Berpikir Besar, Jadilah Orang Besar!

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR. Muslim)

think_big1Di sebuah desa kecil ada seorang anak yang sedang berjalan melintasi lokasi yang akan dibangun sebuah sekolah. Anak itu melihat ada 3 orang yang sedang bekerja disana.

“Pak, sedang mengerjakan apa?” Tanya anak itu kepada tukang pertama.

“Kamu bisa lihat sendiri, saya ini seorang tukang, saya sedang mengerjakan pekerjaan saya sebagai tukang bangunan” jawabnya.

Lalu anak itu menanyakan pertanyaan yang sama kepada tukang kedua, “Pak, sedang mengerjakan apa?”

“Saya sedang membantu sekolahan ini membuat gedung sekolah.” Jawab tukang kedua.

Lalu anak itu juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada tukang ketiga, “Pak, sedang mengerjakan apa?”

Tukang ketiga menjawab, “Saya sedang membangun mimpi anak-anak di desa ini supaya mereka berani bermimpi lebih tinggi dan meraih cita-citanya, sehingga mereka membawa manfaat di masyarakat.”

Ketiga jawaban dari ketiga tukang itu berbeda, itulah yang disebut dengan visi… Kita mungkin melakukan hal yang sama persis dengan orang lain, tapi milikilah visi yang jauh didepan dan mampu menggetarkan jiwa bagi siapa saja yang mendengarnya.Tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita belajar itu hanya sekedar agar dapat nilai dan lulus diatas KKM? Apakah pekerjaan yang kita lakukan saat ini hanya untuk mengisi perut bulan depan? Terlebih ibadah kita, apakah hanya untuk menggugurkan kewajiban? Ataukah kita memiliki visi yang jauh untuk akhirat nanti?

Buatlah visi yang besar, yang jauh memandang, yang tinggi memancang. Berpikir besar adalah sesuatu yang di ajarkan oleh orang-orang sukses, oleh orang-orang besar, karena semua pencapaian yang luar biasa dalam hidup ini dimulai dengan berpikir besar, berpikir luas. Pencapaian para atlet kelas dunia, pembangunan gedung-gedung tinggi, pembuatan kapal terbang, pencapaian manusia ke bulan dll. Itu semua dicapai karena ada orang yang berpikir besar.

Berpikir adalah dasar tindakan. Disadari atau tidak, kita bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran. Nah dari sinilah, jika kita memiliki pikiran besar atau berpikir besar, maka kita akan melakukan tindakan yang besar dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih besar pula.

Yang dimaksud dengan besar disini, bukan hanya besar dalam kuantitas saja tetapi juga besar dalam hal kualitas. Keberanian, kecerdasan, kejelian, dan kepekaan terhadap peluang adalah ciri dari kualitas berpikir seseorang. Belum disebut bertindak besar jika hanya kerja keras dengan hasil yang kecil.

Halangan dan rintangan ibarat sebuah batu yang ada di depan kita. Sementara pikiran ibarat kendaraan yang akan melalui batu tersebut. Jika kendaraan jauh lebih besar dibandingkan batu yang ada, maka kendaraan tersebut akan lebih mudah melalui hambatan batu. Namun, jika kendaraannya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan batu yang ada di hadapannya, maka akan sulit untuk melangkah.

Itulah, seberapa besar pikiran kita bisa dilihat dari seberapa besar keberanian kita dalam menghadapi halangan dan rintangan yang didalamnya termasuk masalah dan resiko. Jika kita mudah ciut menghadapinya, artinya kita masih berpikir sempit.

Seorang Muhammad Al-Fatih adalah orang yang berpikir besar, yang menaklukan Konstatinopel pada usia sangat muda. Karena dialah yang menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad. Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini, laut mereka  dipagari dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut. Bayangkan, untuk menyiasati hal itu, 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dengan menariknya lewat jalur darat dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan, akan tetapi itulah yang terjadi. Bahkan fenomena penaklukkan tersebut sudah ditunggu selama 800 tahun oleh umat Islam.

Seorang ilmuwan Michio Kaku mengajarkan berpikir besar, membuat visi masa depan, membuat mobil canggih masa depan, memberikan ide perjalanan luar angkasa, memberi ide untuk memanfaatkan energi bintang, memberi ide untuk menaklukkan cuaca dan mencoba memecahkan teori segalanya yaitu sebuah teori yang mewakili seluruh alam semesta yang hampir hampir tanpa batas ini.

Nelson Mandela seorang pemikir besar, dia berpikir untuk membebaskan dunia dari politik apharteid sebuah politik yang membagi kelas manusia dari warna kulitnya. Sehingga menganggap warga kulit hitam sebagai warga rendahan. Kini lihat hasilnya: Afrika Selatan telah berhasil menghancurkan paham ini, bahkan kini dunia telah menghilangkan sifat rasis.

