Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Oleh: Yoga Permana Wijaya
https://yogapermanawijaya.wordpress.com

Jean Piaget (1896-1980)

Psikolog Swiss yang terkenal, Jean Piaget (1896-1980) mengusulkan teori penting mengenai perkembangan kognitif. Piaget memperoleh Erasmus Prize dan memberikan banyak konsep utama mengenai psikologi perkembangan. Teori Piaget menyatakan bahwa anak-anak secara aktif membangun pemahaman mereka tentang dunia melalui empat tahap perkembangan kognitif. Dua proses yang mendasari konstruksi kognitif tentang dunia ini adalah organisasi dan adaptasi. Untuk memahami dunia, kita mengorganisasikan pengalaman kita. Sebagai contoh, kita memisahkan gagasan penting dari gagasan yang kurang penting. Kita menghubungkan satu ide ke ide yang lain. Namun, tidak hanya mengatur pengamatan dan pengalaman, kita juga menyesuaikan pemikiran untuk memasukkan ide-ide baru karena informasi tambahan ke dalam pemahaman (adaptasi). Piaget percaya bahwa kita beradaptasi dengan dua cara: asimilasi dan akomodasi[1].

Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada, Sedangkan Akomodasi terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Misalnya seorang gadis yang baru berumur 9 tahun diberikan palu dan paku untuk menggantung gambar di dinding. Sebelumnya, Dia tidak pernah menggunakan palu, tetapi dari pengamatan dan pengalaman yang dia sadari, palu adalah obyek yang akan digunakan untuk memukul paku. Palu tersebut biasanya digunakan dengan mengayunkan beberapa kali untuk memukul paku. Menyadari hal-hal ini, informasi tersebut akan dia sesuaikan dengan perilakunya ke dalam informasi yang sudah dia miliki (asimilasi). Namun, menyadari bahwa palu tersebut berat, sehingga dia menggengam palu tersebut di dekat bagian atas, kemudian mengayunkan terlalu keras dan tanpa sengaja menghantam kukunya. Gadis tersebut kemudian menyesuaikan tekanan ayunan dan pukulannya. Penyesuaian ini mengungkapkan kemampuannya untuk mengubah sedikit konsepsinya mengenai dunia (akomodasi). Dalam pikiran gadis tersebut terjadi pula equilibrium, yaitu pencarian keseimbangan antara diri individu dengan dunianya, dan melibatkan fungsi adaptif untuk memenuhi tuntutan berdasarkan situasi yang terjadi.

Piaget berpikir bahwa asimilasi dan akomodasi beroperasi bahkan dalam kehidupan bayi ketika pertama lahir kedunia. Bayi yang baru lahir secara refleks menghisap segala hal yang menyentuh bibir mereka (asimilasi), tetapi setelah beberapa bulan melalui pengalaman, mereka membangun pemahaman mereka tentang dunia secara berbeda. Beberapa benda seperti jari tangan dan payudara ibu dapat dihisap, tetapi yang lain seperti selimut sebaiknya tidak dihisap (akomodasi).

Piaget juga percaya bahwa kita melalui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap adalah usia-terkait dan terdiri dari cara-cara yang berbeda tentang pemikiran. Tahap ini adalah cara yang berbeda untuk memahami dunia yang membuat satu tahap lebih maju dari yang lain; mengetahui informasi lebih lanjut tidak membuat pemikiran anak lebih maju. Inilah yang dimaksud Piaget ketika ia mengatakan kognisi anak secara kualitatif berbeda dalam satu langkah dibandingkan dengan yang lain[2].

Teori perkembangan kognitif Piaget mewakili kontruktivisme, suatu pandangan tentang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana individu secara aktif membangun sistem pengertian dan pemahaman tentang kenyataan melalui pengalaman dan interaksi mereka[3]. Dengan kata lain dalam pandangan kontruktivisme kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Teori Piaget ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (bagan atau kerangka tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.

Piaget memperoleh gelar doktornya dalam biologi, kemudian dia menjadi lebih tertarik terhadap psikologi[4]. Piaget menerapkan prinsip-prinsip dan metode-metode biologi pada studi perkembangan manusia, dan banyak istilah yang ia perkenalkan pada psikologi diambil langsung dari istilah biologi. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik. Yakni terjadi karena mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin bertambahnya umur atau kedewasaan, maka sistem syaraf akan semakin baik secara kualitatif dalam struktur kognitifnya. Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, secara biologis susunan sel syaraf akan semakin kompleks dan mempengaruhi kekuatan mentalnya menjadi lebih kuat.

Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget

Piaget membagi tahap perkembangan menjadi beberapa tahap secara hirarkis berdasarkan urutan tertentu dalam rentang usia. Yakni tahap sensorimotor (pada saat lahir hingga usia 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 hingga 7), tahap operasional konkret (usia 7 hingga 11), dan tahap operasional formal (usia 11 hingga dewasa). Seseorang tidak akan mampu melompati satu tahap dalam urutan ini dan tidak akan mampu belajar sesuatu diluar tahap kognitifnya. Namun individu yang berbeda melewati tahap tersebut dengan kecepatan yang agak berbeda. Selain itu, orang-orang yang sama dapat melaksanakan tugas yang terkait dengan tahap-tahap yang berbeda pada saat yang sama, khususnya pada titik peralihan kedalam tahap baru. Masing-masing tahap tersebut ditandai oleh kemunculan kemampuan-kemampuan intelektual baru yang memungkinkan orang memahami dunia ini dengan cara makin rumit.

