Aku Adalah Juara!

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS Al-Insyirah, 94: 1-8)

WinnerDalam hidup, setiap orang ingin menjadi sang juara. Bukan sekadar soal menjadi lebih unggul daripada orang lain, namun ini soal cara meraih tujuan yang hendak dicapai. Seorang juara selalu memiliki tujuan yang jelas.  Para juara tidak dibuat di arena. Arena hanya alat atau media untuk menjadi juara. Muhammad Ali, petinju paling berpengaruh di dunia pernah memberitahu resep menjadi juara. Ia berkata, bahwa para juara dibuat dari sesuatu yang ada di dalam diri mereka – sebuah hasrat, sebuah impian, sebuah visi. Mereka memiliki keterampilan dan kemauan, tetapi kemauanlah yang terbesar. Bukan hanya mengikuti pertandingan, karena akan percuma tanpa hasrat, impian, dan visi. Maka, tentukanlah tujuan hidupmu. Tentukanlah mimpi, cita-citamu dan gapailah. Terus jadikan setiap langkah hidup untuk mencapai tujuan itu.

Kita bisa belajar dari para atlet yang selalu berburu gelar juara yang berbekal semangat dan mental juara. Watak dan kepribadian atlet “sang juara” akan terlihat saat dia berjuang di medan laga. Seorang juara akan selalu memegang semangat ini: “Setiap hari, di dalam hidup, saya mau memberikan yang terbaik dari hidup saya.” Seorang juara tidak mencapai kemenangannya secara instan, melainkan melalui sebuah perjuangan dan kerja keras yang ia bentuk sejak jauh hari. Entah itu dalam bentuk belajar, menjaga pergaulan, dan menjaga doa lewat ibadah-ibadah rutin yang ia lakukan. Bahkan sering kali gelar juaranya sudah dibangun dari aktivitas-aktivitas positif yang justru terlihat tidak berhubungan dengan gelar juara yang ia raih.

Seorang juara, telah membangun gelar juaranya sedikit demi sedikit melalui apa yang telah ia lakukan dalam setiap detik yang dilaluinya dengan melakukan hal terbaik- Apapun itu. Karena seorang juara telah terbiasa melakukan hal sebaik mungkin, berhasil dalam hal-hal yang bahkan tampak remeh, justru dengan inilah menjadikannya memiliki mental pemenang yang percaya diri.

Pandanglah realitanya, lihatlah seorang yang telah berhasil menjadi juara. Mereka adalah orang-orang yang mampu bersinergi (berjamaah) dengan sesama, belajar lebih rajin, bekerja lebih keras, dan bersikap lebih baik daripada kebanyakan orang disekitarnya. Seorang juara berani berkorban dengan membayar harga kenyamanan untuk sebuah kerja keras yang membuahkan kemajuan. Tak mudah menjadi manusia istiqomah. Ini menandakan Ia mampu memanajemen hatinya, untuk senantiasa dalam keadaan yang baik. Rasulullah SAW bersabda “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, tetapi bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati” (HR. Bukhari – Muslim).

Ada sebuah kisah tentang Houtman Zainal Arif, Vice President Citibank. Dia mengawali kariernya sebagai seorang office boy. Houtman selalu melakukan hal di luar pekerjaannya, melebihi tugasnya yang hanya mengurusi kebersihan. Sebagai seorang office boy, ia belum piawai melakukan tugas menggandakan data saat itu. Namun, dia justru mengurusi fotokopi juga di tahun 1960-an. Dia mau belajar usai menuntaskan pekerjaannya. Alhasil, dia dipercaya untuk bertugas sebagai penanggung jawab fotokopi kantor.

Usai menuntaskan pekerjaannya, dia membantu pula proses administrasi, seperti mengerjakan proses stempel dan hal-hal administrasi lainnya. Sehingga pada satu kesempatan dia diangkat menjadi staf kantor hingga kemudian merintis karier sampai puncak sebagai vice president bank kelas dunia. Untuk mendapatkan apa yang kita tidak pernah miliki, maka kita harus melakukan apa yang tidak pernah kita lakukan.

 

Seorang Juara Akan Menerima Kegagalan, Tetapi Tetap Optimis

Kelebihan kitalah yang membawa manfaat bagi orang lain. Tidak ada gunanya berfokus pada kelemahan diri. Seorang pemenang sejati adalah seseorang yang mengakui kekalahannya. Jangan beralasan saat kita kalah dan jangan berkomentar saat kita menang. Kita tidak akan bisa menguasai segala hal, fokuskan satu yang paling bisa. Jangan memaksakan diri jika kita memang tak mampu, terima saja diri apa adanya.

Seorang juara akan fokus pada hal-hal yang membantu pencapaian impiannya dan bukan pada hal-hal yang menghambat pencapaian impian tersebut.  Untuk memiliki kupu-kupu di halaman dan rumah kita, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan membawa jaring. Tetapi sedikit yang akan terjaring. Sementara cara kedua adalah dengan membuat taman bunga, sehingga kupu-kupu akan datang sendiri menghampiri.

Setiap orang semua sama, memiliki 24 jam dalam satu hari. Kesuksesan ditentukan oleh seberapa baiknya kita memanfaatkan waktu. Janganlah berusaha untuk menjadi orang suskes, berusahalah untuk menjadi orang yang penuh dengan peluang. Dengan terus mengembangkan diri, mengembangakan hal-hal positif yang menjadi kekuatan. Sehingga memiliki skill dan kualitas yang banyak dicari oleh berbagai kalangan. Biarkan kesuksesan yang justru datang mendekat.

Ketika Allah mengambil sesuatu dari genggaman, Dia tidak bermaksud untuk menghukum. Dia hanya membuka tanganmu untuk menerima sesuatu yang lebih baik lagi. Jangan takut gagal, karena kegagalan membuat kita semakin kuat dan tangguh. Tidak ada orang kuat tanpa latihan yang berat. Tidak ada orang yang hebat tanpa karakter yang kuat. “Masa lalu” adalah sebuah tempat yang bagus untuk dikunjungi, tetapi buruk untuk tinggal disana. Jangan takut menghadapi masa depan. Karena kamulah yang menentukan masa depanmu.

Seorang juara tidak meminta Tuhan untuk mengabulkan semua harapannya. Ia tidak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Tetapi, ia bermohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Begitulah, mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa padaNya, untuk mengabulkan permintaan kita, menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Padahal, yang kita butuhkan adalah bimbinganNya, tuntunanNya, dan panduanNya. Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat, kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tidak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Allah memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Karena itu semua adalah ujian kepada setiap hambanya yang sholeh. Dan yang perlu disadari dan diingat kembali, bahwa Allah menyayangi dan mencintai setiap hambaNya.

Selanjutnya jika sudah berhasil menjadi juara. Jangan merasa diri selalu paling benar, karena mungkin kritikan-kritikan orang itu memang benar adanya. Biasakanlah juga menghargai orang lain. Ingat, kesombongan datang dari sikap yang tidak menghargai orang lain.

Jadi, siapkah kita menjadi seorang juara? Katakan sekarang: “Aku adalah juara!”

Credit Ilustrasi: http://images.huffingtonpost.com/2016-02-24-1456350654-7638200-trainyourbrainchampion.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s