Sekolah Itu Seharusnya Menjadikan Kita Manusia, Bukan Robot!

equilibrium-robot-artwork-by-daniel-arnold-mist

Membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, kita akan menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja Alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat Al-Qur’an memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya. Selain itu, biasanya ayat-ayat yang membahasnya diawali maupun diakhiri dengan sindiran-sindiran seperti; “apakah kamu tidak memperhatikan?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak mendengar?”, “Apakah kamu tidak melihat?”. Sering pula di akhiri dengan kalimat seperti “Sebagai tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”, “Tidak dipahami kecuali oleh Ulul Albaab“. Demikianlah Mukjizat terakhir Rasul, yang selalu mengingatkan manusia untuk mendengar, melihat, berpikir, merenung, serta memperhatikan segala hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Baca lebih lanjut

Pengertian Pengukuran (Measurement), Penilaian (Assessment) dan Evaluasi (Evaluate) dalam Pendidikan

Pengertian Pengukuran (Measurement), Penilaian (Assessment) dan Evaluasi (Evaluate) dalam Pendidikan

Oleh: Yoga Permana Wijaya

Http://yogapermanawijaya.wordpress.com

Pengertian Pengukuran (Measurement)

  • Menurut Ign. Masidjo (1995: 14) pengukuran adalah suatu kegiatan menentukan kuantitas suatu objek melalui aturan-aturan tertentu sehingga kuantitas yang diperoleh benar-benar mewakili sifat dari suatu objek yang dimaksud.
  • Pengukuran bisa diartikan sebagai proses memasangkan fakta-fakta suatu objek dengan fakta-fakta satuan tertentu (Djaali & Pudji Muljono, 2007).
  • Menurut Endang Purwanti (2008:4) pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka.
  • Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudiono, 2001).
  • Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuntitas sesuatu (Zaenal Arifin, 2012).
  • Hopkins dan Antes (1990) mengartikan pengukuran sebagai “suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu objek, orang atau peristiwa.
  • Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu; 2) menurut suatu aturan atau formula tertentu. Pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli.
  • Menurut Cangelosi (1995: 21) pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan.
  • Menurut Wiersma & Jurs (1990) pengukuran adalah penilaian numerik pada fakta-fakta dari objek yang hendak diukur menurut kriteria atau satuan-satuan tertentu.
  • Alwasilah et al.(1996), measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka
  • Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
  • Sridadi (2007) pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.

Baca lebih lanjut

UN Penyebab Rusaknya Karakter Bangsa ?

Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Berbagai perbaikan terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) sudah bisa kita rasakan dan pemerintah melalui Kemdikbud sudah mendorong kita untuk menyelenggarakan UN dengan jujur dan baik. Misalnya saja mekanisme paket soal yang membuat soal antara peserta yang satu dan lainnya berbeda (20 variasi dalam 1 kelas), UN 2014 yang sudah terintegrasi dengan Perguruan Tinggi dan faktor kelulusan yang tidak sepenuhnya berdasarkan hasil ujian, melainkan nilai harian siswa dalam raport ikut dijadikan andil dalam penentu kelulusan dengan komposisi persentasenya menjadi lebih besar dari tahun ke tahun.

UN tahun ini tetap dilaksanakan berdasarkan 4 Dasar Hukum. (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; (2) PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah diubah dengan PP No 32 Tahun 2013; (3) Permendikbud RI No 97 Tahun 2013 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional; dan (4) Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2013/2014.

Salah satu tujuan dari UN yang dilakukan tiap tahun tersebut adalah untuk mengukur standar mutu pendidikan di Indonesia, walaupun sebenarnya ada banyak cara untuk mengukur standar mutu pendidikan. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengukur mutu pendidikan di suatu negara melalui Programme for International Students Assessment (PISA), selain itu Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) dari International Study Center-Boston College USA secara berkala masing-masingnya mengukur tiga kemampuan pokok, yaitu membaca, matematika, dan sains. Hasilnya diketahui Indonesia masih berada di jajaran bawah dari rangking dunia.

