Paradoks Kebodohan dan Ketakutan

Sungguh aku seorang yang bodoh, karena tak berhenti mengutuk diri sendiri bodoh. Ya, walaupun aku tahu bahwa aku bodoh karena telah mengutuki segala kebodohanku ini yang sebenarnya tidak akan membuat aku terlepas dari kebodohan ini. Itulah kebodohan diriku, aku tahu segala kebodohan yang aku lakukan, namun aku tetap melakukan kebodohan itu. Maka sungguh aku adalah seorang yang bodoh.

Hidup ini hanya aku jalani satu kali saja, aku tahu itu. Dan penyesalan terbesar didalam hidupku adalah menjalani hidup yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat hidup bersamamu. Mungkin ketika itu, jika aku tak terlalu memikirkan akan kebodohan diri dan terjatuh dalam lingkup pikiran pesimistis ini sehingga aku kehilangan keberanian dan kehilangan kata-kata saat memandangi dirimu, kehilangan akal sehat saat aku ingin mengatakan semuanya kepadamu. Ah, tapi percuma semua itu mungkin telah berakhir, karena kini aku telah kehilangan semuanya.

Kini aku tetap disini, untuk yang kesekian kali hanya mampu memandang sesuatu yang aku inginkan tanpa mampu bergerak untuk meraihnya. Semua itu karena ketakutan akan kebodohan telah terlebih dahulu meliputi diri dan menutupi semuanya sehingga aku tak mampu bergerak. Sungguh, yang aku inginkan adalah hanya ingin membuat engkau bahagia. Namun Tahukah kamu aku takut tak mampu membahagiakan dirimu. Dan semua keadaan sulit ini telah membuatku gila..

Maka aku telah menjadi muak, aku tak mau lagi berlarut dikegelapan dan jatuh kelubang yang sama berulang kali.

13 Januari 2010

One thought on “Paradoks Kebodohan dan Ketakutan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s