UN Penyebab Rusaknya Karakter Bangsa ?

Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Berbagai perbaikan terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) sudah bisa kita rasakan dan pemerintah melalui Kemdikbud sudah mendorong kita untuk menyelenggarakan UN dengan jujur dan baik. Misalnya saja mekanisme paket soal yang membuat soal antara peserta yang satu dan lainnya berbeda (20 variasi dalam 1 kelas), UN 2014 yang sudah terintegrasi dengan Perguruan Tinggi dan faktor kelulusan yang tidak sepenuhnya berdasarkan hasil ujian, melainkan nilai harian siswa dalam raport ikut dijadikan andil dalam penentu kelulusan dengan komposisi persentasenya menjadi lebih besar dari tahun ke tahun.

UN tahun ini tetap dilaksanakan berdasarkan 4 Dasar Hukum. (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; (2) PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah diubah dengan PP No 32 Tahun 2013; (3) Permendikbud RI No 97 Tahun 2013 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional; dan (4) Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2013/2014.

Salah satu tujuan dari UN yang dilakukan tiap tahun tersebut adalah untuk mengukur standar mutu pendidikan di Indonesia, walaupun sebenarnya ada banyak cara untuk mengukur standar mutu pendidikan. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengukur mutu pendidikan di suatu negara melalui Programme for International Students Assessment (PISA), selain itu Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) dari International Study Center-Boston College USA secara berkala masing-masingnya mengukur tiga kemampuan pokok, yaitu membaca, matematika, dan sains. Hasilnya diketahui Indonesia masih berada di jajaran bawah dari rangking dunia.

Pusat Psikologi Terapan Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan survei online atas pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2004-2013. Ditemukan bahwa kecurangan UN terjadi secara massal lewat aksi mencontek, serta melibatkan peran tim sukses yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas. Dalam survei juga terungkap secara psikologis, mayoritas responden mengaku dihantui rasa ketakutan tidak lulus UN (66%). Bahkan, 95% responden mengaku ingin bunuh diri jika tidak lulus UN. Studi ini juga menyimpulkan bahwa dalam sekolah ada doktrin atas nama solidaritas bahwa masuk sekolah sama-sama dan keluar harus sama-sama. Ini akhirnya menjadikan anak yang jujur malah dimusuhi dan tidak dapat kawan. Akhirnya, UN berpotensi menjadikan generasi apatis. “Yang penting saya selamat, kalau jujur malah dapat hukuman”.(Suarapembaruan.com, 2/10/2013).

UN sudah dimaknai sebagai stressor atau pemicu stres, yang membuat siswa menjadi hilang kendali. Meskipun dari tahun ketahun kriteria komposisi dari nilai raport yang mencerminkan nilai harian siswa sebagai penentu kelulusan selain hasil ujian cenderung meningkat. Dan tersedia berbagai paket soal yang tiap siswa mendapatkan soal yang berbeda untuk meminimalisir kecurangan dan meningkatkan kepercayaan dirinya, namun praktek tidak baik dalam kenyataannya dapat saja terjadi.

Guru besar UI, Chan Basaruddin menuturkan sudah menjadi rahasia umum tingkat kelulusan UN dijadikan salah satu indikator kinerja pimpinan daerah. Gubernur, bupati/wali kota, kepala dinas, kepala sekolah, hingga guru akan berusaha sekuat tenaga agar hasil UN di wilayahnya terlihat tinggi. Hal ini memicu terjadinya penyimpangan tujuan, yang berimplikasi pada praktik penyelenggaraan UN yang manipulatif. Dari sinilah segenap pihak yang terkait dengan ”kesuksesan” UN menghalalkan semua cara untuk mendongkrak nilai UN. Dengan demikian, UN bukan lagi ujian bagi siswa, melainkan berubah menjadi tujuan politik, terutama bagi para pejabat daerah, kepala sekolah, dan perwakilan birokrasi pendidikan di daerah (Kompas.com, 8/5/2013).

Sistem pendidikan di negara ini yang dikhawatirkan penuh manipulatif pada prakteknya mau tidak mau justru menjerumuskan siswa kedalam jurang karakter yang bobrok. Pendidikan karakter yang di elu-elukan kurikulum hanya akan menjadi wacana semata. Orangtua siswa dan masyarakat kita masih menuntut siswa untuk memperoleh prestasi akademik dan nilai-nilai pelajaran yang bagus dalam kertas, sementara karakter yang baik masih dikesampingkan. Siswa yang tidak lulus dengan target syarat nilai-nilai tertentu berupa angka diatas kertas akan tersingkir dan menanggung malu dengan beban kehancuran masa depannya. Sedangkan dengan dalih menolong masa depan siswa, para oknum masyarakat, penjabat dan pendidik melegalkan tindak menghalalkan segala cara yang jauh dari nilai-nilai karakter yang luhur.

Hal seperti ini dapat menimbulkan tindak ketidak jujuran secara sistematis kepada para siswa, budaya konsumtif yang menginginkan hasil tanpa bekerja keras semakin menggerogoti, mau tidak mau siswa kita terdidik secara tanpa sadar menjadi lumrah terhadap tindak yang korup. Kita secara sistemik menciptakan koruptor-koruptor selanjutnya. Intelegensi dan nilai akademik koruptor tentulah amat tinggi, akan tetapi nilai karakter mereka amat rendah. Ini lah yang patut kita waspadai bersama.

Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Jujurlah kalian selalu, karena sesungguhnya kejujuran itu mengantarkanmu pada kebaikan; dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkanmu menuju surga. Sedang dusta hanya akan mengantarkanmu pada keburukan dan dosa; dan sesungguhnya dosa itu mengantarkanmu menuju neraka.” – HR. Bukhori & Muslim. John Ruskin, penulis era 1800-an dari Inggris berujar “Membuat anak-anak bisa berkata jujur adalah permulaan pendidikan”. Amat berbahaya apabila praktek-praktek ketidak jujuran di biarkan.

Nilai akademik seperti bahasa, matematika dan sains memang penting, akan tetapi karakter lebih penting dari segalanya, seperti dalam peribahasa Inggris yang terkenal “When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, everything is lost”. Yang artinya ketika kita kehilangan harta, tak ada sesuatupun yang hilang; ketika kita kehilangan kesehatan, beberapa hal hilang; dan ketika karakter hilang, segalanya telah hilang.

Bagaimanakah jadinya bangsa ini apabila berisi orang-orang pintar namun berakhlak buruk?. Jangan sampai lingkaran setan yang diakibatkan UN ini terjadi. Penulis berharap semoga hal-hal negatif seperti diatas tidak terjadi, semoga pendidikan bangsa ini semakin baik dan marilah kita sukseskan UN 2014 dengan jujur demi kemajuan bangsa dan negara RI tercinta ini.

Referensi:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s