Memukul Egosentris Sang Penghambat Perubahan

Kebahagiaan terbesar saya di dunia ini adalah memaknai keindahan Tuhan lewat alam semestaNya. Salah satu hal yang memukau adalah perubahan.

Ilmuwan yang kontroversial Charles Darwin pernah menelurkan mutiara kata: “Spesies yang akan bisa bertahan dalam kehidupan ini bukanlah spesies yang paling kuat, bukan pula yang paling cerdas, tetapi yang paling bisa beradaptasi terhadap perubahanlah yang akan bertahan”.

Perubahan, merupakan langkah yang nisbi. Dapat terdiam, maju atau mundur. Tergantung kerangka acuan yang kita tentukan. Akan tetapi satu hal yang pasti mengenai dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan telah tertulis dalam Hukum alam, bahwa alam semesta beserta segala isinya ini senantiasa berubah.

Perubahan meliputi ruang dan waktu, sesuatu yang biasa kita lakukan bahkan berada didalamnya. Mustahil sesuatu yang berada di alam semesta ini ada tanpa berubah. Manusia ketika pertama terbentuk sampai musnah akan selalu berada dalam setiap fase perubahan.

Gamet, Zigot, Embrio, Bayi, Anak-anak, Remaja, Dewasa dst…

Kendatipun perubahan merupakan hal yang pasti dan biasa dilalui, Namun terkadang menjadi sesuatu yang kita risaukan, kita takutkan dan kita hindarkan.

Hal ini bukan karena harapan akan perubahan dalam setiap benak manusia adalah berharap bahwa perubahan yang terjadi melaju ke arah yang lebih baik. Adakalanya kekecewaan justru muncul ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan yang terjadi, dengan anggapan perubahan itu berjalan ke arah yang tidak baik.

Padahal tak ada yang dapat kita hentikan dari sebuah perubahan, yang ada adalah kesiapan kita dalam menyongsongnya. Kekecewaan yang timbul itu hanya sekedar paradigma dan kerangka berfikir kita yang masih belum mau untuk berubah. Keengganan untuk berubah inilah yang merupakan penolakan kita terhadap hukum alam, sesuatu hal yang akan menyakiti diri dan sia-sia.

Sejatinya semua hal berubah karena kehendak Tuhan, maka tak ada perubahan yang tidak baik.

Adapun perubahan yang baik ataupun tidak baik dari sebuah kejadian hanyalah perbedaan pemaknaan kita masing-masing, pemaknaan itulah yang merupakan kerangka acuan yang kita pakai.

Semua hal selalu dapat kita maknai dengan baik, karena kita memiliki kehendak bebas dalam menentukan perubahan itu, kita tetap dapat menentukan akan berubah ke arah yang lebih baik, atau sebaliknya, meratapi kemalangan dan berhenti untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Ternyata hanya sifat egolah yang selalu menolak perubahan. Seperti ke angkuhan Iblis kepada Adam. Egosentrisme menghancurkan diri sendiri…

Inilah yang mengajarkan kepada saya pribadi, bahwa saya harus senantiasa berubah mengikuti keindahan perjalanan dalam alam semesta yang fana ini.

Semoga, Saya selalu dalam keadaan siap untuk berubah dan senantiasa berubah ke arah yang lebih baik.

 

Bismillah…

 

Walaupun perubahan terus bergulir dinamis, akan tetapi titik acuan itu baru saya mulai kembali, dimulai disini.

 

Sukabumi, 30 Oktober 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s