Pelaksanaan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Jarak Jauh

Seorang guru/dosen dapat melaksanakan pendidikan karakter melalui pendidikan jarak jauh (PJJ). Walaupun memang diakui, bahwa studi tentang karakter dan pengembangannya belum banyak dilakukan oleh institusi-institusi PTJJ di dunia (termasuk institusi PTJJ di Indonesia), tetapi baru mulai periode 2000an sudah mendapatkan perhatian yang intensif, serta telah menjadi komitmen dan kepedulian dari para pakar dan institusi PTJJ, dan prospektif untuk ditingkatkan di masa depan. (Farisi, 2012).

Hal esensial dalam pengembangan karakter dalam konteks PJJ, dibandingkan pada pendidikan tatap muka adalah, jika pada sistem pendidikan tatap muka pengembangan karakter dilakukan secara langsung oleh instruktur/dosen melalui proses pembelajaran, maka pada PTJJ, pengembangan karakter umumnya direfleksikan dan terintegrasi di dalam desain dan medium PJJ (cetak dan non-cetak) yang digunakan dan dikembangkan oleh tutor/pengembang/peneliti dalam berbagai ikhtiar PJJ (Johnson, et al. 2010). Dengan kata lain, bahwa pengembangan karakter melalui berbagai desain, pendekatan dan medium pembelajaran jarak jauh, merupakan karakteristik utama atau ciri khas dalam konteks PJJ. Karena pada dasarnya, penggunaan berbagai medium teknologi dalam konteks PJJ merupakan ikhtiar yang bersifat etis (ethical enterprise) (Balmert & Ezzell, 2002).

Karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik, dalam arti tahu kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik, yang secara koheren memancar sebagai hasil dari olah pikir, olah hati, oleh raga, dan olah rasa dan karsa (Winataputra, 2010). Berdasarkan makna tersebut, Johnson, et al., (2010) mengklasifikasi tipe-tipe karakter dan pengembangannya dalam konteks PJJ menjadi 4 karakter utama, yaitu: (1) karakter kinerja (performance character); (2) karakter moral (moral character); (3) karakter relasional (relational character); dan (4) karakter spiritual (spiritual character).

1. Karakter kinerja (performance character)

Karakter Kinerja merupakan disposisi kognitif, emosional, dan perilaku personal untuk mencapai keunggulan diri dalam lingkungan kinerja sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan pekerjaan (Johnson, et al., 2010). Kemandirian (independency, autonomous, self-directed) merupakan kualitas terpenting di dalam karakter kinerja. Karakter kemandirian dibangun atas dasar “nilai-nilai kemauan” (willing values) seperti kemandirian, kesiapan diri, ketekunan, kerajinan, dan disiplin diri (Davidson, 2004); dan berorientasi pada ketuntasan (mastery orientation), kemauan untuk bekerja keras dan terbaik, mengembangkan bakat, serta bercita-cita tinggi (Johnson, et al., 2010).

Dalam sejumlah studi, pengembangan karakter kinerja dapat dilakukan melalui tiga modus:

a)      pengembangan model “a guided didactic conversation” dalam pengembangan desain forum-forum pembelajaran dan komukasi online. Model ini dipandang mampu menjadikan komunikasi dua-arah (two-way communication) dan tidak meredusi karakter kinerja seseorang (Holmberg, 2003; Demiray & Sharma, 2008); meningkatkan motivasi belajar; meningkatkan persistensi dan keberhasilan studi mahasiswa; membantu pengembangan berpikir kritis, dan mendorong peraihan melek informasi sepanjang hayat dalam sebuah latar akademik (James, 1997); dan membantu mendorong pencapaian keterampilan manajemen pengetahuan (Pettenati, et al., 2007).
b)      penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran online yang fleksibel, independen dan “asynchronous”. Modus ini sangat kondusif untuk melakukan eksplorasi tema-tema dan isu-isu etika dan moral dalam konten pembelajaran; mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dan luas selama interaksi pembelajaran; menyediakan panduan dan balikan; mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna; membangun relasi atas dasar kepercayaan, penghargaan, dan persahabatan (Demiray & Sharma, 2008; Johnson, et al., 2010).
c)       pengembangan, perbaikan, dan evaluasi program dan bahan ajar yang berkualitas, karena pengembangan aspek ini kerap menjadi korelat/prediktor dari persistensi dan kesuksesan studi mahasiswa PJJ (Balmert & Ezzell, 2002; Ojokheta, 2010).

