Sahabat Terbaik yang Melupakan Sahabatnya

Cerpen Yoga Permana Wijaya

 “Untuk dunia engkau mungkin hanya seseorang. Tapi bagi seseorang engkau bisa saja dunianya” ~ Dr. Suess

2eat389Oh Anda bertanya mengenai sahabat terbaik? Ya aku saat ini memiliki banyak sahabat. Bahkan wanita yang menjadi pujaan hatiku pun adalah sahabat baik. Tapi yang terbaik? Anda pasti terhenyak mendengar kisahku. Sahabat terbaikku justru sudah melupakan aku. Ya, Anda tak salah dengar. Dia sudah melupakan aku. Tetapi sebagai sahabat terbaik tentu aku tak kan pernah melupakannya. Baiklah, kuceritakan kalau Kau sudah tak sabar mendengar kisahku.

Saat itu aku masih berumur 15 tahun. Di tengah kota yang hiruk pikuk, aku berbeda. Karena anak seusiaku biasanya hanya main-main saja. Pacaran, nongkrong, main gitar, main dingdong dan yah.. permainan seperti itu. Aku berbeda karena tempat permainanku adalah sebuah musola yang sepi pengunjung. Musola itu berada di tengah tempat tinggal kami. Banyak pemuda di kompleks perumahan, tapi yang mengisi musola hanyalah para orang tua. Akhirnya aku lebih senang bergaul dengan orang tua. Banyak yang mengejek aku kolot. Tapi tak apalah, daripada mereka yang kekanak-kanakan.

Singkat cerita di hari kamis malam itu, yang aku sudah lupa tepatnya tanggal dan bulan berapa. Hadirlah seorang kakek keturunan Cina ke musola. Mayoritas keturunan Cina di daerahku bukanlah pemeluk Islam, seperti agama yang aku anut. Maka mataku tak bergeming memandanginya. Banyak tanya di dalam kepalaku. Setelah azan isya, biasanya para jemaah salat sunah qabla terlebih dahulu. Yakni shalat sunah yang dilaksanakan secara pribadi sebelum salat berjamaah dimulai. Salat sunah qabla biasanya dilakukan sebanyak 2 rakaat.

Si Kakek yang tadi kuceritakan, dia sungguh khusyuk salat qabla-nya. Karena dia paling lama diantara aku dan jemaah yang lain. Oh, tentu saja aku paling cepat karena aku yang paling muda, jadi gerakannya masih lentur dan bertenaga, haha. Tetapi kulihat Kakek itu salat qabla 4 rakaat. Setelahnya si Kakek celingukan melihat seluruh hadirin membentuk barisan di belakang imam, karena Iqomah berkumandang. Sambil menggaruk kepala dia masuk barisan paling akhir, tepat di samping kiriku.

Salat berjamaah usai, si Kakek tampaknya kebingungan, lalu membisikan beberapa pertanyaan kepadaku. Salat isya ini membuatnya heran. Ternyata dia mengira salat sunah qabla itu shalat isya yang dilaksanakan sendiri-sendiri. Jadilah malam itu dia salat isya dua kali. Aku memberikan penjelasan, dan tahulah aku kalau si Kakek adalah mualaf yang baru saja masuk Islam dua hari yang lalu. Dia pun baru saja menempati salah satu bangunan di kompleks perumahan sore tadi.

Maka inilah pertama kalinya aku mengenal si Kakek. Nama aslinya sulit di ucapkan, khas keturunan asli Tionghoa. Tapi kami para warga memanggilnya Engkong. Engkong menjelma menjadi sahabatku. Dia sering bertanya kepadaku perihal agama. Berkali-kali aku menjelaskan lebih baik untuk langsung menanyakan kepada ustad. Tapi dia merasa lebih nyaman bertanya kepadaku. Mungkin usia tua membuatnya malu bertanya, namun dia merasa klop bergaul dengan anak polos sepertiku yang dia anggap cucunya sendiri.

