Sekolah Itu Seharusnya Menjadikan Kita Manusia, Bukan Robot!

equilibrium-robot-artwork-by-daniel-arnold-mist

Membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, kita akan menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja Alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat Al-Qur’an memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnya diawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; “apakah kamu tidak memperhatikan?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak mendengar?”, “Apakah kamu tidak melihat?”. Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti “Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”, “Tidak dipahami kecuali oleh Ulul Albaab“. Demikianlah Mukjizat terakhir Rasul, yang selalu mengingatkan manusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikan segala hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban

“Anda tidak berhak dipuji kalau tidak bisa menerima kritikan.” -Halle Berry, 2005

Suatu hari, Sang Ibu membersihkan mushola dengan mengepel teras mushola. Ia kembali mengingatkan beberapa orang yang tidur di teras, karena jelas ada larangan tidur di area mushola. Ini berjalan lancar, kemudian ada orang yang merokok tepat di lokasi larangan merokok. Dan ia pun langsung diingatkan oleh Ibu ini. Pergilah pria perokok tersebut. Namun, pria disamping saya di sisi lain (sebut saja mr X) berceletuk “ibu ini kayak yang punya aja, digaji enggak, tapi sok ngatur-ngatur. Dia tu orang gang sini juga mas (sembari menghadap saya)”.

Saya cukup kaget mendengar ia berkata demikian, padahal yang dilakukan sang Ibu ini semuanya benar menurut saya. Dan harusnya kita bangga dengan hadirnya ibu ini. Mushola bisa selalu bersih dan tanpa meminta imbalan apapun. Nah, tidak lama kemudian Pria Mr X ini makan di area mushola. Jelas saja sang ibu langsung melarangnya cuma tidak menyuruhnya pergi secara langsung.

Ibu : “Pak boleh makan tapi jangan sampai cemat cemot (berantakan)”

Mr X : “orang makan kok cematcemot” (sembari menghadap saya dan meneruskan makannya)

Beberapa waktu kemudian makanan Mr X ini tumpah dan mengotori bagian teras mushola. Mr X ini pun sempat panik dan ia membersikan sebisanya dan langsung pergi begitu saja. (mungkin dia malu).

Cerita di atas benar-benar terjadi dan menjadi gambaran, apakah demikian karakter orang-orang Indonesia?. Padahal, sang ibu tidak mengkritik terlalu jauh, hanya menyampaikan aturan yang sudah dituliskan jelas dan ditempel pada dinding mushola. Namun, yang diterima bukanlah feedback positif. Baca lebih lanjut

UN Penyebab Rusaknya Karakter Bangsa ?

Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Berbagai perbaikan terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) sudah bisa kita rasakan dan pemerintah melalui Kemdikbud sudah mendorong kita untuk menyelenggarakan UN dengan jujur dan baik. Misalnya saja mekanisme paket soal yang membuat soal antara peserta yang satu dan lainnya berbeda (20 variasi dalam 1 kelas), UN 2014 yang sudah terintegrasi dengan Perguruan Tinggi dan faktor kelulusan yang tidak sepenuhnya berdasarkan hasil ujian, melainkan nilai harian siswa dalam raport ikut dijadikan andil dalam penentu kelulusan dengan komposisi persentasenya menjadi lebih besar dari tahun ke tahun.

UN tahun ini tetap dilaksanakan berdasarkan 4 Dasar Hukum. (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; (2) PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah diubah dengan PP No 32 Tahun 2013; (3) Permendikbud RI No 97 Tahun 2013 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional; dan (4) Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2013/2014.

Salah satu tujuan dari UN yang dilakukan tiap tahun tersebut adalah untuk mengukur standar mutu pendidikan di Indonesia, walaupun sebenarnya ada banyak cara untuk mengukur standar mutu pendidikan. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengukur mutu pendidikan di suatu negara melalui Programme for International Students Assessment (PISA), selain itu Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) dari International Study Center-Boston College USA secara berkala masing-masingnya mengukur tiga kemampuan pokok, yaitu membaca, matematika, dan sains. Hasilnya diketahui Indonesia masih berada di jajaran bawah dari rangking dunia.

Baca lebih lanjut