Menyederhanakan Sesuatu, Meminimalisir Input Memaksimalkan Output

Sesungguhnya hidup sederhana termasuk cabang dari iman. (Ash-Shahîhah, 341)

Ada seorang lelaki tua tiba di sebuah desa setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Seorang arif dan kaya raya mempersilahkan lelaki tersebut mampir sejenak ke rumahnya. Kemudian pria kaya tersebut menghidangkan beraneka macam minuman dan masakan.

Lelaki tua itu hanya memandangi semua makan lezat dan minuman yang terhidang. Dengan santun ia bertanya, “Bolehkah saya meminta secangkir kopi?” Sebuah permintaan yang sangat sederhana.

“Hanya itu?” Kata sang pemilik rumah kembali bertanya.

“Ya Tuan, hanya itu,” jawab lelaki tua tersebut.

Kemudian lelaki itu pun langsung meminum segelas kopi yang telah dihidangkan. Nampak ia betul-betul menikmati setiap teguk kopi yang ia minum sampai habis. Melihat pemandangan tersebut membuat sang pemilik rumah menawarkan secangkir kopi lagi. Tetapi lelaki tersebut menolak dengan bahasa yang sangat santun.

“Kenapa?” Tanya sang pemilik rumah keheranan.

“Karena saya tidak ingin kenikmatan dari secangkir kopi yang sebelumnya akan berkurang,” jawab lelaki tersebut sambil tersenyum.

***

Kunci Kebahagiaan Ada Pada Kesederhanaan, Cukup Untuk Kita Nikmati.

“In character, in manner, in style, in all things, the supreme exellence is simplicity – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah.” [Henry Wadsworth Longfellow]

Saya pernah membaca sebuah pernyataan, ”Orang yang belum bisa menyederhanakan suatu penjelasan sebenarnya ia tidak menguasai masalah.” Oleh karena itu, apabila ada seorang mengaku pakar namun saat menjelaskan sesuatu “ngjlimet” dan susah dipahami berarti ia belum pakar (ahli) yang sesungguhnya. Ia pakar dalam hal lain, pandai kelakar.

Sebagai seorang guru, saya dituntut untuk menyampaikan sesutu sesederhana mungkin. Dalam menyampaikan suatu informasi agar mudah dipahami mestilah runut dan bertahap, terkadang mesti menyembunyikan kerumitan dengan menyampaikan apa yang penting saja, dan menyimpan pengetahuan yang belum dirasa penting disampaikan untuk disampaikan di lain waktu. Bukankah pisau lipat “Swiss Army” yang lengkap dan bermanfaat itu tidak dapat digunakan, kalau semuanya dikeluarkan?

Tidak sedikit orang yang mudah terpesona dengan hal-hal yang kompleks dan rumit. Dalam pikirannya, segala yang rumit atau kompleks, pastilah luar biasa, canggih, dan ‘wah’. Namun sayangnya kadang pandangan tersebut dibarengi dengan menganggap remeh hal-hal sederhana. Kesederhanaan dipandang hanya sebelah mata.

Menyadari betapa dunia saat ini sudah begitu kompleks merupakan satu kenyataan yang tak terbantahkan. Perkembangan teknologi dan komunikasi melesat begitu cepat. Teknologi-teknologi terbaru terus bermunculan. Betul, kalau sekarang dunia kita begitu kompleks. Namun, kerumitan tak seharusnya kemudian ditampilkan dengan rumit juga. Yang hebat menurut saya adalah mampu menjadikan segala hal yang begitu rumit menjadi jauh lebih sederhana. Agar siapapun bisa menikmatinya dengan nyaman.

Kita bisa lihat Google. Di balik kerumitan Google dalam proses pembuatannya, Google menawarkan hal yang sangat sederhana kepada para penggunanya. Bila kita ingin mencari sesuatu, kita cukup mengetikkan kata yang dicari, dalam sepersekian detik hasil pencarian langsung muncul. Kemudahan dan kesederhanaan Google membuatnya menjadi search engine nomor satu di dunia. Kesederhanaan Google itu pula yang menjadi trend-setter di kalangan search engine lain. Dan menjadikan “simplicity web” sebagai falsafah acuan bagi para pembuat situs web di dunia.

Kesederhanaan membuat kita lebih fokus, membuat tindakan kita lebih efektif dan efisien, serta membuat hidup kita lebih mudah/simpel. kesederhanaan adalah kekuatan yang luar biasa. Mengapa kita harus membuatnya menjadi rumit bila yang sederhana terbukti berhasil?

