Sebuah Strategi Sebagai Ucapan Terimakasih

Akhirnya saya telah menyelesaikan UAS untuk yang terakhir. Dan semoga hari ini adalah UAS terakhir yang saya lalui, tak akan lagi ada UAS karena semester depan harus  bukan lagi bernama UAS, tetapi ujian sidang.

Ada kelegaan yang melapangkan dada. Tetapi ada juga banyak ketakutan yang menghampiri didepan mata. Bukan hanya masalah ketakutan, ini adalah masalah kepuasan dan harga diri. Walaupun bukan harga mati tetapi ini adalah suatu kedaan besar yang akan sebentar lagi harus aku mampu lalui. Keinginan untuk dapat membanggakan orang tua, ya hanya itu saja. Membuat orangtua bangga, tersenyum lepas melihat anaknya diwisuda dan segera memperoleh pekerjaan untuk dapat hidup mandiri.

Kedua orangtuaku, Ayah dan Ibu. Ibu yang terbaik didunia yang aku miliki dan ayah paling hebat sedunia. Tak berlebihan aku menyebut kalianlah orangtua terbaik sedunia. Semua itu, cinta dan kasih sayang kalian yang telah diberikan kepadaku sungguh tak akan pernah mampu aku balas walau aku mencoba membalasnya seumur hidupku, karena seluruh kehidupanku ini adalah juga atas semua kasih sayang yang telah kalian berikan.

Ayah dan ibuku, Kepuasan didalam bathinku atas apa yang kini aku persembahkan kepada kalian sangat belum membuatku lega. Sampai saat ini dan detik ini nafasku disini masih berasal juga dari jerih payah kalian. Aku masih belum bisa membuat ayah dan ibu dapat lega tanpa memikirkan dan melepas aku untuk dapat hidup sendiri dan mandiri. Aku masih belum juga dapat hidup tanpa tanggungan kalian berdua. Sungguh aku sebenarnya malu.

Kemaluanku makin hari semakin bertambah besar, dan aku harus semakin semangat untuk bekerja keras mencapai apa yang aku ingin capai. Dengan senang hati aku akan melakukannya. Namun kesulitan yang tetap berada menghalangi langkahku ini adalah ada didalam diriku sendiri. Rasa malas, kepribadaian yang buruk dan segala perangai yang buruk didalam diriku. Sungguh sulit sekali terlepas dari masalah didalam diri ini. Huh. Mungkin ini berarti aku masih juga belum bisa hidup mandiri, masih juga belum beranjak dewasa. Masih belum mampu untuk membuka mata sepenuhnya. Dan memang seperti itulah pandanganku didepanku ini, jalan didepanku yang aku pandang masih terlihat gelap. Ayah dan Ibu, maafkan aku yang telah mengecewakan kalian…

Strategi saat ini adalah aku harus mencapai target dan cita-cita. Yup, karena dengan cara itulah aku yakin apabila apa yang aku cita-citakan tercapai maka apa yang orangtuaku cita-citakan juga tercapai. Karena aku tahu dari setiap binar mata kesejukan yang dipancarkan saat aku memandang wajah hangat mereka, cita-cita mereka hanyalah ingin melihat aku dapat hidup bahagia didunia ini. Tuhan, aku tahu Engkau maha mengetahui meskipun aku tak menuliskan isi pikiran dan keinginannku ini, aku tahu Engkau mengetahui bahwa kebahagiaan hamba adalah bisa membahagiakan mereka.  Tuhan, aku memohon kepadaMu, beri aku kekuatan untuk mencapai semua cita-cita yang aku inginkan, jadikan hamba anak yang bisa berbakti kepada kedua orang tua, juga jadikan hamba manusia yang selalu berserah diri kepadaMu…

12 Januari 2010

Iklan

One thought on “Sebuah Strategi Sebagai Ucapan Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s