Kekuatan, Keajaiban dan Manfaat Puasa

Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya, dan pembersih badan (jasad) adalah puasa.

(HR. Ibnu Majah)

 

AJAIB! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan manfaat dari puasa. Kata ajaib sudah sering kita dengar, tetapi tidak semua orang mengetahui apa arti dari kata itu. Secara sederhana, ajaib adalah sesuatu yang aneh tapi nyata. Yakni, sesuatu yang terjadi di luar prediksi manusia, atau sesuatu yang dapat diprediksi, tetapi kenyataannya melebihi apa yang diprediksikan.

Dengan kata lain, ajaib adalah kejadian atau peristiwa yang tidak empiris dan sukar diterima oleh nalar sebagian kita yang terlanjur terbiasa berfikir bahwa ukuran kebenaran segala sesuatu haruslah rasional, terukur, kasat mata dan tangible. Namun demikian, bukan berarti sesuatu yang ajaib itu tidak ada yang rasional. Di dunia ini ada banyak kejadian atau peristiwa aneh dan ajaib, tapi rasional, bahkan sangat rasional. Hal itulah yang terjadi pada puasa.

Puasa adalah salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki pelbagai keajaiban, diantaranya dapat melahirkan kesehatan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim, “Berpuasalah kamu niscaya akan sehat“. Secara fisik, puasa memiliki efek kesehatan seperti; membangun sistem kekebalan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, dan masih banyak lagi.

Elson M. Haas M.D. Direktur Medical Centre of Marin mengatakan dalam puasa (cleansing dan detoksifikasi) merupakan bagian dari trilogi: nutrition, balancing, building. Elson percaya bahwa puasa adalah bagian yang hilang “missing link” dalam diet di dunia barat. Kebanyakan orang di barat over eating atau terlalu banyak makan, makan dengan protein yang berlebihan, lemak yang berlebihan pula. Sehingga ia menyarankan agar orang mulai mengatur makanannya agar lebih seimbang dan mulai berpuasa, karena puasa bermanfaat sebagai: purifikasi, peremajaan, istirahat pada organ pencernaan, anti aging, mengurangi alergi, mengurangi berat badan, detoksifikasi, relaxasi mental dan emosi, perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih seimbang dan lebih terkontrol, meningkatkan imunitas tubuh dan lebih baik lagi bila dalam pengawasan dokter.

Puasa dapat mengobati penyakit seperti influeza, bronkhitis, diare, konstipasi, alergi makanan, astma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental, angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia.

Berikut ini dipaparkan lebih lanjut manfaat puasa secara ilmu pengetahuan dan kedokteran:

1. Puasa Memperbaiki Sel Yang Rusak

Asam amino adalah zat yang membentuk infra struktur sel-sel tubuh. Pada saat berpuasa, asam amino yang baru terbentuk dari makanan ini berkumpul dengan asam-asam hasil proses pencernaan sebelum didistribusikan kembali kedalam tubuh dan akan terjadi format ulang.

Dr. Abdul Jawwad Ash-Shawi mengatakan bahwa pada saat berpuasa, pembentukan sel-sel dilakukan kembali setelah proses-proses pencernaan, kemudian didistribusikan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sel-sel tubuh. Dengan demikian, terbentuklah gugus-gugus baru untuk sel-sel, yang merenovasi strukturnya dan meningkatkan kemampuan fungsional kinerjanya, sehingga menghasilkan kesehatan bagi tubuh manusia.

Pola makan saat puasa tetap dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein, lemak, fosfat, kolesterol dan yang lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal didalam hati. Jumlah sel yang mati didalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

2. Puasa Membersihkan Tubuh dari Racun

Pada saat berpuasa, lemak-lemak yang disimpan pada tubuh dalam jumlah besar dipindahkan ke hati sehingga dioksidasi dan dimanfaatkan oleh hati. Dari proses ini dikeluarkan racun-racun yang meleleh di dalamnya, kandungan racunnya dimusnahkan, kemudian dibersihkan bersama kotoran-kotoran tubuh. Proses detoksifikasi ini akan lebih baik apabila cukup meminum air putih pada saat malam hari dan sahur.

Sedangkan penghentian konsumsi air selama puasa akan sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air ketika puasa akan meminimalkan volume air dalam darah yang memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

3. Puasa Membuat Awet Muda dan Panjang Umur

Allan Cott, M.D., menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku “Why Fast” membeberkan berbagai hikmah puasa, diantaranya puasa membuat seseorang melihat merasa lebih muda dan memperlambat proses penuaan.

