Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah- PBL (Problem Based Learning)

Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah- PBL (Problem Based Learning)

Oleh: Yoga Permana Wijaya
https://yogapermanawijaya.wordpress.com

Pendahuluan

Pendidikan merupakan sebuah proses dimana kita mempersiapkan anak didik kita agar dapat survive menjalani kehidupannya kelak setelah dewasa. Akan tetapi di abad ke 21 ini, semakin banyak tantangan yang akan di lalui oleh mereka. Banyak hal yang berubah begitu cepat. Ilmu pengetahuan menjadi sangat cepat berubah, apa yang kita ajarkan saat ini dapat menjadi hal yang usang ketika mereka dewasa kelak. Belum lagi kompleksitas dan daya saing yang semakin besar. Pekerjaan yang ada saat ini beberapa tahun kedepan bisa jadi sudah tidak ada. Perangkat yang digunakan saat ini kemungkinan beberapa tahun kedepan sudah tidak digunakan lagi karena ditemukan perangkat baru yang lebih canggih dan praktis. Singkatnya kita mempersiapkan anak didik kita untuk masa depan yang bahkan kita sendiri tidak mengetahuinya.

Oleh karena itu, untuk dapat menghadapi tantangan yang semakin rumit ini, maka kita perlu mengubah paradigma pendidikan agar sesuai dengan perubahan di abad ini. Kita membutuhkan kemampuan manusia yang dapat cepat menyesuikan diri dalam perubahan, dari pasif menjadi aktif, dari sekedar menghafal menjadi berfikir, dari individu menjadi kolaboratif, dari menerima sesuatu yang sudah jadi menjadi menghasilkan hal yang baru. Singkatnya, semua perubahan yang begitu cepat ini menuntut agar anak didik kita dapat dengan cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Salah satu sikap dan kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menunjang semua itu adalah dengan mengajarkan mereka kemampuan dalam pemecahan masalah.

Tabel Perubahan Paradigma Pendidikan[1]

No Paradigma Lama Perubahan Paradigma
1. berpusat pada guru berpusat pada siswa
2. satu arah Interaktif
3. Isolasi lingkungan jejaring
4. Siswa pasif Siswa aktif-menyelidiki
5. maya/abstrak konteks dunia nyata
6. Pribadi pembelajaran berbasis tim
7. Luas perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan
8. stimulasi rasa tunggal stimulasi ke segala penjuru
9. alat tunggal alat multimedia
10. hubungan satu arah Kooperatif
11. produksi massa kebutuhan pelanggan
12. usaha sadar tunggal Jamak
13. satu ilmu pengetahuan pengetahuan disiplin jamak (multidisiplin)
14. kontrol terpusat otonomi dan kepercayaan
15. pemikiran faktual Kritis
16. penyampaian pengetahuan pertukaran pengetahuan

Salah satu model pembelajaran yang mengajarkan anak didik kemampuan dalam memecahkan masalah selain meingkatkan pengetahuan mereka adalah PBL (Problem Based Learning). PBL sangat cocok diterapkan untuk menyiapkan anak didik kita ke dalam berbagai tantangan di abad ke 21 ini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas dan menjabarkan beberapa hal terkait dengan PBL dalam tulisan ini.

Dalam PBL siswa dibagi menjadi kelompok kecil, mereka bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan materi pelajaran dan kehidupannya sehari-hari. PBL merupakan proses aktif dan iteratif yang dapat membuat siswa berusaha mengidentifikasi apa yang mereka ketahui dan yang lebih penting mengidentifikasi apa yang belum mereka ketahui. Motivasi untuk menyelesaiakan permasalahan adalah motivasi untuk mencari dan mengaplikasikan pengetahuan. PBL dapat dipadukan dengan berbagai model pembelajaran dan dapat diimplementasikan kedalam berbagai subjek materi pelajaran.[2]

Gejala umum yang terjadi pada siswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap jawaban tersebut. Bila keadaan ini berlangsung terus maka siswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata (real world problems). Dengan kata lain, pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. Oleh sebab itu, model PBL mungkin dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong siswa berpikir dan bekerja ketimbang menghafal dan bercerita.

Apa Itu PBL?