 

2. Karakter moral (moral character)

Adalah disposisi personal untuk melaksanakan fungsi etis, berperilaku secara etis, arif, dalam situasi tertentu didasarkan pada nilai-nilai dan etika, seperti: kebajikan, keadilan, kepedulian, penghargaan, kejujuran; hasrat/keinginan moral; keberbedaan moral, dan tanggung jawab moral (Johnson, et al., 2010).

Dalam sejumlah studi, pengembangan karakter relasional dilakukan melalui dua modus:

a)      pengembangan forum tutorial online/berbasis internet yang dialogis dan interaktif. Dari sejumlah studi, pengembangan forum ini dipandang mampu mengeksplorasi persepsi mahasiswa tentang pengenalan dan pembentukan karakter kedirian mahasiswa (kesadaran lintas-budaya, keberagaman, dan inklusi); menciptakan ”kehadiran bersama” (co-presence) antar-mahasiswa dan antara mahasiswa-tutor; meningkatkan kesadaran mereka atas ”kehadiran sosial” (social presence) di antara ”real persons” lainnya; meningkatkan keterlibatan mereka secara psikologis; dan membentuk sikap-sikap relasional di antara mereka yang memungkinkan tumbuhnya keterbukaan terhadap disposisi, sikap, dan pandangan dunia mereka sendiri, dan secara bersama menciptakan pemusatan perhatian dan kepentingan bersama diantara mereka (Holmberg, 2003; Starr-Glass, 2011).
b)      pengembangan forum komunitas online (virtual/cyberspace learning community) yang dialogis dan interaktif, melalui berbagai aplikasi social software berbasis Web seperti blog, twitter, facebook, dan forum komunitas online berbasis “text-based chats”.

3. Karakter relasional (relational character, relational-oriented character)

adalah karakter yang diperlukan dalam hubungan interpersonal, membangun kesadaran sosial/komunitas untuk mencapai tujuan bersama. Kualitas terpenting dari karakter ini adalah integritas , keadilan, kepedulian, rasa hormat, perilaku etis, keterbukaan pikiran; belajar berbagi dengan orang lain; peningkatan komunikasi dengan orang lain (Johnson, et al., 2010).

Dalam konteks PJJ, karakter relasional terpenting adalah kesadaran kolektif yang berkesinambungan (a sustainable collective awareness) antar-mahasiswa, perasaan saling memiliki (sense of belonging); keberanggotaan (membership), komitmen dan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Karakter ini dipandang sebagai “a greater sense of well being”, sebuah karakter sosial yang tak bisa dinafikan dalam PJJ (Dueber & Misanchuk, 2006). Oleh sebab itu, sekalipun dalam PJJ dicirikan oleh keterpisahan sosial dan spasial antara mahasiswa-mahasiswa, dan antara mahasiswa-tutor (Keegan, 1993), namun kebutuhan akan karakter relasional merupakan faktor krusial bagi kesuksesan, dan keberlanjutan studi mahasiswa, serta implementasi SPJJ sendiri, terutama dalam perspektif PJJ sebagai “model transaksional” (Holmberg, 2003).

Dalam sejumlah studi, pengembangan karakter moral dilakukan melalui sejumlah modus:

a)      Kebijakan institusional, dalam bentuk penyediaan model-model etika dan moralitas bagi mahasiswa PJJ dalam berbagai konteks.
b)      Reorganisasi dan reevaluasi bahan-bahan ajar dengan memasukkan dan melibatkan anggota fakultas yang kompeten dan memiliki komitmen kuat pada nilai-nilai etika dan moralitas, pengembangan profesional, dukungan institusi, dan pemberian penghargaan kepada anggota fakultas (Beaudoin, 1990)
c)       Pengembangan model “a guided didactic conversation’ dalam pengembangan desain forumforum pembelajaran dan komukasi online sehingga mampu menerjadikan komunikasi dua-arah (two-way communication) (Holmberg, 2003).

 4. Karakter Spiritual (spiritual character)

Adalah pemikiran, sikap, kecenderungan dan/atau perilaku yang mengacu dan didasarkan pada jiwa, semangat, dan kesadaran spiritualitas/keagamaan. Karakter spiritual meliputi kualitas kerendahan hati, keimanan, harapan, dan kedermawanan, yang dapat meredusi keinginan-keinginan personal (berpusat pada diri-sendiri, egois, manja, serakah). Dewasa ini, internet oleh banyak pakar PJJ telah dipandang sebagai “spiritual network, sacred space, a technological landscape” bagi penciptaan forum-forum keagamaan secara online bagi institusi-institusi PJJ dalam penyediaan informasi dan pembentukan forum komunitas keagamaan dalam skala massif dan global, dengan karakter interaksi keagamaan yang bersifat multivokal. Bahkan, beberapa lembaga keagamaan besar pun secara ekspansif telah menggunakan PJJ sebagai wahana baru dalam mencapai misi kelembagaan mereka.

