Kesederhanaan yang Rumit

Cerpen Yoga Permana Wijaya

art-paintings-abstract-love-artSenja yang berguguran kelabu, seketika tampak merah merona penuh warna. Merekahlah malam yang dingin dan mencekam kemudian. Tapi selimut kehangatan dalam goresan raut wajahmu tetap menerangi. Itulah apapun yang terjadi ketika memikirkanmu. Gadis yang tersenyum di tangga sekolah. Engkaulah definisi dari keindahan, yang kini hanya kenangan. Biarlah menjadi rangkuman masa laluku…

Apa yang terlihat oleh mata, belum tentu merupakan fakta. Sebab bagaimanapun aku adalah seseorang yang memiliki banyak kekurangan. Ketika aku bisa mewujudkan mimpi, sebenarnya lebih banyak melalui kegagalan yang aku lalui. Kegagalan itu seolah terlupakan dihadapan orang-orang, mereka hanya melihat kesuksesanku. Banyak yang berusaha meniru, bahkan mimpi mereka lebih besar dariku, namun entah mengapa kebanyakan tak melakukan apapun. Mereka takut melakukan hal besar. Padahal aku sebenarnya tak banyak melakukan hal besar, selain terus berusaha melakukan sedikit hal yang sebaik mungkinku mampu. Pepatah sedikit demi sedikit menjadi bukit sangat benar adanya.

Sejauh ini apapun yang aku inginkan selalu menjadi kenyataan. Aku orang yang memiliki sejuta talenta, kecerdasan pikiran dan ketampanan rupa. Setiap wanita yang memandangku, akan berdecap kagum dan mengatakan “sempurna”. Kesempurnaan itu bagiku hanya hal semu. Sebab aku masih terdiam sendiri, menjadi seorang jomblo. Ya, jomblo, panggilan bagi orang yang tak memiliki kekasih. Tak laku? Mungkin…

“Guru muda dan ganteng itu nanti akan mengajar kelas kita!” Aku berjalan melewati lorong sekolah, samar kudengar para gadis SMA berdecak kagum, begitu riangnya ingin segera bertatap muka menjadi siswaku. Penelitian skripsi ini mau tak mau membuatku menjadi guru sementara bagi mereka. Para gadis itu berebut untuk bersalaman sambil mencium tangan, tradisi yang dilakukan seorang murid kepada gurunya.

Terkadang ada saja siswi yang nakal menggoda, namun standarku amatlah tinggi. Karena itulah sampai saat ini aku belum pernah mencintai seorang wanita selain ibu. Terlebih aku adalah seorang yang amat candu terhadap sains. Teorema, rumus-rumus dan angka lebih lekat denganku sehingga aku melewatkan masa-masa remajaku dari kisah cinta.

Sampai akhirnya aku berjalan melewati anak tangga sekolah, sebuah jalan menapaki sejarah baru. Seorang siswi dari arah berlawanan berpapasan denganku, dia tersenyum, manis sekali. Gadis itu sederhana, namun memiliki daya tarik tersendiri. Sejak saat itu dia terbayang selalu dalam pikiranku. Aku telah jatuh cinta, bahkan pada pandangan pertama.

*

Kelap-kelip lampu pentas seni menghiasi sekolah hari itu. Kamera yang tergantung di leherku aku nyalakan untuk mengambil sebuah rona keindahan, angle gambar terbaik dan momentum sempurna. Aku rekam senyum indahnya ketika dia berbalutkan kostum tarian tradisional. Dia tampak sungguh menawan bagiku. Tak salah lagi dia memang istimewa, namun berbalut kesederhanaan. Aku hanya mengambil gambarnya dengan zoom lensa tele, entah apa yang terjadi, aku tak mampu menghampiri lebih dekat. Lidahku kelu dan keringat dingin bercucuran. Orang yang memiliki kepercayaan tinggi sepertiku menjadi membeku. Baru kali ini aku merasa gugup. Keberanianku menciut untuk menghadapinya.

Ah, lagipula aku akan segera pamit dari sekolah ini. Banyak sekali suka duka, padahal aku hanya mengajar empat bulan saja. Gadis itu telah menyadarkan bahwa wanita sederhana seperti dirinya ternyata amatlah rumit untuk dijelaskan. Rumit sekali hal sederhana itu, ini adalah sebuah paradoks bagiku. Berkali-kali aku berusaha menjelaskan keindahan ini dalam sebuah tulisan. Alih-alih berhasil, ini terlalu rumit!

