Kisah Monyet, Angin dan Negeri 4 Musim

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Alkisah, di sebuah hutan, tampak seekor monyet sedang bergelantungan di pepohonan. Tak jauh dari sana, ada sekelompok angin yang sedang bertiup. Ada angin topan, angin puting beliung, serta ada angin badai. Ketiga jenis angin itu sedang berdebat tentang siapa yang paling hebat di antara mereka.

Makin lama, adu mulut ketiga angin itu makin seru. Maka, karena tak ada yang mengalah, mereka pun sepakat untuk saling adu kekuatan. Mereka lalu melihat sekelilingnya. Dan tampaklah di dekat mereka, monyet yang sedang asyik bergelantungan itu. Ketiga angin pun sepakat adu kuat dengan berusaha menjatuhkan monyet dari pohon.

Pertama adalah giliran angin topan. Ia pun segera bertiup pada monyet itu. Monyet yang ditiup angin topan, segera memeluk erat pohon yang digelayutinya. Makin kencang angin bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon. Angin topan pun akhirnya menyerah, diiringi ejekan kedua angin lainnya.

Tiba giliran angin puting beliung. Dengan kekuatan putarannya, ia segera meniup monyet itu, seolah tak ingin memberi kesempatan monyet yang tadinya sedikit melonggarkan pegangan. Tapi, putaran kencang yang ditimbulkan angin ditanggapi monyet dengan cara yang sama. Makin kencang bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon besar nan kokoh yang seolah jadi pelindungnya. Angin puting beliung pun menyerah.

Terakhir, angin badai segera memperlihatkan kekuatannya. Dengan badai yang dimilikinya, ia segera meniup sekencang-kencangnya monyet itu. Tapi, lagi-lagi, sang monyet justru makin kencang berpegangan pada pohon besar yang bergoyang-goyang akibat tiupan angin badai. Monyet pun tak berhasil dijatuhkan oleh angin badai. Maka, angin badai pun akhirnya juga menyerah.

Ketiga angin itu ternyata tak cukup punya kekuatan yang bisa menjatuhkan monyet. Hingga, saat mereka membicarakan kehebatan monyet, datanglah angin sepoi. Angin kecil yang bertiup itu penasaran mengapa ketiga angin besar membicarakan kehebatan monyet yang tak berhasil mereka jatuhkan.

Mendengar kehebatan monyet itu, angin sepoi pun ingin mencoba kekuatannya. Hal ini membuat ketiga angin besar itu menertawakannya. Sebab, angin yang sangat kencang saja tak berhasil menjatuhkan monyet, apalagi angin kecil sepertinya. Namun, angin sepoi tak memedulikan ejekan mereka. Ia segera menuju ke monyet dan meniupkan angin sejuknya.

Monyet yang mendapat tiupan angin sepoi rupanya merasa keenakan. Hawa sejuk yang bertiup membuatnya tertidur di salah satu dahan besar pohon. Tak lama, karena tertidur dengan posisi yang kurang pas, monyet langsung terjatuh. Pegangan kuat monyet yang melonggar karena tertidur mendapat tiupan angin sepoi menjadikan monyet kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Melihat itu, ketiga angin besar yang sombong mengaku kalah. Angin sepoi yang kecil tapi menyejukkan itu rupanya justru berhasil membuat monyet takluk dan terjatuh dari pohon besar yang melindunginya.

Acap kali kita mendapat banyak ujian yang terasa sangat berat. Tapi, justru karena itu, kita malah jadi makin kuat. Cobaan yang kerap datang akan membuat kita makin teguh untuk terus maju dan berjuang. Kesulitan justru jadi penguat yang menjadikan kita sebagai pribadi tangguh yang siap maju ke “medan perang” kehidupan. Layaknya kisah tadi. Makin kencang angin bertiup, justru makin kuat monyet berusaha bertahan. Jika kita mampu melakukan hal tersebut, niscaya kita pun akan makin kuat dalam bertahan menghadapi aneka cobaan.

