Senyuman Pelangi

Cerpen Yoga Permana Wijaya

Tak lama berselang, cuaca yang cerah tiba-tiba berubah. Kabut menyapu mereka dengan cepat, menghalangi pemandangan dan membawa suhu dingin. Kelompok Salim pun panik, mereka yang baru pertama kali menjejakan kakinya di gunung ini mendapatkan kejutan. Selain kabut, angin tiba-tiba bertiup sangat kencang. Kini tetesan hujan ritik ikut membasahi mereka, guntur dan kilat bergelegar menyahut.

“Oke, sepertinya kita harus berdiam sejenak, rapatkan barisan dan segera gunakan mantel hujan kalian!”, Salim kembali memberi aba-aba.

“Aduh celaka, mantel hujanku tak ada! Sudah kuraba-raba semua isi tas backpacker ku tapi mantelnya tak ditemukan. Padahal seingatku aku sudah menyimpannya” Jero semakin panik menghadapi situasi pertama kali dalam pengalamannya.

Abah tersenyum, dia menyodorkan sebuah payung lipat kecil dari tasnya. Tanpa berkata payung tersebut dia ikatkan pada tas carrier biru milik Jero. Ternyata payung tersebut memang didesain untuk dapat menempel kuat.

“Gendong tas mu nak, agar kepalamu tidak terlalu basah dengan tetesan hujan ini, tak usah khawatir, ini hal biasa, keindahan puncak masih menunggumu diatas sana.”

Jero kini malu, ternyata selama ini telah salah sangka. Dia yang merepotkan, bukan Abah. Abah adalah seorang kakek bertubuh kurus, janggut dan rambutnya telah memutih, dia membawa carrier ditubuhnya, berdiri dengan sekuat tenaganya. Tampak dari rautnya Abah pastilah tegap kuat ketika muda. Otot yang meliputi tulangnya masih menonjol dalam keriput dan sedikit bungkuk. Beberapa jam yang lalu kakek itu tertunduk lesu, begitu alot beradu argumen dengan penjaga hutan. Dia datang sendiri hendak mendaki, padahal syarat minimal pendakian haruslah satu grup yang terdiri dari tiga orang.

Dengan ketinggian 2.221 m dpl, gunung Salak bukanlah merupakan gunung yang tinggi, tetapi jangan salah sangka karena gunung ini terkenal memiliki medan yang sangat ekstrim. Dengan jalanan jurang bertebing, kondisi geografi dan topografi penuh lembah, tertutup vegetasi disertai cuaca yang sangat cepat berubah, ‘menyeramkan’. Bahkan gunung Salak merupakan jalur maut bagi penerbangan pesawat, selain terbilang angker, catatan kecelakaan penerbangannya begitu panjang, masih hangat terngiang kecelakaan Sukhoi Superjet 100 pada tahun 2012 silam. Belum lagi sulitnya sumber air bagi para pendaki, bersebrangan dengan kondisi jalanan licin berlumpur karena seringnya hujan orografik di lerengnya.

Regu beranggotakan delapan pemuda itu akhirnya menjadi rekan pendakian sang kakek. Sebenarnya Jero, Badu dan Raka, mereka memicingkan mata kearah kakek tua, memandang remeh. Dalam pikiran mereka terbayang kakek ini sudah pasti akan menghambat kesenangan. Beban berat di tas carrier mereka pasti bertambah dengan kehadiran sang kakek. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak, keputusan Salim sang ketua dan kebanyakan anggota sudah bulat. Pak tua terdaftar sebagai anggota mereka.

“Terimakasih anak muda, kalian boleh memanggil saya Abah”. Kakek tua memperkenalkan diri, semua anggota membalas perkenalan itu dengan suka cita. Tapi tidak dengan Jero, dia begitu ketus berlalu.

“Ini sudah pukul delapan, mari kita segera berangkat dengan cepat!” ujarnya. Setelah mereka berdoa memohon kelancaran dan keselamatan, langkah pertama tengah mengayun menuju puncak.

