Menguak Tabir dan Hakekat Ujian

Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Tahukah Anda apa perbedaan arang dengan Intan?. Tentunya kita semua tahu, arang adalah benda padat berwarna hitam legam, digunakan untuk bahan bakar, lumayan mudah untuk dibuat dan didapat, juga bukan sesuatu yang sangat berharga apabila dibandingkan dengan intan. Dalam ilmu kimia dapat ditemukan fakta sebenarnya antara kedua benda tersebut, arang dan intan ternyata adalah sama-sama terbuat dari bahan yang identik, yakni sesuatu yang berasal dari unsur pembentuk yang sama, yaitu alotrof dari unsur karbon (Carbon = C).

Secara kimia yang membedakan intan dengan arang adalah struktur rantai atom penyusunnya, intan terbentuk sangat istimewa dengan terjejal dan berada dalam tekanan dan suhu yang sangat tinggi sampai ribuan derajat celcius dibawah perut bumi. Dengan kata lain cara pembentukan intan yang ekstrim membuatnya memiliki struktur yang rapat dan erat sehingga membuat intan tidak berwarna hitam seperti arang. Intan juga merupakan material terkeras di muka bumi. Hal tersebut dikarenakan atom-atom karbon pada intan terikat oleh ikatan kovalen yang tersusun rapi, kedudukan elektron di sekitar inti pada intan juga lebih mendekat ke inti sehingga tingkat energi orbital-orbital atom karbon tersebut menurun. Perubahan kedudukan orbital ini mengakibatkan panjang gelombang spektrum tampak berubah, maka warna spektrum yang kita lihat pada intan juga berbeda, tidak lagi hitam seperti arang, melainkan indah memancarkan cahaya.

Belajar dari indahnya intan sebagai benda mulia yang berharga dan kokohnya intan yang dikatakan merupakan benda terkeras dimuka bumi. Yang membedakan arang dan intan itu adalah bentuk susunan rantai atom yang menjalinnya yang hanya dapat terbentuk pada suhu dan tekanan ekstrim yang luar biasa tinggi. Maka dapat dimungkinkan sesuatu yang berasal dari bahan yang sama akan bertambah kualitasnya ketika ditempa dengan cara yang lebih sulit. Layaknya manusia yang memiliki kualitas tinggi adalah mereka yang telah mampu melalui ujian yang lebih banyak, lebih besar dan lebih sulit apabila dibandingkan manusia-manusia yang lainnya.

Kualitas manusia itu dapat ditentukan oleh seberapa besar ujian yang dilaluinya, seperti dalam hadist yang diriwayatkan Sa’id bin abi Waqqash bahwa ia bertanya, Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat ujiannya ? Rasulullah bersabda, yang artinya, “Para nabi, kemudian orang-orang terbaik setelah mereka, dan orang-orang terbaik setelah mereka. Seseorang itu diberi ujian sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kuat maka ujiannyapun berat, namun jika agamanya lemah maka dia diberi ujian sesuai dengan agamanya. Seseorang hamba tidak akan pernah lepas dari ujian hingga ujian itu menghapuskan seluruh dosa- dosanya dan dia dapat berjalan di muka bumi ini tanpa ada dosa sedikitpun” (HR Tirmidzi dan Ibn Majah).

Hakikat Ujian

Allah menciptakan manusia untuk diberikan ujian dan cobaan, sehingga dapat diketahui siapa saja hamba-Nya yang beriman, pandai bersyukur dan siapa saja hamba-hamba-Nya yang ingkar. Salah satu tujuan di balik ujian Allah Swt, adalah penempaan potensi manusia dan munculnya mutiara-mutiara dari dalam dirinya. Manusia yang berada dalam bejana ujian Allah Swt sama seperti batu mulia yang dibakar sehingga terbersihkan dari semua inklusi dan tampak kejernihannya. Al-Quran menyinggung hakikat ini dalam ayat 140 dan 141 surat Ali Imran, “…Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman… Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.”

