahal ía di sisi Allah adalah besar.” (QS An-Nuur [24]: 15) Dari ayat ini saja segera tampak bahwa lisan memiliki sifat destruktif luar biasa pada saat ia menularkan kebohongan demi kebohongan, dan ironisnya kita menganggap hal itu sebagai sesuatu yang ringan-ringan saja.

Benar sabda Rasulullah saw, “Orang muslim adalah seseorang yang menyebabkan orang-orang muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangannya.” Penyair Al-Hasyimi menulis sebuah syair Arab yang termuat dalam kitab JawahirAl-Adab begini: Jarang orang tertimpa bencana karena tergelincir kakinya, Tetapi banyak orang tertimpa bencana karena tergelincir lidahnya. Jika kaki yang tergelincir, sembuhlah dengan segera, Jika lidah yang tergelincir, hilanglah kepala kita. Jika orang bijak mengatakan, “Mulutmu, harimau-mu”, maka Al-Hasyimi mengatakan, “Lidahmu, adalah ularmu. Jagalah dia jangan sampai mematukmu!”

Oleh karena itu, menjaga lisan dan kecermatan dalam berbicara mutlak harus kita upayakan. Kita perlu tahu secara pasti, kapan kita bicara, apa yang harus kita bicarakan, dan paling penting adalah manfaat apa yang akan diperoleh diri sendiri, yang mendengar dan orang lain, tatkala kita berbicara.

Wallahu’alam Bishawaab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s