Pada awalnya kehadiran sang kakek memang menghambat perjalanan mereka. Langkahnya yang lamban bergetar, sesekali dia menarik nafasnya. Dipikiran Jero, Abah seperti orang yang asma, atau ayan kambuhan. Jero dan kawan-kawan mesti mengecilkan langkahnya memadukan dengan skala langkah Abah. Sepanjang jalanan begitu menanjak, kecuramannya lebih dari 45 derajat. Pemuda seperti Jero dan kawan-kawanpun merasakan betis dan pahanya seolah terbakar. Tak disangka, diusia Abah yang senja masih kuat membawa carrier dan berjalan di medan seperti ini.

Kini mereka meneruskan perjalanan dalam guyuran hujan, satu persatu mereka memasang headlamp di kepalanya. Karena jalanan sudah menjadi gelap dan kurang jelas akibat guyuran hujan menghantam, padahal ini baru saja pukul dua siang. Dihadapan mereka berdiri tebing curam. Satu persatu harus memanjat. Seutas tali sudah mengikat pada batang pohon besar di atas tebing. Tali itu sudah terikat disana, bagian dari track jalanan ke puncak gunung yang mau tak mau harus dilewati.

Jero yang tak sabaran memanjat lebih dulu, Dino yang berbadan paling besar memanjat kemudian. Disusul oleh Andi yang bertubuh paling kecil. Abah kendatipun sudah tua ternyata lihai memanjat. Made yang jarang berbicara sejak awal ternyata paling payah dalam hal memanjat, beberapa kali postur badannya yang agak pendek tersebut hampir tergelincir, berulang kali dia memanjat kembali. Risman membantu Made memanjat, postur tubuhnya yang berukuran sedang mendorong Made dengan segenap tenaganya. Dino dan Jero yang sudah lebih dulu berada diatas menarik tangan Made, membantunya agar segera naik keatas tebing. Sejurus kemudian Raka memanjat dengan lihai tanpa hambatan.

Setelah memastikan semuanya naik dengan selamat, Salim sang ketua regu akhirnya memanjat paling akhir. Salim memegang tali dengan erat, bergerak setahap demi setahap meraih tali yang licin tersapu lumpur dan guyuran hujan.

Nasib naas melanda Salim! Ketika tangan kirinya memegang erat tali, tangan kanannya tak sengaja menyenggol bebatuan yang menempel di tebing. Batu tersebut meluncur dan jatuh, beruntung tak seorangpun berada di bawahnya. Akan tetapi di balik batu tersebut terselip seekor ular sebesar ukuran dua jari telunjuk orang dewasa. Ular yang terusik itu dengan cepat menyambar dan melilit tangannya, mengigit jarinya hingga berdarah. Gigitan ular itu begitu dalam menusuk sehingga darah segar Salim mengalir bersama air hujan. Salim sigap bergegas naik, akhirnya dia berhasil naik ke atas tebing dibantu uluran tangan Raka dan Jero. Ditangan kanannya masih terlilit ular bermotif kembang-kembang. Lagi, seluruh anggota regu semakin panik!

Beberapa menit kemudian rintik hujan mulai reda sedikit demi sedikit, bersamaan dengan lilitan ular yang berhasil dilepaskan. Raka mengambil sebatang kayu dengan beringas mengayunkan kekuatannya bermaksud menghantam sang ular, belum sempat kayu itu berayun sempurna Abah segera menahan tindakan Raka.

“Hentikan nak! Ingat jangan ambil apapun selain gambar, jangan bunuh apapun selain waktu, dan jangan tinggalkan apapun selain jejak!”

Raka kaget dan buru-buru melemparkan batang kayu yang dia genggam, memandang ular yang lari ketakutan masuk ke semak belukar hutan belantara. Abah mengucapkan mantera, kata-kata mutiara para pecinta alam.