Dr. Yuri Nikolayev direktur bagian diet pada Rumah Sakit Jiwa Moskow menilai kemampuan untuk berpuasa yang mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi awet muda, sebagai suatu penemuan (ilmu) terbesar abad ini. Beliau mengatakan: “what do you think is the most important discovery in our time? The radioactive watches? Exocet bombs? In my opinion the bigest discovery of our time is the ability to make onself younger phisically, mentally and spiritually through rational fasting.” Yang artinya “menurut pendapat Anda, apakah penemuan terpenting pada abad ini? Jam radioaktif? Bom exoset? Menurut pendapat saya, penemuan terbesar dalam abad ini ialah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisik, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional”.

Penelitian endokrinologi menunjukan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif akan menjadi beban dalam proses asimiliasi makanan didalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

Selain itu, puasa membuat panjang umur dibuktikan oleh studi asal China yang melakukan percobaan pada tikus yang dibatasi makannya. Ternyata pengurangan 30 persen makan dari tikus dapat meningkatkan produksi bakteri “baik” dalam pencernaannya, termasuk Lactobacillus yang berhubungan dengan panjang umur. Profesor mikrobiologi dari Shanghai Jiao Tong University Liping Zhao mengatakan, “Pembatasan kalori dapat memicu peningkatan pertumbuhan dari bakteri baik. Hal ini dapat membantu memperbaiki kesehatan secara umum sehingga bisa memperpanjang umur“. Studi yang dipublikasi dalam jurnal Nature Communications ini dapat diaplikasikan juga pada manusia.

Kendati demikian, Zhao mengakui hasil studi ini tidak dapat secara langsung diaplikasikan semua pada manusia. Namun ada prinsip-prinsip dasar yang mampu diterapkan. Karena setiap manusia memiliki genetik, aktivitas fisik, usia, kegiatan yang berbeda, maka kebutuhan nutrisi setiap orang tidak sama.

Studi lain dari Intermountain Medical Centre Heart Institute menyatakan, puasa dapat menurunkan risiko penyakit arteri koroner dan diabetes. Studi tersebut juga melaporkan, puasa menyebabkan perubahan signifikan dalam kadar kolesterol darah. Mungkin karena dapat memperbaiki kesehatan secara umum, maka puasa dikatakan mampu membuat awet muda dan memperpanjang umur.

4. Puasa Meningkatkan Pesona dan Kecantikan

Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” di Amerika Serikat menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).

Puasa dapat membuat kulit menjadi sehat, segar, berseri dan lembut karena setiap saat tubuh mengalami metabolisme energi, yaitu peristiwa perubahan dari energi yang terkandung dalam zat gizi menjadi energi potensial dalam tubuh. Sisanya akan disimpan didalam tubuh, sel ginjal, sel kulit, dan pelupuk mata serta dalam bentuk lemak dan glikogen.

Manusia memiliki cadangan energi yang disebut glikogen yang dapat bertahan selama 25 jam. Jika tubuh tidak mendapat suplai makanan dari luar maka sewaktu-waktu cadangan ini akan dibakar menjadi energi. Ketika berpuasa cadangan makanan yang ada didalam tubuh akan dikeluarkan, sehingga melegakan pernafasan (oksidasi) organ-organ tubuh serta sel penyimpanannya. Proses ini disebut peremajaan sel. Dengan meremajakan sel-sel tubuh akan bermanfaat meningkakan kekebalan tubuh dan kesehatan kulit kita. Oleh karena itu orang yang sering berpuasa kulitnya akan terlihat lebih sehat, segar, lembut dan berseri karena proses peremajaan sel didalam tubuhnya berjalan dengan baik.

5. Puasa Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Dr Ahmad al-Qadhi dan Dr. Riyadh al-Bibaby mengatakan, puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau sistem imun terhadap berbagai penyakit. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang memproduksi sel limfosit T yang bertambah secara signifikan setelah puasa.

Dr Ahmad al-Qadhi, Dr. Riyadh al-Bibaby bersama rekannya di Amerika melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa selama bulan ramadhan. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh positif puasa yang cukup signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh. Indikator fungsional sel-sel getah bening (lymfocytes) membaik hingga sepuluh kali lipat, walaupun jumlah keseluruhan sel-sel getah bening tidak berubah, namun prosentase jenis getah bening yang bertanggung jawab melindungi tubuh dan melawan berbagai penyakit yaitu sel T mengalami kenaikan yang pesat.

