Eulogy Dariku, Untukku…

Kawan, aku ingin menceritakan kepadamu tentang sebuah kisah. Kisah yang menceritakan kepadamu kenyataan, bukan fiksi dan kebohongan. Karena kisah yang aku ceritakan adalah kisah tentang kita, tentang aku dan kamu.

Kisah ini adalah kisah yang aku ceritakan kepadamu, namun sebenarnya engkaulah yang akan menceritakannya. Karena ini adalah kisah tentang aku didalam dirimu.

Mungkin aku adalah manusia yang tak berarti didalam kehidupanmu, yah aku tahu. Dan aku ingin engkau tahu, walaupun aku sangat berharap untuk bisa membuat diriku menjadi berarti untukmu, tapi aku tak ingin menjadi manusia yang berarti bagimu.

Aku ingin, dirimu sendirilah yang membuat diriku menjadi berarti bagimu, bukan karena aku yang seolah memaksamu untuk membuat diriku berarti untukmu. Aku tak akan merasa tak nyaman walaupun engkau tak menganggapku berarti, namun aku akan merasa tak nyaman ketika engkau memaksa agar diriku berarti untukmu. Aku akan menerima apapun perasaanmu kepadaku, apapun itu yang berasal dari hati nuranimu.

Karena aku tahu, segala perbuatan ketika aku hidup adalah kejujuran yang tak akan mampu dibohongi oleh hati dan perasaan tentangmu kepadaku. Segala perbuatan diriku sendiri  akan tetap baik apabila baik, dan akan tetap buruk apabila buruk. Semua itu, kehidupanku sendiri adalah kenyataan yang aku buat sendiri.  Dan membuat dirimu membuatnya sendiri tentang diriku.

Kawan, semua kisah yang ingin aku ceritakan kepadamu adalah kisah yang akan engkau ceritakan pada dirimu ketika aku telah mati. Indah dan buruknya kisah itu adalah sesuai dengan perbuatanku, peran yang engkau berikan kepadaku didalam kisah itu adalah tergantung perbuatanku, perbuatanku selama aku hidup kepadamu.

Dengan sendirinya. Dengan sendirinya kisah itu akan engkau dapati, dengan sendirinya akan engkau bacakan, dengan sendirinya akan engkau nikmati, akan engkau benci, akan engkau tepuki, akan engkau ludahi, dan entahlah betapa banyak kemungkinan yang akan terjadi. Semua itu karena engkau yang membuat kisah itu dengan sendirinya sesuai perbuatanku, dengan sendirinya…

Sungguh kawan, mungkin saat aku mati, kisah ini akan menceritakan irama skenario itu dengan sendirinya. Dan aku berharap penuh, semoga kehidupan yang aku tulis menjadi kisah indah yang kita tulis meskipun tanpa tinta. Karena warnanya akan engkau curahkan sendiri dari air matamu, ataupun terdendangkan dengan sendirinya sesuai irama nafasmu ketika mengingat diriku.

Jumat, 05 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s