Merokok Versus Keteladanan dan Cerminan Karakter Bangsa

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS: Al-Ahzab: 21)

“MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”.

smokers_dead_wallpaper_jxhy

Tulisan tersebut terpampang dengan jelas mengisi setiap bungkus rokok. Banyak slogan yang menunjukan bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan, banyak penelitian dan riset yang menunjukan bahwa rokok berbahaya. Sudah banyak fakta serta bukti yang mendukung bahwa racun dan zat berbahaya terkandung dalam asap rokok.  Ada 4000 macam zat kimia dalam sebatang rokok dan 200 jenisnya berbahaya. Lebih berbahaya lagi karena bahaya rokok tersebut justru terpapar juga kepada orang yang tidak merokok. Tanpa sadar menyebarkan mudharat kepada orang lain.

Nyaris semua orang perokok sudah tahu bahaya rokok, namun perokok masih ditemui disetiap tempat dan waktu. Bahkan di tempat dimana khalayak umum berada, di angkutan umum, di terminal, di pasar, di majelis ilmu dan yang lebih miris penghisap rokok juga ada yang dari kalangan terpelajar dan menjadi panutan, seperti guru, dosen, kyai bahkan dokter yang paling tahu bahaya dari rokok itu sendiri !. Inilah potret cerminan di masyarakat kita, mungkin cerminan umat Muslim karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Seseorang bisa memiliki ilmu dan pengetahuan akan tetapi belum memiliki watak yang baik (akhlak).

Hal yang membahayakan dari rokok selain bermasalah bagi kesehatan adalah pengaruhnya terhadap penurunan kecerdasan manusia. Dari 5000 data yang dikumpulkan dari warga Inggris, para peneliti Severine Sabia dan koleganya dari Institut Kesehatan Nasional dan Penelitian medis di Velijuif Perancis menunjukan bahwa mereka yang merokok lebih rendah tingkat ingatan, bernalar, kosa kata dan kecakapan verbalnya, dibandingkan yang tidak merokok.  Merokok sangat mempengaruhi penurunan mental di usia muda dan kerapuhan fisik di usia tua. The Sheba Medical Center di Tel Hasomerpun melakukan penelitian dengan hasil yang sama. Para perokok memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak merokok. Sampel dalam penelitian ini adalah 2000 orang perokok aktif. Hasil membuktikan bahwa para perokok aktif ini hanya memiliki  IQ rata-rata 94. Padahal IQ rata-rata non perokok adalah 101. Sedangkan perokok aktif menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari memiliki poin rata-rata IQ 90. Berarti perokok yang gemar menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari semakin turun kecerdasannya. Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk membuat orang menjadi cerdas, oleh karena itu sudah sepantasnya apabila dunia pendidikan benar-benar menjauhi rokok, pelajar dan orang yang berkecimpung di bidang pendidikan harus menjauhi asap rokok.

Permasalahan rokok ini memang merupakan hal yang pelik, apalagi bagi yang sudah menjadi candu. Dikalangan umat khususnya di Indonesia masalah rokok ini masih menjadi hal yang masih diperdebatkan oleh sebagian ulama antara makruh dan haram. MUI sendiri sudah mengeluarkan fatwa haram rokok melalui Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke III, 24-26 Januari 2009 di Sumatera Barat. Namun pengharamannya secara terbatas bagi orang yang secara nyata akan menimbulkan bahaya seperti bagi anak-anak, bagi  remaja, bagi ibu hamil serta merokok di tempat umum. Dasar penetapan fatwa haram secara terbatas tersebut adalah Al-Quran, Al-Hadist dan As-Sunnah namun bersifat mustanba’ah (hasil ijtihad para ulama). Selain itu di seluruh negara-negara Islam seperti di Arab, rokok diberlakukan haram.

Dalam tulisan ini yang menjadi pokok utama sebenarnya adalah bukan masalah merokok, akan tetapi lebih ke masalah keteladanan. Dalam beberapa ayat Al-Quran dijelaskan bahwa dalam diri Rasullulah dan nabi-nabi yang diutus terdapat suri tauladan yang baik. Rasullulah dan para nabi menjadi suri tauladan karena memiliki watak yang baik. Dalam istilah psikologi, watak berarti perilaku. Perilaku yang baik disebut karakter, perilaku yang buruk disebut tabi’at. Baik dan buruk adalah perjalanan dalam hidup. Bicara perjalanan maka berbicara proses. Bicara proses adalah bicara dinamika pembentukan watak seseorang. Yang baik buruknya amat tergantung pada latar keluarga, pengaruh lingkungan, serta tuntunan nilai dan norma adat tradisi, kepercayaan dan agama.

Bicara karakter maka kita bicara proses latihan, pembiasaan, dan keteladanan. Pendidikan, jelas memegang peranan penting dalam hal ini. Bung Hatta (1954) pernah berujar tentang karakter. Bahwa seseorang boleh jenius atau berbakat tetapi tidak mempunyai karakter. Tak punya karakter artinya sama dengan tidak mempunyai kemauan untuk membela bangsa dan agamanya.

Jika seseorang jenius, mungkin kehebatannya hanya cukup dinikmati dirinya sendiri. Namun, bagi seseorang yang berkarakter, manfaat bagi sesama adalah fokus utamanya. Orang jenius tak berkarakter bisa sangat berbahaya. Saking bahayanya, aset negara bisa disikat. Saking jeniusnya, segala cara bisa dilakukan untuk membodohi orang lain. Hidupnya celaka dan mencelakakan.

Pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa bagi terjadinya pengalihan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga meliputi pengalihan nilai-nilai budaya dan norma sosial. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan proses mengajar saja atau transfer ilmu. Akan tetapi diperlukan juga keteladanan  untuk mencapainya.

Penerapan karakter hanya akan terwujud jika ada komitmen, partisipasi, proses pembiasaan dan keteladan dari orang yang lebih tua atau pemimpin. Kedisiplinan, kejujuran, kerja keras, kebersihan adalah contoh bagian dari karakter. Sulit mengharapkan orang menjadi berkarakter apabila praktik pendidikan baik itu kebudayan di masyarakat, keluarga, sekolah, pesantren atau pengajian dsb masih bisa dikatakan belum mencapai keteladanan.  Tak ada pembiasaan dan keteladanan maka takkan pernah ada karakter.

Malu lah diri kita apabila belum mampu menjadi tauladan yang baik bagi orang yang lebih muda, bagi orang yang tingkat pendidikannya masih dibawah kita, bagi orang yang strata sosialnya dimasyarakat menokohkan kita.

Mari kita sama-sama menyampaikan ayat dalam sendi kehidupan dengan menjadi contoh tauladan yang baik bagi sesama. Sedikit ilmu yang dimiliki namun diamalkan lebih baik daripada banyak ilmu namun minim pengamalan. Akan lebih baik lagi apabila banyak ilmu dan banyak pengamalannya. Minimal kita selalu berusaha menjadi sedikit lebih baik dalam hal kebaikan daripada orang lain. Misalnya, orang lain sedekah Rp.  1000,- kita sedekah Rp 1.050,-, hanya selisih 50 perak tetapi lebih baik daripada orang lain. Orang lain datang ke majelis pukul 08.00 kita datang ke majelis pukul 07.59, hanya berselang satu menit tetapi lebih baik dari orang lain. Apabila budaya ini terus dipupuk maka kemajuan demi kemajuan akan terus tercapai. Mari memupuk karakter sekarang juga!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s