Sekolah Membunuh Kreativitas

Seorang pakar pendidikan dan pengembangan kreativitas, Ken Robinson beliau mengatakan bahwa sekolah membunuh kreativitas. Bagaimana mungkin bisa begitu?.

Sekolah merupakan bagian dari pendidikan formal. Bicara tentang pendidikan berarti kita membicarakan tentang bagaimana menyiapkan anak-anak kita dengan kemampuan untuk dapat survive di dalam kehidupan ketika mereka menjadi dewasa kelak. Pendidikan hadir untuk menyiapkan siswanya menuju masa depan, yakni sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kita pegang. Jika anda berfikir anak-anak yang bersekolah hari ini akan pensiun pada tahun 2070. Tidak seorangpun memiliki petunjuk walaupun dengan segala keahlian. Misalnya saja, fakta seperti apa dunia yang akan terlihat dalam waktu lima tahun lagi, kita tidak pernah tahu. Jadi sebenarnya tingkat ketidak pastiannya sangatlah luar biasa. Karena manusia hidup di dunia, diletakan pada suatu tempat dimana tidak memiliki ide tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Tak ada ide, jadi bagaimana pendidikan ini sebenarnya dapat dilakukan?.

Setiap anak memiliki kapasitas yang sangat luar biasa. Semua anak memiliki bakat luar biasa, inovasi yang luar biasa, dan kita seringkali menyia-nyiakan mereka bahkan dengan semena-mena. Ada sebuah cerita menarik mengenai seorang gadis cilik di pelajaran menggambar. Gadis cilik itu berusia enam tahun, duduk dibelakang, dan menggambar. Gurunya berkata bahwa gadis cilik itu sulit sekali menyimak pelajaran, namun dalam pelajaran menggambar ini dia bisa. Sang guru sangat kagum, dia berjalan ke arah gadis cilik ini dan bertanya.

“Apa yang kamu gambar?”. Dan si gadis cilik berkata,

“Saya sedang menggambar Tuhan”. Dan guru berkata,

“Tapi tidak satu orangpun tahu seperti apa Tuhan itu”. Kemudian si gadis cilik berkata,

“Mereka akan tahu sesaat lagi…”.

Dari kisah tersebut kita dapat simpulkan. Anak-anak akan terus mengambil kesempatan, jika mereka tidak tahu mereka akan terus maju. Itu karena mereka tidak takut berlaku salah. Tidak takut salah, jadi mereka akan terus maju. Kita tidak bermaksud mengatakan bahwa berlaku salah sama dengan berlaku kreatif. Yang kita ketahui adalah, jika anda tidak siap untuk salah, anda tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang orisinil. “Jika anda tidak siap untuk salah”. Dan pada saat mereka menjadi dewasa, kebanyakan anak-anak akan kehilangan kapasitas tersebut. “Mereka menjadi takut untuk salah”.

Pendidikan formal kita selama ini menjalankan pola yang menganggap buruk kesalahan. Kita sekarang menjalankan sistem pendidikan nasional dimana kesalahan adalah hal terburuk yang anda dapat lakukan. Misalnya, bayangkan Ujian Nasional, bagaimana ketika anda tidak lulus?. Kita semua dipaksakan untuk mempelajari berbagai mata pelajaran dengan standar tertentu dan kita di didik untuk tidak melakukan kesalahan didalamnya, tidak ada tempat yang baik untuk orang gagal dalam berbagai mata pelajaran tersebut. Satu saja mata pelajaran gagal, dampaknya kita bisa gagal secara keseluruhan. Dari hal ini secara psikologis adalah kita mendidik orang keluar dari kapasitas kreatif mereka. Picaso pernah berkata: dia berkata bahwa semua anak-anak terlahir sebagai seniman. Permasalahannya adalah bagaimana kita bisa tetap sebagai seniman selama kita tumbuh. Yang terjadi adalah kita tidak tumbuh kedalam kreativitas, kita tumbuh keluar dari kreativitas. Tepatnya, kita terdidik keluar dari kreativitas. Jadi mengapa hal ini terjadi ?.

Jika anda melihat pendidikan sebagai sesuatu yang asing, dan berkata “apakah tujuan dari pendidikan formal?”. Kita akan berkesimpulan, jika anda melihat keluarannya dari berbagai hal berikut, siapa yang paling sukses ?, siapa yang seharusnya menjadi apa?, siapa yang mendapat semua penghargaan?, siapa yang menjadi pemenang? dsb. Maka kita harus mengambil kesimpulan bahwa tujuan utama dari pendidikan formal di seluruh dunia adalah untuk menghasilkan guru besar atau profesor universitas atau orang yang paling pintar dengan berbagai macam gelar di bidangnya. Mereka adalah orang-orang yang tampil paling atas. Hal ini memang baik, namun kita tidak seharusnya berlebihan menganggap mereka sebagai puncak dari pencapaian umat manusia. Mereka hanyalah sebuah bentuk kehidupan, salah satu bentuk kehidupan.

