Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

indonesia-merdeka

Indonesia memiliki hampir segalanya. Gunung tembaga dan emas, minyak bumi, kayu, sumber daya lautan, tanah subur, kecakapan buruh para rakyatnya dsb. Indonesia dijajah oleh Belanda diabad ke 16, dijarah oleh Barat selama ratusan tahun. Indonesia di hisap semua kekayaanya oleh negara Barat sehingga mereka mampu menjadi kuat dan besar seperti sekarang ini.

Sepertinya kini keadaan tak jauh berbeda. Hanya saja penjajahannya bukan lagi tampak secara fisik dengan berbagai penyiksaan dan pertumpahan darah. Akan tetapi penjajahan yang sistematis secara ekonomi. Misalnya saja, sekarang kita didikte oleh IMF, oleh bank dunia. Negeri yang sangat kaya ini diubah menjadi negara pengemis, negeri dengan lilitan hutang.

Tahun 1967 hutang luar negeri indonesia sebesar USD 2 miliar, hal itu dibutuhkan untuk membebaskan Irian Barat. Semua sumber daya alam kita masih utuh. Hasil dari hutang ini, TNI kita merupakan salah satu yang terkuat di Asia.

Tetapi, tahun 1988 utang membengkak menjadi USD 60 miliar, dan akhirnya menghasilkan sumber daya alam yang habis dikeruk. Tahun 2016 ini, menjelang ulang tahun negara yang ke 71, utang kita menjadi USD 314 miliar! Sebagian besar sektor utama energi dan sumber daya alam kita dikuasai oleh asing. Mengapa mereka bisa menguasai sumber daya kita? Lagi-lagi pasti dengan dalih demi kemajuan ekonomi, menyuntikan dana dan investasi, membuka lahan pekerjaan bagi pribumi dll.

Jika ditanyakan untuk apa kita behutang? Untuk apa pemerintah melakukan itu? Tentu akan memiliki jawaban yang sangat kompleks dan panjang, namun dapat ditarik garis besarnya. Yakni demi kemajuan dan pembangunan.

Kemajuan dan Pembangunan Untuk Siapa?

Fakta bahwa negeri ini terus membangun dan kemajuan terjadi di banyak sektor, tak seorang pun membantah. Tidak hanya di tingkat nasional pembangunan dan kemajuan itu terjadi. Di tingkat provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, dan pelosok pedesaan, mudah sekali untuk menunjuk pembangunan dan kemajuan itu.

Banyak jalan, stasiun, pelabuhan, bandar udara telah mengantar dan menghubungkan mereka yang sebelumnya terisolasi. Banyak bangunan telah berdiri untuk tempat tinggal dan tempat kerja. Banyak lembaga pendidikan didedikasikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Masih banyak lagi hasil pembangunan dan kemajuan jika hendak dirinci satu per satu di sini. Dusta, jika tidak melihat hal-hal itu sebagai bukti pembangunan dan kemajuan negeri.

Namun, untuk apa pembangunan dan kemajuan itu diwujudkan? Untuk siapa pembangunan dan kemajuan itu diwujudkan? Apakah pembangunan dan kemuajuan yang gigih diupayakan pemerintah itu serta merta mewujud dalam kehidupan rakyat?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun, apa yang dirilis Badan Pusat Statistik tentang indeks koefisien gini Indonesia pada September 2015 setidaknya memberi gambaran tentang tidak terjadinya pemerataan kesejahteraan sosial. Sekitar 1 persen orang Indonesia menguasai 40 persen kekayaan nasional pada 2015.

Meskipun sangat jomplang, tentu dari hitungan statistika itu kita masih memiliki harapan, setidaknya 60 persen kekayaan nasional sisanya dinikmati secara merata oleh 99 persen penduduk Indonesia lainnya. Namun, apa harapan itu nyata? Faktanya tidak demikian. Di antara 99 persen orang Indonesia itu ada tingkatan akumulasi kekayaan yang ketimpangannya justru kerap lebih dirasakan. Orang superkaya yang masuk 1 persen jarang menunjuk-nunjukkan tingkat kesuperkayaannya.

Sebut saja kisah Pak Mayar di zaman pak SBY dulu. Kisah ini adalah cermin untuk melihat realita yang ada tentang pembangunan. Jalan tanah yang becek dan tidak bisa dilalui kendaraan saat hujan di sekitar rumah pak Mayar akhirnya sudah diaspal. SMAN pertama di Gunung Putri juga didirikan tepat di seberang rumah Pak Mayar.

Pak Mayar senang sekaligus sedih mendapati perubahan di desanya. Jalan-jalan yang diaspal tidak memudahkannya menjual lengkuas atau serai hasil tanamnya. Jalan-jalan yang diaspal mengurangi lahan garapannya untuk menanam lengkuas dan serai karena dijadikan perumahan-perumahan.