**

Rektor memberikan aku penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaiknya. Semua orang berdecak kagum kepadaku. Akan tetapi dibalik kebahagiaan itu aku masih merasakan kesedihan. Riuh ruangan prosesi wisuda dengan ribuan audien bagiku adalah kehampaan. Sebab apapun yang terjadi dan dirasakan selalu dipengaruhi oleh suasana hati.

Ketidak sempurnaan ini karena kepingan hatiku hanya sebagian. Sebagian lagi masih hilang, bahkan namanya belum aku ketahui. Mungkin saja saat ini dia milik kepingan hati yang lain. Wanita seperti dia tentulah jadi pujaan hati banyak lelaki. Menghadapi gundah ini aku hanya terus berdoa dan berusaha menjadi yang terbaik, mengikuti janji lantunan ayat suci, bahwa lelaki yang baik untuk wanita yang baik. Aku yakin yang terbaik pastilah menantiku disaat yang tepat. Suatu saat nanti, apabila tetap konsisten menjadi yang terbaik.

Kini lapisan awan putih aku tembus di luasnya langit biru ini. Pulau Jawa, nusantara, telah aku tinggalkan di belakangku. Pesawat sebentar lagi tinggal landas di Australia bagian selatan, untuk melanjutkan studi pasca sarjana dari tawaran beasiswa full graduate. Ini memang membanggakan, tetapi sejujurnya sangat menyedihkan. Aku semakin jauh dengan gadis tangga sekolah. Tampaknya dia mesti segera aku kubur dalam kenangan.

Adelaide, kini menjadi kota kedua tempat tinggalku. Aku mulai menyukai tempat ini, kota dengan empat musim dan terlebih hawa sejuk bersama ketenangannya begitu kental mengaduk hati. “Retirement City” sebuah gelar yang anggun, sesuai dengan kota yang lenggang tertata rapi ini. “Kota 20 Menit” adalah nama lainnya, bibir pantai pasir putih yang manis dengan bukit yang perkasa berdekatan dari pusat kota. Aku merasa dimanjakan disini, setiap tempat publik memiliki free wifi. Meskipun kehidupan siang lebih sepi daripada riang klub malamnya, tetapi aku tidak kesulitan mencari makanan halal disini.

“Plop!” Notifikasi BBM berbunyi. Ada nada jantungku yang berdegup seirama.

Dibalik BBM itu adalah permintaan add kontak dari Tentia. Tentia? Mataku berbinar! Ternyata dia gadis yang sudah aku impikan sejak dulu. Segera aku terima permintaanya. Sungguh, dia menuliskan pesan yang membuat aku terhenyak!

**

Matahari begitu berseri, burung-burung bernyayi, bunga-bunga bermekaran. Ini memang klise, hal biasa sebagai kata pembuka dalam alunan hati yang diliputi kebahagiaan, dan memang iya, aku sedang merasa bahagia yang teramat.

Dua puluh menit sebelum janji, aku sudah tiba di bandara lebih awal. Meskipun pagi hari, tampak sekitar penuh hingar-bingar keramaian orang-orang. Mataku masih tertuju ke arah gerbang timur, dimana kupastikan dia muncul dari arah itu. Lama aku termenung sambil memikirkan apa saja yang akan aku lakukan hari ini. Bahagia sudah berputar sejak tadi dalam benakku. Rangkaian kata indah sudah aku siapkan sejak jauh hari. Dan kejutan di balik tanganku akan kuberikan untuknya. Tak kusadari aku telah terdiam begitu lama di tempat itu hingga seseorang menepuk pundakku.

“Ehm, kakak sudah lama disini yah?” Suara manis itu ternyata berasal dari Tentia.

“Ah anu, tidak begitu lama kok. Loh kakak tidak sadar kamu tiba-tiba sudah berada disini.” Aku sekarang menjadi kikuk, kedatangannya diluar prediksi. Dia muncul tiba-tiba dari arah belakang, menemukanku lebih awal.

“Sebenarnya aku sudah agak lama melihat kakak senyum-senyum sendiri. Tampaknya sedang asyik memikirkan sesuatu, jadi aku tak berani mengganggu”

“Oh ya ampun, benarkah? Aduh maaf…” Lagi, aku malu, begitu malu serasa ditampar dan lidahpun kelu tak mampu lagi berkata. Semua yang aku pikirkan lenyap tersapu. Kini dirinya menyita seluruh fokus perhatianku, memenuhi ruang pikiran dan menghilangkan segala memori yang ada, bahkan rencana yang aku susun dengan rapi sejak jauh hari.