6. Puasa Aman dilakukan dan Tidak Menyebabkan Penyakit

Puasa ramadhan tidak akan berbahaya, malah memberikan banyak manfaat, bahkan terhadap penyakit seperti diabetes sekalipun. Muzam MG, Ali M.N dan Husain berpendapat bahwa puasa juga aman untuk pasien yang mempunyai gangguan ulcer pada lambung. Penelitian dilakukan oleh Muzam MG, Ali M.N dan Husain dalam observasi terhadap efek puasa ramadhan terhadap asam lambung.

Tahun 1990 dari RS Universitas King Khalid, Dr Riyadh Saudi melakukan penelitian terhadap pengaruh puasa Ramadhan terhadap 47 penderita diabetes jenis kedua (pasien yang tidak tergantung insulin). Dan sejumlah orang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa bulan Ramadhan tidak menimbulkan penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada pengaruh apapun yang berarti pada kontrol penyakit diabetes dikalangan penderita ini. Sejauh ini puasa ramadhan aman saja bagi penderita diabetes selama dilakukan dengan kesadaran dan kontrol makanan serta obat-obatan.

Dalam berbagai penelitian ilmiah tidak ditemukan efek merugikan dari puasa ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri. Meskipun puasa aman untuk orang sehat dan kondisi beberapa penyakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dan mengikuti rekomendasi dokter.

7. Puasa Menyehatkan Peredaran Darah dan Jantung

Jalal Saour berpendapat bahwa berkurangnya cairan pada puasa akan menurunkan heart rate atau kerja jantung, pencegahan terhadap penggumpalan darah yang termasuk penyebab serius panyakit jantung.

Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1 yang menurunkan LDL. Penurunan LDL sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Beberapa penelitian “chronobiology” menunjukan bahwa saat puasa ramadhan berpengaruh terhadap ritme sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan tersebut walaupun ringan tampaknya juga berperan bagi kesehatan manusia.

8. Puasa Menyehatkan Persendian

Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa terhadap membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyebutkan adanya korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

9. Puasa Mengendorkan Ketegangan Jiwa dan Peningkatan Komunikasi Psikososial

Dr Sabah al-Baqir dan kawan-kawan mengatakan bahwa puasa dapat mengurangi jumlah hormon pemicu stress. Dia bersama tim dari Falkutas kedokteran Universitas King Saud, yang melakukan studi terhadap hormon prolaktin, insulin dan kortisol, pada tujuh orang laki-laki yang berpuasa sebagai sampel. Hasilnya bahwa tidak ada perubahan signifikan pada level kortisol, prolaktin, dan insulin. Ini menunjukkan bahwa puasa bulan ramadhan bukanlah pekerjaan yang memberatkan, dan tidak mengakibatkan tekanan mental maupun saraf.

Seorang peneliti di Moskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa, sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna.

Peranan puasa sebagai bulan yang penuh berkah, setiap doa dan ibadah akan memiliki pahala berkali lipat dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas berkah dan pahala tersebut akan meningkatkan hubungan komunikasi sosial positif yang lebih sering antara seorang penganut ajaran Islam yang taat dengan sesama manusia lainnya. Psikososial memiliki dampak bagi kesehatan manusia, berbagai peningkatan ibadah secara langsung meningkatkan hubungan dengan Sang Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih bahagia, aman, teduh, gembira dan merasa puas.

Keadaan psikologis yang tenang, tanpa amarah dan teduh saat puasa dapat menurunkan hormon adrenalin. Adrenalin dapat memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial, menambah volume darah kejantung dan meningkatkan detakannya. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak, seperti jantung koroner, stroke dan yang lainnya. Sehingga dengan berkurangnya adrenalin dalam jumlah yang cukup membuat kita relatif lebih sehat.

10. Puasa Melancarkan Fungsi Pencernaan

Dr. Muhammad Munib dari Turki juga melakukan sebuah penelitian terhadap seratus responden muslim, sampel darah mereka diambil sebelum dan diakhir bulan ramadhan, untuk dilakukan analisis dan pengukuran terhadap kandungan protein, total lemak (total lipid), lemak fosfat, asam lemak bebas, kolesterol, albumin, globulin, gula darah, tryglycerol, dan unsur-unsur pembentuk darah lainnya. Dari penelitian tersebut didapat, antara lain bahwa terjadi penurunan umum pada kadar gula (glukosa) dan tryacyglicerol orang yang berpuasa, namun terjadinya penurunan parsial dan ringan pada berat badan. Uniknya tidak terlihat adanya aseton dalam urin, baik dalam awal maupun akhir puasa.

