Membangun Peradaban Dengan Islam

Indonesia selama ini dikenal dengan jumlah penduduk Islam terbesar di seluruh dunia bahkan mengalahkan populasi penduduk Islam di negara Arab Saudi. Saat ini populasi umat Islam di dunia berjumlah sekitar 23,4 persen dari total penduduk dunia dan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.

Peningkatan populasi umat Islam ini diikuti oleh negara-negara Islam lainnya seperti India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Turki, dan Maroko. Populasi umat Islam yang terus bergerak naik ini sangat memungkinkan untuk bangkitnya kembali peradaban Islam pada tahun 2045.

Mengapa tahun 2045? Tahun 2045 merupakan golden year untuk Indonesia sendiri karena pada tahun tersebut menjadi puncak dimana usia produktif penduduk Indonesia meningkat secara drastis. Banyaknya pemuda berlandaskan Islam saat ini memberikan angin segar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban.

Di tengah kemelut berkepanjangan dan islamofobia yang ramai dibicarakan pihak Barat, Indonesia sebagai negara Muslim tidak lepas dari dampak isu tersebut. Dibawah pengaruh besar Amerika Serikat, Indonesia dipaksa bergabung untuk ikut dalam memerangi terorisme yang sebagian besar merupakan rekayasa politik negara adidaya tersebut.

Globalisasi juga memaksa sejumlah negara-negara Muslim lainnya untuk menyesuaikan aturan-aturan negara mereka dan menjadi lebih terbuka terhadap pengaruh Barat. Sementara itu propaganda Barat untuk terus menghilangkan peradaban Muslim secara besar-besaran terus dilakukan.

Untuk membangkitkan kembali peradaban Islam pada tahun 2045, negara-negara Muslim di dunia terus meningkatkan pertahanan dan daya saing mereka di dunia Internasional. Sumber daya manusia terus ditingkatkan sehingga lahir bibit pemimpin pembawa peradaban Islam pada tahun 2045.

Kita ketahui, sejarah lahirnya negara Indonesia tak lepas dari masuknya agama Islam ke Nusantara.

Kekuatan Islam dalam mempersatukan wilayah nusantara terlihat ketika perjuangan melawan penjajahan hingga kemerdekaan Indonesia. Pertempuran di pulau Jawa dipimpin oleh kesultanan Islam seperti Kesultanan Demak dan Mataram yang mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan di bumi Nusantara.

Sementara di wilayah Sumatera, kaum Paderi merupakan kelompok yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan dalam Perang Paderi. Keinginan dan semangat untuk membentuk sebuah negara yang utuh dicetuskan pertama kali oleh Serikat Islam dalam Natioonal Indische Congress pada tanggal 17-24 Juni 1916 di Surabaya.

Kongres ini membahas tentang pandangan islam mengenai demokrasi dan sosialisme. Kongres ini terus berlanjut hingga tahun 1921 yang nantinya akan melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Propaganda Barat untuk menghentikan peningkatan populasi dan kualitas Muslim di Indonesia terus dilakukan. Saat ini kondisi kepemimpinan di Indonesia semakin menurun seiring dengan kekacauan politik dalam negeri dan tuntutan dunia Internasional yang semakin meningkat. Ideologi Pancasila yang dipegang teguh oleh negara ini merupakan produk dari para pemimpin Islam di masa kemerdekaan.

Dunia Islam saat ini mendapatkan cobaan dan tantangan yang berat dari dunia Internasional. Pemimpin yang memiliki landasan agama yang kuat dan memiliki strategi yang jitu merupakan hal yang dibutuhkan Islam untuk mencapai peradabannya.

Dunia memang sedang mencari keseimbangan. Ditengah maraknya fenomena perilaku amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti seks pra-nikah, video porno, penyalahgunaan NAPZA dan minuman keras, tawuran, kekerasan, perploncoan, penghinaan kepada profesi guru. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi dan manipulasi yang prevalensinya banyak melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar.

Semua ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik dan beretika sekaligus menjadi musuh utama fenomena-fenomena perilaku amoral tersebut.

Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran para tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi yang memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu pendidikan tanpa karakter. Begitu pula, Dr. Martin Luther King yang pernah berkata: Kecerdasan plus karakter…. itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat.

Bahkan pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter ini telah lama didengung-dengungkan oleh pandita pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, dengan pendidikan yang berpilar kepada Cipta, Rasa dan Karsa. Bermakna bahwa pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan tetapi juga mengasah afeksi moral sehingga menghasilkan karya bagi kepentingan ummat manusia.

Berdasarkan latar belakang fenomena dan pendapat para tokoh inilah, dunia pendidikan saat ini mencoba mengevaluasi sistem pembelajarannya untuk menghasilkan manusia berkarakter. Proses pencarian jati diri sistem pendidikan, khususnya di Indonesia inilah yang merupakan arah untuk mencapai keseimbangan atau kondisi homeostatic yang relatif

Sebagaimana setiap manusia mempunyai keinginan untuk mencapainya. Di sinilah peran sekolah dan guru sebagai institusi pendidikan formal sebagai posisi yang ‘tertantang’ dalam menghadapi fenomena yang berkaitan dengan globalisasi dan degradasi moral.

Pendidikan, kita ketahui merupakan Jantungnya peradaban suatu negara. Lalu ada sebuah pepatah arab yang mengatakan belajarlah sampai kenegri Cina.

Tentang Cina ini ada kisah yang bagus.

Dahulu, ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.

Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.

Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.

Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

  1. Hancurkan tatanan keluarga
  2. Hancurkan pendidikan
  3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan ulama.

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.

Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru.

Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai.

Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para ulama dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur ?

Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.

Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

Semoga artikel sederhana ini, menjadi pengigat bagi kita semua. Mari kita senantiasa membangun dunia pendidikan kita. Dunia yang menjadi jantung peradaban.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s