Baca lebih lanjut

Membuang Sampah pada Tempatnya dan Indikator Iman

oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

(QS Al-Qashash: 77)

Suatu hari dikeramaian kota, seorang anak yang dituntun ibunya sedang memakan es krim dipinggir jalan raya, lalu terlihat membuang sampah eskrim tersebut dijalan yang dilaluinya. Si Ibu melihat anaknya membuang benda itu dari tangan mungil anaknya, tetapi nampaknya Ibu itu tidak menyadari atau entah tidak perduli membiarkan sampah yang dibuang anaknya begitu saja, tercecer dipinggir jalanan. Terdengar samar-samar suara Ibu itu sembari mengeluarkan tissue dari tas cantiknya dan berkata kepada anaknya “sini mamah bersihin tangannya biar nggak kotor”.

“Kebersihan sebagian dari iman”. Tampaknya pepatah tersebut hanya jargon semata, yang realisasinya tidak nampak dihadapan kita. Bahkan dari kisah diatas kita simpulkan, bahwa kebersihan yang ada dan diterapkan barulah simbol dari kebodohan daya nalar sebatas menonjolkan keegoisan manusia yang hanya peduli dengan dirinya sendiri, akan tetapi bertindak masa bodoh terhadap hal yang tidak berhubungan langsung dengan dirinya. Mereka tidak berfikir bahwa alam adalah bagian dari dirinya. Ibu itu mengelap tangan mungil anaknya, menandakan bahwa dia jelas mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih, akan tetapi tidak menerapkannya kepada lingkungan sekitar. Sampah yang bercecer dilingkungan dianggap merupakan hal yang lazim.

Baca lebih lanjut

Pendidikan Harus Berjalan Secara Organik

Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, ternyata tidak menjamin negara kita menjadi negara yang maju. Disaat isu global mengenai krisis sumber daya alam kian mencengkram, negara kita sejak dahulu telah dilanda krisis sumber daya manusia. Faktor yang paling dominan dalam menentukan sumber daya manusia adalah pendidikan. Ken Robinson, pakar pengembangan kreativitas menuturkan, sumber daya manusia seperti sumber daya alam, mereka seringkali tertimbun dalam. Kita harus mencarinya dan mereka tidaklah berada dipermukaan, kita harus menciptakan situasi dimana mereka dapat mencuat dan muncul. Salah satu hal yang paling mungkin untuk memunculkannya adalah melalui pendidikan. Akan tetapi seringkali pendidikan malah berjalan kebalikannya, yakni menenggelamkan sumber daya manusia.

Kebanyakan diantara kita tidak memberdayakan dengan baik bakat dan telenta kita. Lebih banyak orang yang dalam kesehariannya mengeluhkan tentang apa yang mereka lakukan saat ini. Menjalani hidup dengan hampa karena pekerjaan yang mereka lakukan bukanlah hal yang menyenangkan dan mereka kuasai dengan mudah. Mereka menjalani hidup sebagai suatu penderitaan, jalan yang mereka lalui adalah berusaha tetap tabah dalam menjalani kehidupan, yang mereka nantikan adalah kapan libur akan tiba, kapan minggu ini akan segera berakhir.

Baca lebih lanjut

Sekolah Membunuh Kreativitas

Seorang pakar pendidikan dan pengembangan kreativitas, Ken Robinson beliau mengatakan bahwa sekolah membunuh kreativitas. Bagaimana mungkin bisa begitu?.

Sekolah merupakan bagian dari pendidikan formal. Bicara tentang pendidikan berarti kita membicarakan tentang bagaimana menyiapkan anak-anak kita dengan kemampuan untuk dapat survive di dalam kehidupan ketika mereka menjadi dewasa kelak. Pendidikan hadir untuk menyiapkan siswanya menuju masa depan, yakni sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kita pegang. Jika anda berfikir anak-anak yang bersekolah hari ini akan pensiun pada tahun 2070. Tidak seorangpun memiliki petunjuk walaupun dengan segala keahlian. Misalnya saja, fakta seperti apa dunia yang akan terlihat dalam waktu lima tahun lagi, kita tidak pernah tahu. Jadi sebenarnya tingkat ketidak pastiannya sangatlah luar biasa. Karena manusia hidup di dunia, diletakan pada suatu tempat dimana tidak memiliki ide tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Tak ada ide, jadi bagaimana pendidikan ini sebenarnya dapat dilakukan?.