Sekarang sistem pendidikan kita dilandasi oleh ide kemampuan akademis. Dan ada alasannya keseluruhan sistem tersebut diciptakan. Di seluruh dunia, dulu tidak ada sistem pendidikan formal sebelum abad ke 19. Sistem-sistem ini muncul untuk memenuhi kebutuhan industri. Jadi hirarki yang terjadi muncul didasari atas dua ide:

Ide pertama, subjek yang paling berguna untuk pekerjaan berada di urutan teratas. Jadi anda mungkin diarahkan menjauhi hal-hal tertentu di sekolah pada waktu anda masih kecil, bahkan hal-hal yang anda sukai dengan dasar bahwa anda nantinya tidak akan mendapatkan pekerjaan dengan hal-hal tersebut. Misalnya, jangan bermain musik karena kamu tidak akan menjadi musisi, jangan membuat komik kamu tidak akan menjadi komikus. Jangan menari kamu tidak akan menjadi penari. Nasihat itu tidak berbahaya, tapi sekarang terbukti salah.

Ide yang kedua adalah kemampuan akademis, yang telah mendominasi cara pandang kita akan kecerdasan. Karena universitas mendesain sistem dengan citra mereka. Jika anda berfikir, keseluruhan sistem pendidikan formal diseluruh dunia adalah proses yang berlarut-larut dari persiapan untuk masuk universitas. Dan akibatnya adalah banyak orang-orang berbakat hebat, cemerlang dan kreatif merasa mereka tidak bisa apa-apa, karena hal-hal yang mereka lakukan dengan baik, justru di sekolah tidak dihargai atau bahkan dianggap buruk.

Kita tidak bisa terus seperti itu. 25 tahun lagi menurut UNESCO, di seluruh dunia akan lebih banyak orang yang lulus melalui pendidikan dibandingkan dari awal sejarah. Belum lagi perkembangan teknologi yang amat pesat dan efek perubahannya kepada pekerjaan, demografi dan ledakan besar populasi. Tiba-tiba, gelar menjadi tidak berharga. Dahulu 60-30 tahun lalu orang yang bergelar sudah pasti mendapatkan pekerjaan, kecuali dirinya tidak ingin pekerjaan. Saat ini anak-anak yang bergelar, banyak yang menganggur. Karena dalam pekerjaan tertentu anda membutuhkan gelar magister padahal dulu pekerjaan tersebut hanya membutuhkan gelar sarjana, dan sekarang anda membutuhkan gelar doktor untuk pekerjaan lainnya. Ini adalah proses inflasi akademis dan ini mengindikasikan keseluruhan struktur pendidikan telah bergeser di bawah kaki kita.

Kita butuh memikirkan kembali cara pandang kita mengenai kecerdasan. Kita tahu tiga hal mengenai kecerdasan, yang pertama kecerdasan itu beragam (multiple intelligence). Artinya kita berfikir mengenai dunia dengan segala cara yang kita rasakan. Kita berfikir secara visual, kita berfikir secara suara, kita berfikir secara kinestetis, kita berfikir dalam istilah abstrak, kita berfikir dalam pergerakan. Kedua, kecerdasan itu dinamis, dia selalu berubah-ubah menjadi naik atau turun. Jika anda melihat interaksi otak manusia, kecerdasan sangatlah interaktif. Ketika proses berfikir terjadi, otak tidak dipisah-pisah kedalam ruang terpisah melainkan aktif dengan caranya yang holistik.  Faktanya kreativitas menurut Ken Robinson di definisikan sebagai proses mendapatkan ide orisinal yang memiliki nilai lebih, kreativitas  itu sering muncul dari interaksi antara disipliner dengan cara melihat sesuatu yang berbeda. Dan hal ketiga tentang kecerdasan adalah kecerdasan itu istimewa. Setiap anak dilahirkan dengan kondisi bawaan yang berbeda-beda sesuai kualitas dan kuantitas potensi yang dimilikinya. Tugas kita adalah untuk menemukan dan memupuk potensinya.

Menurut Ken Robinson, harapan satu-satunya kita untuk masa depan adalah mengadopsi sebuah konsep baru akan ekologi manusia. Ekologi yang memulai kita untuk mengatur ulang konsep kita akan kekayaan kapasitas manusia. Sistem pendidikan kita telah menambang pikiran kita dengan cara kita menambang bumi kita: untuk komoditas tertentu. Dan untuk masa depan, hal itu tidak akan memberi apa-apa untuk kita. Kita harus memikirkan prinsip dasar bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Ada sebuah kutipan indah dari Jonas Salk, yang berkata. “Jika semua serangga hilang dari bumi, dalam 50 tahun semua kehidupan dibumi akan berakhir. Jika semua manusia hilang dari bumi dalam 50 tahun semua bentuk kehidupan akan sejahtera”.  Itu benar, tapi ini tidak boleh terjadi seperti itu.

Pemikiran adalah rahmat yang patut kita syukuri. Kita harus berhati-hati sekarang bagaimana menggunakan rahmat ini secara bijaksana. Dan kita menghindari beberapa skenario yang telah kita bicarakan. Satu-satunya cara kita melakukannya adalah dengan melihat kapasitas kreatif kita dari sisi betapa kayanya mereka, dan melihat anak-anak kita dengan harapan yang mereka miliki. Tugas kita adalah mendidik mereka secara keseluruhan supaya mereka dapat menghadapi masa depan. Kita mungkin tidak akan melihat masa depan tersebut tapi mereka akan melihatnya. Tugas kita adalah membantu mereka untuk berbuat sesuatu akan masa depan itu, dengan menjadi diri sendiri yang orisinal dan berakhlak mulia. Pendidikan harus terjadi sepanjang hayat dan terjadi sebagai proses yang memanusiakan manusia.

Referensi: http://www.ted.com

Iklan

One thought on “Sekolah Membunuh Kreativitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s