Menjadi Sadar, Menjadi Pembelajar

self-awareness-involution“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Suatu ketika, seorang polisi menghentikan seorang bapak pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Dimana bapak itu hanya mengenakan peci berwarna putih sebagai penggantinya. Tanpa pikir panjang, polisi meminta SIM dan STNK si bapak yang langsung ditolak dengan keras oleh si bapak.

Polisi : (Mengeluarkan buku tilang) Maaf, boleh saya melihat SIM dan STNK anda?

Bapak : Sebutkan apa kesalahan saya.

Polisi : Anda tidak mengenakan helm.

Bapak : Saya tidak akan mengenakan helm, itu bukan sesuatu yang wajar di agama saya.

Polisi : (Sedikit bingung) Maksud anda?

Bapak : Rasulullah saja tidak pakai helm. Jadi jangan minta saya mengenakan sesuatu yang tidak dikenakan oleh beliau!

Polisi : (Menutup bukunya dan tersenyum ramah) Begitu ya pak?! Tapi setahu saya, Rasulullah juga tidak mengendarai sepeda motor. Dan pertanyaan saya pun sederhana, andai zaman itu sudah ada motor, apakah Anda yakin Rasulullah tidak akan memakai helm?

Bapak : (Tersentak dan terdiam seketika)

Polisi : Anda dengan mudahnya mengharamkan yang anda benci, tapi menghalalkan yang Anda sukai seolah-olah Andalah penentunya. Alhamdulillah saya juga punya ilmu agama yang baik, dan saya percaya bahwa Rasulullah lebih menyukai umatnya yang melindungi kesehatannya dan keluarganya.

Bapak : Apa maksud bapak? Apakah hanya karena helm berarti saya tak melindungi keluarga saya?

Polisi : Benar. Bahwa jika terjadi hal buruk yang mencelakai kepala anda akibat benturan, apakah keluarga anda tidak akan menerima akibatnya? Bagaimana perasaan takut dan tertekan yang akan mereka rasakan? Siapa yang nanti akan menafkahi mereka?

Bapak : Allah yang akan menafkahi mereka.

Polisi : Lewat siapa? Bukankah rezeki yang diberikan Allah seringkali lewat orang lain? Dan bukankah rezeki yang mereka terima itu lewat anda? Jika anda cacat, maka aliran rezeki akan lewat orang lain, bisa jadi ‘ayah tiri anak-anak anda’. Dan apakah anda ikhlas dengan itu?

Bapak : (Sekali lagi terdiam sambil mengeluarkan SIM dan STNK)

Polisi : Ini pesan saya buat anda pak, melindungi diri Anda sama halnya dengan melindungi keluarga Anda. Mungkin ini hanya sebuah helm, tapi bayangkan perasaan nyaman yang dirasakan istri saat melihat kepala suaminya terlindungi. Dan jika Anda  mencintai  keluarga, maka Anda pasti mengurangi resiko yang membahayakan. Hari ini saya tak menilang, anggaplah nasehat barusan sebagai surat tilang saya untuk Anda.

***

Dari kisah diatas, merupakan contoh mengenai kesadaran diri. Sesuatu yang telah memudar di tengah kehidupan kita. Bapak dalam kisah itu kurang memiliki sikap sadar diri. Meskipun seseorang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, tanpa dilandasi sikap sadar diri. Semua ilmunya akan menjadi tak berarti dan tak pernah menjadi kebijaksanaan.

Kesadaran diri merupakan proses mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita, lalu menyadari pengaruh faktor-faktor tersebut atas penilaian, keputusan dan interaksi kita dengan orang lain. Dengan menjadi sadar, berarti kita telah memahami diri dalam relasi dengan orang lain, menyusun tujuan hidup dan karir, memahami nilai-nilai keberagaman, mampu memimpin orang lain secara efektif dan sadar akan peran dan tanggung jawab.

Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar  menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berahlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, disiplin, bekerja keras, tangguh, mandiri, cerdas, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Keberhasilan itu dapat di peroleh dengan membangun nilai kesadaran diri kita masing-masing yang tinggi. Karena nilai kesadaran adalah salah satu yang membedakan manusia dengan mahluk lain yang ada di alam semesta ini.

Ketika nilai kesadaran manusia telah hilang, maka manusia itu sama halnya telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Manusia itu bisa berbuat apa saja, seperti orang yang sedang mabuk, yang sedang gila. Bahkan, melebihi dari itu yang jalan hidupnya tidak jelas dan kacau balau pola pikirnya.

Nilai kesadaran bangsa ini dan pemeluk agama Islam saat ini dikhawatirkan sudah sangat memperihatinkan. Tinggal kehancuran jika manusia sudah kehilangan nilai kesadarannya sebagai khalifah di muka bumi, sebagai mana yang disampaikan oleh Allah SWT kepada seluruh hamba-Nya.

Kesadaran diri. Inilah pula yang membedakan negara maju dan berkembang seperti kita. Di negara maju masyarakatnya telah memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bisa kita lihat dari kehidupan sederhana mereka yang tertata di saat berlalu lintas, membuang sampah pada tempatnya, tidak merokok di tempat umum, dan budaya antri atau berdisiplin. Belum lagi dalam hal-hal yang lebih rumit dan kompleks, yang kita sudah ketinggalan sangat-sangat jauh.

 

Mari Menjadi Sadar, Luruskan Niat dalam Belajar

Kita tentu tahu bahwa Allah memerintahkan untuk ikhlas dalam ibadah termasuk pula dalam belajar, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5). Begitu pula Rasullulah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena ikhlaslah suatu kaum menjadi mulia. Imam Ahmad pun berkata, “Dengan ikhlas, semakin mulialah suatu kaum.” Syaikh Sholih Al ‘Ushoimi berkata, “Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 25). Artinya, semakin seseorang ikhlas dalam belajar, maka semakin mudah meraih ilmu. Jika semakin mudah, maka ia pun akan terus semangat dalam belajar.

Yang dimaksud ikhlas dalam belajar itu yaitu: 1) Ikhlas belajar untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri. 2) Ikhlas belajar untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain. 3) Ikhlas belajar untuk menghidupkan dan menjaga ilmu. 4) Ikhlas belajar untuk mengamalkan ilmu.

Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan. Mengamalkan ilmu membuat seseorang semakin kokoh dan semangat untuk meraih ilmu lainnya. Sedangkan enggan mengamalkan ilmu adalah sebab hilangnya barokah ilmu. Bahkan karena tidak mengamalkannya, itu bisa jadi argumen untuk menjatuhkan diri seorang penuntut ilmu. Allah telah mencela orang-orang semacam ini, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff: 3).

Jika seseorang mengamalkan ilmu, maka Allah akan semakin memudahkan ia mendapatkan taufik untuk meraih ilmu lainnya. Selain itu, mengamalkannya semakin menolongnya membedakan antara  yang benar dan yang keliru. Allah Ta’ala berfirman, Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (membedakan antara yang hak dan batil)” (QS. Al Anfal: 29).

Kita mesti mulai bersikap bijaksana, termasuk pula dalam belajar agar sikap semangat bisa terus dijaga. Amalan terbaik adalah amalan yang pertengahan (imbang) dan rutin, walau jumlahnya sedikit. “Sesungguhnya amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang rutin (kontinu) walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari dan).

Semoga semangat diri kita dalam belajar dan mengamalkan ilmunya semakin bertambah. Wallahu’alam Bishawab…

Credit Ilustrasi: http://lonerwolf.com/wp-content/uploads/2014/03/self-awareness-involution.jpg

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s