Project Based Learning (PjBL) & Problem Based Learning (PBL)

Oleh:

Nama            : Yoga Permana Wijaya

NPM              : 072614025

Matakuliah  : Pembelajaran IPA Terpadu

Dosen            : Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si.

 Logo_asli_Pakuan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

PASCA SARJANA UNIVERSITAS PAKUAN 2014

Source Presentasi : Presentasi PjBL & PBL – yoga.pptx

Pendahuluan

Pendidikan merupakan sebuah proses dimana kita mempersiapkan anak didik kita agar dapat survive menjalani kehidupannya kelak setelah dewasa. Akan tetapi di abad ke 21 ini, semakin banyak tantangan yang akan di lalui oleh mereka. Banyak hal yang berubah begitu cepat. Ilmu pengetahuan menjadi sangat cepat berubah, apa yang kita ajarkan saat ini dapat menjadi hal yang usang ketika mereka dewasa kelak. Belum lagi kompleksitas dan daya saing yang semakin besar. Pekerjaan yang ada saat ini beberapa tahun kedepan bisa jadi sudah tidak ada. Perangkat yang digunakan saat ini kemungkinan beberapa tahun kedepan sudah tidak digunakan lagi karena ditemukan perangkat baru yang lebih canggih dan praktis. Singkatnya kita mempersiapkan anak didik kita untuk masa depan yang bahkan kita sendiri tidak mengetahuinya.

Oleh karena itu, untuk dapat menghadapi tantangan yang semakin rumit ini, maka kita perlu mengubah paradigma pendidikan agar sesuai dengan perubahan di abad ini. Kita membutuhkan kemampuan manusia yang dapat cepat menyesuikan diri dalam perubahan, dari pasif menjadi aktif, dari sekedar menghafal menjadi berfikir, dari individu menjadi kolaboratif, dari menerima sesuatu yang sudah jadi menjadi menghasilkan hal yang baru. Singkatnya, semua perubahan yang begitu cepat ini menuntut agar anak didik kita dapat dengan cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Salah satu sikap dan kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menunjang semua itu adalah dengan mengajarkan mereka kemampuan dalam pemecahan masalah.

Tabel Perubahan Paradigma Pendidikan[1]

No Paradigma Lama Perubahan Paradigma
1. berpusat pada guru berpusat pada siswa
2. satu arah interaktif
3. isolasi lingkungan jejaring
4. siswa pasif siswa aktif-menyelidiki
5. maya/abstrak konteks dunia nyata
6. pribadi pembelajaran berbasis tim
7. luas perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan
8. stimulasi rasa tunggal stimulasi ke segala penjuru
9. alat tunggal alat multimedia
10. hubungan satu arah kooperatif
11. produksi massa kebutuhan pelanggan
12. usaha sadar tunggal jamak
13. satu ilmu pengetahuan pengetahuan disiplin jamak (multidisiplin)
14. kontrol terpusat otonomi dan kepercayaan
15. pemikiran faktual kritis
16. penyampaian pengetahuan pertukaran pengetahuan

 

Salah satu model pembelajaran yang mengajarkan anak didik kemampuan dalam memecahkan masalah selain meningkatkan pengetahuan mereka adalah PjBL (Project Based Learning) & PBL (Problem Based Learning). Baik Project Based Learning dan Problem Based Learning dalam banyak literatur sebenarnya memiliki singkatan yang sama yaitu “PBL”. Akan tetapi untuk membedakannya, dalam tulisan ini Project Based Learning disingkat “PjBL” dan Problem Based Learning disingkat “PBL”. PjBL & PBL sangat cocok diterapkan untuk menyiapkan anak didik kita ke dalam berbagai tantangan di abad ke 21 ini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas dan menjabarkan beberapa hal terkait dengan PjBL & PBL dalam tulisan ini.

Dalam PjBL & PBL siswa dibagi menjadi kelompok kecil, mereka bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan materi pelajaran dan kehidupannya sehari-hari. PjBL&PBL merupakan proses aktif dan iteratif yang dapat membuat siswa berusaha mengidentifikasi apa yang mereka ketahui dan yang lebih penting mengidentifikasi apa yang belum mereka ketahui. Motivasi untuk menyelesaikan permasalahan dan membangun proyek adalah motivasi untuk mencari dan mengaplikasikan pengetahuan. PjBL & PBL dapat dipadukan dengan berbagai model pembelajaran dan dapat diimplementasikan kedalam berbagai subjek materi pelajaran.[2]

Gejala umum yang terjadi pada siswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap jawaban tersebut. Bila keadaan ini berlangsung terus maka siswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata (real world problems). Dengan kata lain, pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. Oleh sebab itu, model PjBL & PBL mungkin dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong siswa berpikir dan bekerja ketimbang menghafal dan bercerita.

