Mainan dari Bapak

Cerpen Yoga Permana Wijaya

panas-penjualan-angin-up-berjalan-radar-robot-timah-mainan-retro-vintage-yang-hadiah-jarum-jam-mekanikDalam pekat gelap dan gemerlap cahaya rembulan yang membaur dimalam itu. Dimasa ketika tubuhku yang mungil masih muat berendam dalam sebuah ember. Sembari mencoba memejamkan mata, tetap jelas terlihat cahaya kerlip bintang disapu cahaya rembulan yang cukup menjadi penerang.

Purnama hampir mengalahkan lampu bohlam 5 watt kekuningan di ruang tamu. Jarak antaranya dengan kamarku hanya dibatasi sehelai sekat kain batik truntum. Konon kain truntum itu peninggalan almarhum kakek, yang dibeli ketika pernikahan bapak dan emak dulu. Memang terawat cukup lama, namun waktu membuatnya sedikit terkoyak.

Ada bagian yang menerobos atap rumah, sehingga aku bisa memandangi pemandangan indah. Kadang cipratan air hujan menghiasi lubang itu. Ember-ember yang berada dikamar mandi, tempat biasa aku membersihkan diri, migrasi ke kamarku. Bapak tak banyak bicara, dia membiarkan lubang itu menganga disana, berdalih bahwa dunia ini sangat sempit.

“Lihatlah dari sebuah celah, lihatlah lebih jeli! Kau akan melihat luasnya semesta ini. Tunjuk satu bintang itu dan terbanglah kesana!” Bualan bapakku ketika aku merengek kedingininan meratapi bocornya atap.

Bapakku pelit, baju baru di hari raya kadang hanya sebuah mimpi bagiku, sepeserpun uang jajan tak pernah dia berikan untukku, jangankan memberiku mainan, sekedar beberapa genting baru untuk atap rumahpun dia tak bergeming.

***

Aku masih tak mengerti bapak yang pendiam, sekian menit ini menjadi sosok yang tak berhenti berkata. Aku hanya mendengarkannya sebagai angin lalu. Hembusan nafas bapakku ketika berbicara meluncurkan semerbak baunya. Sesekali aku menutup hidung, telinga aku biarkan terbuka karena sudah kebal dari bentakan suara, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

“Bapak, aku lapar!”

Aku sudah bosan dengan lauk yang hanya sejumput garam itu, monoton tak ada perubahan rasa. Ketika mak Ijah masuk jamban umum kampung, aku mengambil beberapa gorengannya yang diletakan sementara di pos ronda. Mak Ijah yang kurus keriput berdagang keliling kampung, di atas kepalanya menenteng satu tampah besar yang terbuat dari anyaman bambu, Orang sini menyebut tampah itu “nyiru”. Diatas nyiru itu terserak rupa-rupa gorengan tertutup daun pisang lusuh yang sudah dipanaskan diatas “hawu”, kompor yang dibentuk dari tanah liat berbahan bakar kayu dan reranting kering.

Bapak mengerenyitkan dahi dan mengayunkan beberapa buah lidi, yang dia cabut dari sapu pekarangan. “Plak, Plak, Plak!” Tanganku memerah dan lebam, perih menjalar di kulit dengan cepat. Gerak reflekku menciutkan posisi lengan yang kesakitan, menempelkannya erat ke dada, menutupi wajah dengan isak tangis air mata yang keluar. Seketika aku berlari kebelakang rumah, menembus kebun singkong milik pak RT yang ditengahnya terdapat pohon pala. Disitulah tempat persembunyianku, tempat merenung sembari bergelayut di sepertiga ujung puncaknya. Aku memanjat disana, sesenggukan. Aku benci Bapak! Bapak pelit! Bapak jahat!

Semilir angin sepoi mengeringkan air mata, aku terlelap di dahan pohon pala. Beberapa jam dalam buaian, hujan rintik kini membangunkan. Aku perlahan menuruni licinnya batang dan reranting pohon pala, hampir terjatuh. Lalu berlari menembus cipratan air yang menetesi dedaunan. Di depan rumah, bapak berkacak pinggang dengan sorotan mata menyala. Aku tertunduk masuk perlahan ke dalam rumah, takut. Sorot matanya lebih menakutkan dari kilatan halilintar.

***

Dipagi hari ini ternyata bapak masih terlelap, di bagian belakang bajunya yang lusuh masih tampak sedikit cipratan lumpur. Di dapur tampak kepulan asap, terlihat emak sedang memasak, harumnya tercium nikmat.

“Belut dari pasar yak mak?” Emak hanya tersenyum, menggelengkan kepala.

