Menjadi Padi, Makin Berisi Semakin Merunduk

Sikap rendah hati, membuat kita lebih terbuka. Mau tetap belajar dan menerima hal baru. (Andrie Wongso)

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum, termahsyur dimana-mana. Semua orang memujinya. Kemanapun beliau pergi selalu disambut dengan teriakan penuh pujian. Ya! Bahkan beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus (Saifullah Al-Maslul).

khalidibnalDalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Lawannya lebih banyak dari 5 kali lipatnya. Namun, dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkan begitu mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin -Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, “Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”

Menerima kabar tersebut, tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar, beliau memberikan salam, “Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”

“Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!” Jawab Khalifah.

“Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”

“Kamu tidak punya kesalahan.”

“Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”

“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”

“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar menjawab, “Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!”

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis beliu berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”

Bayangkan, jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?

Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau kembali ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”

Sebuah kisah yang sangat indah. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT.

pepatah yang mengatakan “Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”.Ketika kita memiliki suatu kelebihan yang diberikan Allah, kita seringkali berbangga diri dengan kelebihan itu. kita merasa bahwa keberhasilan itu, merupakan usaha kita sendiri, atau bahkan kita merasa diri lebih hebat dari orang lain. Tapi apa yang ada dikehidupan nyata? kita memiliki bagian masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Allah telah menetapkan kehidupan di dunia ini dengan segala kadarnya yang terbaik.

Maka dari itu jika kita merasa diberikan kelebihan oleh Allah, hendaknya jangan terlalu berbangga hati atau pun terlalu gembira dengan kelebihan itu. Apalagi merasa lebih dari orang lain. Karena kelebihan kita hanyalah pemberian dari Allah. Coba kita bayangkan bagaimana jika bukan kita yang diberi kelebihan itu, misalnya kita diberi kelebihan dengan otak yang cerdas, kemudian kita merasa diri kita lebih pintar dari teman kita yang kurang cerdas. Bagaimana jika Allah menukarnya, kita yang menjadi orang yang kurang cerdas itu dan teman kita menjadi yang cerdas, apa yang akan kita lakukan?

Tapi, padi bukan lantas menyuruh kita, kalau sudah pintar, merunduk saja. Diam-diam, jangan sampai kelihatan orang. “Semakin berisi, semakin merunduk” Bukan! Ketahuilah, orang yang punya potensi, keahlian dan ilmu tetapi tidak dioptimalkan itu namanya “kufur nikmat” alias tidak bersyukur. Maka segera tuliskan ide dan gagasan Anda, sebarkan dan realisasikan. Hasilkan karya nyata dari tangan dan kaki Anda. Karena harusnya, orang-orang pintar dan penuh pengalaman inilah yang lantang bersuara, berbagi ilmunya pada sesama, bahkan menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik.

Nah, lain lagi saat potensi kita sudah melejit. Keahlian kita sudah dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Ilmu kitatelah menginspirasi dan mencerahkan orang di berbagai penjuru. Saat itulah pergunakan “ilmu padi”. Rendahkan hati, tundukkan ego.

Kita tidak berhak untuk berbangga diri atau merasa lebih dari orang lain, karena pada dasarnya kelebihan yang kita miliki hanyalah pemberian, titipan dari Allah SWT. Bisa saja suatu saat nanti ternyata Allah mentakdirkan kita kehilangan semua kelebihan kita, sehingga tidak memiliki lagi apa-apa yang dulu kita bangga-banggakan.

Demikian pula bagi yang merasa memiliki banyak kekurangan dalam hidupnya. Jangan pernah merasa rendah diri, karena sesungguhnya kehidupan yang kita miliki memang itu lah yang ditakdirkan Allah. Jadi jangan merasa bahwa level kita di bawah, sehingga kita menjadi minder. Asalkan kita selalu berusaha menjadi yang terbaik, maka urusan takdir adalah urusan Allah. Kita memang wajib berusaha, tapi jika usaha keras yang dilakukan belum membuat level kita naik, itu memang sudah kehendak Allah. Artinya itulah yang terbaik untuk kita. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya. Yang penting tugas kita adalah selalu berusaha dan berdoa dengan tulus dan ikhlas.

Semakin tinggi ilmu maka semakin rendah hati dan semakin kuat menerima ujian dan cobaan yang ada. “Semakin tinggi pohon maka semakin angin bertiup”. Walaupun ilmunya tinggi tetapi Iman dan jiwa tidak menyikapi dengan baik maka kita hanya akan di ombang-ambingkan angin.

Teruslah berusaha menjadi yang terbaik di bidang masing-masing. Dan yang terpenting teruslah selalu berusaha memperbaiki iman dan amalan kita. Dan janganlah menjadi orang yang sombong. Sombong adalah watak utama dari Iblis, sebagaimana yang diterangkan dalam banyak ayat dalam Al- Qur’an. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Q. S. Al-Baqarah, ayat 34).

Jadilah seperti padi, yang semakin berisi semakin merunduk…

ilmu-padi-copy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s