Umat Muslim Wajib Facebookan

Oleh: Yoga P. Wijaya, S.Pd

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(QS Al-‘Ashr: 1-3)

Pendahuluan tulisan ini dimulai dari cuplikan film Sang Pencerah berikut:

KH Ahmad Dahlan ditanya muridnya, “apa itu agama?”…

Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya bermain biola. Para murid menyimak dan menghayati. Mereka sangat menikmatinya, bahkan ada yang terkantuk-kantuk menuju alam mimpi yang indah. “Bagaimana perasaan kalian?”. Tanya kyai tentang alunan biolanya.

“Menghibur, menyejukan, menenangkan”. Begitu jawab para muridnya. Lalu Kyai Ahmad Dahlan memberikan biolanya kepada salah satu murid. Murid itu memainkan biola yang sama. Murid tersebut tidak tahu apa-apa tentang biola.

“srrtt.. krek.. bret. Ngoott..!”  begitu bunyi biolanya.

“Bagaimana perasaan kalian sekarang ?”. Tanya kyai lagi tentang alunan biola. Baru sentuhan pertama, seluruh yang mendengar langsung sakit telinganya.

“Sakit, menusuk telinga, meresahkan”. Ujar murid-murid.

“ Itulah agama”. Jelas KH Ahmad Dahlan tentang biola sebagai perumpamaan agama.

Agama ibarat permainan biola ini. Jika yang menjalankan agama tahu bagaimana menerapkan agama, maka agama akan menyejukan, menentramkan dan membahagiakan. Sebaliknya jika agama diterapkan oleh orang yang tidak tahu bagaimana menerapkan agama, ajaran agama jadi mengganggu, merusak dan meresahkan.

Agama tergantung siapa orang yang menerapkannya, sama halnya dengan perumpamaan biola dengan agama tersebut. Ketika berbagai media seperti facebook dan berbagai perangkat teknologi yang kini tengah marak dianggap merupakan hal yang banyak mengandung mudharat, sesungguhnya justru terdapat potensi yang besar akan hal positif yang dapat diperoleh. Ibarat konsep yang dikenal dengan “The Man Behind The Gun”, yang berarti bukan masalah senjatanya, akan tetapi siapa yang memakainya.

Facebook, Twitter, Blog dan berbagai hal tersebut merupakan sesuatu yang menjadi tren saat ini. Disaat teknologi semakin canggih, kehidupan manusia semakin bergeser ke sistem digital. Disaat semua orang menggunakan berbagai media sosial, bahkan semakin sering dan rutin, maka disitulah potensi besar untuk media dakwah. Disaat ada kalangan segolongan umat yang ribut mengharamkan media-media tersebut, kitapun harus bisa memandang sisi positif yang lain dari sesuatu tersebut.

Secara logika jika kita sebagai umat Muslim malah menjauhi berbagai hal yang berbau teknologi, dengan tidak berpartisipasi dan menjauhi tren dunia. Maka yang terjadi justru keterbelakangan. Seyogyanya berbagai media sosial itu seharusnya umat muslim ramaikan dengan berbagai dakwah, silaturahmi, persahabatan yang sehat, saling menasehati dan menggunakannya sebagai ladang iman dan amal saleh seperti yang tertuang dalam surat Al-‘Ashr diatas.

Jika yang terjadi seperti itu, dimana segala macam media sosial digital dan berbagai teknologi, marak digunakan oleh umat Muslim secara sehat, tentu yang terjadi adalah semakin erat tali silaturahmi, semakin bergelimpangannya pahala, semakin mencerdaskan wawasan pemikiran, dan kehidupanpun semakin melaju kearah yang lebih baik. Segala hal negatif yang ada di Internet dan berbagai media sosial tersebut sedikit-sedikit akan terkikis karena lebih dipenuhi oleh hal yang positif. Umat muslim harus melek teknologi dan mengisinya dengan kebaikan, karena jika tidak begitu maka hal tersebut justru akan diisi oleh keburukan. Jika bukan kita yang mengisinya dengan kebaikan, berarti secara tidak langsung kita telah mengijinkan keburukan yang mengisinya. Semoga kita terhindar dari golongan orang-orang yang merugi.

Adakalanya umat Muslim harus berkaca kepada kebaikan umat lain, misalnya Jepang. Jepang semakin maju dan memasuki kancah dunia dimulai dari restorasi Meiji (1866-1868), dimana kekuasaan berhasil diraih kembali oleh kekaisaran yang sah dari tangan pemerintahan keshogunan yang korup saat itu. Kata Meiji sendiri berarti kekuasaan pencerahan yang bertujuan untuk menggabungkan “Kemajuan Barat” dengan nilai-nilai “Timur Tradisional”. Teknologi dan kemajuan sains barat di adopsi dengan balutan adat ketimuran yang baik. Maka hal inilah yang membuat negara Jepang menjadi anggun, meskipun mayoritas penduduknya non muslim, akan tetapi kita dapat melihat konsep budaya saat ini yang dalam beberapa hal nyaris Islami. Bahkan lebih Islami dibandingkan Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

Puncak tertinggi garis depan reformasi Jepang dalam restorasi Meiji adalah bidang Pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses panjang meliputi pembentukan karakter dan budaya. Budaya membentuk karakter suatu bangsa dan karakter bangsa membentuk suatu budaya. Untuk menumbuhkan budaya yang baik kita harus memiliki karakter yang baik dan untuk membentuk suatu karakter yang baik kita membutuhkan budaya yang baik. Ini merupakan rantai tak berujung yang saling melengkapi, berbahaya apabila isinya tidak begitu baik, tak ada jalan yang lain untuk keluar dari rantai tersebut, cara yang paling mudah untuk mencapai kebaikan adalah dengan segera mengubah hidup kita menjadi lebih baik dari hari ke hari sekarang juga.

Untuk memulai salah satunya adalah dengan lebih giat membaca dan menulis, menyampaikan kebaikan yang telah kita baca dan pelajari dengan menyampaikannya kembali walaupun hanya satu ayat. Penyampaian ayat akan lebih baik dengan menggunakan bantuan berbagai media dan teknologi. Mari kita bangun komunitas muslim yang intelek dan berkarakter, tunjukan kepada bangsa dan dunia bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Sekarang juga!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s