Tentia memakai kaos tebal lengan panjang motif garis hitam putih, celana jeans hitam, sepatu putih, kerudung putih, di tangan kanannya menenteng koper berisi perlengkapannya. Sederhana saja, tidak bermakeup, namun menjadi sangat luar biasa tatkala senyuman tergores di bibir indahnya. Semua hal sederhana itu menjadi sangat istimewa, luar biasa keindahan ini. Akupun mulai tersadar, berinisiatif membuka suasana agar mengalir.

“Kamu sudah sarapan? Bagaimana kalau kita..”

“Aku sudah sarapan di pesawat kak, bagaimana kalau kita segera menuju flat di suburb Pasadena, tempat tinggalku. Koper ditanganku ini membuatku pegal.” Dia memotong pembicaraanku, tapi hal itu aku setujui. Aku buru-buru menyambar kopernya, membawanya menuju alamat yang dia sodorkan, flat adalah kost-kostan tempat tinggal mahasiswa seperti kami, biaya kost disini dihitung mingguan dan lumayan apabila di kurs ke rupiah, tapi Adelaide terbilang memiliki tarif paling murah diantara kota besar lainnya.

Tak kusangka Tentia yang tampak kalem dan pendiam dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya pintar sekali mencairkan suasana. Berbagai topik pembicaraan selama perjalanan mengalir begitu saja, dia mampu mengerti maksud setiap topik yang aku bicarakan. Bahkan ketika aku membicarakan fisi dan fusi nuklir, ataupun berbagai penelitian fisika teori modern yang saat ini sedang ilmuwan garap. Topik yang aneh menurutku tatkala seorang gadis seperti dia mengetahuinya.

Gagang pintu telah aku bukakan untuknya, Tentia telah aku antarkan. Senyumnya mengembang, tampak gigi-gigi putihnya berderet sempurna. Pas sekali dengan bibirnya yang merona.

“Jika saja tak ada kakak entahlah, tempat ini amat asing bagiku, aku tak menyangka bisa studi S1 disini. Terimakasih kak Permana..” Simpul di bibirnya menutup pertemuan. Banyak hal yang belum aku ungkapkan, hadiah kecil untuknya masih aku simpan di belakang tas gendongku, tertutup disitu bersama isi hatiku.

***

Barrosa Valley, kami melewati hamparan perkebunan anggur dan bunga lavender, pemandangan yang tak akan bisa dijumpai di Indonesia. Dari sela-sela awan, cahaya keemasan beriringan menembus jendela kendaraan, menerpa kulit indah wajah Tentia, memantulkannya ke bola mataku yang tak berkedip memandanginya.

Akhirnya kami berjalan dari shuttle bus umum yang nyaman itu, di hari libur musim gugur ini Tentia mengajakku untuk menemaninya berkeliling kota, menikmati keindahan suasana kota seribu gereja. Sudah belasan Adelaidian yang menyapa selama perjalanan, penduduk Adelaide memang sangat ramah.

Langkah kaki kami menuju Wishpering Wall, sebuah bendungan dengan pemandangan yang asri. Tentia aku berikan aba-aba untuk tetap berada di tempatnya, sedangkan aku berlari menuju ke sisi lain dari bendungan tersebut. Aku kini membisikan sebuah kata di tembok itu, dimana tepat berada di ujung yang bersebrangan dengannya.

“Apakah kamu mendengar bisikanku?”

“Ya terdengar jelas, oh inikah Whispering Wall itu? Temboknya membisikan kata..”

“Benar sekali, indah bukan?”

“Indah sekali.. Terimakasih telah membawaku ketempat yang sangat indah..”

“Ehm, maukah kamu mendengar bisikan hatiku Tentia?”

“Oh ya, apakah itu kak?”

“Ini adalah kesederhanaan yang rumit..” Aku terdiam sejenak menarik nafas panjang.

Diujung sana, tak terdengar Tentia menyahut, mungkin dia menunggu apa suara selanjutnya dariku. Gelombang pantulan bergema, dari palung hatiku akan mengalun menggetarkan gendang telinganya. Ku harap inilah saat penantian sempurna itu. Hanya tiga frasa terucap, sebuah kesederhanaan yang teriring kerumitan dalam balutannya.

 

Sukabumi, 26 Desember 2015

 

Dimuat dalam buku Antologi cerpen dengan tema Merangkum Masa Lalu oleh penerbit Isykarima Media

Credit Gambar Ilustrasi: https://soulquestblog.files.wordpress.com/2015/11/art-paintings-abstract-love-art.jpg

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s