Jalan-jalan yang diaspal membuka isolasi Desa Wana Herang yang ditinggali Pak Mayar dan keluarganya. Terbukanya isolasi desa sekaligus mengantar datangnya para pendatang yang ingin menguasai lahan-lahan.

Karena desakan kebutuhan ekonomi, lahan yang dimiliki Pak Mayar dijual. Tidak hanya itu, rumah tempatnya berikut pekarangannya dijual karena panen lengkuas dan serai tidak mencukupi kebutuhan harian.

Untuk hadirnya SMAN di Gunung Putri, Pak Mayar juga senang karena warga desanya tidak harus pergi jauh untuk mengenyam pendidikan “tinggi”. Namun, karena alasan biaya yang tidak terjangkau, tidak satu pun cucu Pak Mayar bisa sekolah di SMAN itu.

SMAN itu jadi “pelengkap fasilitas” sejumlah perumahan yang didirikan di sekitar kampung Pak Mayar. Pak Mayar bersama anak-anak dan cucu-cucunya, serta sejumlah warga asli Wana Herang hanya bisa menyaksikan perubahan di kampungnya tanpa bisa ikut “merasakan”.

Apakah pembangunan dan kemajuan yang diupayakan sungguh-sungguh meningkatkan kesejahteraan sosial mereka? Seperti dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945, pemerintah Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kesejahteraan yang diupayakan dan dimajukan adalah kesejahteraan umum.

Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963 menegaskan: 1)     berdaulat secara politik, 2) berdikari secara ekonomi 3) berkepribadian secara sosial budaya. Ajaran Soekarno yang diadopsi oleh Fidel Castro dalam konteks Kuba adalah ajaran Trisakti.

Yang menarik adalah bahwa Fidel Castro mengadopsi dan menerapkan prinsip Soekarno itu secara konsisten dan tegar dalam seluruh sistem pemerintahannya. Konsistensi yang paling kentara adalah menolak segala bentuk imperialisme dan kapitalisme yang merupakan pendiktean oleh Barat tentang ekonomi, politik dan budaya. Castro sangat jelas menolak kehadiran dan campur tangan IMF dalam negaranya, bahkan menyerukan agar lembaga pendanaan kapitalis internasional yang menindas negara-negara berkembang itu semestinya dibubarkan dan dihentikan perannya.

Ini merupakan wujud pelaksanaan Trisakti yang konsisten oleh Castro dalam konteks Kuba, yakni kemandirian dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kekuatan ekonomi sendiri merupakan landasan bagi pemerintah Kuba untuk membangun negara dan rakyatnya. Tidak ada hutang luar negeri yang diterima sebagai landasan, sehingga tak ada kewajiban cicilan bunga hutang yang tinggi yang harus dibayar oleh pemerintah Kuba. Seluruh pendapatan negara dialokasikan pertama-tama untuk belanja tunjangan sosial, dan kedua untuk belanja pendidikan. Kepentingan lain berada dalam urutan prioritas berikutnya. Karena berdikari dalam bidang ekonomi, Kuba telah mampu mempertahankan kedaulatan dalam bidang politik dan kedaulatan dalam kebudayaan nasionalnya.

Dalam kemandirian sosial budaya, sebuah bangsa memang tidak sehat apabila menolak budaya asing, karena secara natural suatu bangsa tidak dapat mengisolasi diri dari pengaruh asing. Namun demikian, kita perlu menyaring budaya yang diserap. Jangan sampai budaya yang tidak sesuai dengan bangsa dilahap begitu saja. Apalagi sampai kehilangan jati diri.

Janganlah kita merasa menjadi bangsa kalah, dan karena merasa kalah kita menuruti semua keinginan yang menang, bahkan berusah meniru perilaku mereka dengan segala macam budaya negatifnya.

Haruskah kita ajukan suatu gugatan yang mengajak kita berpikir dan menyadari arti kemerdekaan tidak hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk sesama rakyat di seluruh Indonesia?

 

Sebuah Refleksi

Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan. Apabila Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Korea Selatan merdeka dua hari sebelumnya. Yakni pada tanggal 15 Agustus 1945. Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu lebih miskin dari Indonesia, sekarang menempati papan atas Negara Maju. Hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya..!

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya? Jawabannya, pasti tidak. Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia, tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Bagi mereka, “Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea”.

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah. Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya: “밥을 먹었어요?” (Sudah makan nasi?), Jika belum, maka akan diajak makan.

Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini. Pesan dari Presiden Korea saat itu, “Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.” (Mari kita bekerja lebih keras dan lebih keras. Mari kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri)

Dan kemudian ditutup oleh quote ini, “Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.” (Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yang layak untuk dibanggakan.)

Bagiamana dengan Indonesia? Sudahkan kita semua berfikir dan bertindak demi putra-putri kita kelak? Sudah benarkah kita telah mengisi kemerdekaan yang sangat berharga ini?

Selamat menyambut dan merayakan kemerdekaan.

Credit Ilustrasi: http://i.mobavatar.com/for-the-love-of-nation/indonesia-merdeka.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s