Suatu saat Engkong menceritakan kisah hidupnya padaku. Bahwa sewaktu muda dia bergelimpangan dosa. Dia sering memujiku dan selalu berujar bahwa dirinya selalu iri kepadaku yang masih kecil tapi rajin beribadah. Dari kisahnya pun terungkap kalau Engkong terlahir menjadi orang kaya sejak kecil. Ternyata dia memiliki ratusan toko yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun pada awal tahun 90-an dia menjual semua tokonya. Seluruh keluarganya pindah ke Amerika, membangun usaha baru yang lebih besar di sana. Hanya Engkong yang tak ikut, dia terlanjur cinta Indonesia. Lagipula istrinya sudah lama meninggal, dan anak-anaknya sudah dewasa. Keluarga Engkong biasanya mentransfer sejumlah uang dan keperluan untuk hidup Engkong.

***

Hari ini ada hal ganjil yang terjadi pada Engkong. Setelah mendengar ceramah ustad di perayaan Isra Miraj kompleks kami, Engkong bermuram durja. Raut kesedihan membasahi wajahnya. Kali ini aku tak banyak bertanya. Meski sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Ya, aku khawatir pada Engkong. Kami memang selayaknya menjadi sahabat yang saling mengerti satu sama lain. Tapi saat ini aku tak mengerti apa yang terjadi menimpa Engkong. Dia hanya membisu.

Minggu pagi yang aku lupa lagi tanggal berapa, yang pasti sekitar tahun 1999-2000an Engkong mengemasi barang-barangnya. Aku kerumahnya membantu beliau. Engkong mau hijrah dari tempatnya. Entah pindah kemana, karena ketika aku menanyakannya, beliau tidak mau menjawab. Beberapa barang dia jual melalui sebuah toko online yang baru saja muncul kala itu. Di tempatku belum ada Internet, tetapi aku paham soal ini karena aku sangat menyukai bidang komputer dan teknologi informasi. Engkong meminta bantuan rekannya melalui Internet di Amerika untuk menjual barang-barang tua miliknya.

Ketika masih muda ternyata Engkong merupakan seorang personil band. Engkong memiliki beberapa gitar tua yang keren. Salah satunya bermerek Ibanez X Explorer Destroyer buatan tahun 1983. Dia juga memiliki komputer Pentium yang akhirnya menjadi komputer milikku. Engkong memberikannya padaku. Dia mengetahui kalau aku sangat menyukai komputer, tetapi keluargaku tak mampu membelinya. Aku sangat senang karena pada saat itu hanya aku anak satu-satunya di kompleks yang memiliki komputer.

Engkong memberikan juga barang-barang kesayangannya pada anak-anak lain. Sepatu sport miliknya dia berikan kepada anak yang senang lari pagi. Bola basket, raket tenis dan sebagainya, barang-barang itu dia berikan kepada anak-anak sesuai dengan hobinya masing-masing. Bahkan Vespa antik miliknya diberikan kepada tetangganya, pemuda penjaga bengkel, yang memang hobi memodifikasi motor-motor antik.

Engkong baik sekali, seperti kataku, beberapa barang-barang yang lainnya dia jual secara online dengan bantuan rekannya di Amerika. Dia bercerita, ada anak keturunan Yahudi mengirim email perihal gitar listrik yang dia jual. Orang itu tak dikenal, dan bukan menawar gitar yang dijualnya, tetapi memintanya dengan halus. Karena menurut cerita, anak itu tidak memiliki uang untuk membeli gitar. Walaupun orang Yahudi, Engkong berkesimpulan untuk memberikan gitar itu kepadanya. Sungguh baik sekali Engkong, dia bahkan memberi tanpa pandang bulu, tanpa memandang ras dan agama. Aku belajar banyak dari Engkong.

***

Dua belas tahun berlalu, aku merasa kehilangan Engkong. Terlebih komputer yang dia berikan kepadaku akhirnya mengubah hidupku saat ini. Aku kini menjadi seorang sarjana komputer. Dengan keahlianku sekarang aku mulai menelusuri jejak Engkong. Berharap Engkong masih hidup, karena aku sangat kangen padanya. Aku bertekad akan menemui Engkong di manapun dia berada. Sekian lama akhirnya kutemukan informasi tentang Engkong, aku sangat senang karena beliau masih hidup! Alamat tempat tinggalnya ternyata adalah panti Jompo di kota Bandung.

