Menjadi Besar Karena Menjadi Diri Sendiri Yang Apa Adanya

“seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya

memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti

memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan

kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi”

Puisi Karya Salim A. Fillah

Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras dan bani Adi nan jantan. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, bertanggungjawab dan ringan tangan turun gelanggang – dibawa Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentosa. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya.

Semua sifat nabi dan para sahabat memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali. Karena setiap orang punya watak dan ciri khasnya masing-masing. Ada dalam jiwa setiap manusia, sesuatu yang memang sudah menjadi pembawaan dan tidak mungkin kita ubah. Orang yang emosional bukan berarti tidak bisa menjadi orang baik. Seorang Umar selalu marah tapi beliau tahu dimana dan bagaimana caranya marah. Orang yang berakhlak mulia bukan berarti tidak marah. Intinya adalah pengendalian diri dalam hal menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah. Teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan mengikuti sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi, tak terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha” seperti yang Imam Asy Syafi’i pernah nyatakan dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain. Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

TIPS Mengubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

potensi-diriPerbedaan-perbedaan dan POTENSI adalah berbeda dalam setiap individu. Inti perbedaan-perbedaan antara satu orang lain dengan orang lainnya, yang mungkin nampak seperti kelemahan di mata orang lain, justru adalah, atau sebenarnya bisa menjadi KELEBIHAN kita!

Berdasarkan teori personality oleh Carl Jung, setiap orang terlahir dengan preferensi berbeda, dan preferensi yang terbentuk dari nature (alami), atau nurture (didikan/ pengaruh lingkungan) ini pada akhirnya menentukan gaya kerja, preferensi personality, bahkan potensi kita. Dan intinya, setiap tipe ini memiliki kekurangan kelebihannya sendiri- sendiri, tapi TIDAK ADA tipe yang ‘unggul’ secara umum dibandingkan tipe lainnya.

Memahami bahwa setiap orang berbeda, dan memahami bagaimana diri kita berbeda, adalah langkah pertama dalam mulai mengubah ‘kelemahan’ kita menjadi kelebihan.

Dikotomi 1: Ekstrovert VS Introvert

Seseorang bisa berbeda dalam caranya mendapatkan energi, dan bagaimana ia memusatkan perhatiannya. Artinya, seseorang yang cenderung ekstrovert prefer mendapatkan energinya dari ‘sumber luar’ dirinya, seperti orang lain, atau tindakan fisik. Sementara seseorang yang cenderung introvert, mengumpulkan energinya dari dalam dirinya, seperti merenung, berpikir, dan refleksi diri.

Dampaknya, seorang ekstrovert akan cenderung supel, suka banyak bicara, suka mencari perhatian, dan ekspresif. Sementara seorang introvert tampak diam, senang aktivitas pribadi, dan senang menyendiri. Dari mata introvert, ‘banyak ngoceh’ adalah salah satu kelemahan seorang ekstrovert, dan dari mata ekstrovert, terlalu diam dan kebanyakan mikir, adalah kelemahan seorang introvert.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang ekstrovert perlu mencari profesi dan posisi yang dia banyak bertemu dengan banyak orang, tempat dia bisa mengekspresikan dirinya, dan bertindak langsung secara fisik. Sementara seorang introvert perlu memberikan dirinya posisi dan situasi kerja dia bisa dengan tenang bekerja tanpa banyak gangguan luar, dan memanfaatkan kemampuan refleksi dirinya dengan optimal, seperti menulis.

Dikotomi 2: Intuitive VS Sensing

Dikotomi ini menentukan bagaimana seseorang menyukai informasi, bentuk informasi, atau data yang disukainya. Seorang intuitive senang gambaran besar, dan suka ‘kemungkinan- kemungkinan’ di masa depan. Saat seorang intuitive ingin mencoba hal baru dan selalu tertarik pada potensi masa depan, seorang sensing memiliki ketertarikan pada detail, pada hal-hal berurutan, dan pada fakta masa kini. “Yang real ajalah!” Sensing suka hal yang telah terbukti dan sudah tertulis.

