Sekolah Itu Seharusnya Menjadikan Kita Manusia, Bukan Robot!

equilibrium-robot-artwork-by-daniel-arnold-mist

Membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, kita akan menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja Alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat Al-Qur’an memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnya diawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; “apakah kamu tidak memperhatikan?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak mendengar?”, “Apakah kamu tidak melihat?”. Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti “Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”, “Tidak dipahami kecuali oleh Ulul Albaab“. Demikianlah Mukjizat terakhir Rasul, yang selalu mengingatkan manusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikan segala hal yang diciptakan Allah di dunia ini.

Hal inilah yang menjadi pencetus ulama-ulama pada abad ke 7-10 Masehi di Timur Tengah mampu mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada riset (dengan cara mendengar, melihat, memperhatikan, merenungkan, dan memikirkan) dan mengimplementasikannya dalam bentuk alat-alat maupun metode yang berguna bagi kehidupan manusia. Metode ini diadopsi oleh dunia Barat dan terciptalah penyempurnaan beruapa metode ilmiah. Metode ilmiah inilah yang melahirkan sains mutakhir di zaman sekarang, dari sains itu jadilah ilmu terapan yang disebut sebagai teknologi. Di kehidupan saat ini, kita tak pernah luput dari berbagai teknologi tersebut.

Namun seperti halnya mata pedang, teknologi menjadi bebas nilai. Tergantung siapa yang menggunakannya. Teknologi yang canggih belum tentu menjadi kebaikan bagi peradaban manusia. Karena bisa jadi justru akibat adanya teknologi mutakhir, malahan menjadi penghancur peradaban manusia sendiri. Disini kita sadari, begitu pentingnya kita sebagai pengguna teknologi. Maka kekuatan dari teknologi itu akan kembali kepada kita. Seberapa besar kesiapan kita menggunakan teknologi itu kembali lagi kepada “karakter” atau “aklak” penggunanya. Disinilah pentingnya agama dan ilmu pengetahuan agar tetap sinergis.

 

Apa Alasan Kita Sekolah?

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir dapat terus dikembangkan dan bertambah canggih seiring waktu. Ilmu yang diperoleh manusia diwariskan kepada anak cucu, sehingga tetap lestari, bahkan bertambah baik dan masif dari waktu ke waktu. Salah satu cara kelestarian ilmu itu tetap terjaga adalah berkat adanya sistem pendidikan. Sistem pendidikan ini melahirkan sekolah-sekolah formal yang bisa kita masuk kedalamnya dengan mudah.

Jika ada pertanyaan, untuk apa kita sekolah? Pasti jawaban orang kebanyakan adalah supaya kita bisa bekerja kelak, dan dari pekerjaan itu kita dapat menghasilkan uang. Jawaban itu tidak salah, tapi cukup menyesatkan. Kita masih terjebak dalam paradigma, bahwa sekolah itu supaya kita menjadi orang-orang terampil yang siap bekerja memenuhi kebutuhan pasar. Sekolah disini, lebih berperan sebagai “pabrik tenaga kerja”. Orang-orang masuk tanpa keterampilan, kemudian keluar dengan “tenaga” yang siap dipakai. Apakah itu benar-benar tujuan pendidikan?

Di Amerika Serikat, sejumlah cendekiawan mulai aktif mengusulkan “Revolusi Pendidikan” seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) atau AI. Dalam beberapa tahun ke depan, akan ada banyak pekerjaan yang bisa diambil alih oleh AI, sehingga segala sesuatunya menjadi serba otomatis oleh mesin.

Di Indonesia, contoh terdekat adalah aplikasi Gojek, Uber, dan Grab yang mengambil alih sebagian penghasilan ojek pangkalan dan juga taksi konvensional. Di masa depan, bukan tidak mungkin ada lebih banyak lapangan kerja yang tergantikan oleh AI. Oleh karena itu, para ahli tersebut mengusulkan sebuah perubahan yang mendasar dalam sistem pendidikan.

Dalam artikel The Economist, “Re-educating Rita”, ahli AI, Joel Mokyr, seorang ekonom dari The NorthWestern University, mengatakan bahwa kita harus meninggalkan sistem pendidikan “pabrik tenaga kerja”. Sistem ini memperlakukan manusia sebagai tanah liat, “shape it, then bake it, and that’s the way that it stays,”. Menurut Mokyr, kemauan untuk terus belajar seumur hidup adalah yang terpenting.

Perhatian Mokyr bukanlah main-main. Pada awal tahun 2015, Bill Gates dan juga Stephen Hawking menulis surat terbuka yang mengajak para ilmuwan untuk melakukan penelitian mendalam untuk memaksimalkan pemanfaatan AI dalam kehidupan manusia. Dan saat ini, perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook, Google, Apple, dan Microsoft sedang melakukan penelitian besar-besaran terhadap bidang ini. Perubahan yang besar, jelas sedang terjadi.