Kenyataan ini menegaskan, berbeda dengan proses starvasi (kelaparan) biasa, dalam puasa Islam tidak ada pengasaman dalam darah karena tidak adanya pembentukan zat-zat keton yang berbahaya bagi tubuh. Sehingga puasa ramadhan aman bagi tubuh. Bahkan dengan keutamaan puasa, glikogen dalam tubuh mengalami peremajaan, memompa gerakan lemak yang tersimpan, sehingga menghasilkan energi yang lebih meningkat.

11. Puasa Meningkatkan Kesuburan

Dalam penelitian terhadap kesuburan laki-laki, dilakukan studi pada hormon testosteron, prolaktin, lemotin (LH), dan hormon stimulating folikel atau perangsang kantung (FSH). Pada tahap awal terjadi penurunan hormon testosteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tanpa mengganggu jaringan kesuburan. Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituitari testicular dan pengaruh kedua testis. Beberapa hari setelah puasa hormon testosteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.

Suatu penelitian dilakukan Fakultas Kedokteran YARSI pada 28 pria yang melakukan ibadah puasa untuk mencari jawaban apakah kualitas sperma seseorang yang melakukan ibadah puasa mengalami penurunan?. Untuk menjawab pertanyaan ini, semen pria tersebut diperiksa pada empat tahap pengamatan, yaitu sebulan sebelum puasa, pada hari ke-15 puasa, pada hari ke 25 puasa, dan sebulan setelah puasa. Hasilnya menunjukan terjadi peningkatan volume semen, peningkatan jumlah total sperma dan persentasi sperma yang bertahan hidup selama 24 jam (viabilitas sperma). Sementara itu, presentase sperma yang bergerak (mobilitas) tidak berbeda antara keempat tahap pengamatan tersebut.

Sedangkan penelitian pada hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi 80% populasi penelitian menunjukan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

12. Puasa Menguatkan Otak

Sekelompok peneliti Amerika Serikat menyimpulkan bahwa sesekali berpuasa akan memperkuat otak sekaligus menurunkan berat badan. Penelitian yang dilakukan The National Institute for Aging awalnya dilakukan terhadap binatang percobaan. Para binatang diberi makanan dengan kalori minimum, dan hasilnya justru berumur dua kali lebih panjang. Tikus yang puasa (sengaja tidak diberi makan) ternyata lebih sensitif terhadap insulin dan tak perlu banyak memproduksi hormon itu.

Insulin dalam kadar tinggi biasanya dihubungkan dengan lemahnya otak dan diabetes. Insulin dihasilkan untuk mengendalikan kadar gula setelah makan. Kelompok tikus yang yang puasa memiliki sinapsis otak yang berfungsi lebih baik. Sinapsis otak adalah pertemuan antara sel-sel otak yang mempercepat sel baru serta mecegah stress.

Percobaan selanjutnya dilakukan pada manusia, dan ternyata faedahnya melindungi jantung, sistem peredaran darah dan melindungi otak dari penyakit tua seperti Alzheimer. Mark Mattson, kepala laboratorium neurosains di NIA sekaligus profesor bidang neurosains di John Hopkins University, Baltimore AS menyatakan, tidak adanya energi ternyata memperpanjang umur dan melindungi otak serta sistem jantung dari penyakit-penyakit yang biasa timbul di masa tua.

13. Puasa Mencegah Kerusakan Syaraf

Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia menyatakan puasa memiliki banyak keuntungan bagi kesehatan, salah satunya mengistirahatkan saluran cerna serta proses detoksifikasi (membuang racun tubuh). Selain itu, pengalihan sumber energi dari glukosa menjadi penggunaan lemak sangat membantu pencegahan kerusakan saraf. Hasil metabolisme glukosa mempunyai efek buruk pada saraf dan otot. Saat berpuasa, asupan makanan kita berkurang sehingga sumber energi banyak diambil dari cadangan lemak. Sisa metabolisme lemak tidak seburuk glukosa. Jadi beliau memberikan nasihat untuk memanfaatkan momen puasa ini dengan sebaik-baiknya.

Kerusakan saraf atau neuropati dialami oleh 1 dari 4 orang berusia 40 tahun ke atas, terutama pada mereka yang menderita penyakit diabetes. Kerusakan saraf membutuhkan proses perbaikan bertahun-tahun karena sel saraf tidak mudah beregenerasi. Neuropati ditandai dengan gejala seperti kram dan kesemutan, rasa baal, nyeri, pegal-pegal, terutama di bagian kaki, rasa terbakar, rambut rontok, serta kelemahan tubuh dan anggota gerak.

