Representasi Gambar Bitmap Versus Vector

Perbedaan antara Vector (atas) dan Bitmap (bawah)

Perbedaan antara Vector (atas) dan Bitmap (bawah)

Teknik-teknik yang populer digunakan untuk merepresentasikan gambar dapat digolongkan ke dalam dua kategori: teknik pemetaan bit (bit map technique) dan teknik vektor (vector technique). Dalam kasus teknik pemetaan bit, suatu gambar dipandang sebagai sekumpulan titik, yang masing-masing disebut sebagai pixel, sebagai kependekan dari “picture element” (elemen gambar).

Dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah gambar direpresentasikan oleh serangkaian panjang bit yang pada gilirannya merepresentasikan baris-baris pixel pada gambar tersebut, dimana masing-masing bit dapat bernilai 1 atau 0 bergantung kepada apakah pixel yang bersangkutan berwarna hitam atau putih. Representasi gambar-gambar berwarna hanya sedikit lebih rumit, karena setiap pixel dapat direpresentasikan oleh suatu kombinasi bit yang menunjukan warna dari pixel tersebut. Apabila teknik pemetaan bit digunakan, pola bit yang dihasilkan disebut peta bit, yang artinya pola bit tersebut tidak lebih dari sekedar suatu pemetaan dari gambar yang direpresentasikan.

Banyak diantara perangkat-perangkat peripheral komputer masa kini, seperti misalnya mesin faksmili, kamera video, dan scanner, mengkonversikan gambar-gambar berwarna ke dalam bentuk peta bit. Perangkat-perangkat ini umumnya merekam warna dari setiap pixel sebagai kombinasi dari tiga komponen (komponen merah, komponen hijau, komponen biru) yang terkait dengan tiga warna dasar. Satu byte digunakan untuk merepresentasikan intensitas setiap komponen warna. Selanjutnya, dibutuhkan data sebesar tiga byte untuk merepresentasikan sebuah pixel tunggal dari gambar aslinya. Pendeakatan tiga komponen perpixel ini juga terkait dengan cara layar komputer menampilkan gambar-gambar. Perangkat-perangkat ini menampilkan pixel-pixel dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya, yang masing-masingnya tersusun dari tiga komponen – merah, hijau, biru – sebagaimana dapat terlihat jelas dengan memperhatikan layar komputer (monitor) dari dekat. (silahkan anda melihatnya dengan sebuah kaca pembesar).

Format tiga byte perpixel ini berarti bahwa sebuah gambar yang terdiri dari 1024 baris, di mana masing-masing baris tersusun dari 1024 pixel (sebuah gambar foto yang tipikal) membutuhkan ruang penyimpanan sebesar beberapa megabyte, yang melebihi kapasitas sebuah floppy disk yang tipikal.

Salah satu kelemahan teknik pemetaan bit adalah bahwa tidak mudah untuk mengubah-ubah skala (rescale) sebuah gambar ke dalam ukuran yang kita inginkan. Pada dasarnya, satu-satunya cara untuk memperbesar gambar adalah dengan memperbesar pixel-pixel, yang akan mengakibatkan tampilannya menjadi kasar dan buram (suatu fenomena yang terjadi juga didalam metode fotografi nberbasis film).

Teknik vektor menyediakan suatu cara untuk mengatasi permasalahan penskalaan ulang ini. Dalam sistem ini, sebuah gambar direpresentasikan sebagai sekumpulan garis dan kurva. Metode semacam ini membebaskan berbagai perangkat untuk menangani detail-detail penggambaran garis dan kurva dengan caranya sendiri, yang pada akhirnya akan menghasilkan elemen-elemen gambar tersebut seutuhnya dan bukannya sebagai suatu pola pixel tertentu.

Beragam jenis huruf yang tersedia pada mesin printer dan perangkat monitor komputer masa kini umumnya dikodekan dengan cara semacam ini untuk memperoleh fleksibilitas dalam ukuran karakter, menghasilkan jenis-jenis huruf yang dapat diskala- ulang (scalable font). Sebagai contohnya TruType (dikembangkan oleh Microsoft dan Apple Computer) adalah suatu sistem yang menjabarkan bagaimana simbol-simbol dalam teks harus digambarkan. Demikian pula, PostScript (dikembangkan oleh Adobe Systems) menyediakan suatu cara untuk mendeskripsikan karakter-karakter dan data grafis yang lebih umum. Representasi vektor juga populer dalam sistem desain berbantuan-komputer (computer aided design) (CAD), dimana gambar-gambar garis dari objek-objek berdimensi tiga ditampilkan dan dimanipulasi melalui layar monitor komputer. Tetapi, teknik vektor tidak mampu menghasilkan gambar-gambar berkualitas foto yang tersedia pada sistem pemetaan bit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa teknik pemetaan bit digunakan pada kamera digital masa kini.

Referensi : Brookshear, J. Glenn. 2003. Computer Science Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Credit Ilustrasi: http://livedocs.adobe.com/director/mx2004/release_update_en/images/vector_b.jpg

Iklan

4 thoughts on “Representasi Gambar Bitmap Versus Vector

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s