Mari Belajar Melihat Perspektif

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujuraat 49: 13)

Mari belajar melihat perspektifAllah SWT menciptakan kita sebagai manusia yang memiliki sifat unik. Unik, berarti bahwa kita semua memiliki perbedaan dan ciri khas masing-masing. Bayangkan sidik jari di tangan kita. Semenjak manusia pertama diturunkan kebumi hingga manusia yang baru saja lahir kedunia ini memiliki pola sidik jari yang tak pernah sama satu sama lainnya. Singkatnya, kita semua berbeda.

Perbedaan itu bukanlah jurang yang memisahkan kita, akan tetapi sejatinya merupakan pemersatu diantara satu sama lainnya. Contoh nyata perbedaan kutub utara dan selatan dalam sebuah magnet, justru yang membuat magnet tersebut tarik-menarik &erat menyatu.

Perbedaan dan Perspektif

Ada sebuah kisah tentang dua orang utusan yang bertugas sebagai peneliti dari sebuah perusahaan sepatu ternama. Suatu waktu mereka berdua di utus untuk meneliti keadaan berbagai daerah yang belum terjangkau oleh tim pemasaran sepatu buatan perusahaan tersebut. Singkat cerita mereka berdua sama-sama menemukan sebuah daerah yang masih terpencil. Di daerah terpencil itu ternyata dihuni oleh penduduk yang masih belum menggunakan alas kaki. Jumlah penduduknya amatlah padat, namun terpencil karena lokasinya yang tidak strategis.

Dari hasil temuan keduanya, akhirnya mereka masing-masing membuat sebuah proposal untuk dipresentasikan dalam rapat bersama para petinggi. Dalam rapat tersebut ternyata mereka berdua berbeda kesimpulan. Peneliti pertama menyimpulkan bahwa daerah terpencil itu tidak baik untuk pemasaran sepatu, karena budaya mereka yang bepergian tanpa memakai alas kaki tentulah produk seperti sepatu tidak akan laku terjual ditempat itu.

Sedangkan peneliti kedua menyimpulkan bahwa daerah itu sangat berpotensi sebagai lahan pemasaran dikarenakan tidak ada saingan dalam menjual sepatu dan penjualan sepatu akan laris, sebab penduduk itu masih belum memiliki sepatu. Kemudian terjadilah bentrok dalam rapat diantara 2 kubu tersebut.

Namun kedua kesimpulan dari para peneliti tersebut ditanggapi dengan baik dari berbagai perspektif oleh sang direktur. Lalu disusunlah strategi yang cemerlang, iklan yang menarik dan berbagai edukasi yang ditujukan kepada para penduduk di daerah terpencil itu sebelum sepatu mereka dipasarkan. Dan Alhamdulilah, luar biasa penjualan sepatu didaerah terpencil itu membuahkan hasil yang fantastis!.

Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa apa yang dilihat dari masing-masing isi kepala bisa membuat sebuah perbedan sudut pandang atau “perspektif” dari yang satu dan lainnya. Bahkan bisa sangat ekstrim. Namun berbagai perbedaan itu apabila di tanggapi oleh seseorang yang mampu melihat dari berbagai sisi, berbagai perspektif, akan di terjemahkan menjadi informasi yang akurat dan akhirnya melahirkan kebijaksanaan.

Sebagai manusia yang beriman, sudah sepatutnya kita memiliki pikiran yang jernih dan selalu mengasah kemampuan untuk dapat melihat sesuatu dari berbagai perspektif yang ada.

Dunia ini merupakan gabungan dari beraneka ragam perbedaan. Yang tidak akan bisa dimengerti apabila hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Rhenald Kasali menyebutkan “perubahan tidak mungkin bisa dilakukan selama manusia gagal diajak melihat”. Maka kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu bangsa, apalagi apabila kemampuan tersebut dimiliki oleh pemimpin & penduduknya.

Indonesia adalah suatu bangsa yang besar, yang terlalu kecil apabila dilihat dari satu titik yang bertentangan dengan titik warna lainnya. Agama atau keyakinan adalah sesuatu yang begitu agung yang mengisi kehidupan manusia dunia-akhirat bagi bangsa ini. Namun, ia menjadi sangat kecil apabila diselewengkan manusia-manusia luka bathin yang memiliki aneka kepentingan dengan isu-isu SARA. Agama tak hanya bisa dilihat dari satu ayat dari sebuah surat untuk membenarkan perilaku-perilaku buruk yang bertentangan dengan ajaran pokok yang mengajarkan toleransi, kebaikan dan saling menyayangi.