Apa Itu PjBL?

Pembelajaran berbasis proyek telah dikaitkan dengan “situated learning” dari perspektif James G. Greeno (2006)[3] dan pada teori konstruktivis Jean Piaget. Sebuah deskripsi yang lebih tepat dari proses PjBL yang diberikan oleh Blumenfeld et al. mengatakan bahwa, “Pelajaran berbasis proyek adalah perspektif yang komprehensif berfokus pada pengajaran dengan melibatkan siswa dalam penyelidikan. Dalam kerangka ini, siswa mengejar solusi untuk permasalahan yang tidak sederhana dengan mengajukan pertanyaan dan menyempurnakannya, debat pendapat, membuat prediksi, merancang rencana atau percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mengkomunikasikan ide-ide mereka dan temuan kepada orang lain, mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru, dan menciptakan artefak” [4]. Dasar PjBL terletak pada keautentikan atau kehidupan nyata (real word) dalam penerapan penelitian. Siswa bekerja sebagai tim diberi “pertanyaan mengemudi” untuk menanggapi atau menjawab, kemudian diarahkan untuk menciptakan sebuah artefak untuk menyajikan pengetahuan yang mereka peroleh. Artefak tersebut termasuk berbagai media seperti tulisan, seni, gambar, representasi tiga dimensi, video, fotografi, atau presentasi berbasis teknologi.

John Dewey awalnya mempromosikan ide “learning by doing.” Dalam My Pedagogical Creed (1897) Dewey menyebutkan keyakinannya mengenai pendidikan: “Guru ada di sekolah tidak untuk memaksakan ide-ide tertentu atau untuk membentuk kebiasaan tertentu pada anak, tetapi ada sebagai anggota masyarakat untuk memilih pengaruh yang akan mempengaruhi anak dan untuk membantu anak dalam langkah yang benar… saya percaya, karena itu, dalam apa yang disebut kegiatan ekspresif atau konstruktif sebagai pusat korelasi”[5]. Penelitian Pendidikan telah lebih maju mengembangkan ide ini menjadi metode yang dikenal sebagai “pembelajaran berbasis proyek.” Blumenfeld & Krajcik[6] mengutip studi oleh Marx et al. (2004), Rivet & Krajcki (2004) dan William & Linn (2003) menyatakan bahwa “Penelitian telah menunjukkan bahwa siswa di kelas pembelajaran berbasis proyek mendapatkan skor yang lebih tinggi daripada siswa di kelas tradisional”.

PjBl (project-based learning) adalah model pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran disekitar proyek[7]. Proyek adalah tugas yang kompleks, berdasarkan pertanyaan menantang atau masalah, yang melibatkan siswa dalam desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau kegiatan investigasi; memberikan siswa kesempatan untuk bekerja relatif otonom selama jangka waktu yang diperpanjang; dan berujung pada produk yang realistis atau presentasi[8].

Di dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa menjadi terdorong lebih aktif di dalam belajar mereka. Produk yang dibuat siswa selama proyek memberikan hasil yang secara otentik dapat diukur oleh guru atau instruktur di dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, guru atau instruktur menjadi pendamping, fasilitator, dan dituntut untuk memahami pikiran siswa.

Ketika siswa bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya, dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. Di dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.

Kriteria Proyek dalam PjBL

Suatu proyek dalam model pembelajaran PjBL memiliki lima kriteria, Kelima kriteria tersebut yaitu sentralitas (centrality), pertanyaan mengemudi (driving question), investigasi konstruktif (constructive investigations), otonomi (autonomy) dan realisme (realism).[9]

Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, proyek adalah strategi pembelajaran; siswa mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek tersebut memberi ilustrasi, contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik yang diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Akan tetapi, menurut kriteria di atas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan di luar kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis Proyek.

Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau masalah, yang mendorong siswa menjalani dengan kerja keras konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. Definisi proyek (bagi siswa) harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam[10]. Biasanya dilakukan dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik, atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin, tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar siswa, sepadan dengan aktivitas, produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka, harus digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual [11].

Proyek melibatkan siswa dalam investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, discovery, atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek yang memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian: pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada pihak siswa[12]. Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat kesulitan” bagi anak, atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan, dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud. Membersihkan peralatan laboratorium mungkin sebuah proyek, akan tetapi mungkin bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek.

Proyek mendorong siswa sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru, tertuliskan dalam naskah, atau terpaketkan. Latihan laboratorium bukanlah contoh Pembelajaran Berbasis Proyek, kecuali jika berfokus pada masalah dan merupakan inti pada kurikulum. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek tidak berakhir pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau mengambil jalur (prosedur) yang telah ditetapkan sebelumnya. Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat rigid, dan tanggung jawab siswa daripada proyek tradisional dan pembelajaran tradisional.