Boleh jadi ketika kita diuji dengan KESUSAHAH, dicoba dengan PENDERITAAN, didera MALAPETAKA, Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya… Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN, KESENANGAN, KELIMPAHAN… Disinilah ”kejatuhan” itu terjadi.

Maka jangan sampai kita terlena. Tetap ”Rendah hati”, “Mawas diri”, “Sederhana”, karena bukan kritikan yang membuat kita jatuh, tapi sanjungan dan pujian. Ketika kita di atas, jangan pernah memandang rendah orang yang di bawah dan ketika kita melakukan kebaikan, jangan mengharap pamrih dan ketenaran. Ketika kita melakukan kebaikan, gunakan dengan hati yang tulus ikhlas, bukan dengan membusungkan dada, bangga dengan apa yang telah kita lakukan untuk orang lain. Dan jadikan diri kita Manusia yang “Bijak dan tetap Bersyukur”.

Kisah Negeri 4 Musim

Indonesia adalah negeri  yang memiliki dua musim, berkah curah hujan tinggi dan cahaya matahari yang melimpah membuatnya jadi negeri yang subur. Bahkan ada bahasa, tongkatpun di tanah ini bisa jadi tanaman. Sayangnya, anugerah Ilahi ini disia-siakan oleh tangan-tangan kotor yang tahunya hanya menjarah dan menindas. Seorang Sastrawan Hasan Aspahani, menolak menyebut Indonesia sebagai negeri dua musim, dalam puisinya “Dongeng Negeri Empat Musim” (2004) dia menyebut, ada empat musim di negeri ini, musim berdusta, musim berjanji, musim berpura-pura dan musim lupa.

Terlepas dari hal itu, ada sesuatu yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan, terjadi fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju, yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis): musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Kita lihat saja, perbandingan taraf hidup dinegara-negara Eropa, Amerika, Jepang, China, Korea, Australia dengan negara-negara yang hanya memiliki dua musim yang tersebar disebagian Asia dan Afrika. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita, Singapura.

Saya yakin, kondisi alam berpengaruh besar dalam membentuk karakter membangun dalam jiwa-jiwa mereka. Adanya perbedaan musim yang drastis menuntut penduduknya untuk tidak monoton dalam aktivitas hidup. Ibarat kisah monyet yang makin kuat ditiup angin kencang dan lengah ditiup angin sepoi. Mereka dituntut untuk tangguh menghadapi kegerahan di musim panas, kekeringan di musim gugur, mengatasi dingin di musim salju, dan tidak terlena di musim semi. Dalam analisis sosio-psikologi adanya perubahan musim yang membutuhkan adaptasi ini akan membentuk karakter bangsa yang kuat dan tangguh dalam mengatasi problematika hidup.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi. Mereka mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui sikap masyarakat dan penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll).

Pernahkah kita bayangkan bagaimana rasanya hidup di musim dingin tanpa mengenakan baju hangat, atau tinggal di rumah yang tidak dilengkapi fasilitas pemanas ruangan? Pada saat itu salju bukan lagi keindahan, namun tontonan tragedi yang menyayat hati. Teman saya asal Bosnia menceritakan, di musim dingin, ketika tumpukan salju disingkirkan dari jalan-jalan kota, tidak sedikit ditemukan mayat-mayat manusia. Mereka adalah para tunawisma yang mencoba bertahan hidup di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Ya, dongeng tentang salju tidak melulu menceritakan kebahagiaan sang putri salju, namun juga kegetiran hidup putri penjual korek api, yang mati beku kehabisan api penghangat.

Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca. Sangat jarang ada orang yang mati karena kehujanan atau kepanasan, bahkan rumahpun cukup dibuat dengan atap dedaunan dan dinding kardus. Di negeri empat musim, rumah harus dibangun kokoh, lengkap dengan sistem pemanas dan pendingin jika tidak ingin mati diterkam musim.

Maka, di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etos kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

“Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya.” (HR.Ahmad). Kita ini telah, sedang dan akan selalu bepacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satulangkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diiringi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka siapa pun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

Wallahu’alam Bishawab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s