Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

sumpah_pemuda_by_ayib-d5jlt57“Emang orang Indonesia harus makan pizza? Lalu mengapa orang Italia tidak kenal karedok?” Pertanyaan balik saya, ketika ada seseorang yang menyebutkan makan pizza adalah tren terkini dan dampak globalisasi. Jujur, saya mencurigai istilah globalisasi atau apalah itu sebagai penghalusan dari ekspansi politik ekonomi pangan, yang begitu mulusnya menggelincir seperti hipnosis terselubung, “Indonesia begitu kaya loh dengan puluhan varian ubi, hingga talas, ganyong, kimpul, dan berderet sumber karbohidrat lain. Jadi buat apa kita makan pizza?”

”Oh ya! pizza juga bisa lho dibuat dari bahan umbi!” Ya Tuhan, dipaksakan lagi. Malu kah bangsa ini makan ubi rebus?

Globalisasi tidak selayaknya membuat kita lupa sebagai orang Indonesia. Tidak semuanya harus sama dimana-mana. Kita indah, karena kita punya apa yang mereka tidak punya. Biarkan Jepang punya onigiri, kita punya lemper. Yang tidak boleh dan tidak etis, bila kita bilang lemper atau arem-arem isi oncom itu kampungan dan onigiri keren. Baca lebih lanjut

Iklan

Bunuh Diri Suatu Budaya, Budaya Yang Membunuh Budayanya Sendiri

Apabila anda orang Sunda mungkin telinga anda sudah tidak asing lagi mendengar pernyataan-pernyataan tidak rasional seperti “eh maneh, tong diuk di lawang panto, bisi nongtot jodo” artinya “ hai kamu, jangan duduk di gerbang pintu, nanti susah dapet jodoh” (NB: saya bingung mentranslate kata “nongtot” ke bahasa Indonesia). Atau mungkin anda tahu tentang legenda gunung Tangkuban Parahu yang menurut cerita budaya katanya tercipta karena sebuah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang yang sakti dan akhirnya berubah menjadi gunung. Dan juga mungkin anda sudah sering mendengar beberapa kepercayaan dan mitos yang beredar di masyarakat kita (Indonesia). Baca lebih lanjut