Proyek adalah realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada siswa. Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang dimainkan siswa, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator yang bekerja dengan siswa dalam proyek, produk yang dihasilkan, audien bagi produk-produk proyek, atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai. Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif), dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.

Pembelajaran berbasis proyek bisa menjadi bersifat revolusioner di dalam isu pembaruan pembelajaran. Proyek dapat mengubah hakikat hubungan antara guru dan siswa. Proyek dapat mereduksi kompetisi di dalam kelas dan mengarahkan siswa lebih kolaboratif daripada kerja sendiri-sendiri. Proyek juga dapat menggeser fokus pembelajaran dari mengingat fakta ke eksplorasi ide.

Tahapan PjBL

Di dalam pelaksanaannya, model pembelajaran berbasis proyek memiliki sintaks yang menjadi ciri khasnya dan membedakannya dari model pembelajaran lain seperti model pembelajaran penemuan (discovery learning model) dan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning model). Adapun langkah-langkah itu adalah; (1) menentukan pertanyaan dasar (Essential question); (2) membuat desain proyek (Designing Project Plan); (3) menyusun penjadwalan (Creating Schedule); (4) memonitor kemajuan proyek (Monitor the progress); (5) penilaian hasil (Assess the outcome); (6) evaluasi pengalaman (Evaluate the experiment).

Model pembelajaran berbasis proyek selalu dimulai dengan menemukan apa sebenarnya pertanyaan mendasar, yang nantinya akan menjadi dasar untuk memberikan tugas proyek bagi siswa (melakukan aktivitas). Tentu saja topik yang dipakai harus pula berhubungan dengan dunia nyata. Selanjutnya dengan dibantu guru, kelompok-kelompok siswa akan merancang aktivitas yang akan dilakukan pada proyek mereka masing-masing. Semakin besar keterlibatan dan ide-ide siswa (kelompok siswa) yang digunakan dalam proyek itu, akan semakin besar pula rasa memiliki mereka terhadap proyek tersebut. Selanjutnya, guru dan siswa menentukan batasan waktu yang diberikan dalam penyelesaian tugas (aktivitas) proyek mereka.

Dalam berjalannya waktu, siswa melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari persiapan pelaksanaan proyek mereka hingga melaporkannya sementara guru memonitor dan memantau perkembangan proyek kelompok-kelompok siswa dan memberikan pembimbingan yang dibutuhkan. Pada tahap berikutnya, setelah siswa melaporkan hasil proyek yang mereka lakukan, guru menilai pencapaian yang siswa peroleh baik dari segi pengetahuan (knowledge) terkait konsep yang relevan dengan topik, hingga keterampilan dan sikap yang mengiringinya. Terakhir, guru kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksi semua kegiatan (aktivitas) dalam pembelajaran berbasis proyek yang telah mereka lakukan agar di lain kesempatan pembelajaran dan aktivitas penyelesaian proyek menjadi lebih baik lagi.

Apa Itu PBL?

PBL di kembangkan oleh McMaster University School of Medicine di Canada pada tahun 1960 oleh Howard Barrow dan koleganya[13]. Kini PBL telah menyebar dan digunakan diseluruh dunia. PBL didefinisikan oleh Finkle dan Torp sebagai “A curriculum development and instructional system that simultaneously develops both problem solving strategies and disciplinary knowledge bases and skills by placing students in the active role of problem solvers confronted with an ill-structured problem that mirrors real-world problems”[14]. “Kurikulum dan sistem pembelajaran yang secara bersamaan mengembangkan strategi pemecahan masalah sekaligus basis disiplin pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan siswa berperan aktif dalam pemecahan masalah, yang dengannya siswa dihadapkan dengan masalah yang ill-sructured, dimana masalah tersebut mencerminkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari”.

PBL (Problem-based learning) merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa secara aktif belajar melalui pemecahan masalah. Yang menjadi esensi dari PBL adalah siswa dituntut belajar mengenai strategi berfikir sekaligus belajar materi pelajaran, melalui pemecahan masalah yang sesuai dengan permasalah kehidupan nyata. Permasalahan dunia nyata (real world) inilah yang membuat PBL menjadi menarik dan membuat tingginya tingkat minat siswa[15]. Sifatmetode inimerangsangrasa ingin tahu danmendorongketerlibatan. Namun, Alasan utamaPBLefektifadalah karena membuat siswamenggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Tidak sepertihanyamemecahkan teka-tekiyang ditawarkanoleh guru, menemukan jawabanuntukmasalah di dunia nyatamemilikifaktortambahan yangmemuaskandalam artibahwasiswamembuatkontribusi.

