Sekolah Itu Seharusnya Menjadikan Kita Manusia, Bukan Robot!

equilibrium-robot-artwork-by-daniel-arnold-mist

Membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, kita akan menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja Alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat Al-Qur’an memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnya diawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; “apakah kamu tidak memperhatikan?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak mendengar?”, “Apakah kamu tidak melihat?”. Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti “Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”, “Tidak dipahami kecuali oleh Ulul Albaab“. Demikianlah Mukjizat terakhir Rasul, yang selalu mengingatkan manusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikan segala hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Membunuh Kreativitas

Seorang pakar pendidikan dan pengembangan kreativitas, Ken Robinson beliau mengatakan bahwa sekolah membunuh kreativitas. Bagaimana mungkin bisa begitu?.

Sekolah merupakan bagian dari pendidikan formal. Bicara tentang pendidikan berarti kita membicarakan tentang bagaimana menyiapkan anak-anak kita dengan kemampuan untuk dapat survive di dalam kehidupan ketika mereka menjadi dewasa kelak. Pendidikan hadir untuk menyiapkan siswanya menuju masa depan, yakni sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kita pegang. Jika anda berfikir anak-anak yang bersekolah hari ini akan pensiun pada tahun 2070. Tidak seorangpun memiliki petunjuk walaupun dengan segala keahlian. Misalnya saja, fakta seperti apa dunia yang akan terlihat dalam waktu lima tahun lagi, kita tidak pernah tahu. Jadi sebenarnya tingkat ketidak pastiannya sangatlah luar biasa. Karena manusia hidup di dunia, diletakan pada suatu tempat dimana tidak memiliki ide tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Tak ada ide, jadi bagaimana pendidikan ini sebenarnya dapat dilakukan?.

Baca lebih lanjut

Efektifitas E-Learning Bagi Mutu Pendidikan Sekolah Indonesia

(Oleh : Yoga Permana Wijaya)

Apabila dibandingkan pendidikan konvensional, dalam prosesnya e-learning sebagai media distance learning menciptakan paradigma baru, yakni peran guru yang lebih bersifat “fasilitator” dan siswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar. Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. Namun dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui distance learning yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning atau online learning. E-learning hanyalah sebagai media penunjang pendidikan dan bukan sebagai media pengganti pendidikan.

Baca lebih lanjut