Tapi berpikir besar juga harus disertai dengan langkah atau sikap yang besar, kita harus memantaskaskan diri dalam pencapaian yang besar itu. Misalnya ingin menjadi pembisnis yang sukses, maka kita harus bersikap seperti seorang pembisnis sukses, dan terus belajar, tiru gaya mereka tetapi tetap jadilah diri sendiri.

Membiasakan Berpikir Besar

Kebiasaan adalah hal-hal yang secara berulang kita lakukan, dan kita melakukannya di alam bawah sadar. Kebiasaan juga menyangkut cara berpikir, hasrat, dan perasaan kita, yang terbentuk oleh berbagai pengalaman kita di masa lalu.

Berulang, itu adalah sifat penting pada kebiasaan, yang membuatnya memiliki kekuatan yang hebat. Misalnya, kita punya kebiasaan meletakkan 1 bata di halaman rumah kita. Maka dalam setahun kita akan punya 365 bata. Bayangkan kalau kita bisa, misalnya, membaca 1 buku sehari.

Karena kebiasaan adalah sesuatu yang berada di bawah sadar dan cenderung menjadi semacam kebutuhan, maka ia sulit diubah. Proses suatu perilaku atau tindakan menjadi kebiasaan disebut habit formation. Menariknya, meski sulit, kebiasaan baru bisa dibangun dan ditumbuhkan.

Ada beberapa tindakan kita sehari-hari yang merupakan kebiasaan. Naik sepeda, naik motor, atau menyetir mobil, adalah kebiasaan. Kita tidak lagi berpikir saat mengayuh sepeda, atau menekan pedal-pedal di mobil. Padahal yang kita lakukan tidak benar-benar perulangan. Syaraf-syaraf kita merespon secara otomatis konteks atau situasi yang kita hadapi secara cepat.

Ada ungkapan menarik, ”First we make our habits, then our habits make us.” Artinya, kita bisa membangun kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu yang membentuk diri kita. Kebiasaan bukan sekedar soal tindakan fisik saja. Kebiasaan juga menyangkut soal berpikir. Kalau kita biasa berpikir, menganalisa, beraksi terhadap suatu situasi dengan cara tertentu, maka ia akan membentuk suatu pola pikir.

Pola pikir adalah kebiasaan dalam berpikir. Sama seperti kebiasaan fisik, pola pikir sulit diubah. Tapi, sekali lagi, ia bisa diubah dengan latihan. Kita adalah kebiasaan kita. Kita dibentuk oleh berbagai kebiasaan. Sukses atau gagalnya kita, ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan tersebut. Bila kita mau belajar dari orang sukses, cobalah menelisik pola kebiasaannya. Ia pasti punya kebiasaan tertentu. Kalau kita ingin berubah dari diri kita yang sekarang, tidak bisa tidak, kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita.

Nah, apa kebiasaan positif yang kita bangun untuk membentuk diri kita? Kita bisa mulai dari hal kecil seperti tepat waktu, tertib di jalan dan tempat umum, menjaga kebersihan, jujur, dan menepati janji. Pada saat yang sama kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasan buruk, seperti menunda, menghindar, menyangkal, dan sebagainya.

Pada level yang lebih tinggi kita bisa melatih diri dengan satu set pola pikir, misalnya, meninggalkan pola pikir dengan sudut pandang korban, menjadi pola pikir proaktif. Kita juga harus membiasakan untuk memilah antara unsur emosional dan rasional dalam pikiran kita. Membedakan mana yang merupakan KEBUTUHAN dan mana yang merupakan KEINGINAN. Agar jangan sampai sifat keinginan yang konsumtif membuat kita terjajah. Misalnya saja, bukannya terampil dalam berteknologi namun justru diperalat/dijajah oleh perangkat teknologi komunikasi itu, akhirnya “talks more do less” yang terjadi.

Penyakit miskin pikiran, diderita banyak orang, di banyak tempat, sepanjang zaman. Hidup tanpa visi, tanpa tujuan, tanpa rencana. Tak terkecuali orang-orang terdidik. Ada berapa banyak orang sekolah, tanpa tahu apa yang mereka cari, dan apa yang mereka tuju. Ada berapa banyak yang mulai bekerja tanpa berpikir, bagaimana rencana karir mereka kelak?

Ada ribuan orang yang tidak menyadari bahwa hidup harus diisi dengan kegiatan belajar pada setiap detik yang mereka lewati. Bangunlah mimpi, susun rencana untuk mewujudkannya. Lalu jalani rencana itu, belajarlah untuk mendapat bekal yang cukup guna mencapai mimpi itu. Lakukan evaluasi untuk memastikan bahwa hidup menuju arah yang benar. Rencanakan karir, tentukan target mau jadi apa kita dalam sekian tahun ke depan. Belajarlah, lengkapi diri dengan keterampilan dan keahlian yang diperlukan pada posisi karir yang lebih tinggi.

Jadi mulai saat ini BERPIKIRLAH BESAR! Karena pencapaian hidup yang luar biasa dimulai dari BERPIKIR TENTANG HAL-HAL BESAR…

 

Credit Ilustrasi:

https://www.pamdidner.com
http://pepwall.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s