Barrow mendefiniskan model pembelajaran PBL sebagai berikut:

  1. Pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning);
  2. pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil, idealnya 6-10 orang;
  3. guru bertindak sebagai fasilitator atau tutor yang membimbing siswa;
  4. permasalah merangsang pembelajaran berdasarkan fokus yang dibangun dan ditentukan oleh kelompok ;
  5. permasalahan adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah yang merangsang proses kognitif;
  6. pengetahuan baru diperoleh melalui diri pribadi siswa (self directed learning).[16]

Lebih lanjut Boud dan Felleti[17], Fogarty[18] menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured atau open ended melalui stimulus dalam belajar. PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1) belajar dimulai dengan suatu masalah, 2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa, 3) mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, 4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, 5) menggunakan kelompok kecil, 6) menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Tujuan dari PBL adalah membantu siswa membangun pengetahuan secara fleksibel, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah yang efektif, belajar mandiri, keterampilan berkolaborasi dan meningkatkan motivasi.

Dari uraian diatas maka disimpulkan, tugas dari seorang guru dalam PBL adalah sebagai instruktur (tutor) yang memfasilitasi siswa, memberikan dorongan, membimbing, dan memantau proses pembelajaran[19], menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Guru harus membangun rasa percaya diri siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, dan memberikan arahan agar siswa mencapai pemahaman dalam belajar.

Dengan PBL, siswa dapat meningkatkan kemampuan dalam berbagai macam keterampilan (skill) seperti, menyelesaikan permasalahan, penelitian, dan keterampilan sosial. Karakterisitik PBL bagi siswa adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar;
  2. Membangun keterampilan berfikir kritis, menulis, dan berkomunikasi;
  3. Meningkatkan retensi dari sebuah informasi;
  4. Mendukung model belajar sepanjang hayat;
  5. Mendemonstrasikan kekuatan dalam bekerja sama.

PBL menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang siswa temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer[20]. Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi secara inkuiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.

Kriteria Permasalahan Yang Dipecahkan Dalam PBL

Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian siswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa.

Menurut Arends[21], pertanyaan dan masalah yang diajukan guru kepada siswa dalam PBL haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Autentik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu;
  2. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya akan menyulitkan penyelesaian siswa itu sendiri;
  3. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa;
  4. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia.  Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan;
  5. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

Tahapan PBL

Sintaks Problem based learning adalah sebagai berikut: 1) Mengorientasi peserta didik pada masalah; 2) Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran; 3) Membimbing Penyelidikan Mandiri; 4) Mengembangkan dan Menyajikan Karya; 5) Analisis dan Evaluasi.

Sedangkan tahap-tahap pemecahan masalah dalam PBL adalah sebagai berikut:

  1. penyampaian ide (ideas);
  2. penyajian fakta yang diketahui (known facts);
  3. mempelajari masalah (learning issues);
  4. menyusun rencana tindakan, (action plan); dan
  5. evaluasi (evaluation).

Tahap 1: Penyampaian Ide (Ideas)

Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). Siswa merekam semua daftar masalah (gagasan, ide) yang akan dipecahkan. Mereka kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang dikemukakan atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan dipecahkan (masalah aktual, atau masalah yang relevan dengan kurikulum), dan menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah.

Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts)

Pada tahap ini, mereka diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai dengan masalah yang telah diajukan. Tahap ini membantu mengklarifikasi kesulitan yang diangkat dalam masalah. Tahap ini mungkin juga mencakup pengetahuan yang telah dimiliki oleh mereka berkenaan dengan isu-isu khusus.

Tahap 3: Mempelajari Masalah (Learning Issues)

Siswa diajak menjawab pertanyaan tentang, “Apa yang perlu kita ketahui untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?”. Setelah melakukan diskusi dan konsultasi, mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan informasi. Siswa melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih dapat dipakai. Seringkali, pada saat para siswa menyampaikan masalah-masalah, mereka menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah.

Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)

Pada tahap ini, siswa diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka. Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana) apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saran-saran untuk memecahkan masalah.

Tahap 5: Evaluasi

Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana siswa dan evaluator menilai produk (hasil akhir)   proses, 2) bagaimana mereka menerapkan tahapan proses belajar mengajar untuk bekerja melalui masalah, dan 3) bagaimana siswa akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Evaluator menilai penguasaan bahan-bahan kajian pada tahap tersebut melalui siswa.

Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada   pemecahan masalah oleh siswa dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Untuk menilai hasil ini dapat dipakai alat dengan sebuah rubrik. Rubrik dipakai sebagai suatu alat pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori, misalnya: 1) batas waktu, 2) organisasi tugas (proyek), 3) kebakuan bahasa, 4) kemampuan analisis 5) kemampuan mencari sumber pendukung (penelitian, termasuk kajian literatur), 6) kreativitas (uraian dan penalaran), dan 7) bentuk penampilan penyajian.