  1. Tahap sensorimotor, Tahap ini berlangsung dari lahir sampai sekitar 2 tahun. Tahap yang paling awal disebut dengan tahap sensorimotor karena, bayi dan anak kecil menjajaki dunia mereka berdasarkan kemampuan indera (sensori) seperti mendengar, melihat, dan mengecap dengan kemampuan bergeraknya otot (motor) seperti menggapai, menyentuh dan membanting. Pada awalnya semua bayi memiliki perilaku bawaan yang disebut dengan gerakan refleks. Ketika kita menyentuh bibir bayi yang baru lahir, bayi itu akan mulai menghisap. Letakkan jari ke telapak tangan bayi, maka bayi itu akan menggenggamnya. Perilaku ini merupakan perilaku bawaan, dan mendasari sebagai asal mula skema pertama bayi tersebut terbentuk. Pada akhir tahap ini, yakni sekitar usia 2 tahun, bayi telah memiliki pola sensorimotor yang canggih dan mulai beroperasi dengan simbol primitif.
  2. Tahap pra-operasional, yang berlangsung dari sekitar 2 sampai 7 tahun merupakan tahap Piaget kedua. Pada tahap ini, anak mulai mewakili dunia dengan kata-kata, gambar, dan sketsa. Pemikiran simbolik melampaui koneksi sederhana informasi sensorik dan tindakan fisik. Namun, meskipun anak-anak prasekolah secara simbolis dapat memahami dunia sekitarnya, menurut Piaget mereka masih kurang memiliki kemampuan dalam pemahaman untuk melakukan operasi dasar dalam mengolah pelajaran sekolah, istilah Piaget untuk tindakan mental diinternalisasi yang memungkinkan anak-anak untuk melakukan mental apa yang sebelumnya mereka lakukan secara fisik.
  3. Tahap operasional konkret, yang berlangsung dari sekitar 7 sampai 11 tahun, merupakan tahap Piaget ketiga. Pada tahap ini, anak-anak dapat melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan pada contoh-contoh spesifik atau konkret. Misalnya, pemikir operasional konkret tidak bisa membayangkan langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan persamaan aljabar, karena masih terlalu abstrak untuk berpikir mengenai persamaan aljabar pada tahap ini.
  4. Tahap operasional formal, antara usia 11 dan 15 merupakan tahap keempat dan terakhir Piaget. Pada tahap ini, individu bergerak melampaui pengalaman konkret, berpikir secara abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari berpikir lebih abstrak, remaja mengembangkan gambaran situasi yang ideal. Mereka mungkin berpikir tentang seperti apa orangtua yang ideal itu, dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal ini. Mereka mulai memikirkan kemungkinan masa depan, terhibur dan terpesona dengan apa yang mereka dapatkan. Dalam memecahkan masalah, pemikir operasional formal lebih sistematis, mereka mampu mengembangkan hipotesis tentang mengapa sesuatu terjadi seperti itu, dan mampu menguji hipotesis ini dengan logika deduktif.

Tabel Perbedaan Tahap Operasional Konkret dan Tahap Operasional Formal

Tahap Operasional Konkret Tahap Operasional Formal
Penalaran logis untuk contoh-contoh spesifik Imajinasi situasi ideal atau hubungan
Penalaran Terapan yang memerlukan sedikit pemikiran abstrak Berpikir abstrak yang mencakup hipotesis,Percobaan metodis untuk menentukan alasan peristiwa
Solusi bagi masalah-masalah nyata Berpikir tentang situasi yang potensial untuk masa depan

Daftar Istilah

  • Adaptasi : Proses menyesuaikan skema sebagai tanggapan atas lingkungan dengan cara asimiliasi dan akomodasi
  • Akomodasi: Mengubah skema yang ada agar sesuai dengan situasi baru
  • Asimiliasi: Memahami pengalaman-pengalama baru dari segi skema yang ada
  • Ekuilibrasi: proses memulihkan keseimbangan antara pemahaman sekarang dan pengalaman-pengalaman baru
  • Konstruktivisme : pandangan perkembangan kognisi yang menekankan peran aktif pelajar dalam membangun pemahaman mereka sendiri tentang realitas
  • Skema: Pola mental yang menuntun perilaku

Referensi

[1] Piaget, J. (1985). The Equilibration of Cognitive Structures: The Central Problem of Intellectual Development. Chicago: University of Chicago Press.

[2] Vidal, F. (1994). Piaget before Piaget. Cambridge, MA: Harvard University Press.

[3] Berk, Laura E. (1996). Infants, Children, and Adolescents(2nd ed.). Allyn & Bacon

[4] Slavin, E. Robert (2008). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s