Pendidikan Harus Berjalan Secara Organik

Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, ternyata tidak menjamin negara kita menjadi negara yang maju. Disaat isu global mengenai krisis sumber daya alam kian mencengkram, negara kita sejak dahulu telah dilanda krisis sumber daya manusia. Faktor yang paling dominan dalam menentukan sumber daya manusia adalah pendidikan. Ken Robinson, pakar pengembangan kreativitas menuturkan, sumber daya manusia seperti sumber daya alam, mereka seringkali tertimbun dalam. Kita harus mencarinya dan mereka tidaklah berada dipermukaan, kita harus menciptakan situasi dimana mereka dapat mencuat dan muncul. Salah satu hal yang paling mungkin untuk memunculkannya adalah melalui pendidikan. Akan tetapi seringkali pendidikan malah berjalan kebalikannya, yakni menenggelamkan sumber daya manusia.

Kebanyakan diantara kita tidak memberdayakan dengan baik bakat dan telenta kita. Lebih banyak orang yang dalam kesehariannya mengeluhkan tentang apa yang mereka lakukan saat ini. Menjalani hidup dengan hampa karena pekerjaan yang mereka lakukan bukanlah hal yang menyenangkan dan mereka kuasai dengan mudah. Mereka menjalani hidup sebagai suatu penderitaan, jalan yang mereka lalui adalah berusaha tetap tabah dalam menjalani kehidupan, yang mereka nantikan adalah kapan libur akan tiba, kapan minggu ini akan segera berakhir.

Disatu sisi ada juga orang yang amat bersemangat menjalani kehidupannya, merasa bahwa dirinya adalah bagian dari pekerjaan itu, mencintai pekerjaannya dan berbahagia dengan apa yang mereka lakukan. Bahkan jika kita sodori mereka dengan perkataan untuk berhenti melakukan hal tersebut mereka akan kebingungan. Pekerjaan yang mereka lakukan adalah hidup mereka, disanalah mereka menemukan gairah, jati diri dan orisinalitasnya. Namun orang yang berada pada sisi kedua ini lebih sedikit jumlahnya. Faktor apa yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya yang paling mungkin adalah kembali kepada pendidikan.

Kita perlu merenungkan kembali mengenai sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan kita adalah linearitas. Kita masuk mengikuti jenjang dan menempuh jalan tersebut dengan lurus. Dan ketika kita menempuhnya dengan benar, dimana diri kita sudah berada dipuncak linearitas itu, menyandang titel dan gelar. Disitulah kita merasa siap menjalani kehidupan. Kita tidak bermaksud melarang orang untuk memperoleh titel dan gelar akademik, akan tetapi kita tidak boleh begitu saja memandang terlalu silau gelar tersebut. Karena kapasitas gelar dan titel yang sebenarnya didalam kehidupan, justru terkadang dimiliki oleh orang yang tidak memiliki gelar dan titel akademik.

Hidup ini adalah sesuatu yang bersifat organik. Kita menciptakan hidup ini sesuai dengan bakat-bakat alami yang kita miliki yang disesuaikan dengan keadaan disekitar kita. Bukan linearitas atau konsep tunggal mengenai kemampuan yang membuat komunitas manusia menjadi unggul, yang mempengaruhi kemajuan suatu komunitas manusia adalah kemajemukan dari bakat dan kemampuan.

Sistem pendidikan memaksa kita menguasai berbagai macam hal dengan standar tertentu. Yang bahkan kita tidak memiliki bakat dan minat dalam bidang tersebut. Kita dipaksa harus sesuai dengan standar dan ketika kita memiliki bakat dan minat dalam bidang yang berada diluar standar maka kita akan tergilas, dan akhirnya kita akan di cap gagal. Ini tak ayal justru membunuh manusia dari menjadi dirinya yang orisinil, menghabiskan energi dan menguras semangat. Pendidikan telah memandang kecerdasan dan kesuksesan sesuai sisinya. Tanpa menghiraukan kemajemukan bakat dan minat yang dimiliki berbagai orang yang berbeda-beda satu sama lain.

Langkah yang nyata dalam menyelesaikan permasalah ini adalah dengan memandang pendidikan sebagai proses organik. Perkembangan manusia tidak berjalan secara mekanik. Kita tidak bisa layaknya seperti quality control dalam sebuah industri manufaktur yang memisahkan hasil produksi kedalam dua kelompok, mana yang sesuai standar dan membuang yang tidak sesuai dengan standar. Kita harus mengubah cara pandang ke arah agrikultur, dimana kita tidak dapat memprediksi perkembangan manusia. Yang kita lakukan adalah sama seperti petani yang menyediakan kondisi dan lingkungan terbaik dimana tumbuhan akan berkembang dengan maksimal. Pendidikan harus berjalan dengan menyediakan kondisi dan lingkungan terbaik untuk anak-anak kita, agar mereka dapat meningkatkan kemampuannya dengan maksimal sesuai bakat dan minatnya. Pendidikan harus mampu terpersonalisasi kepada setiap individu sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Referensi: http://www.ted.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s