 

Mampu Melihat Perspektif Melahirkan Empati

Berikut ini adalah kisah seorang dermawan Abdullah bin Ja’far didalam kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam Al-Ghozali. Abdullah bin Ja’far adalah putera dariJa’far bin Abu Thalib, pahlawan yang tewas dalam perang Mu’tah. Suatu kali dia berjalan-jalan pergi memeriksa kebun-kebunnya. Karena hari panas dan amat terik, berhentilah dia melepas lelah di sebuah kebun kepunyaan orang lain. Disana ada seorang budak hitam penjaganya.

Tiba-tiba masuklah seekor anjing kepekarangan kebun itu, lidahnya sudah hampir terjela karena haus dan laparnya. Digoyang-goyangkan ekornya menghadap kepada budak hitam itu minta dikasihani. Di tangan budak hitam itu ada tiga buah roti. Lalu dilemparkannya sebuah roti miliknya. Anjing itu memakannya sampai habis. Setelah habis dia menengadah lagi, meminta lagi. Dan terus berlanjut sampai roti satu-satunya yang masih tinggal dalam tangan budak itu habis tak tersisa.

Anjing itu pun sudah kenyang, lalu meninggalkan tempat itu. Sedangkan budak hitam tadi tidak lagi mempunyai persediaan roti, telapak tangannya ia sapukan ke celananya. Abdullah bin Ja’far lalu memanggil budak itu dan bertanya.

“Hai Anak! Berapa engkau mendapat pembagian makanan dari tuanmu satu hari ?”

Anak itu menjawab, “Sebanyak yang bapak lihat itulah.” (tiga potong roti).

Beliau bertanya pula, “Mengapa lebih kau pentingkan makanan buat anjing itu daripada dirimu sendiri?”

Dia menjawab, “Hamba lihat anjing itubukanlah anjing sekeliling tempat ini. Tentu dia datang dari tempat jauh, mengembara karena kelaparan. Maka tidaklah hamba sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya”.

Beliau bertanya, “Apa yang engkau makan hari ini?”

Budak itu menjawab, “Biarlah hamba pererat ikat pinggang hamba”.

Mendengar jawaban yang demikian, termenunglah Abdullah bin Ja’far dan berkatalah ia kepada dirinya sendiri, “Sampai dimana aku dikenal sebagai seorang pemurah dan dermawan, padahal budak ini lebih dari padaku. Bersedia dia memberikan makanan yang akan dimakannya sehari, hanya karena tidak tahan melihat seekor anjing yang nyaris mati kelaparan”.

Lalu dimintanya kepada anak itu supaya ditunjukan rumah pemilik kebun yang dipeliharanya. Setelah bertemu pemilik kebun, ditawarnyalah kebun beserta budak penjaga kebun dan segala alat perkebunan tersebut. Setelah harganya cocok Abdullah bin Ja’far langsung membayarnya.

Kemudian kembalilah dia ke tempat budak itu.

“Kebun ini telah kubeli dari tuanmu yang lama, dan engkaupun telah kubeli pula. Mulai saat ini engkau aku merdekakan dari perbudakan dan kebun ini aku hadiahkan kepadamu. Hiduplah engkau dengan bahagia di dalam memelihara kebunmu ini”.

Tercengang dan terharu budak itu memandang kedermawanan yang demikian tinggi, padahal dalam perspektif Abdullahbin Ja’far masih dirasakan, bahwa kedermawanan budak itu masih lebih tinggi dari pada kedermawanan dirinya sendiri.

Dari kisah diatas, kita dapat simpulkan bahwa sudut pandang yang positif yang disertai sikap perilaku positif terhadap berbagai hal akan melahirkan kebahagiaan. Ketika kita sudah mampu melihat kedaan sekitar, melihat apa yang dilihat orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain, berhasil melihat berbagai perspektif, maka disitulah rasa empati akan lahir. Bahkan membuat segala perbedaan yang ada menjadi keindahan yang melahirkan kebahagiaan.

Wallahu ‘alam bishawab…

Referensi:

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s