Penilaian PjBL & PBL

Dalam PjBL & PBL, perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan deklaratif/faktual, tetapi juga perolehan pengetahuan imperatif/prosedural. Oleh karena itu penilaian tidak hanya cukup dengan tes. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut, penilaian ini antara lain:

  1. asesmen kerja
  2. asesmen autentik
  3. portofolio.

Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana siswa menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. Airasian dalam Nuryenti[22] menyatakan bahwa penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka disamping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan siswa dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya, bagaimana cara belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan siswa akan mudah beradaptasi.

Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. O’Malley dan Pierce[23] mendefinisikan authentic assesment sebagai bentuk penilaian di kelas yang mencerminkan proses belajar, hasil belajar, motivasi, dan sikap terhadap kegiatan pembelajaran yang relevan. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan siswa yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Marzano et al[24] mengemukakan bahwa penilaian dengan portfolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam pendekatan PjBL & PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.

  1. Self-assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh siswa itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh siswa itu sendiri dalam belajar.[25]
  2. Peer-assessment adalah penilaian di mana siswa berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya[26]

Penilaian pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik merupakan bagian yang utuh dengan pembelajaran. Bertolak dari pandangan ini dan mencermati tahapan yang harus dilalui siswa dalam belajar dengan model PjBL & PBL, maka penilaian PjBL & PBL dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Oleh karenanya, penilaian pembelajaran dilaksanakan secara nyata dan autentik. Lebih lanjut dikemukakan tentang penilaian yang relevan antara lain sebagai berikut.

  1. Penilaian kinerja siswa

Pada penilaian kinerja ini, siswa diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu lagu, atau melukis suatu gambar.

  1. Penilaian portofolio siswa

Portofolio adalah suatu kumpulan sistematis hasil-hasil pekerjaan seseorang[27].Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam suatu periode tertentu. Informasi perkembangan siswa dapat berupa hasil karya terbaik siswa selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan, atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Dari informasi perkembangan itu siswa dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan siswa terus berusaha memperbaiki diri.

Penilaian dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment.

  1. Penilaian potensi belajar

Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar siswa yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. Hal itu merupakan pengaruh dari ide Vigotsky tentang ZPD (Zone Proximal Development) yaitu bahwa pada dasarnya siswa dapat mengerjakan tugas-tugas yang belum pernah dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan siswa untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.

  1. Penilaian usaha kelompok

Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PjBL & PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan siswa dengan temannya.

Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivisme yang menekankan kebutuhan siswa untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi yang bermakna[28].

Penilaian dalam PjBL & PBL tentunya tidak hanya kepada hasilnya saja tetapi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. National Research Council (NRC)[29] memberikan tiga prinsip berkaitan penilaian dalam PjBL & PBL, yaitu yang berkaitan dengan konten, proses pembelajaran, dan kesamaan. Lebih jelasnya sebagai berikut:

  1. Konten: penilaian harus merefleksikan apa yang sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh siswa;
  2. Proses pembelajaran: penilaian harus sesuai dan diarahkan pada proses pembelajaran;
  3. Kesamaan: penilaian harus menggambarkan kesamaan kesempatan siswa untuk belajar.

Menurut Waters and McCracken[30] penilaian yang dilakukan harus dapat :

  1. Menyajikan situasi secara otentik;
  2. Menyajikan data secara berulang-ulang;
  3. Memberikan peluang pada siswa untuk dapat mengevaluasi dan merefleksi pemahaman dan kemampuannya sendiri;
  4. Menyajikan laporan perkembangan kegiatan siswa.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam PjBL & PBL tidak hanya kepada hasil akhir tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah penilaian proses. Penilaian ini bisa didasarkan pada jenis penilaian otentik (autentic assessment) dimana penilaian difokuskan terhadap proses belajar. Oleh karena itu, peran guru dalam proses PjBL & PBL tidak pasif tetapi harus aktif dalam memantau kegiatan siswa serta mengontrol agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Sementara itu, untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar yang telah diperoleh siswa, guru pun perlu untuk mengadakan tes secara individual. Jadi penilaian dilakukan secara kelompok juga individual.

Menurut Reys, et.al.[31], beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah : 1) observasi, 2) inventori dan ceklis, dan 3) paper and pencil test. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik[32] berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : 1) observasi, 2) jurnal metakognitif, 3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph), test, portofolio. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda, masalah masalah terbuka (open ended), dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Tes kinerja ini, untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. Rubrik dipakai sebagai suatu alat pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori, misalnya: 1) batas waktu, 2) organisasi tugas (proyek), 3) segi (kebakuan) bahasa, 4) kemampuan analisis, telaah, 5) kemampuan mencari sumber pendukung (penelitian, termasuk kajian literatur), 6) kreativitas (uraian dan penalaran), dan 7) bentuk penampilan penyajian.