Januari 2016 lalu, DeepMind, perusahaan AI yang dimiliki Google, mengalahkan manusia dalam permainan “Go”, sesuatu yang selama ini dikatakan tantangan terbesar dalam bidang AI. Dalam permainan itu, Deep Mind menggunakan “deep learning”, sebuah bentuk kecerdasan artifisial yang menggunakan banyak algorithma sehingga sebuah komputer bisa mensimulasikan jaringan syaraf manusia yang bisa belajar melalui pengalaman.

Sejak momen itu, banyak ahli AI yang berpendapat bahwa kecerdasan artifisial (AI) akan banyak dijumpai dalam kehidupan manusia dalam jangka waktu 20 tahun ke depan. Seperti dikutip dalam artikel di majalah Nature, “Tomorrow’s World”,  Daniela Rus, Kepala Laboratorium Ilmu Komputer dan Kecerdasan Artifisial (AI) di MIT, mengatakan bahwa kita tak lama lagi berada di dunia “dimana semua orang bisa mempunyai robot dan banyak robot akan ditemukan dalam segala lini kehidupan,”

Lalu bagaimana Indonesia menyikapi hal ini? Seperti yang dijelaskan di atas, kemajuan AI berdampak pada banyaknya pekerjaan yang diambil alih oleh AI sehingga akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan.

Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki banyak tenaga kerja dengan upah rendah yang bekerja di berbagai pabrik besar. Jika tugas-tugas dalam pabrik sudah diambil alih oleh AI, darimanakah mereka bisa mendapatkan uang?

David Autor, seorang  ekonom dari MIT, mengatakan bahwa dampak negatif AI yang paling besar dialami oleh negara berkembang karena ekonomi mereka banyak mengandalkan barang murah yang dibuat oleh buruh dengan upah yang rendah. Jika negara maju bisa memenuhi kebutuhan barang mereka dengan teknologi AI yang mereka miliki, maka negara maju tidak lagi memerlukan ekspor dari negara berkembang. Di sisi lain, hampir semua paten teknologi AI dimiliki oleh negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, ataupun Eropa. Sementara kita?

Tahun 2016 ini kita masih baru memulai riset ilmu dasar yang didanai oleh Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), sebelumnya ilmu pengetahuan dan teknologi kita masih berkutat dalam masalah pendanaan yang minim dan infrastruktur yang lemah.

Ketenagakerjaan bukanlah esensi dari pendidikan, apalagi di masa sekarang dimana pekerjaan bisa digantikan oleh AI ataupun robot. Hal yang terpenting adalah bagaimana mendidik anak kita agar memiliki karakter manusia yang kompeten. Misalnya saja manusia yang visioner, mempunyai jiwa kepemimpinan yang tangguh,  rasa ingin tahu yang kuat, mencintai belajar,  ataupun pandai bersosialisasi. Jadilah manusia yang memiliki karakter-karakter ini, karena karakter-karakter ini bukanlah sesuatu yang mudah digantikan oleh robot.

Anak-anak yang kita didik hari ini adalah mereka yang menjadi “pekerja” 20 tahun yang akan datang. Akankah kita siapkan mereka seperti robot? Atau menjadi manusia pengatur dan pencipta robot?

 

Menjadi Manusia

Keutuhan dalam pendidikan menjadi titik sentral dari program pendidikan, pengetahuan dan keahlian tanpa hati, ya akan jadi mesin belaka. Dan manusia yang seperti mesin, akan mudah digantikan oleh mesin sungguhan di masa depan. Dan sebaliknya hati saja tanpa keahlian, maka akan menjadi ‘pertapa’ yang hanya bermimpi.

Aspek holistik bagi manusia yaitu Spiritual, Fisik, Intelektual, dan Sosio-Emosional. Pendidikan Holistik akan ‘memanusiakan manusia’ dalam arti bahwa manusia akan dibentuk menjadi manusia utuh yang terpenuhi dalam seluruh aspek kehidupannya.

Tujuan akhir pendidikan dan sekolah-sekolah formal adalah untuk melihat orang menjadi utuh, baik dalam kompetensi maupun dalam hati nurani mereka; karena menciptakan kekuatan kompetensi tanpa menciptakan arah yang benar untuk mengarahkan pemanfaatan kekuatan itu merupakan pendidikan yang buruk. Lagi pula, kompetensi pada akhirnya akan berpisah dari hati nurani.

Dititik inilah kita perlu kembali berpikir ulang, melakukan ‘revolusi pendidikan’. Bahwa tujuan akhir dari sekolah dan semua pendidikan itu adalah untuk menjadikan kita pribadi yang utuh sebagai manusia. Manusia yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Referensi:

Dyna Rochmyaningsih (2016). Menuju Revolusi AI: Jangan Jadikan Anak Kami Bangsa Robot. [online] Tersedia: http://sains.kompas.com/read/2016/08/03/12012961/menuju.revolusi.ai.jangan.jadikan.anak.kami.bangsa.robot Diakses: 30 Oktober 2016

Credit Ilustrasi:

http://media02.hongkiat.com/humanoid_robot_artwork/Equilibrium-robot-artwork-by-Daniel-Arnold-Mist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s