“Belut ini hasil tangkapan bapak semalam, khusus untukmu.”

Belut memang hidup alami disekitar pesawahan, hanya beberapa meter dari rumah, namun kini sudah sedikit langka di kampung kami, penduduk terlalu ramai mengeksploitasinya. Dengan belut goreng, menu kali ini cukup mewah karena biasanya bapak hanya memberi makan kami nasi dan garam bersama beberapa lalap yang diambil dari pucuk daun singkong, kacang-kacangan, katuk dan bayam yang tumbuh di sisi kanan rumah. Di petakan tanah 2×4 meter itulah bapak menanamnya. Terkadang dari situ ada menu tambahan buah labu siam, sulurnya ikut merambat ke dinding rumah yang terbuat dari bilik anyaman bambu.

Tak lama, hidangan emak sudah matang. Emak membawakan nasi dan lauk pauk itu dari dapur, menyusunnya dengan rapi di atas teras bambu depan rumah. Emak menyuruhku membangunkan bapak, tapi ternyata bapak sudah terbangun. Dia sedang mengganti bajunya dengan yang lebih baru. Baju itu masih tampak lusuh, tetapi tampil lebih bersih dan wangi dari yang sebelumnya.

Kami duduk disekeliling hidangan, bapak mengangkat ke dua tangannya bersyukur mendoakan makanan yang tampak dihadapan kami, emak mengamini.

“Selamat ulang tahun Riza, semoga menjadi anak yang soleh…” Emak mencium keningku namun bapak hanya menyantap hidangannya dengan khusyuk tanpa berkata sepatah katapun seolah tak peduli.

Tak kusangka pula, hari itu adalah satu minggu sebelum emak yang mencintaiku hanyut disapu banjir bandang ketika mencuci pakaian di kali. Kenangan tentang emak menjadi bagian gunung kesedihan karena beliau kini telah tiada. Tubuhku lunglai pilu, sungguh aku sangat merindukanmu emak. Kenapa tidak bapak saja yang hanyut! Pikiranku masih belum mampu menerima kenyataan menyakitkan ini.

***

“Aku ingin robot-robotan!”

Wayang-wayangan dari batang daun singkong terjerembab ketanah. Kali ini aku marah, bapak tak pernah memberiku mainan sebagus teman-temanku. Di antara semuanya, mainanku selalu yang paling jelek. Bapak tidak pernah membelikan mainan dari toko, bahkan dari mang Ajat tukang mainan keliling yang mangkal di sekolah setiap hari Jum’at.

Bapak menatap aku dengan tajam, diraihnya sapu lidi, dia acungankan ke atas. Aku ketakutan, tapi kali ini kekesalanku sudah memuncak sehingga aku memberanikan diri memandang wajahnya yang tak memiliki ekspresi, datar. Semenjak kepergian emak, bapak memang selalu seperti itu.

“Jika kamu ingin robot-robotan, jadi rangking pertama dulu di kelasmu!”

Sapu lidi itu bapak lempar ke pojokan, serta merta dia mengendong aku di punggungnya. Lalu menaikan aku ke sepeda ontelnya dengan kayuhan cepat ke jalanan penuh turunan dan tanjakan yang berbatu. Dua puluh menit berlalu, setibanya di sekolah dia menurunkan tubuhku dan kembali mengayuh cepat, pergi bergegas meninggalkanku tanpa sepatah kata. Membiarkan aku masuk ke kelas dengan binar mata menahan tangis berkaca-kaca.

***

Bapak tampak bergegas menuju sawah milik pak mandor. Sepuluh petak sawah mesti bapak urusi segera. Musim panen telah tiba, bapak biasanya mendapat jatah setengah dari hasil panen padi, kerja kerasnya selama 4 bulan mengurusi sawah. Hasil panen kali ini sepertinya cukup melimpah, tapi bapak masih saja pelit. Terbukti dari sarapan dengan menu yang tak berubah sejak dulu, bahkan dia hanya mengganti genting kamarku yang rusak dengan tambalan terbuat dari kantung plastik. Padahal aku tahu hasil panen bapak selalu bertambah.

Akhirnya sesuai janji, bapak membelikanku robot-robotan. Walau sebenarnya aku masih sedikit kecewa karena bapak membelikan mainan yang sudah ketinggalan zaman. Temanku memiliki robot-robotan yang bisa berjalan, menyala dan berbunyi sendiri. Sedangkan robot-robotan milikku hanya seonggok plastik yang tak dapat di gerak-gerakan.

Bapak memang pelit, padahal aku sudah menjadi yang terbaik di sekolah. Dia hanya berujar sembari mengajari aku membuat pola dan memotong papan bekas dengan gergaji, membentuknya seperti robot lainnya yang bisa digerakan.