Keunggulan PjBL & PBL

  1. Dengan PjBL & PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan;
  2. Dalam situasi PjBL & PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung; dan
  3. PjBL & PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Kerugian Menggunakan PjBL & PBL

PjBL & PBL adalah alat yang sangat baik untuk membantu siswa dalam memperluas dan memperbaiki pembelajaran dalam konsep mereka. Namun, seperti belajar penemuan, siswa harus memiliki pengetahuan kerja istilah, fakta, dan statistik, serta arah, sebelum mereka dapat mengatasi masalah tersebut. Pengetahuan kerja tersebut dapat diberikan melalui ceramah, atau instruksi langsung. PjBL & PBL paling baik digunakan ketika guru sedang mencari jalan untuk membantu siswa memahami makna dari konsep yang lebih besar melalui inisiatif sendiri dan bekerja. Oleh karena itu, PjBL & PBL digunakan pada titik dalam pelajaran ketika siswa diharapkan memahami arti penting dari konsep yang diajarkan.

Peneliti pendidikan terkemuka telah meninjau apa yang mereka gambarkan sebagai studi penelitian dengan menggunakan metodologi kualitas dan menyimpulkan bahwa dalam PjBL & PBL kurang efektif dibandingkan dengan instruksi langsung. Ada dua hal sebagai pendukung masalah ini: 1 ) hasil penelitian , 2) pengamatan bahwa penelitian yang mendukung PjBL & PBL seringkali bias secara metodologis.[33]

Meskipun tidak ada kelemahan menggunakan PjBL & PBL yang mudah terlihat, seorang guru harus berhati-hati sebelum menggunakan PjBL & PBL dalam pembelajaran. Beberapa faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut[34]:

  1. Apabahan dan sumber daya yang akan diperlukanuntuk melaksanakanpembelajaran, danapakah gurumemiliki kemampuan untukmembuat siwa menjadisiaptepat waktu?. Perencanaanjangka panjang dapatmencegah masalah ini. Lihatlahproyeksecara menyeluruhdanmembuat daftarbahan dansumber daya yang dibutuhkan.
  2. Seberapa baik PjBL & PBLberlaku untuktopiktertentu, dan apakah hal itusejajar denganstandar dalam kurikulum ?. Ketika merancangrencana pelajaranmingguan atau bulanan, selaraskan dengan kurikulum standar; jangan menungguharipelajaran.
  3. Sepertidalam metodepembelajaran kooperatif, anggota timsering tidak bekerjasama dengan baikdan biasanyaberada dalamkonflikbeban kerja. Cobalahuntuk menulistimdananggota yangbervariasi sesuai dengan kemampuandan gender;selalu ingatbahwa keragamanadalahtujuan.
  4. Beberapa siswaakan mengalami kesulitanmemahami materiatau mengorganisirdiri mereka agar cukup baikuntuk memulaiproyek ataupemecahan masalah. Maka guru dituntut untuk Bekerja sama denganguruyang lain dan tenaga kependidikan; Pastikan untuk berkoordinasidenganguru BK mengenai siswa yangsedang berjuang. Semakin lengkap informasiguru, semakinlebih siap untuk membantu siswanya.

Persamaan & Perbedaan PjBL & PBL

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (project-based learning) mirip dengan pendekatan belajar berbasis masalah (problem-based learning) yang awalnya berakar pada pendidikan medis (kedokteran). Pendidikan medis menaruh perhatian besar terhadap fenomena praktisi medis muda yang memiliki pengetahuan faktual cukup tetapi gagal menggunakan pengetahuannya saat menangani pasien sungguhan[35]. Setelah melakukan pengkajian bagaimana tenaga medis dididik, pendidikan medis mengembangkan program pembelajaran yang men-cemplung-kan siswa ke dalam skenario penanganan pasien baik simulatif ataupun sungguhan. Proses ini kemudian dikenal sebagai pendekatan problem-based learning. Kini, problem-based learning diterapkan secara luas pada pendidikan medis di negara-negara maju.