Ujian bisa berupa sesuatu yang kita senangi atau bisa juga sesuatu yang kita benci. Sebagaimana firman Allah, yang artinya, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan(QS. Al-Anbiya : 35).

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran )” (QS. Al-A’raf : 168)

Nikmat yang baik-baik, bisa berupa kelapangan dalam hidup, kemewahan, jabatan, rizki yang berlebih, dan kenikmatan lainnya yang menyenangkan hati kita. Sedangkan bencana yang buruk-buruk bisa berupa kesengsaraan, kesempitan, musibah, kemiskinan, dan segala hal yang kita benci kehadirannya.

Namun adapula ujian yang ditimpakan kepada orang kafir dan munafik yang disebut dengan azab. Ujian yang diberikan kepada orang-orang kafir adalah bagian dari adzab Allah kepada mereka di dunia, sementara adzab yang lebih besar telah menantinya di akherat, sebagaimana firman-Nya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30). “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa : 79).

Berbeda dengan ujian bagi orang kafir atau munafik, apapun yang diterima seorang muslim baik ia berupa ujian baik berupa kesenangan ataupun ujian buruk berupa kesengsaraan, kelapangan atau kesempitan, maka semuanya adalah baik baginya karena mereka adalah orang-orang yang bersyukur ketika ditimpa kesenangan dan bersabar ketika ditimpa kesengsaraan. Tidaklah suatu musibah atau ujian itu ditimpakan kepada seorang mukmin kecuali adalah sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia sehingga tidak ada lagi baginya siksa atas dosa itu di akhirat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.

Didalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidaklah menzhalimi seorang mukmin, diberikan kepadanya kebaikan di dunia dan disediakan baginya pahala di akherat. Adapun orang yang kafir maka ia memakan dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya di dunia sehingga ketika dia kembali ke akherat maka tidak ada lagi satu kebaikan pun sebagai ganjaran baginya. (HR. Muslim).

Seringkali kita mengeluh (bahkan marah) ketika ditimpa ujian berupa musibah. Kita seakan melupakan bahwa hikmah dan faedah dibalik musibah, pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Sebuah Perenungan

Dalam pendidikan, kitapun mengenal kata ujian. Setiap pelajar di muka bumi ini tentunya pasti melewati suatu tahap yang disebut dengan ujian. Sebentar lagi siswa kelas akhir akan menghadapi Ujian Nasional, sedangkan siswa kelas awal dan menengah menghadapi Ujian Akhir Semester. Ujian tersebut di laksanakan salah satunya sebagai penentu kelayakan kualitas, menambah kualitas dan pemberi motivasi dalam belajar.

Kadang Ujian dijadikan penentuan kelulusan atau menentukan berbagai hal, meskipun pada dasarnya hanya dilakukan beberapa hari saja, yang tidak sebanding dengan lamanya perjuangan kita dalam belajar dari awal hingga akhir masa belajar. Hal ini memberikan renungan bahwa setiap hasil kesuksesan manusia, seperti kepandaian, tidaklah dibangun dalam semalam. Pada hakikatnya Ujian adalah penilaian terhadap kepatuhan jangka panjang. Langkah terbaik dalam menghadapi ujian adalah dengan istiqomah, selalu konsisten dalam hal-hal yang baik kapanpun dan dimanapun. Belajar sebaik mungkin dari awal masuk hingga akhir.

Selain itu ujian juga menjadi penentu kualitas kita secara akhlak, karena proses yang sebentar menjadi rentan terhadap tindak kecurangan. “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607).

Maka jadilah manusia yang meningkat kualitasnya karena ujian, dan bukan sebaliknya. Jadikan segala momen tersebut menjadi ladang penambah amal pahala, bukan malah menjadi penambah dosa.

Selamat ujian bagi para siswa yang menjalaninya, semoga diberikan kelancaran dan hasil yang terbaik. Amin…

Wallahua’alam Bishawab…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s