Kesesatan Yang Masuk Akal dan Diamini Umat

Dari Hudzaifah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu buta mata kirinya, berambut lebat, ia membawa surga dan neraka, nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim).

Hebat memang wajah polos dan ketakutan ibu Saeni, sang pemilik warteg yang buka siang hari saat bulan Ramadan. Ia mampu menghipnotis masyarakat Indonesia bahkan sekelas presiden. Setelah Presiden Joko Widodo memberikan bantuan uang sebesar Rp 10 juta, berikutnya giliran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo ikut memberikan bantuan uang untuk Saeni.

Drama razia warteg di Serang-Banten ini sangat menarik, karena membuat yang menonton terenyuh dan tanpa berfikir panjang menggalang dana untuk pemilik warteg. Angkanya fantastis hingga terkumpul dana senilai Rp 260 juta-an! Peran media yang mendramtisir sangat penting di sini. Sampai-sampai ribuan perda (peraturan daerah) yang berbau Islam akan di hapus oleh presiden.

Presiden dan masyarakat yang memberi sumbangan itu baik dan mulia. Tapi mengapa pilih kasih? Padahal banyak kejadian penggusuran dan masalah sosial lainnya yang tidak di bantu. Ini menjadi tampak berkaitan dengan kepentingan politis yang di mainkan oleh media massa. Jadi tidak usah heran, karena permainan media dan agenda politis sangat capek hati, sumpah serapah dalam hati jika di ikuti terus, sedangkan kita tidak ada kemampuan mengubahnya secara signifikan.

Kita tidak melihat gerakan mahasiswa, pemuda dan masyarakat setempat yang membantu Saeni sang pemilik warteg. Paling-paling hanya kasihan dan mendoakan agar bisa sabar dan ikhlas. Fenomena razia rumah makan ketika bulan puasa ini memang di tahun-tahun sebelumnya rutin di lakukan dengan cara yang sama ala satpol PP yang merazia paksa, wajar kalau warga Serang malah menyalahkan Saeni yang melanggar perda kota Serang. Meski cara satpol PP saat merazia dengan menyita makanan yang merupakan barang dagangannya adalah tidak dibenarkan.

Sejak era presiden Soeharto, kita hidup dengan Perda yang mengatur jam buka Rumah Makan selama Ramadan. Tidak pernah melihat atau merasakan ada gejolak apapun. Bukan hanya warung-warung nasi kecil. Bukan juga seperti yang diberitakan bahwa Satpol PP hanya berani pada pedagang kecil. Salah besar! Mall-mall dan rumah makan besarpun menerapkan jam buka sesuai Perda.

Bila pada razia kemarin petugas Satpol PP dinilai tidak simpatik dan menyalahi prosedur dengan menyita makanan, maka silahkan diproses untuk pemberian sangsi atau lainnya. Bila netizen bersimpati kepada Ibu Sainah dan secara sukarela memberi bantuan, dapat di pahami, silahkan. Tetapi usulan dan wacana pencabutan Perda yang dilandaskan tuduhan-tuduhan: seperti intoleran, melanggar hak warga negara, menghalangi penghidupan, SARA, HAM dll berasal dari mana suara-suara itu? Silahkan dicek, mereka bukan dari masyarakat, khususnya masyarakat Serang tempat kejadian ibu Saeni tersebut terjadi. Tapi dari ulah tangan-tangan yang berkuasa dibalik layar – entah  siapa.

Muslim-non muslim sudah biasa hidup berdampingan berabad-abad lamanya. Bahkan tempat-tempat peribadatan non muslim berdiri tegak, megah di tengah pusat kota Serang dan semua baik-baik saja. Perda adalah aspirasi masyarakat. Sama sekali tidak mendasar semua alasan yang dituduhkan untuk pencabutan Perda. Mereka membusungkan dada dengan berdalih “orang yang berpuasa, harus menghormati orang yang tidak berpuasa”. Inikah makna Toleransi yang mereka maksud?

 

Menghormati yang Tidak Berpuasa

Orang-orang berpuasa diminta menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadan datang, apa salahnya jika tempat-tempat hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsb. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi? Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka. Bukankah menjalankan atau tidak menjalankan ajaran agama itu bukan urusan siapapun? Bukankah Negara tak mewajibkan warga menjalankan ajaran agama? Toh sebagai orang beriman jadi merasa bersyukur karena banyak tantangan, jadi uji nyali karena banyak warung makan buka di siang hari bulan puasa. Terlalu murahlah iman dan kekanak-kanakan kalo cuma sekedar banyak warung buka, terus mulutku ikut berbuka…

Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik. Masa kita akan tergoda saat melihat warung buka? Masa kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana-mana? Full beroperasi. Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke.

Itu logika yang masuk akal sekali. Ya, itu mungkin masuk akal, orang-orang berpuasa disuruh menghormati orang-orang tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang-orang yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang-orang tidak berpuasa? Apakah orang-orang berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: “Kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa.”

Logika seperti itu bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat-tempat hiburan, warung-warung, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara-cara penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.

Lantas siapa yang seharusnya menghormati? Ingatlah baik-baik, Ramadan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya. Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama-agama terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kita kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua.

Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata-rata hanya 60 tahun, tiba-tiba mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsb. Ramadan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.

Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik?

Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. kita tahu, ketika orang-orang tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan. Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?

Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung-warung full tutup, atau warung makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadan, semua baik-baik saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat menjual minuman keras? Mereka punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati mereka melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta tutup 12 bulan.

Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi. Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura-hura saat Nyepi. Artikel ini hanya mengingatkan: sekali orang-orang mulai terbiasa membolik-balik logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu.

Kemudian orang-orang akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak-teriak sih adzannya? Kenapa harus pakai speaker? Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi. Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang-orang yang bangga sekali dengan logika hidupnya. Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian –mungkin tanpa menyadarinya– telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang-orang lain mulai meninggalkan agamanya.

Waspadalah wahai umat Muslim!

Wallahu’alam Bisahawab…

Iklan

One thought on “Kesesatan Yang Masuk Akal dan Diamini Umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s