Karena kemiripannya itu, dalam literatur istilahnya sering kali dipertukarbalikkan. Keduanya menekankan lingkungan belajar siswa aktif, kerja kelompok (kolaboratif), dan teknik evaluasi otentik (authentic assessment). Perbedaannya terletak pada perbedaan objek. Kalau dalam problem-based learning siswa lebih didorong dalam kegiatan yang memerlukan perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data (berhubungan dengan proses diagnosis pasien); maka dalam project-based learning siswa lebih didorong pada kegiatan desain: merumuskan job, merancang (designing), mengkalkulasi, melaksanakan pekerjaan, dan mengevaluasi hasil. Seperti didefinisikan oleh Buck Institute fo Education[36], bahwa belajar berbasis proyek memiliki karakteristik: (a) siswa membuat keputusan, dan membuat kerangka kerja, (b) terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya, (c) siswa merancang proses untuk mencapai hasil, (d) siswa bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan, (e) melakukan evaluasi secara kontinu, (f) siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan, (g) hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya, dan (i) kelas memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.

Meskipun banyak kemiripan, project- dan problem-based learning bukan pendekatan yang identik. Project-based learning secara khusus dimulai dengan produk akhir atau “artifact” di dalam pikiran, produksi tentang sesuatu yang memerlukan keterampilan atau pengetahuan isi tertentu yang secara khusus mengajukan satu atau lebih problem yang harus dipecahkan oleh siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek menggunakan model produksi: Pertama, siswa menetapkan tujuan untuk pembuatan produk akhir dan mengidentifikasi audien mereka. Mereka mengkaji topik mereka, mendesain produk, dan membuat perencanaan manajemen proyek. Siswa kemudian memulai proyek, memecahkan masalah dan isu-isu yang timbul dalam produksi, dan menyelesaikan produk mereka. Siswa mungkin menggunakan atau menyajikan produk yang mereka buat, dan idealnya mereka diberi waktu untuk mengevaluasi hasil kerja. Proses belajarnya berlangsung otentik, mencerminkan kegiatan produksi dunia nyata, dan konstruktivistik, menggunakan pendekatan dan ide-ide siswa untuk menyelesaikan tugas yang mereka tangani.

Kesimpulan

PjBL & PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari materi pelajaran, dan keterampilan intelektual dan belajar menjadi siswa yang otonom. Baik Pembelajaran berbasis proyek maupun pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi pada masalah. Hasil dari PjBL adalah artefak dan hasil dari PBL adalah penyelesaian masalah.

Baik PjBL dan PBL memiliki prinsip yang hampir sama, walaupun merupakan model pembelajaran yang berbeda. Konsep dan karakteristik project-based learning dengan problem based learning seringkali saling dipertukarkan dalam penggunaan istilah ini. Kemiripan konsep kedua pembelajaran itu, dan penggunaan singkatan yang sama “PBL”, menghasilkan kerancuan di dalam leteratur dan penelitian meskipun sebenarnya di antara keduanya berbeda.

Project-based learning dan problem-based learning memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Keduanya adalah model pembelajaran yang dimaksudkan untuk melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik dan dunia nyata agar dapat memperluas belajar mereka. Siswa diberi tugas proyek atau problem yang open-ended dengan lebih dari satu pendekatan atau jawaban, yang mensimulasikan situasi profesional (situasi dunia nyata). Kedua pembelajaran ini juga didefinisikan sebagai student-centered, dan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator. Siswa dilibatkan dalam project- atau problem- based learning yang secara umum bekerja di dalam kelompok secara kolaboratif, dan didorong mencari berbagai sumber informasi yang berhubungan dengan proyek atau problem yang dikerjakan. pembelajaran ini menekankan pengukuran hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk kerja (performance-based assessment).

Referensi

[1] BNSP (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI. BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN.

[2] http://www.udel.edu/inst/why-pbl.html, why PBL? [online] diakses 14 Oktober 2014.

[3] Greeno, J. G. (2006). Learning in activity. In R. K. Sawyer (Ed.), The Cambridge handbook of the learning sciences (pp. 79-96). New York: Cambridge University Press

[4] Blumenfeld, Phyllis C. Blumenfeld, Elliot Soloway, Ronald W. Marx, Joseph S. Krajcik, Mark Guzdial, and Annemarie Palincsar (1991), EDUCATIONAL PSYCHOLOGIST, 26(3&4) 369-398 “Motivating Project-Based Learning: Sustaining the Doing, Supporting the Learning.”.

[5] John Dewey (1997). Education and Experience. New York. Touchstone

[6] Sawyer, R. K. (2006) The Cambridge Handbook of the Learning Sciences. New York: Cambridge University Press

[7] Thomas, John W. (2000).A REVIEW OF RESEARCH ON PROJECT-BASED LEARNING. [online] diakses 5 November 2014. Tersedia: http://www.bie.org/research/study/review_of_project_based_learning_2000

[8] Jones, B. F., Rasmussen, C. M., & Moffitt, M. C. (1997). Real-life problem solving.: A collaborative approach to interdisciplinary learning. Washington, DC: American Psychological Association.