“Jangan khawatir nak Salim, yang menggigitmu ini Malayopython reticulatus, ular sanca kembang. Kamu masih beruntung keluarga ular phyton tidak berbisa. Ular inipun masih kecil sehingga kekuatan cengkraman yang melilit tanganmu belum cukup kuat meremukan tulang, tapi darah yang keluar itu mesti segera dibendung.”

Disaat semua anggota grup mengalami shock, dan tak tahu apa yang harus dilakukan, Abah begitu sigap membuka kotak P3K miliknya, mengobati luka Salim yang menganga agar berhenti mengalirkan darah segar ke bumi. Tak lama hasil balutan luka dari Abah berhasil menghentikan aliran darah Salim yang keluar dari tubuhnya.

Salim tampak pucat dan lemah, karena banyak kehilangan darah. Baru pertama kali dalam hidupnya dia dipatuk ular. Abah mengeluarkan snack pemberian Dino di shelter III tadi, dia sengaja meminta snack itu dan menyimpannya. Selama mendaki gunung sebenarnya Abah selalu membawa makanan cukup, namun dia tidak pernah menghabiskannya sekaligus. Abah sengaja meminta untuk menghemat makanan yang Dino bawa sebagai tindakan siaga ketika sesuatu yang tak terduga terjadi.

“Nak Salim, segera isi perutmu dengan makanan yang ada, melihat cukup banyak darah yang hilang, kamu butuh banyak energi segera.”

Salim tampak lemah, namun ia baik-baik saja. Berkat pertolongan Abah dia masih sanggup berdiri dan berjalan dengan normal sehingga perjalanan dapat dilanjutkan kembali. Namun karena shock Salim kehilangan kesiagaan dan kewaspadaanya, dia menyadari hal itu dan meminta anggota yang lain untuk menggantikan posisinya sebagai ketua regu. Semua anggota yang lain tak tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka baru pertama kali menginjakan kaki di gunung Salak. Pengalaman merekapun sebagai mahasiswa tingkat 1 pecinta alam belum cukup, sehingga kepercayaan diri mereka ciut.

Tak disangka Jero, Raka dan Badu mengajukan Abah untuk memimpin. Semua anggota regu menyetujui hal tersebut, Abah memang cocok sebagai ketua Regu. Pengalaman Abah dan aksi tak terduga yang dia lakukan kini menjadi harapan mereka.

“Maafkan kami Abah, yang telah meremehkan Abah, ternyata kamilah yang merepotkan. Kalau saja Abah tak bersama kami, entah apa yang harus kami lakukan?”

“Sudahlah nak Raka tak usah seperti itu, ayo sekarang kita lanjutkan perjalanan. Tinggal satu kilometer lagi kita akan sampai di pemakaman, kalian bisa beristirahat dengan tenang disana…”

Jero dan kawan-kawan kaget bukan kepalang. Terutama Badu, dia begitu alergi terhadap sesuatu yang berbau mistik. Dia menjadi curiga terhadap Abah, seorang kakek yang belum dikenalnya dan tiba-tiba menjadi bagian kelompok mereka. Kini dia menjadi ketua regu pendakian dan mengatakan hal yang ganjil di hadapan mereka.

“Hah pemakaman! Kita beristirahat dengan tenang? Ma.. ma maksud Abah apa?”

Abah hanya tersenyum, tetapi sorot matanya tampak sebagai sorot mata kelicikan bagi Badu. Ia kembali tak mempercayai Abah, seorang kakek dihadapannya. Namun kini tak ada pilihan untuk sekedar berhenti, lintah bertebaran sepanjang jalan, tak ada tempat persinggahan. Lebatnya hutan dan sempitnya jalan curam menanjak memaksa mereka terus cepat melangkah melewati shelter VI.

“Baiklah sebelum menuju pemakaman, Abah ingin menunjukan kepada kalian semua pengalaman yang tak akan mungkin kalian lupakan seumur hidup…”

Abah berjalan keluar dari track jalur pendakian yang benar. Hal ini disadari oleh Badu, tetapi anggota yang lain seperti terhipnotis mengikuti jejak langkah Abah.

