Jadilah Orang Kaya

Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS: 62 Al Jumu’ah, 10)

Dizaman ini kita masih dapat menemukan arti zuhud yang salah kaprah. Bahkan ada yang mengatakan bahwa nabi Muhammad itu miskin sehingga membuat sebagian umat tidak terlalu semangat untuk meniru kesuksesan panutannya. Belum lagi pengertian dari kisah-kisah dan hikayat yang salah kaprah mengenai kekayaan, yang mengartikan bahwa kekayaan didunia itu membuat seseorang sengsara dan celaka, misalnya saja kisah Qorun yang terkenal. Memang benar kekayaan dapat membuat manusia lupa dari akhirat, namun bukan lantas kita menghindari menjadi orang kaya. Kekayaan bukan merupakan penyebab kesengsaraan dan celaka tersebut. Penyebab sengsara dan celaka adalah sifat sombong, tamak, serakah, lupa bersyukur, menghalalkan segala cara dan mementingkan kepentingan pribadi semata. Banyak orang kaya yang dengan kekayaannya memiliki kesempatan semakin besar untuk beribadah. Ibadah haji, zakat dan sedekah misalnya, secara normal merupakan ibadah yang dilakukan ketika kita memiliki harta.

Untuk kemenangan serupa ini (surga) hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja (QS: 37 Ash Shaaffaat, 61)

Rasulullah kita, nabi muhammad SAW adalah orang kaya, seorang pengusaha. Sejak muda beliau melanglang buana untuk berdagang bahkan sampai keluar negeri. Saat menjadi nabi, beliau melepaskan kekayaannya dan banyak memberikan hartanya untuk membantu. Paling lama beliau menyimpan hartanya selama 3 hari, setelah itu banyak digunakan untuk membantu perekonomian orang-orang miskin. Setelah menjadi nabi sisa-sisa kekayaanya juga masih tampak, seperti unta dan keledai tungganganya yang tercepat dan termahal. Rasullulah SAW juga memiliki baju bagus yang digunakan untuk menyambut tamu-tamu besar. Barangkali jika diibaratkan sekarang beliau memiliki mobil bagus seperti Mercedes S Class dan Jaguar tapi bukan untuk menyombongkan diri. Baik zaman dahulu maupun zaman ini kendaraan dan pakaian yang bagus menjadi daya tarik dalam interaksi sosial dan pengefektif waktu ketika bepergian.

Nabi Muhammad SAW bukan miskin, melainkan zuhud. Perbedaannya sangat jelas, apabila miskin dunia menjauhinya, sedangkan zuhud dunia menghampirinya tetapi tidak menyentuh hati melainkan cukup di tangan. Orang zuhud adalah orang kaya raya, orang miskin tidak dapat disebut zuhud karena keadaannya berbeda dengan orang kaya. Pernah dalam sehari nabi Muhammad bersedekah 300 ekor unta, bersedekah 200 kg emas, membantu sahabat yang miskin, memberikan banyak kambing dan unta kepada orang-orang dusun. Belum lagi para sahabat lainnya, bahkan sedekahnya Abu Bakar dan Umar yang tidak kurang dari 50% hartanya.

Sahabat Rasullulah juga kebanyakan adalah orang-orang yang kaya, namun mereka hidup dalam kesederhanaan. Para sahabat gemar bersedekah dan membantu saudara-saudaranya. Dalam sekali sedekahnya Abdurahman bin Auf memberikan 50% kekayaan dan menyimpan 50% sisanya untuk keluarganya, tak hanya itu beliaupun mensedekahkan 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 1.500 ekor unta dan lebih dari 500 kuda perang pilihan, jika diibaratkan satu kuda perang berharga 50 juta, berarti Abdurahman bin Auf dari kuda saja sedekah senilai 25 Miliar. Belum lagi dalam sehari beliau memerdekakan 30 orang budak, dan beliau telah memerdekakan lebih dari 30.000 orang budak. Sepertiga penduduk Madinah dipinjami uang oleh beliau, sepertiga yang lain dibebaskan dari hutang, dan sepertiga sisanya mendapatkan tanggungan hidup dari beliau.

