Umat Muslim Takut Menerima Tantangan?

Oleh: Yoga P. Wijaya, S.Pd

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS Al-Israa’: 88)

Al-Quran merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Mukjizat berasal dari kata “ajjaza” dalam bahasa Arab yang berarti “membuatnya lemah” atau “menjadikan tidak kuasa”. Mukjizat adalah suatu hal yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu untuk mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.

Mukjizat Al-Quran terletak pada kata-katanya, hurufnya, susunannya, dan maknanya dalam menyampaikan informasi, kandungannya tentang ilmu & hukum, dan kekuatannya dalam menjaga hak asasi manusia, juga kemudahan manusia dalam menghapalnya, rasa tentram saat mendengarkan lantunannya yang tidak pernah membuat bosan walau dibaca berulang-ulang,  serta keabadian keasliannya hingga saat ini.

Dalam buku “membumikan Al-Quran”, Quraish Shihab menjelaskan paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi bukti bahwa informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar-benar bersumber dari Allah SWT. Ketiga  aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis, ia juga tidak hidup bermukim ditengah masyarakat yang relatif mengenal peradaban di zamannya, seperti Mesir, Romawi atau Persia. Ketiga aspek tersebut adalah pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Kedua pemberitaan-pemberitaan gaibnya, dan yang ketiga isyarat-isyarat ilmiahnya.

Mukjizat Al-Quran begitu luar biasa, akan tetapi banyak orang yang salah menganggap bahwa Al-Quran juga mengandung seluruh teori ilmiah. Padahal teori ilmiah itu bersifat dinamis (berubah-ubah sesuai zaman), mukjizat Al-Quran dalam hal ini adalah kekuatannya untuk mengajak manusia selalu berfikir kritis dan senantiasa mencari ilmu tanpa henti. Bahkan kata pertama yang diturunkan dalam Al-Quran adalah “Iqra” yang berarti “bacalah”. Membaca mengarahkan manusia untuk selalu mengikuti rasa penasarannya dan belajar sepanjang hayat.

Sekitar tahun 750 Masehi sampai dengan 1258 Masehi, Islam mencapai puncak zaman kejayaanya. Pada masa itu para filsuf, ilmuwan, dan insinyur didunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik menjaga tradisi ilmu pengetahuan yang sudah ada maupun menambahkan inovasi dan penemuan mereka sendiri. Islam menjadi penerang bagi seluruh dunia terutama bangsa Eropa yang masih berada dalam zaman kegelapan (dark age).

Sejarah abad 20-an berkata lain, saat ini kita hidup di zaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang amat pesat. Dimana kontribusi terbanyak ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut berasal dari dunia Barat. Misalnya, komputer dan Internet beserta berbagai teknologi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan  produk hasil kontribusi ilmuwan Barat. Bahkan fakta membuktikan bahwa kini dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan digenggam oleh Yahudi. Populasi Muslim didunia sekitar 1.700.000.000 (1,7 miliar) jauh lebih banyak dari populasi Yahudi didunia yang berkisar 14.000.000 (14 juta) orang. Dengan kata lain, dari setiap 121 orang muslim hanya terdapat 1 orang Yahudi didunia. Namun dalam 112 tahun terakhir, Yahudi memenangkan 178 Nobel (penghargaan paling bergengsi dalam ilmu pengetahuan & kemanusiaan seperti fisika, kimia, fisiologi, sastra, ekonomi dan perdamaian), sedangkan Muslim hanya mampu memenangkan 10 hadiah nobel. Total dari semua hadiah nobel yang ada, 28% nya dianugerahkan kepada orang Yahudi, angka prestisius dibandingkan jumlah mereka (hanya 2% dari jumlah penduduk di seluruh dunia).

Selama ini Muslim hanya mampu menggunakan produk Barat, ketika ditemukan sebuah fakta dan teori baru dari hasil riset penelitian dunia barat, alangkah piciknya seseorang yang tidak berkecimpung di dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara dirinya paling keras berbicara lantang “Lah, semuanya sudah ada di dalam Al-Quran kok..”. Padahal jika dirinya menyadari, hal ini merupakan suatu tindak kebodohan diatas kesombonganya walaupun tampak sebagai rasa bangga terhadap Islam dan mukjizat Al-Quran.  Pepatah mengatakan, awal kebodohan itu adalah ketika diri merasa sudah pintar sehingga dirinya berhenti untuk terus mengkaji dan belajar.

Melihat kondisi saat ini didunia global, Islam tengah diidentikan dengan isu teroris, berpandangan sempit, bodoh, kumuh, miskin, jorok dsb yang menyudutkan. Sebagai seorang muslim yang cinta dengan agama Islam sudah sepantasnya kita lebih bijak untuk menumbuhkan sikap berfikir kritis dan senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa henti. Dengan ilmu pengetahuan manusia menjadi berderajat lebih tinggi dibandingkan makhluk lainnya. Apabila mayoritas umat Islam semakin berwawasan luas dan berkecimpung dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, maka disanalah letak harum dan penerang bagi seluruh alam semesta akan kembali disandang, rahmatan lil ‘alamin. Isu bahwa Islam teroris, berwawasan sempit, bodoh, kumuh, miskin, jorok dsb yang menyudutkan tersebut tentu tidak akan ada.

Cermati kembali potongan ayat berikut: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS Al-Mujaadilah: 11).

Ilmu pengetahuan amatlah luas, ilmu agama, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dsb. Maka salah besar apabila keinginan untuk mengkaji ilmu hanya cukup dari kitab-kitab kuning yang sudah tua. Kita harus mampu membuka mata lebih luas, mengaplikasikan berbagai ilmu diluar sana. Jangan menjadi katak dalam tempurung. Dunia ini hanya mampu digenggam oleh manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Quran pun sebagai mukjizat harus selalu dikaji sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.

Kejayaan Islam hanya mampu diraih ketika ilmu dan nafas iman berkobar dengan kuat dalam diri setiap muslim. Maka marilah kita sama-sama melangkah menggapai masa depan yang lebih gemilang dengan memulai mengkaji berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang juga !.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s