Logika dan Bukti Tuhan itu ADA

Kesimpulan Yang Didapat Setelah Berbincang Dengan Para Atheist

Kisah ini adalah obrolan saya bersama beberapa orang atheis di sebuah forum. Forumnya mohon maaf saya rahasiakan yah. He2, mungkin akan sangat berharga untuk menambah keyakinan akan keberadaan Tuhan dan tuduhan kesalahan logika (logical fallacy) yang selalu mereka tuduhkan kepada kita yang ternyata mereka sendirilah yang melakukan kesalahan logika.

Obrolan ini tidak seluruhnya saya paste kesini karena terlalu panjang (he2 segini aja udah panjang banget). Untuk mempermudah pemahaman sebagian juga saya edit tanpa bermaksud menghilangan maksud yang ada.
selanjutnya saya tulis perkataan atheis dengan “A” dan saya dengan “S”.


A:

salam kenal agan, dulu saya seperti anda (no pun intended..).
coba berpikir lebih jauh lagi. apa itu ‘rasa’ sedih/senang dsb. kenapa kita ‘merasa’? Semua yang anda ‘rasa’ itu masih dalam jangka panca-indra (otak). Bisa dibilang chemical reaction. Bisa aja di induce misalnya dengan anti-depressant atau sebaliknya.
Bukankah semua yang anda rasakan itu produk dari pikiran (proses berpikir)?
Kalo pikiran berhenti ‘tuhan’ kamu akan lenyap. Apa tuhan itu di pikiran?. Apa pikiran yang menciptakan tuhan?
Tuhan tak lebih dari survival instinct manusia untuk tetap exsist. Manusia lebih komplex, mereka ingin tetap exsist setelah mati.
Lihatlah semuanya seperti apa adanya, tidak usah ditambah dengan label, dogma, konsep. You will be free!. There is no such thing as God.

S:
salam kenal gan..

coba berpikir lebih jauh lagi..
apa itu pikiran?

Jelas, pikiran bukanlah sesuatu yang “tersentuh oleh tangan, dan terlihat oleh mata”. Lebih jauh lagi, tidak ada “pusat pikiran” di dalam otak manusia. Situasi ini, tak terhindarkan membawa kita kepada kesimpulan bahwa pikiran adalah suatu konsep di luar materi. Oleh karena itu, makhluk yang kita panggil “aku”, yang berpikir, mencintai, merasa gugup, khawatir, merasa senang atau sakit bukanlah bentuk materi seperti sofa, meja, atau batu juga kumpulan neuron yang kita sebut “otak”.
Agan paham maksud saya?
kalau agan menganggap pikiran itu ada karena proses kimia otak, harap agan memisahkan terlebih dahulu pengertian antara Pikiran dan proses kimia otak itu.. renungkan mendalam gan..

supaya lebih mudah buat pemahaman saya jelaskan begini gan.
+ hati mengeluarkan empedu, begitu pula otak kita mengeluarkan pikiran.
Tentu saja analogi itu slah. tidak bisa begitu, Karena : empedu adalah materi, sedangkan tidak ada bukti bahwa pikiran adalah materi.?? yup..
+ pikiran bukan materi, tetapi informasi

sekarang saya kasih bukti dan analogi keberadaan Tuhan.
disini saya akan menjelaskannya berdasarkan studi kasus DNA (kode2 genetik di alam yang membuat makhluk hidup ada)
sebelumnya, Agan tahu kode2 genetik DNA?? kalau belum silahkan mampir dulu ke sini biar agan paham maksud saya: http://en.wikipedia.org/wiki/DNA

sudah paham apa itu DNA gan?

oke gan saya lanjutkan penjelasannya..
“Sistem pengkodean selalu mengekor pada proses intelektual nonmateri. Materi fisik tidak dapat menghasilkan sebuah kode informasi. Semua percobaan menunjukkan bahwa setiap potongan informasi kreatif mewakili sebentuk upaya mental dan dapat ditelusuri sampai ke individu pemberi gagasan yang menggunakan keinginan bebasnya, dan yang diberkahi dengan pikiran yang cerdas…. Tidak ada hukum alam yang diketahui, tidak ada proses yang diketahui, tidak ada rangkaian peristiwa yang diketahui yang dapat membuat informasi bermula dengan sendirinya di dalam materi….

