Mari Berpikir Menang-Menang

Seorang Guru membuat garis sepanjang 10 cm di atas papan tulis, lalu berkata. “Anak-anak, coba perpendek garis ini!”

Anak pertama maju ke depan, ia menghapus 2 cm dari garis itu, sekarang garis tersebut menjadi 8 cm.

Pak Guru mempersilakan anak ke-2. Ia pun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal 6 cm.

Anak ke 3 dan ke 4 pun maju ke depan, sekarang garis itu tinggal 2 cm.

Terakhir, anak yang bijak maju ke depan, ia membuat garis yang lebih panjang, sejajar dengan garis pertama, yang tinggal 2 cm itu.

Sang Guru menepuk bahunya, “Kau memang bijak. Untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya – cukup membuat garis yang lebih panjang. Garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya.”

Untuk memenangkan tak perlu mengecilkan yang lain, tak usah menjelekan yang lain, karena secara tidak langsung, membicarakan kejelekan yang lain adalah cara tak jujur untuk memuji diri sendiri. Cukup lakukan kebaikan terbaik yang dapat kita lakukan untuk semuanya, biarkan waktu yang akan membuktikan kebaikan tersebut.

***

Saat perbaikan ka’bah, ketika dinding ka’bah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari.

Masalah mencapai tahap kritis, hampir terjadi pertumpahan darah karena hal ini. Akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Terimalah sebagai wasit dalam hal ini, siapapun orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa!”

Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad bin Abdullah muncul dari pintu sebagai orang yang pertama. Serempak mereka berseru itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!

Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Rasullulah meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Rasul meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah. Subhanallah, nabi kita tercinta berfikir menang-menang agar semuanya bisa dijalani dengan mementingkan semua pihak. Allahumma sholli alaa sayyidina muhammad.

7

Berpikir menang-menang merupakan filosofi total manusia dalam membangun interaksi. Sebagai makhluk sosial, interaksi merupakan sebuah kewajiban yang harus diterapkan. Berpikir menang-menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang-menang artinya tidak berpikir egois (menang-kalah) atau berpikir seperti martir (kalah-menang). Berpikir menang-menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang-menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Hanya orang yang memiliki integritas, kedewasaan karakter dan mental kaya saja yang bisa menerapkan solusi saling menang. Tanpa Integritas, orang akan merasakan sikap bermuka dua dan mereka pun menjadi berhati-hati ketika berhubungan dengan kita. Integritas adalah nilai-nilai yang kita percayai dan kita laksanakan setiap hari. Integritas adalah kesesuaian antara perkataan dengan tingkah laku kita. Memiliki integritas berarti mengetahui letak kekuatan dan kelemahan diri.

Kedewasaan karakter adalah keseimbangan antara keberanian dan toleransi. Jika seseorang dapat mengekspresikan perasaan dan keyakinannya dengan keberanian yang diimbangi pertimbangan akan perasaan dan keyakinan orang lain, maka ia sudah memiliki karakter yang dewasa, khususnya jika persoalannya sangat penting bagi kedua belah pihak.  Berpikir menang-menang adalah perwujudan dari keberanian dan toleransi yang seimbang.

Kebanyakan orang hidup dalam mentalitas miskin, bukan mentalitas kaya. Mereka melihat bahwa hidup hanya memiliki sedemikian saja, seolah hanya ada satu kotak di luar sana. Dan jika seseorang ingin mendapatkan keuntungan besar dari sesuatu, hal itu berarti harus lebih sedikit untuk orang lain. Mentalitas miskin adalah paradigma hidup zero-sum (pertambahan pada yang satu berarti pengurangan pada yang lain).

Sering kali, orang dengan mental ini menyembunyikan harapan agar orang lain menderita kemalangan. Mereka selalu membandingkan, selalu bersaing. Mereka mengerahkan energi mereka untuk memiliki benda-benda supaya merasa berharga. Mereka ingin agar orang lain menjadi seperti yang mereka inginkan. Mereka sering ingin menciptakan tiruan orang-orang itu, dan mereka mengelilingi diri mereka dengan orang-orang yang patuh, yang tidak menentang mereka, orang – orang yang lebih lemah dari mereka.