Baca lebih lanjut

Pengertian Pembelajaran Berbantukan Komputer

Istilah pembelajaran berbantuan komputer (PBK) diterjemahkan dari CAI (Computer-Assisted Instrution), sering juga digunakan secara bergantian dengan istilah CBL (Computer-Based Learning) dan CBI (Computer-Based Instruction). Namun demikian, ketiga istilah tersebut tidaklah mengacu pada hal yang sama.

Istilah PBK atau CAI kadang-kadang digunakan untuk perangkat lunak pembelajaran pada umumnya, tetapi biasanya digunakan untuk perangkat lunak yang menggunakan pendekatan programmed learning dimana tujuan pembelajaran khusus dicapai melalui pembelajaran langkah demi langkah. Istilah pembelajaran (instruction) dalam PBK biasanya diinterpretasikan sebagai penyampaian informasi kepada siswa (Padmanthara, 2007). CAI atau PBK sendiri biasanya dikembangkan dalam beberapa format, antara lain: tutorial, drill and practice, simulasi, permainan, dan discovery (Arsyad, 2010: 158).

Baca lebih lanjut

Pengertian Belajar

Pengertian Belajar

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior throught experiencing).

Berdasarkan pengertian diatas, belajar merupakan suatu proses dan kegiatan. Belajar bukan merupakan suatu hasil atau tujuan tetapi merupakan proses untuk mencapai tujuan. Belajar bukan mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, belajar adalah mengalami. Hasil belajar bukan merupakan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.

Sejalan dengan perumusan diatas, ada pula tafsiran tentang belajar yang menyatakan bahwa: “belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Perbedaan dengan pengertian belajar ini dibandingkan dengan pengertian belajar diatas adalah pada cara atau usaha pencapaiannya yang menitik beratkan kepada interaksi antara individu dengan lingkungan. Didalam interaksi antara individu dengan lingkungan inilah terjadi serangkaian pengalaman-pengalaman belajar. Pada prinsipnya tujuan belajar itu adalah sama saja, yakni perubahan tingkah laku.

Baca lebih lanjut

Pengajaran Berbantuan Komputer

Pengajaran Berbantuan Komputer

Dengan berkembangnya teknologi e-media, sebagai media pendidikan, maka sarana dan prasarana untuk pemanfaatannya juga berkembang, salah satu sarana tersebut adalah komputer. Pengajaran berbantuan komputer merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh para ahli sejak beberapa dekade yang lalu, karena dengan batuan komputer ini proses pengajaran berjalan lebih interaktif dan membantu terwujudnya pembelajaran yang mandiri. Dengan perkembangan teknologi komputer ini, maka metode pendidikan juga berkembang, sehingga proses pengajaran berbantuan komputer ini maju terus menuju kesempurnaannya, namun secara garis besarnya, dapat dikatergorikan menjadi dua, yaitu computer-based training (CBT) dan Web-based training (WBT).

Baca lebih lanjut

Klasifikasi Kognitif Taksonomi Bloom

Klasifikasi Kognitif Taksonomi Bloom

Klasifikasi kognitif meliputi pengembangan keterampilan intelektual dengan tingkatan-tingkatan yaitu:

a. Pengetahuan (Knowledge/C1)

Merupakan kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip, prosedur atau istilah yang telah dipelajari (Recall data or information). Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling rendah namun menjadi prasyarat bagi tingkatan selanjutnya. Kemampuan yang dimiliki hanya kemampuan menangkap informasi kemudian menyatakan kembali informasi tersebut tanpa memahaminya. Contoh kata kerja yang digunakan yaitu, mendefinisikan; menguraikan; menyebut satu per satu; mengidentifikasi; memberikan nama; mendaftar; mencocokan; membaca; mencatat; mereproduksi; memilih; menetapkan; menggambarkan (defines; describes; enumerates; identifies; labels; lists; matches; names; reads; records; reproduces; selects; states; views).

Baca lebih lanjut