Hantu

Cerpen Yoga P. Wijaya

 sad-boy-wearing-hood-standing-in-rain-with-bench-wide

Hari itu, kupacu kuda besiku. Hingar bingar kemacetan mengguyur deras, bersama hujan. Sukabumi menuju Bogor, tak kusurutkan langkah ini. Walau mesti aku tempuh dalam hitungan jam yang lebih lama dari biasanya. Kau di sana masih belum menjawab pesan singkatku, berita kebahagiaan pelepas rindu kita bersama. Satu bulan tak bertemu, di malam minggu ini mestilah memadu saling tatap, sekedar berteduh berbincang bersama di bawah atap. Tempat kita biasa bercanda sambil meneguk sup duren kismis, favorit Kau yang manis.

Hari itu aku pun khawatir tatkala membaca sebuah berita, karena di kampusmu sana sedang mewabah penyakit hepatitis-A, sebuah penyakit yang menyerang hati. Tetapi lebih lagi aku khawatir mengenai hatiku yang merindu betapa ingin terobati. Lama… memikirkanmu. Namun masih saja ponsel tak berdering, adakah sekedar bergetar dengan pesan singkat atau Whatsapp saja? Tidak! Kau masih belum menyahut disana. Sedang apakah dirimu? Sungguh aku khawatir….

Kesabaranku mulai pudar, kuda besi butut peninggalan ayah aku goyang ke pojok kiri. Menggilas trotoar dan jalanan tanah berpasir. Beberapa pengendara motor mengikuti langkahku, tak kugubris para pejalan kaki. Aku teriaki dengan klakson soak kurang aki. Kebanyakan mereka adalah para pedagang asongan, yang memanfaatkan moment kemacetan untuk mencari nafkah sekedar sesuap nasi bagi anak istri. Mereka sering menghalangi laju motorku seolah tak takut mati. Aku tetap tak pantang menyerah hingga jarak antara mereka bahkan hanya kurang dari satu senti dari kaca spion kanan kiri.

Hingga enam puluh dua kilometer telah aku lewati, bersama gerimis dan tanah basah yang melekat erat di atas ban. Tanah dan ban menggelending saling peluk. Erat mereka, dan akhirnya sedikit demi sedikit terpisahkan ketika aku harus melewati genangan air setinggi mata kaki di jalan beraspal. Pemandangan biasa ketika hujan turun, jalan rayapun menjelma menjadi aliran sungai. Pinggiran jalan tak kan bisa aku lalui, genangan air lebih dalam bersama bekas galian kabel yang tak kunjung berhenti. Silih tutup dan gali.

Rintik masih tak berhenti. Hingga satu kilometer kemudian, hujan reda. Situasi sekitarnya masih kering, menandakan di tempat tersebut belumlah turun hujan. Baru gerimis yang menuruni setitik demi setitik saja, hanya satu dua dan tiga yang menetesi kepala.

Tak lama, tibalah tepat aku di depan gang kostanmu, tempat terlarang bagi seorang laki-laki bukan muhrim sepertiku untuk bertandang kedalamnya. Aku membuka jas hujanku, satu persatu ku simpan di bagasi bawah jok motor hitamku. Lalu langsung saja aku telpon ponselmu itu, sembari terdiam mengetukan jari-jemari tangan kiri ke stang motor, bersiul menunggu. Lama sekali, aku menunggumu. Kau masih belum menjawab dering teleponmu itu. Satu, dua, tiga, empat, lima, berkali-kali aku coba hubungi. Aku khawatir, sungguh.

Sepuluh, duapuluh, tiga puluh, menit demi menit berlalu. Aku masih terdiam disitu. Terlalu lama hingga tetesan hujan mulai membesar. Seperti orang di kampungku yang lainnya, kali ini aku malas memakai jas hujan kembali. Payung, jas hujan atau apapun itu bagi laki-laki seperti kami menjadi tampak sebagai aib dan kelemahan. Entah apa yang harus dipertahankan dari hal itu, tapi kejantanan seorang lelaki seolah dipertanyakan. Tradisi yang kadang aku tak hiraukan. Tapi kali ini hormon kejantananku mungkin sedang bergejolak. Akhirnya kubiarkan hujan mengguyur dan membasahi sekujur tubuhku. Akupun menyerah menunggumu. Perutku mulai lapar, hingga beranjak dari tempat itu menuju kedai Surabi di tikungan, tempat kita biasa makan berat bersama.

Di kedai Surabi aku masih lama menunggu, bukan hanya menunggu kabar darimu. Tapi list menu dan pelayanpun tak kunjung menyapaku. Aku tetap menunggu, pesanan makanan sudah aku bayangkan sejak tadi. Ah, pramuniaga tak kunjung melayani. Mereka hanya berlalu lalang mengantarkan pesanan orang di sekitar, bahkan orang-orang yang datang setelah diriku. Aku merasakan lagi pengucilan berikutnya.