Dari mata intuitive, kelemahan sensing adalah seseorang yang kebanyakan mikir ‘hal detail enggak perlu’, dan terlalu ngurut, sehingga, menurut mereka, “enggak kreatif”. Dari mata sensing, kelemahan intuitive adalah seseorang yang kebanyakan ‘mimpi’. Mereka melihat tipe intuitive sebagai seseorang yang melihat terlalu jauh tanpa fakta, gegabah, dan tidak teliti.

Tips Memperkuat Kelebihan: Tipe intuitive perlu menyadari kelebihannya sebagai visioner. Ia perlu mencari posisi dan rekan yang bisa membantunya mewujudkan visinya, atau bahkan mengoptimalkan kreatifitasnya Sementara seorang sensing perlu menyadari kekuatannya dalam detail dan data berurutan adalah kemampuan luar biasa dalam mewujudkan dan merealisasikan project, dengan membuat semacam patokan dan langkah- langkah proses.

Dikotomi 3: Feeling VS Thinking

Menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan, seorang feeling akan cenderung mengambil keputusan dengan mendekati keputusannya, dan melihat efeknya terhadap orang-orang yang terlibat. Ia cenderung menjaga perasaan orang lain, dan menghindari konfrontasi. Sementara seorang thinking adalah tipe to the point dan by the book. Dia akan mengambil keputusan yang adil dan ‘seharusnya’ menurut hukum.

Dari mata seorang feeling, tipe thinking sering terlihat terlalu galak, kurang empati, dan sering menyinggung orang lain tanpa disadarinya, walaupun sebenarnya ia hanya bertindak sesuai peraturan.

Sementara dari mata seorang tipe thinking, seorang feeling sering kali terlalu terlihat mudah tersinggung alias baper, ‘kebanyakan enggak enakan’, dan tidak tegas.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang tipe feeling akan sangat berfungsi optimal dalam posisi seperti PR, Human Relation, CSR, dan posisi- posisi yang membutuhkan interaksi dan menjaga hubungan dengan orang lain. Sementara seorang tipe thinking perlu mencari posisi dimana dia bisa membantu membuat peraturan, atau dalam langkah-langkah penegakan hukum dan prosedur.

Dikotomi 4: Judging VS Perceiving

Seorang judging adalah tipe yang rapi dan ingin mengatur serta meng- organize segalanya, semua serba terencana, dengan rencana tiga lapis yang dilakukan sesuai jadwal. Sementara, seorang perceiving cenderung go with the flow, tidak membuat rencana, atau membuat rencana ‘terbuka’.

Dari mata seorang judging, kelemahan tipe perceiving adalah seseorang yang ‘sembrono’ dan tidak teratur, seakan-akan anti kerapian, berantakan, dan seringkali terlambat, dan tidak suka keputusan.

Dari mata seorang perceiving, kelemahan tipe judging adalah terlalu kaku dan tidak dinamis. Atau seringkali dalam bahasa mereka, ‘boring’, dan tidak berwarna.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang tipe judging adalah pembuat rencana yang tajam dan akurat, dan dapat melaksanakan rencana dengan baik. Ia perlu mencari dan melakukan fungsi dan posisi planner, manajerial, atau sistem pengawasan. Sementara seorang tipe perceiving sebagai tipe yang jauh lebih dinamis, perlu mencari kegiatan dan pekerjaan yang tidak banyak mengikat, dan akan mengeluarkan potensinya dengan fungsi yang lebih terbuka dan bersifat pengembangan.

Kadang-kadang, kita tidak perlu menutupi semua kekurangan. Malah mungkin kadang, kita hanya perlu mengubahnya dan MENGOPTIMALKANNYA menjadi suatu kelebihan!

Pelajari kelemahan, karena siapa tahu dia menyembunyikan POTENSI terbesar kita!

Tanyakan pada diri Anda, “Apa tipe saya?” “Apa nilai positif dari ‘kelemahan’ saya yang lain?” dan “Bagaimana saya bisa mengembangkan ‘kelemahan’ ini jadi kelebihan?”

Untuk Selanjutnya, semoga kita bisa menjadi besar karena menjadi diri sendiri yang apa adanya.

gajah

Referensi:

Dedi Dahlan (2016). Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan. [online] Diakses 13 November 2016. Tersedia: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/09/28/224600226/mengubah.kekurangan.menjadi.kelebihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s