Memerdekakan Hati dan Pikiran

head-2379686_640Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena kerikil tajam. Ia berpikir, “Ternyata jalanan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.”

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan permadani dari kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang bijak menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini? padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.” Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut “Sandal“.

Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadang kala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri, bukan dengan jalan mengubah dunia itu atau bahkan malah menyesali takdir yang telah terjadi dalam kehidupannya.

Karena kita sering kali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk egoisme personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab, sering kali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan diri kita sendiri.

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih? Melapisi setiap jalan itu dengan kulit permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Ya, ini kenyataannya, banyak yang ingin berubah, tetapi dia tidak pernah belajar cara berubah. Banyak orang yang ingin berubah dengan menuntut orang lain, pemerintah, kondisi, bahkan dunia, jika perlu, agar berubah mengikuti keinginan dia sendiri. Satu hal yang dia lupakan, padahal paling penting, dan yang paling mudah yaitu menuntut dirinya untuk berubah. Mengubah dirinya sendiri.

Mengubah diri sendiri jauh lebih mudah, dibandingkan mengubah orang lain. Jangankan mengubah milyaran orang, jutaan, ribuan, ratusan, puluhan, bahkan satu orang pun susah! Namun kita bisa mengubah diri kita sendiri jika kita mau. Jika menyibukkan diri untuk melakukan yang sulit atau tidak mungkin, yaitu mengubah dunia agar sesuai dengan keinginan kita, maka hidup kita bisa sia-sia.

Tidaklah akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya (H.R Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih atTarghib wat Tarhiib)

Apa pun tindakan kita, akan berdasarkan keimanan atau apa yang kita percayai. Kualitas dan arah tindakan kita tergantung kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki. Sementara keberhasilan kita adalah buah dari tindakan. Jadi, jika ingin mengubah hasil, kita harus mengubah tindakan-tindakan kita, dan kita bisa mengubah tindakan-tindakan jika kita menguatkan iman atau kepercayaan kita.

Dalam hadis di atas dikatakan bahwa untuk mengubah iman, maka kita harus mengubah hati kita. Jika hati kita baik, maka semuanya akan baik sebagaimana dijelaskan melalui hadis ini:

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah  Al-qalbu (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah cara memperbaiki diri menurut Islam, yaitu berpusat di qalbu (hati). Lalu, bagaimana cara mengubah hati? Masih melalui hadis di atas, bahwa tidak akan istiqomah hati jika lisannya tidak istiqomah. Artinya cara mengubah hati itu di antaranya adalah mengubah lidah kita, misalnya membaca Al Quran, dzikir, dan berkata baik lalu menyelaraskannya dengan perbuatan kita sampai lisan dan perbuatan kita istiqomah, selalu dalam keadaan yang baik sesuai dengan petunjukNya.

Nah, sekarang bagaimana jika kita ingin meraih sukses di dunia, Tentu saja sukses tersebut dalam rangka meraih sukses di akhirat. Banyak yang mengatakan, sukses itu yang penting kita mau bertindak. Ternyata tidak, sebab kita mengetahui bahwa tindakan dengan iman akan berbeda dibandingkan tindakan tanpa iman. Sama halnya untuk aspek kehidupan dunia, bahwa tindakan kita akan tergantung pada kepercayaan kita. Kepercayaan itu adalah dasar tindakan. Sedangkan kepercayaan berasal dari hati dan pikiran.

Maka bentuklah hati Anda dengan kata-kata yang akan membangun kepercayaan berlandaskan iman. Istiqomahlah dalam bertindak dan mengatakan kata-kata yang akan memperkuat kepercayaan itu, bukan yang memperlemahnya.

Kadang, banyak orang yang malah fokus untuk menghancurkan keyakinan dengan kata-katanya seperti mengeluh, menuntut, memaki, dan kata-kata kotor lainnya yang mengotori hati. Bersihkan, perindah, dan perkuatlah kata-kata kita agar hati kita kuat dan bening, sehingga bisa memancarkan cahaya keimanan yang sangat kuat ke seluruh tubuh, sampai tindakan kita pun menjadi semakin hebat.

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini? Pastinya menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi dan seluruh alam semesta yang luar biasa besar itu.

Begitu juga bila diri kita ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bahkan Bumi dan seluruh isinya ini pun akan tampak buruk. Jangan pernah menutup mata kita, walau hanya dengan daun yang kecil. Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku. Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.

Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu. Demikian juga dengan hidup ini, gosip dan segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita. Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.

Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk dan mengotori hidup kita.

Kita harus menyaring apapun yang masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita. Jangan lengah. Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidakmauan kita melepaskan belenggu pikiran buruk.

Kita tak sudi melepaskan kacamata paradigma dan melihat realitas secara sederhana. Kita lebih suka bermain-main dengan persepsi ego pribadi. Kita lebih senang berlindung membenarkan pikiran egois diri sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu sehari-hari.

Mari, sejenak kita pejamkan mata. Menemukan kesejukan pikiran. Menggali ketentraman perasaan. Menyentuh jiwa yang tenang. Menekuri setiap tarikan nafas. Menyadari keberadaan kita di bumi ini.

Meneguhkan kembali ikrar kita pada semesta yang agung; ikrar untuk mencurahkan yang terbaik bagi hidup ini, dan membiarkan tangan-tanganNya menuntun setiap gerak kita sehari-hari. Merdekakan hati dan pikiran yang terbelenggu, ubahlah dirimu, bebaslah, raihlah kemenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s