Menjadi Yang Terbaik

Alkisah, lahirlah dua macam uang kertas pada waktu yang bersamaan, merekapun terlahir dari bahan yang sama dan sama-sama diedarkan oleh Bank Indonesia (BI). Ketika dicetak, mereka pun berbarengan, tetapi akhirnya berpisah dan beredar di masyarakat.

Ternyata takdir mempertemukan mereka kembali, setelah 1 tahun kemudian, mereka bertemu secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Maka mereka pun ngobrol.

Uang Rp 100.000 bertanya kepada Rp 1.000, “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis ?”

“Karena begitu aku keluar dari bank, terus ke tangan orang bawah dari kalangan buruh, penjaja-penjaja kecil, penjual ikan dan di tangan pengemis” Uang Rp 1.000 menjawab.

Lalu uang Rp 1.000 bertanya balik kepada uang Rp 100.000, “Kenapa kau masih tampil begitu baru, rapi dan bersih?”

“Karena begitu aku keluar dari bank, terus disambut para perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di kompleks, di mall bergengsi dan juga hotel berbintang, serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.” Jawab uang Rp 100.000 dengan sombongnya.

“Pernahkah engkau berada di tempat ibadah ?” Uang Rp 1.000 bertanya lagi.

“Belum pernah” Jawab uang Rp. 100.000 sambil mengerenyitkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Uang Rp 1.000 pun berkata lagi, “Ketahuilah walaupun aku hanya uang Rp 1.000 tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, di tangan anak yatim piatu serta fakir miskin. Bahkan aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam, karena aku tidak dipandang sebagai sebuah nilai, tetapi Sebuah Manfaat!”

Lantas menangislah uang Rp 100.000, karena merasa besar, karena merasa hebat, karena merasa tinggi, akan tetapi tidak begitu bermanfaat untuk kebaikan selama ini.

***

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi yang terbaik adalah dengan menjadi pribadi yang bermanfaat. Ya, menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Seorang muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi. Seperti pepatah, “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.”

Menurut hadits di atas tidak hanya mengatakan menjadi pribadi yang bermanfaat, tetapi ada kata superalif yaitu: “paling”. Artinya kita sebagai umat muslim ditantang untuk menjadi juara dalam kebaikan. Kita harus menjadi yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan sekedar hanya memberikan manfaat.

 

Segala Amal Perbuatan Tergantung Niat

Untuk menjadi manusia yang bermanfaat, kunci pertama adalah kemauan. Kemauan kita memberikan manfaat kepada orang lain. Jika kita punya harta, kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan harta. Jika kita punya ilmu, kita bisa memberikan manfaat ilmu kepada orang lain. Jika kita punya tenaga, kita bisa memberikan manfaat dari tenaga kita kepada orang lain.

Sikap yang baik kepada sesama juga termasuk kemanfaatan. Baik kemanfaatan itu terasa langsung ataupun tidak langsung. Maka Rasulullah SAW memasukkan senyum kepada orang lain sebagai shadaqah karena mengandung unsur kemanfaatan. Dengan senyum dan sikap baik kita, kita telah mendukung terciptanya lingkungan yang baik dan kondusif.

Kita pun harus memiliki kemauan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana pun kondisinya. Jika kita sudah mau dan berniat, bagaimana pun kondisi kita, kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Seorang Bai Fang Li, tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak, mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China. Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Tidak! Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Pada tahun 2001 usia Bai Fang Li mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000. Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta! Begitulah, apabila kita sudah memiliki niat. Kondisi apapun tak kan menyurutkan langkah.

 

Menjadi Pribadi Yang Berakhlak

Jika memberikan manfaat kepada orang sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup kita, maka disitulah berarti kita sudah benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat. Sebab kalau sekedar melakukan saja, bahkan sekedar berniat saja, itu hanya baru disebut melakukan kebaikan.

Ini yang kadang dilupakan orang. Banyak yang hanya membahas sampai melakukan kebaikan dengan cara membantu orang orang lain. Namun hal itu belumlah menjadi kepribadian, baru sebatas mau melakukan. Sebuah tindakan, akan menjadi sebuah akhlak saat kita sudah melakukan dengan biasa tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Anda memberi, belum tentu kepribadian Anda. Namun jika Anda sudah biasa memberi dan menjadi gaya hidup Anda, barulah itu disebut kepribadian (akhlak).

Bagaimana cara kita meningkatkan manfaat diri? Ya, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikan. Kuantitas bisa dilihat dari frekuensi dan besarnya apa yang diberikan kepada orang lain. Sementara kualitas manfaat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas diri kita, yaitu dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan, sehingga apa yang kita berikan semakin bermanfaat.

Semakin banyak seseorang memberikan manfaat kepada orang lain -tentunya orang yang tepat- maka semakin tinggi tingkat kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai manusia menuju “manusia terbaik”.

Karena memberikan manfaat kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri… (QS. Al-Israa [17]:7)

Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya. (Muttafaq ‘alaih)

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR. Muslim)

Lantas, agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat. Kita harus menghindari dari semua penghapus pahala amal, yaitu ketidak ikhlasan atau riya’. Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riya sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati.

Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya (QS. Al Zalzalah [99]:7)

Percayalah! Dengan menjadi orang yang paling bermanfaat, berarti juga menjadi orang yang sukses baik di dunia maupun di akhirat. Lihatlah orang-orang yang dipandang sukses, mereka semua memiliki banyak manfaat bagi orang lain. Maka, jadilah pribadi yang bermanfaat, bahkan yang paling bermanfaat bagi bangsa, negara dan agama.

213pyro

 Referensi:

https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html

http://www.motivasi-islami.com/5-langkah-menjadi-pribadi-yang-bermanfaat/

Credit Ilustrasi: http://oi67.tinypic.com/213pyro.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s