“Jika kamu anggap mainannya jelek, coba saja kamu buat yang lebih bagus dari ini!” Dia tahu, aku memang tak bisa membuat robot-robotan yang lebih bagus, bahkan yang setarapun dengan pemberiannya mungkin tak sanggup.

Bapak memang selalu mengajari aku menyelesaikan sesuatu. Terkadang dia begadang membaca buku pelajaran dalam remang hanya untuk mengajarkan pelajaran yang belum aku kuasai. Tapi dia tetap jahat, ketika aku malas mengerjakan PR, beberapa lidi telah siap menempel dengan kecepatan tinggi ke tangan dan kaki.

***

Tubuhku lemas, panas, dan sekujurnya seperti remuk. Lima hari aku terkulai disini terkena penyakit tipus, lima hari pula setiap aku selesai memejamkan mata, dipandanganku bapak selalu berada disana menjadi yang pertama terlihat. Dia bahkan tak segan menggendong tubuhku, seberat 61 kilogram ketika ingin ke jamban.

Aku terbaring tak berdaya di dipan, bapak berada disampingku menyuapi bubur dan telur rebus buatannya. Di usiaku yang remaja ini, bapak menjadi sebaik almarhum emak. Pun begitu masih sedikit jahat, karena selalu memaksaku menelan pahitnya obat dengan kasar, tanpa ampun.

***

Ini adalah hari yang bersejarah, aku tengah diwisuda. Tak tanggung-tanggung menjadi lulusan universitas ternama. Tapi bapak tak menghadiri prosesi bersejarah ini, tak seperti temanku yang lain yang ramai bersama keluarganya. Dalam momen ini aku hanya seorang diri walaupun menerima sepucuk ijazah dengan predikat “Suma Cum Laude” dan mewakili seluruh mahasiswa untuk memberi beberapa kata sambutan di podium. Riuh tepuk tangan mengakhiri pidatoku yang sempurna. Kebahagiaanku tak sempurna, karena bapak tak hadir bersama. Sudah belasan tahun berlalu. Bapak mungkin tak mencintaiku, tak bangga anaknya kini menjadi sarjana.

***

Seekor anjing cerdas buatan manusia berlari menuju sebuah pusara, anak-anak yang ikut orangtuanya berziarah disana terpaut mengikuti gerakan anjing itu. Anjing itu adalah AIBO, hasil kecerdasan buatan dengan sensor canggih dan algoritma yang membuatnya seperti hidup. Robot itu kumiliki cuma-cuma karena merupakan bagian dari tim yang membuatnya. Menjadi salah satu lulusan Osaka University memudahkanku untuk bergabung bersama perusahaan besar di Jepang.

Aku tak menyangka bapak meninggal dunia. Padahal beberapa bulan yang lalu, aku dan bapak baru saja merenovasi rumah, bagian genting kamarku kami buat transparan. Dimalam yang cerah dengan bintang dan purnama bapak menunjuk sebuah bintang, lalu mengarahkan telunjuknya ke dadaku. Tak kusangka itulah senyuman terakhir bersamanya.

“Lihatlah dari sebuah celah, lihatlah lebih jeli! Kau akan melihat luasnya semesta ini. Tunjuk satu bintang itu dan terbanglah kesana!” Tentu itu hanya kiasan, kini aku mengerti bahwa akulah bintang itu.

Bapak adalah orang paling dermawan, karena mengumpulkan seluruh hartanya selama ini hanya untuk melihat kebanggaannya dapat menyelesaikan studi di tempat yang tinggi. Bayangkan seorang buruh tani mampu menerbangkan anaknya di universitas ternama, sampai melanglang ke luar negeri.

Bapak, lihatlah! Berkat dirimu aku berhasil membuat mainan yang lebih baik dari mainanku dulu. Mainan darimu yang masih terpajang dengan baik di lemari, tersimpan tinggi berjajar dengan puluhan tropi. Selama ini bapak ternyata mencintai aku tanpa cela, meski tak kusadari, meski cinta itu tak terucap, tetapi nyata mendekap. Terimakasih bapak, teriring doa untukmu, semoga diampuni dari segala dosa, bahagia di tempatkan Allah di surga.

Sukabumi, 19 November 2015

Cerpen juara Nasional bertema Ayah. Dimuat dalam antologi cerpen berjudul “Pak Den dan Bu Wi” (2015) yang diterbitkan oleh penerbit Genom, Yogyakarta.

Sumber Gambar Ilustrasi: http://g02.a.alicdn.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s