PBL di kembangkan oleh McMaster University School of Medicine di Canada pada tahun 1960 oleh Howard Barrow dan koleganya[3]. Kini PBL telah menyebar dan digunakan diseluruh dunia. PBL didefinisikan oleh Finkle dan Torp sebagai “A curriculum development and instructional system that simultaneously develops both problem solving strategies and disciplinary knowledge bases and skills by placing students in the active role of problem solvers confronted with an ill-structured problem that mirrors real-world problems”[4]. “Kurikulum dan sistem pembelajaran yang secara bersamaan mengembangkan strategi pemecahan masalah sekaligus basis disiplin pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan siswa berperan aktif dalam pemecahan masalah, yang dengannya siswa dihadapkan dengan masalah yang semi terstruktur, dimana masalah tersebut mencerminkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari”.

PBL (Problem-based learning) atau biasa disingkat pula menjadi Project Based Learning, merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa secara aktif belajar melalui pemecahan masalah. Meskipun keduanya merupakan model pembelajaran yang tampak berbeda, akan tetapi timpang tindih dalam prinsipnya, oleh karena itu dapat dianggap menjadi sama. Yang menjadi esensi dari PBL adalah siswa dituntut belajar mengenai strategi berfikir sekaligus belajar materi pelajaran, melalui pemecahan masalah yang sesuai dengan permasalah kehidupan nyata. Permasalahan dunia nyata (real world) inilah yang membuat PBL menjadi menarik dan membuat tingginya tingkat minat siswa[5]. Sifat metode ini merangsang rasa ingin tahu dan mendorong keterlibatan. Namun, Alasan utama PBL efektif adalah karena membuat siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Tidak seperti hanya memecahkan teka-tekiyang ditawarkan oleh guru, menemukan jawaban untuk masalah di dunia nyata memiliki faktor tambahan yang memuaskan dalam arti bahwa siswa membuat kontribusi.

Barrow mendefiniskan model pembelajaran PBL sebagai berikut:

  1. Pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning);
  2. pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil, idealnya 6-10 orang;
  3. guru bertindak sebagai fasilitator atau tutor yang membimbing siswa;
  4. permasalah merangsang pembelajaran berdasarkan fokus yang dibangun dan ditentukan oleh kelompok ;
  5. permasalahan adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah yang merangsang proses kognitif;
  6. pengetahuan baru diperoleh melalui diri pribadi siswa (self directed learning).[6]

Lebih lanjut Boud dan Felleti[7], Fogarty[8] menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar. PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1) belajar dimulai dengan suatu masalah, 2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa, 3) mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, 4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, 5) menggunakan kelompok kecil, 6) menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Tujuan dari PBL adalah membantu siswa membangun pengetahuan secara fleksibel, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah yang efektif, belajar mandiri, keterampilan berkolaborasi dan meningkatkan motivasi.

Dari uraian diatas maka disimpulkan, tugas dari seorang guru dalam PBL adalah sebagai instruktur (tutor) yang memfasilitasi siswa, memberikan dorongan, membimbing, dan memantau proses pembelajaran[9], menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Guru harus membangun rasa percaya diri siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, dan memberikan arahan agar siswa mencapai pemahaman dalam belajar.

Dengan PBL, siswa dapat meningkatkan kemampuan dalam berbagai macam keterampilan (skill) seperti, menyelesaikan permasalahan, penelitian, dan keterampilan sosial. Karakterisitik PBL bagi siswa adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar;
  2. Membangun keterampilan berfikir kritis, menulis, dan berkomunikasi;
  3. Meningkatkan retensi dari sebuah informasi;
  4. Mendukung model belajar sepanjang hayat;
  5. Mendemonstrasikan kekuatan dalam bekerja sama.

PBL menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang siswa temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer[10]. Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi secara inkuiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.

Kriteria Permasalahan Yang Dipecahkan Dalam PBL

Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian siswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa.

Menurut Arends[11], pertanyaan dan masalah yang diajukan guru kepada siswa dalam PBL haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Autentik, yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu;
  2. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya akan menyulitkan penyelesaian siswa itu sendiri;
  3. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa;
  4. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia.  Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan;
  5. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

Tahapan PBL

Tahap-tahap pemecahan masalah dalam PBL adalah sebagai berikut:

1) penyampaian ide (ideas);

2) penyajian fakta yang diketahui (known facts);

3) mempelajari masalah (learning issues);

4) menyusun rencana tindakan, (action plan); dan

5) evaluasi (evaluation).

Tahap 1: Penyampaian Ide (Ideas)

Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). Siswa merekam semua daftar masalah (gagasan, ide) yang akan dipecahkan. Mereka kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang dikemukakan atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan dipecahkan (masalah aktual, atau masalah yang relevan dengan kurikulum), dan menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah.

Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts)

Pada tahap ini, mereka diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai dengan masalah yang telah diajukan. Tahap ini membantu mengklarifikasi kesulitan yang diangkat dalam masalah. Tahap ini mungkin juga mencakup pengetahuan yang telah dimiliki oleh mereka berkenaan dengan isu-isu khusus.

Tahap 3: Mempelajari Masalah ( Learning Issues)

Siswa diajak menjawab pertanyaan tentang, “Apa yang perlu kita ketahui untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?”. Setelah melakukan diskusi dan konsultasi, mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan informasi. Siswa melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih dapat dipakai. Seringkali, pada saat para siswa menyampaikan masalah-masalah, mereka menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah.

Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)

Pada tahap ini, siswa diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka. Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana) apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saran-saran untuk memecahkan masalah.

Tahap 5: Evaluasi

Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana siswa dan evaluator menilai produk (hasil akhir)   proses, 2) bagai-mana mereka menerapkan tahapan proses belajar mengajar untuk bekerja melalui masalah, dan 3) bagaimana siswa akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Evaluator menilai penguasaan bahan-bahan kajian pada tahap tersebut melalui siswa.

Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada   pemecahan masalah oleh siswa dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Untuk menilai hasil ini dapat dipakai alat dengan sebuah rubrik. Rubrik dipakai sebagai suatu alat pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori, misalnya: 1) batas waktu, 2) organisasi tugas (proyek), 3) kebakuan bahasa, 4) kemampuan analisis 5) kemampuan mencari sumber pendukung (penelitian, termasuk kajian literatur), 6) kreativitas (uraian dan penalaran), dan 7) bentuk penampilan penyajian.

Penilaian PBL

Dalam PBL, perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan deklaratif, tetapi juga perolehan pengetahuan prosedural. Oleh karena itu penilaian tidak hanya cukup dengan tes. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut, penilaian ini antara lain:

  1. asesmen kerja
  2. asesmen autentik
  3. portofolio.

Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana siswa menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. Airasian dalam Nuryenti[12] menyatakan bahwa penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka disamping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan siswa dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya Bagaimana cara belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan siswa akan mudah beradaptasi.

Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. O’Malley dan Pierce[13] mendefinisikan authentic assesment sebagai bentuk penilaian di kelas yang mencerminkan proses belajar, hasil belajar, motivasi, dan sikap terhadap kegiatan pembelajaran yang relevan. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan siswa yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Marzano et al[14] mengemukakan bahwa penilaian dengan portfolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam pendekatan problem based learning dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.

  1. Self-assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh siswa itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh siswa itu sendiri dalam belajar.[15]
  2. Peer-assessment adalah penilaian di mana siswa berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya[16]

Penilaian pembelajaran menurut paradigm konstruktivistik merupakan bagian yang utuh dengan pembelajaran. Bertolak dari pandangan ini dan mencermati tahapan yang harus dilalui siswa dalam belajar dengan model PBL, maka penilaian PBL dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Oleh karenanya, penilaian pembelajaran dilaksanakan secara nyata dan autentik. Lebih lanjut dikemukakan tentang penilaian yang relevan antara lain sebagai berikut.

  1. Penilaian kinerja siswa

Pada penilaian kinerja ini, siswa diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu lagu, atau melukis suatu gambar.

  1. Penilaian portofolio siswa

Portofolio adalah suatu kumpulan sistematis hasil-hasil pekerjaan seseorang[17].Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam suatu periode tertentu. Informasi perkembangan siswa dapat berupa hasil karya terbaik siswa selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan, atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Dari informasi perkembangan itu siswa dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan siswa terus berusaha memperbaiki diri.

Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh siswa itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh siswa itu sendiri dalam belajar. Peer assessment adalah penilian dimana siswa berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya.

  1. Penilaian potensi belajar

Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar siswa yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju.Hal itu merupakan pengaruh dari ide Vigotsky tentang ZPD (Zone Proximal Development) yaitu bahwa pada dasarnya siswa dapat mengerjakan tugas-tugas yang belum pernah dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan siswa untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.

  1. Penilaian usaha kelompok

Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan siswa dengan temannya.

Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivisme yang menekankan kebutuhan siswa untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna[18].