“Tunggu! kalian semua mau kemana? Jalur pendakian yang benar ke sebelah sini! Lihat patok dan sisa jejak langkah lainnya. Kalian malah masuk ke jalan asing yang berbeda!”

Jero dan Raka menyadari hal itu, tetapi Salim dan lainnya tetap tak bergeming mengikuti Abah. Badu, Jero dan Raka tak memiliki pilihan lain. Berjalan memisahkan diri hanya menambah resiko lainnya, belum lagi mereka bertiga mengkhawatirkan keselamatan seluruh anggota lain yang saat ini mengikuti arah Abah melangkah.

Sepuluh menit menembus semak belukar, akhirnya dihadapan mereka tampak gemerincing mata air yang sangat jernih. Semua mata mereka terbelalak, memandangi dasar mata air yang berwarna keperakan. Burung-burung berwarna warni beterbangan dengan riang, ikan-ikan beralalu lalang dengan tenang di dasarnya.

“Pemakaman yang Abah sebut tadi adalah pemakaman kuno yang berada tepat tak jauh dari puncak gunung salak”, Abah membuka penjelasan.

“Oh begitu, kami pernah membacanya di Internet, entah kenapa jadi lupa kalau ada beberapa makam kuno disana… Eh anu, lalu ini sebenarnya tempat apa?” Badu masih menyisakan tanda tanya besar dibalik keningnya.

“Didepanmu ini adalah mata air yang masih perawan, 10 tahun yang lalu jalur ini adalah jalur pendakian, tetapi pihak pengelola Taman Nasional mengarahkan ke jalur yang berbeda untuk menjaga keasrian tempat ini. Ini adalah rahasia tersembunyi, tahukah kalian arti nama salak?”

“Lah, semua orang tahu kalau salak itu nama buah…” Badu yang rasa takut dan kecurigaannya kepada Abah memudar tengah menimpali. Abah menggelengkan kepalanya.

“Gunung ini bernama gunung salak berasal dari kata sanskerta ‘salaka’ yang berarti ‘perak’. Bisa kalian lihat di dasar mata air yang berwarna keperakan itu”

Semua mata tertuju kemata air keperakan itu, mulut Dino menganga lebar, tanpa sadar tengah hanyut dalam keindahan dihadapannya. Belum usai kekaguman mereka, tiba-tiba Abah menunjuk ke angkasa, kali ini bibirnya tersenyum, dari matanya keluar tangis haru.

“Ini tepat hari ulang tahun almarhum istri Abah, tempat ini adalah tempat rahasia kami berdua. Tempat romantis dimana tawa dan canda bersamanya”

Semua orang keheranan, mata mereka mengikuti arah telunjuk Abah yang menunjuk sebuah pelangi. Pelangi melengkung indahnya diatas dasar mata air keperakan menambah keanggunan romansa suasana. Kemudian telunjuk Abah perlahan menunjuk ke permukaan mata air. Seperti hipnotis, semua mata terpukau mengikuti gerakan telunjuk Abah. Tampaklah bayangan warna pelangi, dengan lengkungan yang tepat terputus di tiap sudutnya, berdiri disana tumpukan dua buah batu besar yang tampak seolah terukir berbentuk mata.

“Oh, bayangannya tampak seperti smiley pada emot icon HPku!” Teriak Risman.

“Ya, itulah pelangi yang tersenyum.” Abah mengucurkan air mata lebih deras, tangis haru keindahan menggema. Emosi mereka kini merekam semua itu menjadi sebuah petualangan yang tak terlupakan.

Sukabumi, 27 Desember 2015

 

Dimuat dalam Antologi Cerpen Tema Adventure Penerbit Zukzez Ex Press

Credit Gambar Ilustrasi: http://www.lifehotel.at

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s