Jl. Gede Bage Selatan No 14. Aku menatap sekitar, mencari Engkong. Para manula sangat ceria di tempat ini, tapi beberapa diantaranya terlihat sedih. Ada raut kekosongan dalam wajah mereka yang tampak layu, kemungkinan merasa dibuang keluarganya. Tapi entahlah, itu hanya kesimpulanku. Akhirnya setelah mencari-cari dengan bantuan penjaga aku menemukan Engkong. Dia sendiri, duduk di kursi goyang, pandangan matanya menerawang kelangit-langit. Aku panggil dia… mendekatinya sambil menumpahkan seisi rinduku padanya. Sungguh, dia sahabat yang sangat berjasa bagiku.

Aku memanggil namanya beberapa kali di dekat telinganya. Tetapi dia seolah tak mendengar teriakanku. Dia melihat wajahku, tapi Engkong seperti tak mengenalku. Penjaga panti menjelaskan kalau Engkong sudah pikun. Dia mungkin tak mengingat memori tentang aku dan seluruh kisah yang kami lalui. Aku sangat sedih mendengarnya.

Rasa ibaku menyeruak menjalari seluruh tubuh hingga bulu kuduk. Aku merinding sedih, ternyata dari awal hingga saat ini menurut penuturan penjaga panti, tak ada seorangpun yang mengunjungi Engkong. Akulah orang pertama yang mengunjunginya. Mengenai keluarga Engkong pun penjaga tak mengetahui. Menurut data mereka, Engkong datang kemari sebatang kara. Dari uang hasil sedekah dan kebaikan para donaturlah, Engkong masih terawat dengan baik di tempat ini.

Kutelusuri apa yang tengah terjadi pada diri Engkong. Menurut hasil telusuran di dunia maya yang pernak-perniknya aku kuasai. Aku menyimpulkan bahwa Engkong di buang keluarganya. Mereka murka ketika tahu kalau Engkong pindah keyakinan. Keluarganya merasa terpukul karena mereka penganut agama yang taat. Mereka tidak mentolerir orang yang pindah keyakinan dari agama yang mereka anut. Jadilah Engkong, diusia senjanya tak ada lagi yang mentransfer uang untuk hidup. Engkong dibuang! Ya, sungguh tragis hidupnya! Aku merasa terpukul berkali-kali, hatiku serasa teriris mengetahui kisah ini.

Setiap seminggu sekali, rutin aku mengunjungi Engkong. Aku membawakan oleh-oleh makanan kesukaannya dulu. Aku yang menyuapi Engkong. Ada rona bahagia di wajahnya ketika menghabiskan seluruh makanan yang aku bawa. Sampai akhirnya Engkong sakit, penyakit yang normal mengingat usianya yang sangat senja. Aku selalu menyempatkan diri mengunjungi lebih rutin untuk membantu merawatnya. Engkong seperti kakek kandungku sendiri. Hingga ajal mestilah memisahkan kami.

Aku tak berada di sisinya ketika Engkong menghembuskan nafas terakhirnya. Beruntung aku masih sempat mengunjunginya di hari-hari menjelang akhir hayatnya. Terima kasih Engkong, engkau sahabat istimewaku. Aku hanya bisa berdoa di setiap akhir salatku. Sesekali aku menjenguk ke pusara tempat Engkong disemayamkan. Bahkan akulah yang membayar biaya pemakamannya. Itulah yang aku bisa, untuk membalas kebaikannya.

***

Di sudut dunia maya sana baru saja aku mendengar kabar yang mengharukan. Kembali air mataku menetesi pipi. Ini karena sebuah kisah tentang Arnold Nesis, seorang pria asal Yerusalem, Israel yang hidupnya berubah setelah ditolong oleh orang yang tidak dia kenal melalui Internet hanya dengan sebuah email.

Ternyata gitar pemberian Engkong memberinya pengharapan dan mampu mengubah hidupnya, sehingga kini dia menjadi seorang musisi profesional. Kisahnya sama sepertiku yang Engkong beri komputer dulu. Kini, Arnold Nesis sedang berusaha mencari dan ingin bertemu orang yang telah dengan baik hati mengirimkan dia gitar tersebut. Aku merenung… Perlukah aku menceritakan kisah ini padanya dan semua orang?

Sukabumi, 10 Januari 2016

 

Salah satu cerpen pemenang nasional bertema “Sahabat Istimewa” yang dimuat dalam antologi cerpen penerbit Gema Media Wonosobo

Credit Gambar Ilustrasi: http://i46.tinypic.com/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s