Dari berbagai studi, pengembangan karakter spiritual dalam konteks PJJ dilakukan melalui 2 (dua) modus, yaitu:

a)      Mengaitkan/mengintegrasikan pengembangan karakter spiritual ke dalam pelaksanaan program
b)      studi mandiri (independent study)
c)       Penyediaan informasi dan forum komunitas keagamaan berbasis internet.

 

Selain itu, Pada metode perkuliahan online, bukan hanya dosen/guru yang dituntut berdedikasi tinggi, melainkan juga mahasiswanya. Mahasiswa harus memiliki disiplin lebih dari biasanya, sebab segalanya telah diatur oleh sistem. Disiplin tersebut termasuk dalam mengumpulkan tugas-tugas tertentu untuk diunggah ke dalam sistem, misalnya mengunduh bahan ajar, serta melakukan video conference yang masuk dalam penilaian tatap muka dsb. (Kompas.com, 16/04/2014)

 

Referensi:

Balmert, M.E., & Ezzell, M.H. (2002). Leading learning by assuring distance instructional technology is an ethical enterprise. Paper presented at the annual conference of the Adult Higher Education Alliance, Pittsburgh, PA.

Beaudoin, M. (1990). The instructor’s changing role in distance education. The American Journal of Distance Education, 4(2). Diambil 28 Agustus 2011, dari http://www.c3l.unioldenburg.de/cde/found/beau90.pdf.

Davidson, M. (2004). Developing performance character and moral character in youth. The Fourth and Fifth Rs: Respect and Responsibility, 10(2).

Demiray, U., & Sharma, R.C. (Eds). (2008). Ethical practices and implications in distance learning. Turkish Online Journal of Distance Education, 9(3), 186-195.

Dueber, B. & Misanchuk, M. (2006, April 8-10). Sense of community in a distance education course Paper presented at the Mid South Instructional Technology Conference, Murfreesboro, TN.

Education Alliance, Pittsburgh, PA.

Farisi, Mohammad Imam (2012). Karakter Dan Pengembangannya Dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 13, Nomor 1, Maret 2012, 52-66

Holmberg, B. (2003). A theory of distance education based on empathy. In M.G. Moore & W.G. Anderson (Eds.). Handbook of distance education (h. 79-86). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

James, L. (1997). Creating an online learning environment that fosters information literacy, autonomous learning and leadership: The Hawaii online generational community-classroom. Diambil 8 Februari 2009, dari: http://leahi.kcc.hawaii.edu/org/tcc-conf/pres/james.html.

Johnson, M.C., Osguthorpe, R.D., & Williams, D.D. (2010). The phenomenon of character development in a distance education course. Journal of College and Character, 11(1), 1-16.

Keegan, D. (1993). Foundations of distance education (2nded.). London: Routledge.

Kompas.com. (16/04/2014) Mutlak, Metode “Online Learning” Bikin Mahasiswa Lebih Disiplin!. Diambil 19 Juni 2014 dari: http://edukasi.kompas.com/read/2014/04/16/1140000/ Mutlak.Metode.Online.Learning.Bikin.Mahasiswa.Lebih.Disiplin.

Ojokheta, K.O. (2010). A path-analytic study of some correlates predicting persistence and student’s success in distance education in nigeria. Turkish Online Journal of Distance Education, 11(1), 181-192.

Pettenati, M.Ch., Cigognini, E., & Mangione, J., & Guerin, E. (2007). Using social software for personal knowledge management in formal online learning. Turkish Online Journal of Distance Education, 8(3), 52-65.

Starr-Glass, D. (2011). Beginning course surveys: Bridges for knowing and bridges for being. The International Review of Research in Open and Distance Learning, 12(5), 1 -157. Diambil 4 Juli 2011, dari: http://www.irrodl.org/index.php/irrodl/article/view/1000/1895.

Winataputra, U.S. (2010, 12 Juli). Implementasi kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan karakter: Konsep, kebijakan, dan kerangka programatik. Makalah disajikan pada Seminar Nasional dalam rangka Upacara Penyerahan Ijazah (UPI) di UPBJJUT Surabaya, Surabaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s