Hidup ini Biasa Saja

Hidup ini biasa saja, apapun hal luar biasa yang aku pikirkan saat ini, ketika aku telah melalui dan mengalami semua keluar biasaan yang ada dipikiran saat itu, maka keluar biasaan ini berubah menjadi hal yang biasa. Orang pedalaman yang menganggap biasa apabila hidup dihuta n tanpa menggunakan peralatan elekronik, pakaian, kasur dan atap rumah yang nyaman mungkin terlihat luar biasa bagi seseorang yang hidup dikota dan tidur di kasur dalam kamar bertingkat sebuah apartemen yang nyaman. Begitupun sebaliknya, orang pedalaman akan mengganggap luar biasa orang kota. Bagi orang kota tersebut justru hidup didalam sebuah apartemen bertingkat adalah hal yang biasa. Lain lagi apabila si orang pedalaman tadi ditakdirkan lahir di kota, dia pasti tidak akan menggangap hidup dikota adalah hal yang luar biasa, begitupun sebaliknya.

Lagi pula tiap orang itu sama saja. Yup, mereka semua biasa. Biasa hidup karena mencerna makanan, biasa mengeluaran pup yang bau, biasa buang air kecil, biasa mengeluarkan keringat dan sebagainya. Tak perduli siapapun dan bagaimanapun orang itu. Entah dia seorang titisan dewa, pejabat tinggi negara, bangsawan, orang terkaya di dunia, apapun mereka, kenyataanya semua manusia itu biasa saja.

Lalu mengapa aku selalu merasa gugup saat berada bersama orang-orang yang dianggap luar biasa itu ?. Mengapa pula perkataan orang-orang yang luar biasa meskipun tidak aku setujui selalu tak bisa aku tentang ?. Mengapa suatu sistem luar biasa yang buruk tak mampu aku ubah ?. Mengapa aku merasa takut menghadapi kedaan luar biasa yang akan dilalui ?. Mengapa isi pikiranku dipenuhi rasa takut ?.  Damn !. Rasa takut itu ternyata telah membuatku bodoh, dan aku begitu lemahnya karena tertunduk dalam kebodohan rasa takut. Aku menjadi bodoh karena pikiranku selama ini terlalu banyak terkuras hanya karena memikirkan ketakutan.

Pekerjaan yang aku lakukan apabila diiringi dengan rasa takut maka akan meberikan tambahan beban  kepada pikiran, atau dengan kata lain aku menjadi memikirkan banyak hal sekaligus (multitasking). Berbeda apabila aku melakukan suatu hal yang disukai dan merasa nyaman karenanya, aku hanya menggunakan pikiran dalam sebuah tugas tunggal saja (singletasking). Tentu pikiran-pikiran yang muncul karena diakibatkan oleh rasa takut itu membebani pikiran sehingga konsentrasinya terbagi bersama hal yang tidak berguna. Hal itu berpengaruh terhadap fokus pekerjaan yang berguna menjadi lebih kecil.  Ketika aku mengisi soal ujian dengan rasa takut,  konsentrasiku selain memikirkan bagaimana jawaban soal itu, aku juga memikirkan pula suatu keadaan buruk yang membayangi, misalnya bagaimana keadaan yang terjadi apabila tidak lulus ujian itu,  apa yang harus dilakukan dan hal-hal buruk lainnya.

Ya, aku menyadari bahwa diriku terlalu penakut, itulah kesalahan terbesarku. Seharusnya tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan saat aku sedang melalui hal-hal luar biasa ataupun menghadapi orang-orang luar biasa didepan diriku, tak ada yang perlu dikhawatirkan.  Tak ada.!, dan jangan ada lagi. Toh semuanya biasa saja…

Oh, sekarang aku mengerti. Dan aku menemukan hal luar biasa lagi didalam catatan sejarah. Tokoh-tokoh luar biasa yang mengubah peradaban dunia adalah orang-orang yang pemberani. Mereka semua menjadi luar biasa karena mampu menguasai rasa takut. Bagi mereka, hal-hal yang menurut diriku luar biasa itu adalah suatu hal yang biasa.

Jumat, 16 April 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s