Tak lama, akhirnya ponselku berbunyi. Kali ini Kau akhirnya menjawab.

“Aku nunggu di gang kostan, kamu dimana? Kenapa tak ada disini!” Dari pesan singkatmu itu tampaknya Kau marah.

“Sekarang lagi makan, lapar.. belum sempat makan dari pagi” ketukan jari mengusap layar, tombol kirim aku sentuh.

Satu, dua, tiga, empat, lima menit berlalu.

Kau menyahut lagi, “Haha ya sudah selamat makan…!”

Aku tak mengerti, kembali, apa maksud dari isyaratmu kali ini? Seperti biasa Kau pastilah bermain isyarat, memaksa aku berpikir dan menebak apa keinginanmu sebenarnya. Kenapa sih Kau tak langsung saja mengatakan apa yang ada dalam isi hatimu? Sekali saja Kau biarkan aku bergerak agar tak salah bertindak. Ah, mungkin nasib lelaki sepertiku yang tak akan mampu memahami rahasia hati wanita.

“Kalau kamu mau makan, ayo kita sama2. Aku tungguin di kedai Surabi tikungan jalan”

Satu, dua, tiga, empat, lima.. aha! Kau langsung menyahut dalam hitungan detik saja. Akhirnya aku mampu menebak isi hatimu itu!

“Tak usah kemari, silahkan saja makan…”

Ups, aku salah tebak pastilah ini. Sekejap saja aku terhenyak dan tak sengaja menendang kursi. Kali ini semua orang termasuk pramuniaga memperhatikanku dengan penuh perhatian. Tampak semua mata memandang ke arahku, sangat tepat bergeming. Pandangan mereka mengikuti derap langkah aku mengayunkan kunci. Menyalakan mesin dan berlari bersama motor butut hitam peninggalan ayahku. Pelayan kedai sekarang celingukan, ditinggalkan begitu saja olehku, tanpa menghasilkan sepeser koinpun. Aku harap mereka yang merasa dikucilkan kini.

***

Sekarang Kau sudah berada di depanku, tak sedikitpun berkata. Dan aku salah memesan paket dengan nama aneh di restoran ini, restoran yang berbeda dengan yang biasa kita dulu. Karena di tempat biasa aku layaknya hantu. Sebenarnya aku tak memesan tiga buah minuman ini, ya tapi karena aku salah menebak kembali, lagi.

Kaupun tak berkata-kata, senyumkupun tidak kau sapa. Sepuluh, duapuluh, tigapuluh menit demi menit berlalu. Kau tetap terdiam, lalu beranjak membuka payung berwarna pink, berjalan dengan sepatu selop berwarna cream, celana jean biru, baju biru muda lengan panjang bermotif bunga yang sangat cocok dengan kerudung birumu itu. Cantik. Berlalu lah dirimu, menghilang menerobos rintik hujan.

Seperti orang di kampungku yang lainnya, lelaki kami pantang menangis. Andai aku mampu menangis maka tangis niscaya mengalir bersama tiga gelas minuman manis, yang aku habisi sendiri dikala rintik menari. Aku terdiam, semua orang tak memperhatikanku, lalu aku beranjak seperti hantu, menghilang dari keramaian itu, tanpa seorangpun memperdulikanku.

Hanya kuda besi ku pacu, bersama laju hujan menderu melukis wajahmu, sesuai arah di balik jari-jari yang menghempas jalanan basah. Dalam senandungnya ada melodi, gerakan berputar seirama hati, dan gelap sekali lagi meliputi. Tetapi kau tetaplah Sirius yang adalah sebuah bintang, paling terang di antara temaram.

Hubungan kita bertahun-tahun tampaknya mundur. Tapi aku yakin ini hanya kemuduran laksana kepakan burung Kolibri yang mampu mundur kebelakang sembari menghisap manisnya keindahan, sedang dia tetap tersenyum dan terbang. Aku yakin kita tetap dua roda yang saling menjaga keseimbangan untuk berjalan bersama. Maka aku kirimkan pesan singkat ke nomormu itu.

“Terima kasih telah menemaniku hari ini cantik, maaf aku belum mampu memberimu yang terbaik…”

Satu, dua, tiga, empat… Aku masih memandangi ponselku, terpaku, berharap sesuatu.

Lima detik pun berlalu.

Sukabumi, 13 Desember 2015

Cerpen ini dimuat dalam Antologi dengan tema Rahasia Hati, oleh penerbit Kekata Publisher (2016)

Credit Ilustrasi: http://ilovehdwallpapers.com/walls/sad-boy-wearing-hood-standing-in-rain-with-bench-wide.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s