Penilaian dalam PBL tentunya tidak hanya kepada hasilnya saja tetapi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. National Research Council (NRC)[19] memberikan tiga prinsip berkaitan penilaian dalam PBL, yaitu yang berkaitan dengan konten, proses pembelajaran, dan kesamaan. Lebih jelasnya sebagai berikut:

  1. Konten: penilaian harus merefleksikan apa yang sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh siswa;
  2. Proses pembelajaran: penilaian harus sesuai dan diarahkan pada proses pembelajaran;
  3. Kesamaan: penilaian harus menggambarkan kesamaan kesempatan siswa untuk belajar.

Menurut Waters and McCracken[20] penilaian yang dilakukan harus dapat :

  1. Menyajikan situasi secara otentik;
  2. Menyajikan data secara berulang-ulang;
  3. Memberikan peluang pada siswa untuk dapat mengevaluasi dan merefleksi pemahaman dan kemampuannya sendiri;
  4. Menyajikan laporan perkembangan kegiatan siswa.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam PBL tidak hanya kepada hasil akhir tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah penilaian proses. Penilaian ini bisa didasarkan pada jenis penilaian otentik (autentic assessment) dimana penilaian difokuskan terhadap proses belajar. Oleh karena itu, peran guru dalam proses PBL tidak pasif tetapi harus aktif dalam memantau kegiatan siswa serta mengontrol agar proses pembelajaran berjalan dengan baik. Sementara itu, untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar yang telah diperoleh siswa, guru pun perlu untuk mengadakan tes secara individual. Jadi penilaian dilakukan secara kelompok juga individual.

Menurut Reys, et.al.[21], beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah : 1) observasi, 2) inventori dan ceklis, dan 3) paper and pencil test. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik[22] berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : 1) observasi, 2) jurnal metakognitif, 3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph), test, portofolio. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda, masalah masalah terbuka (open ended), dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Tes kinerja ini, untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. Rubrik dipakai sebagai suatu alat pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori, misalnya: 1) batas waktu, 2) organisasi tugas (proyek), 3) segi (kebakuan) bahasa, 4) kemampuan analisis, telaah, 5) kemampuan mencari sumber pendukung (penelitian, termasuk kajian literatur), 6) kreativitas (uraian dan penalaran), dan 7) bentuk penampilan penyajian.

Keunggulan PBL

  1. Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan;
  2. Dalam situasi PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung; dan
  3. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Kerugian Menggunakan PBL

PBL adalah alat yang sangat baik untuk membantu siswa dalam memperluas dan memperbaiki pembelajaran dalam konsep mereka. Namun, seperti belajar penemuan, siswa harus memiliki pengetahuan kerja istilah, fakta, dan statistik, serta arah, sebelum mereka dapat mengatasi masalah tersebut. Pengetahuan kerja tersebut dapat diberikan melalui ceramah, atau instruksi langsung. PBL paling baik digunakan ketika guru sedang mencari jalan untuk membantu siswa memahami makna dari konsep yang lebih besar melalui inisiatif sendiri dan bekerja. Oleh karena itu, PBL digunakan pada titik dalam pelajaran ketika siswa diharapkan memahami arti penting dari konsep yang diajarkan.

Peneliti pendidikan terkemuka telah meninjau apa yang mereka gambarkan sebagai studi penelitian dengan menggunakan metodologi kualitas dan menyimpulkan bahwa dalam PBL kurang efektif dibandingkan dengan instruksi langsung. Ada dua hal sebagai pendukung masalah ini: 1 ) hasil penelitian , 2) pengamatan bahwa penelitian yang mendukung PBL seringkali bias secara metodologis.[23]

Meskipun tidak ada kelemahan menggunakan PBL yang mudah terlihat, seorang guru harus berhati-hati sebelum menggunakan PBL dalam pembelajaran. Beberapa faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut[24]:

  1. Apabahan dan sumber daya yang akan diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran, dan apakah guru memiliki kemampuan untuk membuat siwa menjadi siap tepat waktu?. Perencanaan jangka panjang dapat mencegah masalah ini. Lihatlah proyek secara menyeluruh dan membuat daftar bahan dan sumber daya yang dibutuhkan.
  2. Seberapa baik PBL berlaku untuk topik tertentu, dan apakah hal itu sejajar dengan standar dalam kurikulum ?. Ketika merancang rencana pelajaran mingguan atau bulanan, selaraskan dengan kurikulum standar; jangan menunggu hari pelajaran.
  3. Seperti dalam metode pembelajaran kooperatif, anggota tim sering tidak bekerjasama dengan baik dan biasanya berada dalam konflik beban kerja. Cobalah untuk menulis tim dan anggota yang bervariasi sesuai dengan kemampuan dan gender; selalu ingat bahwa keragaman adalah tujuan.
  4. Beberapa siswa akan mengalami kesulitan memahami materi atau mengorganisir diri mereka agar cukup baik untuk memulai proyek atau pemecahan masalah. Maka guru dituntut untuk Bekerja sama dengan guru yang lain dan tenaga kependidikan; Pastikan untuk berkoordinasi dengan guru BK mengenai siswa yangsedang berjuang. Semakin lengkap informasi guru mengenai siswanya, semakin lebih siap untuk membantu siswanya.