[9] Thomas, John W. (2000).A REVIEW OF RESEARCH ON PROJECT-BASED LEARNING. [online] diakses 5 November 2014. Tersedia: http://www.bie.org/research/study/review_of_project_based_learning_2000

[10] Barron, B.J., Schwartz, D.L., Vey, N.J., Moore, A., Petrosino, A., Zech, L., Bransford, J. D., & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt. (1998). Doing with Understnading: Lessons from Research on Problem- and Project-Based Learning. The Journal of the Learning Science, 7, 271—311.

[11] Blumenfeld, P.C., E. Soloway, R.W. Marx, J.S. Krajcik, M. Guzdial, and A. Palincsar. (1991). Motivating Project-Based Learning: Sustaining the Doing, Supporting the Learning. Educational Psychologist, 26(3&4), 369—398.

[12] Bereiter, C., & Scardamalia, M. (1999). Process and Product in PBL Research. Toronto: University of Toronto.

[13] Neville, Alan J. (2009). Problem-Based Learning and Medical Education Forty Years on. Medical Principles and Practice 18 (1): 1–9

[14] Finkle, S.L. y Torp, L.L., (1995). Introductory Documents. Illinois Math and Science Academy.

[15] Pearsonhighered.com. Teaching for Success: Methods and Models. [online] tersedia: http://www.pearsonhighered.com/samplechapter/0131149903.pdf diakses 24-10-2014

[16] Barrows, Howard S. (1996). Problem-based learning in medicine and beyond: A brief overview. New Directions for Teaching and Learning 1996 (68): 3.

[17] Boud, D. & Felleti, G.I. (1997). The challenge of problem based learning. London: Kogapage

[18] Fogarty, R. (1997). Problem-based learning and other curriculum models for the multiple intelligences classroom. Arlington Heights. Illionis: Sky Light.

[19] Schmidt, Henk G; Rotgans, Jerome I; Yew, Elaine HJ (2011). The process of problem-based learning: What works and why. Medical Education 45 (8): 792–806

[20] Ibrahim, Muslimin dan Nur (2000). Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: UNESA.

[21] Abbas, Nurhayati (2000). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Beroriantasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction). Program Studi Pendidikan Matematika Pasca Sarjana UNESA.

[22] Nuryenti, Diah Eko. (2005). Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Mengembangkan Kecakapan Matematika Siswa Sekolah Dasar (SD) Kelas III Sebagai Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).Skripsi SI Pendidikan Matematika UNNES

[23] O’Malley, J.M., & Pierce, L. V. (1996). Authentic Assessment for English Language Learner: Practical Approaches for teacher. New York: Addison-Wesley

[24] Marzano, R. J., Pickering, D.J. and McTighe J. (1993) Assessing student outcomes: performance assessment using the Dimensions of Learning model Alexandria. Va: Association for Supervision and Curriculum Development.

[25] Griffin, Patrick & Nix, Peter (1991) Educational Assesment and Reporting. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich

[26] Griffin, Patrick & Nix, Peter (1991) Educational Assesment and Reporting. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich

[27] Popham, W. James. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Boston: Allyan and Bacon.

[28] Ibrahim, Muslim dan Nur (2000). Pembelajaran Berbasis Masalah. Surabaya:UNESA.

[29] Waters, Robert and Michael McCracken (2012). Assessment And Evaluation In Problem-Based Learning. [online] http://www.fie-conference.org/ diakses 24-10-2014

[30] Waters, Robert and Michael McCracken (2012). Assessment And Evaluation In Problem-Based Learning. [online] http://www.fie-conference.org/ diakses 24-10-2014

[31] Reys, Robert E., et. al. (1998). Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Needham Hwight : Allyn & Bacon

[32] Krulik, Sthepen dan Rudnick, Jesse A. (1995). The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Temple University :Boston.

[33] Kirschner, P.A.; Sweller, J.; Clark, R.E. (2006). Why minimal guidance during instruction does not work: An analysis of the failure of constructivist, discovery, problem-based, experiential, and inquiry-based teaching. Educational Psychologist 41 (2): 75–86.

[34] Pearsonhighered.com. Teaching for Success: Methods and Models. [online] tersedia: http://www.pearsonhighered.com/samplechapter/0131149903.pdf diakses 24-10-2014

[35] Maxwell, N.L., Bellisimo, Y. & Mergendoller, J. (1999). Problem-Based Learning: Modifying the Medical School Model for Teaching High School Economics. [online] diakses 06 November 2014. Tersedia: http://www.bie.org/pbl/overview/diffstraditional.html.

[36] Buck Institutute for Education. (1999). Project-Based Learning. [online] diakses 9 Oktober 2013. Tersedia: http://www.bgsu.edu/organizations/etl/proj.html.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s