Pada prinsipnya manusia menginginkan kesederhanaan (simplicity), dan menghindari kerumitan (complexity). Begitu juga dengan Islam. Islam selalu memberikan hikmah sesuatu kepada orang yang mau berpikir walau sesuatu itu kadang kita anggap sebagai hal yang sepele. Kesederhanaan Islam dalam perintah-perintahnya, sungguh ternyata di balik kesederhanaan itu mempunyai hikmah yang luar biasa.

“Agama ini mudah. Siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama ini, pasti akan kalah.”

“Orang yang mencapai kejayaannya ialah orang yang bertindak di atas prinsip Islam dan hidup secara sederhana” (HR. Ahmad Tirmidzi, Ibnu Majah, dikutip oleh mishkat, Edisi Urdu, Opcit Vol II, hal 245, No. 4934.)

Kesederhanaan itu adalah cerminan dari kematangan, semakin matang seseorang maka ia akan berlaku lebih sederhana dan simpel. Kesederhanaan yang paling baik adalah peristiwa ketika Allah mencipta segala sesuatu. Allah hanya mengatakan “kun fayakun”, maka jadilah apa yang diinginkan Allah. Ini merupakan gambaran Kesederhanaan Tingkat Tinggi…

Steve Jobs, adalah orang yang tergila-gila akan filosofi kesederhanaan. Kita bisa merasakan itu dalam setiap produk Apple yang dirilis pada eranya berkuasa. Menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia ini.

Seperti yang dikatakan Steve Jobs sendiri,  “That’s been one of my mantras – focus and simplicity. Simple can be harder than complex. You have to work hard to get your thinking clean to make it simple. But it’s worth it in the end because once you get there, you can move mountains”. Menjadikan segala sesuatu sederhana itu sulit! Namun sepadan dengan hasilnya, karena jika kita berhasil, maka kita bisa memindahkan gunung sekalipun.

Semua orang yang telah mencapai kesuksesan tahu, bahwa segalanya terlihat mudah karena waktu dan perjuangan yang telah dikorbankan amat besar. Membuat sesuatu jadi mudah adalah hal yang sederhana dan menyederhanakan sesuatu adalah hal yang mudah ketika kita telah berhasil menemukan keseimbangan dan harmoni dalam pikiran dan hati.

Keserhanaan: Kunci Keberhasilan

Kesederhanaan merupakan kunci keberhasilan sebuah kerja panjang. Dengan berpikir serta bekerja secara sederhana, manusia akan mampu menyelesaikan sebuah program hidup jangka panjang yang melelahkan. Hal ini tidak lain karena kesederhanaan akan melahirkan konsistensi dan keistiqomahan dalam beramal.

Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran. Sebenarnya untuk merasa bahagia dibutuhkan kemauan saja. “Most people are about as happy as they make up their minds to be – Orang-orang merasa bahagia ketika mereka memutuskan untuk berpikir bahwa mereka bahagia”, kata Abraham Lincoln.

Kreativitas merupakan kemampuan menyederhanakan sesuatu, bukan merumitkan sesuatu. Hidup itu sederhana sampai kita menyadari bahwa menyederhanakan sesuatu itu lebih rumit daripada membiarkannya tetap rumit.

Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin bahkan dapat menumbuhkan kreativitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang dapat dilakukan dengan apa yang kita miliki? Pertanyaan tersebut akan mendorong kita untuk memutar otak, guna memecahkan suatu masalah dengan memanfaatkan apa yang sudah kita miliki, daripada mencoba untuk membeli solusi, yang berarti pengeluaran uang lagi dan tenaga lagi.

Sederhanakan hidup dengan melupakan kesempurnaan. Yakinlah bahwa kita adalah pasangan yang baik, orang tua yang baik, dan orang yang baik. Lebih percaya diri dan lakukan apa yang datang secara alami. Menyederhanakan hidup itu tidak perlu susah. Belajar menciptakan ruang yang lebih tenang dan seimbang dalam hidup kita dapat sangat membantu. Dan mengambil langkah-langkah kecil adalah cara terbaik untuk menjadikannya kenyataan. Menyingkirkan kepenuhan, menjadi lebih teratur, menyederhanakan hubungan, belajar untuk menikmati waktu dan mengapresiasi hal-hal kecil dapat membantu kita tetap sehat. Kita bisa mulai sekarang.

Referensi:

http://roniafriza.blogspot.co.id/2012/11/kesederhanaan-simplicity.html

http://belajarislam.com/2011/10/kesederhanaan-kunci-keberhasilan/

Credit Ilustrasi:

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s