Neuropati juga bisa dicegah melalui pola makan yang baik. Asupan makanan yang mengandung vitamin B sangat baik untuk kesehatan saraf. Vitamin B bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan seperti beras yang masih mengandung kulit ari, daging, buah-buahan, serta sayuran. Jika pola makan buruk, disarankan mengonsumsi suplemen vitamin neurotropik.

14. Puasa Memerangi Sel Kanker

Para ilmuwan melaporkan, penelitian awal pada tikus yang memiliki penyakit kanker menunjukan bahwa berpuasa dapat melemahkan tumor dan membantu kerja kemoterapi yang jauh lebih baik. Meskipun masih belum diketahui pendekatan yang sama dapat bekerja pada manusia, namun temuan ini bermanfaat meningkatkan respon terhadap pengobatan kanker. Untuk dapat diaplikasikan kepada manusia, para peneliti sedang melakukan penelitian yang kemungkinan baru akan selesai beberapa tahun lagi.

Valter Longo, Profesor Ilmu Usia Lanjut dan Ilmu Biologi di University of Southern California (USC) mengatakan, sebuah cara untuk mengalahkan sel kanker mungkin tidak bisa langsung membunuh mereka secara khusus tapi dengan membentuk lingkungan yang ekstrim, seperti puasa. Dimana sel-sel yang normal dapat merespon dengan cepat perubahan ekstrim tersebut, tidak seperti sel kanker.

Menurut para peneliti, puasa membuat sel dalam posisi “survival mode” sehingga lebih mampu melawan stress akibat kemoterapi. Semua studi kanker menunjukan bahwa puasa yang dikombinasikan dengan kemoterapi meningkatkan kelangsungan hidup, memperlambat pertumbuhan tumor dan atau membatasi penyebarannya. Studi ini muncul dalam jurnal Science Translational Medicine.

 

Puasa sudah diakui menjadi penyembuh terhebat dalam menanggulagi penyakit, bahkan di Amerika ada pusat puasa yang diberi nama “Fasting Center International, Inc”. Pusat puasa ini merekomendasikan puasa dalam berbagai program, yakni: program penurunan berat badan, program mengeluarkan toksin tubuh, program memperbaiki energi, kesehatan mental, kesehatan fisik dan yang paling terpenting meningkatkan kualitas hidup.

Sejak zaman dahulu, puasa dipakai sebagai pengobatan yang terbaik seperti yang Plato katakan, bahwa puasa adalah untuk mengobati sakit fisik dan mental. Philippus Paracelsus mengatakan bahwa “Fasting is the greatest remedy the physician within!”.

Ada sebuah kisah tentang Michaelango, seorang kakek renta berusia lanjut. Suatu hari kakek itu ditanya tentang rahasia di balik kesehatannya yang tetap prima dan gaya hidupnya yang menikmati performa enerjik yang luar biasa setelah melewati usia enam puluh tahun.

Ketika ditanya mengenai apa rahasianya, Ia menjawab, “Aku ini tekun menjaga kesehatan, energi, dan vitalitasku pada usia tiga puluh tahun sampai lima puluh tahun, hingga akhirnya aku membiasakan diri berpuasa dari waktu ke waktu. Dalam setiap tahun aku berpuasa sebulan; dalam setiap bulan aku berpuasa seminggu; dalam setiap minggu aku berpuasa sehari; dan dalam sehari aku hanya makan dua kali, tidak tiga kali seperti yang dijalankan kebanyakan orang. Selama berpuasa aku hanya mengkonsumsi air. Terkadang aku juga mengkonsumsi ekstrak buah-buahan atau sesendok teh madu lebah asli ketika aku merasa tidak sanggup lagi meneruskan aktivitas dan menunaikan kewajiban sehari-hari”.

Demikian pengalaman orangtua yang membiasakan dirinya berpuasa dan merasakan hikmah yang luar biasa hingga usia senja. Ia berpuasa dengan caranya sendiri, tanpa ada perintah dari agamanya. Michaelango saja merasakan manfaat luar biasa dari puasa yang dilakukannya, apa lagi kita yang memang disyari’atkan agama untuk berpuasa. Ketika kita melakukan puasa dengan benar, pasti kita bisa merasakan manfaat puasa yang lebih dahsyat lagi bagi kesehatan tubuh kita.

 

Referensi:

One thought on “Kekuatan, Keajaiban dan Manfaat Puasa

  1. Hi there, i read your blog occasionally and i own a similar one and i was just curious if you get a lot of spam responses? If so how do you reduce it, any plugin or anything you can recommend? I get so much lately it’s driving me mad so any assistance is very much appreciated.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s