Umar bin Khatab adalah sahabat nabi yang amat kaya raya. Umar memiliki kebiasaan yang luar biasa, yakni hidup sederhana dan bersedekah lebih dari 50% kekayaannya. Padahal saat hijrah dari Mekah ke Madinah beliau harus meninggalkan seluruh hartanya dan memulainya kembali dari bawah. Saat meninggal Umar meninggalkan 70.000 ladang yang rata-rata apabila di konversi kedalam kurs rupiah saat ini kira-kira senilai Rp. 160 Juta, berarti Umar meninggakan warisan senilai Rp. 11,2 Triliun. Setiap tahun rata-rata ladang tersebut menghasilkan Rp. 40 Juta. Berarti penghasilannya Rp. 233 miliar sebulan atau Rp. 2,8 triliun pertahun. Namun gaya hidupnya jauh dari gaya hidup borjuis ala Kisra atau Heraklius, beliau malah lebih senang hidup sederhana dengan tidur beralaskan pelepah daun kurma dan mebagi-bagikan hartanya untuk kepentingan orang-orang miskin. Sangat jauh berbeda dengan gaya hidup raja Persia dan Romawi pada waktu itu.

Janganlah kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan. (HR. Ad-Dailami)

Sejak dini terjadi kesalahan dalam penceritaan sejarah, sebenarnya ini adalah proyek dari penjajahan Belanda. Mereka menyewa oknum kyai untuk membalikan fakta bahwa nabi Muhammad SAW dan para sahabat adalah orang miskin. Tak lain dengan maksud agar kita tidak termotivasi untuk terus berusaha menggapai dunia, dan selamanya menjadi orang miskin sebagai buruh penjajahan mereka. Berbagai macam hikayat yang dikisahkanpun seolah memberikan mindset supaya kita menjauhi dunia dalam artian menghindari kekayaan dunia.

Untuk dapat maju, sebuah negara minimal 2% dari jumlah penduduknya terdiri dari para pengusaha. Jumlah penduduk Indonesia telah menyundul angka yang fantastis, lebih dari 240 juta jiwa. Ini berarti Indonesia membutuhkan lapangan kerja ekstra jumbo, 40 % saja berarti harus ada 96 juta lapangan pekerjaan yang harus tersedia. Jumlah yang begitu luar biasa ini tidak selalu tersedia pada waktunya, pekerjaan begitu banyak tetapi tak selalu menjadi pekerjaan yang menarik. Persaingan amatlah ketat. Kehidupan ini bisa dibilang amat keras sekali, terutama bagi mereka yang tidak biasa bekerja keras dan mempersiapkan diri dengan baik untuk masa depannya. Kehidupan ini begitu nikmat bagi mereka yang telah merancang masa depannya dan berusaha keras menggapainya. Maka berusaha dan bekerja keras itu haruslah sedari muda, keinginan atau mimpi kita mestilah besar, doa kita mestilah baik. Jika ingin hidup mudah, perjuangan kita mestilah keras.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS: 94 Alam Nasyrah, 5-6).

Menjadi orang kaya harta tidaklah mudah, dibutuhkan mimpi yang besar, kerja keras, disiplin tinggi, ketelitian akurat, ilmu yang luas, mempererat dan melebarkan silaturahmi, kreativitas serta inovasi sehingga apa yang kita lakukan bernilai jual tinggi karena bermanfaat bagi orang banyak. Artinya kita mestilah menjadi kaya jiwa terlebih dahulu, barulah kaya harta mengikuti dengan sendirinya.

Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki tetapi kekayaan jiwa. (HR. Bukhari).

Ada sebuah pepatah jawa yang merakyat “Orang bodoh kalah sama orang pintar, orang pintar kalah sama orang licik (cerdik), orang licik kalah sama orang bejo (beruntung). Keberuntungan itu datangnya dari Allah. Maka perbaikilah hubungan kita dengan Allah!”.

…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS: 65 Ath Thalaaq, 4).

Berbenahlah capai dunia bersama akhirat, Rabbana Aatinaa Fiddun ya hasanah wafil aakhirotihasanah wakina ‘azaabannar.

 

Referensi:

Al-Quran
Al-Hadits
Akbar Kaelola (2013). Mau jadi pengusaha jangan cengeng. Yogyakarta: Buku Pintar.

Referensi gambar: http://www.dreamstime.com

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s