Orang dengan mental miskin sulit memberi penghargaan, kekuasaan, atau keuntungan kepada orang lain. Mereka sulit sekali menjadi benar-benar bahagia atas keberhasilan orang lain. Seolah-olah “sesuatu” dari dalam dirinya direbut ketika orang lain menerima pengakuan khusus atau rejeki nomplok atau keberhasilan. Nilai diri mereka diperoleh melalui perbandingan dan keberhasilan orang lain adalah kegagalan mereka.

Memang benar bahwa tidak semua situasi harus berdasarkan prinsip saling menguntungkan (menang-menang). Jika kita sedang bertanding Taekwondo, kita harus menang atau harus kalah. Tidak ada skor sama karena dalam pertandingan, harus ada pemenang. Jika kita bekerja sebagai kepala di kantor cabang Surabaya, kita harus bersaing dengan kepala kantor cabang Jakarta untuk mendapatkan promosi jabatan. Jika kita sedang mengajarkan anak sikap disiplin maka kita harus berada di sikap menang – kalah. Jika anak kita dalam bahaya, mungkin kita menjadi kurang peduli dengan keadaan dan situasi orang lain, menyelamatkan anak adalah kepentingan tertinggi.

Jadi, pada hakekatnya saya menang – anda menang adalah suatu alternatif, sebuah pilihan situasional yang harus diusahakan sebisa mungkin.

Agar dapat berpikir menang-menang, pertama kita harus menenangkan diri, maka kita dapat berpikir lebih jernih terhadap diri sendiri. Kedua, hindari kecenderungan bersaing. Persaingan memang diperlukan semua orang. Akan tetapi persaingan memiliki dua sisi. Persaingan akan sehat apabila kita menantang diri sendiri agar dapat mencapai sesuatu dengan mengerahkan kemampuan terbaik kita. Akan tetapi persaingan akan menjadi buruk apabila kita mementingkan kemenangan lebih dari apapun sehingga menghalalkan cara yang salah.

Selanjutnya, kecenderungan membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah hal lain yang harus dihindari. Kenapa kita harus membanding-bandingkan diri dengan orang lain? Kita semua berada pada jadwal perkembangan yang berbeda-beda, secara sosial, fisik dan mental. Hidup kita ini unik, dan masing-masing dari kita dilengkapi dengan hambatan-hambatan tersendiri. Jadi lebih baik menjadi diri kita sendiri dan berhenti membanding-bandingkan diri.

Papua 2 jam lebih awal dari Jakarta, tapi tidak berarti Jakarta lambat, atau Papua cepat. Keduanya bekerja sesuai Zona Waktunya masing-masing. Seseorang masih sendiri, seseorang lainnya menikah dan menunggu 10 tahun untuk memiliki momongan. Ada juga yang memiliki momongan dalam setahun usia pernikahannya.

Seseorang lulus kuliah di usia 22 tahun, tapi menunggu 5 tahun untuk mendapatkan pekerjaan tetap; yang lainnya lulus di usia 27 tahun dan langsung bekerja.

Seseorang menjadi CEO di usia 25 tahun dan meninggal di usia 50 tahun, di saat yang lain menjadi CEO di usia 50 tahun dan hidup hingga usia 90 tahun. Setiap orang bekerja sesuai Zona Waktunya masing-masing. Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing.

Kolega kita, teman-teman, adik kelas, mungkin “tampak” lebih maju, sebaliknya mungkin yang lainnya “tampak” di belakang kita. Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri, jalurnya sendiri, dalam waktunya masing-masing.

Allah punya rencana berbeda untuk masing-masing orang dan waktu yang berbeda untuk setiap orang. Obama pensiun dari presiden di usia 55 tahun, dan Donald Trump maju untuk menjadi presiden, di usianya yang ke 70 tahun.

Jangan iri/dengki kepada mereka yang didepan kita atau mengejek/merendahkan mereka yang dibelakang kita.

Itu Zona Waktu mereka.

Kita pun berada di Zona Waktu kita sendiri

Kita tidak terlambat.

Kita tidak lebih cepat.

Kita sangat tepat waktu, sesuai dengan ketetapan-Nya.

Tetaplah kejar keberkahanNya agar sampai pada muara kebahagiaan Nya.

Kita di Zona Waktu kita sendiri. Bijaklah, berfikir menang-menang dan tak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Semoga sehat selalu, diberi keberkahan,  kelancaran dan kemudahan di zona waktu kita asing-masing.

win-win-125

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s