Kesimpulan

PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi pada masalah.

Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual dan belajar menjadi pembelajar yang otonom. Keuntungan PBL adalah mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihannya sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dunia nyata dan membangun pemahaman tentang fenomena tersebut.

Referensi

[1] BNSP (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI. BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN.

[2] http://www.udel.edu/inst/why-pbl.html, why PBL? [online] diakses 14 Oktober 2014.

[3] Neville, Alan J. (2009). Problem-Based Learning and Medical Education Forty Years on. Medical Principles and Practice 18 (1): 1–9

[4] Finkle, S.L. y Torp, L.L., (1995). Introductory Documents. Illinois Math and Science Academy.

[5] Pearsonhighered.com. Teaching for Success: Methods and Models. [online] tersedia: http://www.pearsonhighered.com/samplechapter/0131149903.pdf diakses 24-10-2014

[6] Barrows, Howard S. (1996). Problem-based learning in medicine and beyond: A brief overview. New Directions for Teaching and Learning 1996 (68): 3.

[7] Boud, D. & Felleti, G.I. (1997). The challenge of problem based learning. London: Kogapage

[8] Fogarty, R. (1997). Problem-based learning and other curriculum models for the multiple intelligences classroom. Arlington Heights. Illionis: Sky Light.

[9] Schmidt, Henk G; Rotgans, Jerome I; Yew, Elaine HJ (2011). The process of problem-based learning: What works and why. Medical Education 45 (8): 792–806

[10] Ibrahim, Muslimin dan Nur (2000). Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: UNESA.

[11] Abbas, Nurhayati (2000). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Beroriantasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction). Program Studi Pendidikan Matematika Pasca Sarjana UNESA.

[12] Nuryenti, Diah Eko. (2005). Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Mengembangkan Kecakapan Matematika Siswa Sekolah Dasar (SD) Kelas III Sebagai Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).Skripsi SI Pendidikan Matematika UNNES

[13] O’Malley, J.M., & Pierce, L. V. (1996). Authentic Assessment for English Language Learner: Practical Approaches for teacher. New York: Addison-Wesley

[14] Marzano, R. J., Pickering, D.J. and McTighe J. (1993) Assessing student outcomes: performance assessment using the Dimensions of Learning model Alexandria. Va: Association for Supervision and Curriculum Development.

[15] Griffin, Patrick & Nix, Peter (1991) Educational Assesment and Reporting. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich

[16] Griffin, Patrick & Nix, Peter (1991) Educational Assesment and Reporting. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich

[17] Popham, W. James. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Boston: Allyan and Bacon.

[18] Ibrahim, Muslim dan Nur (2000). Pembelajaran Berbasis Masalah. Surabaya:UNESA.

[19] Waters, Robert and Michael McCracken (2012). Assessment And Evaluation In Problem-Based Learning. [online] http://www.fie-conference.org/ diakses 24-10-2014

[20] Waters, Robert and Michael McCracken (2012). Assessment And Evaluation In Problem-Based Learning. [online] http://www.fie-conference.org/ diakses 24-10-2014

[21] Reys, Robert E., et. al. (1998). Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Needham Hwight : Allyn & Bacon

[22] Krulik, Sthepen dan Rudnick, Jesse A. (1995). The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Temple University :Boston.

[23] Kirschner, P.A.; Sweller, J.; Clark, R.E. (2006). Why minimal guidance during instruction does not work: An analysis of the failure of constructivist, discovery, problem-based, experiential, and inquiry-based teaching. Educational Psychologist 41 (2): 75–86.

[24] Pearsonhighered.com. Teaching for Success: Methods and Models. [online] tersedia: http://www.pearsonhighered.com/samplechapter/0131149903.pdf diakses 24-10-2014

Credit Ilustrasi:

http://keltoncheyennepowell.weebly.com

Iklan

2 thoughts on “Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah- PBL (Problem Based Learning)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s