yang diatas itu adalah kesimpulan dari “Teori Informasi”, yang berkembang pada 20-30 tahun terakhir dan diterima sebagai bagian dari termodinamika. Teori Informasi menyelidiki asal usul dan sifat informasi di alam semesta. Kesimpulan yang dicapai oleh para ahli teori informasi dari riset mereka yang panjang adalah bahwa “Informasi adalah sesuatu yang berbeda dari materi. Ia tidak pernah dapat direduksi menjadi materi. Asal usul informasi dan materi fisik harus diselidiki secara terpisah.”

saya analogikan supaya lebih mudah,
Misalnya, mari kita pikirkan sumber dari sebuah buku. Sebuah buku terbuat dari kertas, tinta, dan informasi yang dikandungnya. Kertas dan tinta adalah unsur materi. Sumber mereka adalah juga materi. Kertas terbuat dari selulose, dan tinta terbuat dari bahan kimia tertentu. Namun, informasi di dalam buku adalah nonmateri dan tidak dapat memiliki sumber materi. Sumber informasi di dalam setiap buku, adalah pikiran dari penulis yang menulis buku itu.
pikiran ini menentukan bagaimana kertas dan tinta akan digunakan. Sebuah buku awalnya terbentuk di dalam pikiran penulis yang menulis buku itu. Penulis membangun rangkaian logika di dalam pikirannya, dan mengurutkan kalimat-kalimat. Sebagai langkah kedua, dia mewujudkannya ke dalam bentuk materi, yang berarti menuangkan informasi di dalam pikirannya ke dalam huruf-huruf dengan menggunakan sebuah mesin tik atau komputer. Kemudian, huruf-huruf ini dicetak di percetakan dan menjadi sebentuk buku yang terbuat dari kertas dan tinta.
Oleh sebab itu, kita dapat mengakhiri dengan kesimpulan umum berikut:
“Jika sebuah materi fisik mengandung informasi, maka materi itu tentu telah dirancang oleh sebuah pikiran yang memiliki informasi terkait. Pertama terdapat pikiran tersebut. Pikiran tersebut menuangkan informasi di dalamnya kedalam wadah materi dan kemudian muncullah rancangan itu.”

Pertanyaannya “Siapakah sang pemilik Informasi yang menuangkan informasi itu kedalam DNA??”

A:
wah kalo nanya-nya gini, saya bisa balik nanya. ‘Sang pemilik informasi (tuhan?)’ itu asalnya darimana? siapa yang bikin tuhan? tuhan punya pikiran juga? Harus konsisten dong. Jangan jadikan tuhan sebagai shortcut untuk sesuatu yang tidak diketahui.
Jika tuhan = sesuatu yang tidak diketahui berarti anda bukan theist? Apa iya kita menyembah dan berdoa sama sesuatu yang tidak kita ketahui?

S:
Karena kita mengetahui:
+ Tuhan itu adalah Causa Prima/ Tuhan adalah penyebab paling awal,
maka dapat ditarik kesimpulan :

= Tidak ada yang mengawali/membikin Tuhan
= Tuhan penyebab awal informasi.

A:
Pertanyaan itu Kenapa harus ada pemilik? Sebab jawabannya mesti mengarah ke sosok serba maha (sering disebut tuhan).

Coba bebaskan dulu pikiran anda dari keharusan existnya tuhan.
Nggak..nggak…, gua nggak bilang; “Jadilah atheist!”.
Bahasa sederhananya, lepaskan dulu (sementara waktu) prasangka.

S:
agan bertanya kenapa harus ada pemilik, sepertinya agan kurang paham maksud saya, biar saya ulang lagi dalam statemen berikut ini terutama yang di bold:

+ Informasi adalah kumpulan data yang memiliki makna sebagai hasil sesuatu yang memiliki kecerdasan.

+ DNA adalah kode2 yang berisi informasi tentang makhluk hidup.

+ Teori informasi mengatakan: “Jika sebuah materi fisik mengandung informasi, maka materi itu tentu telah dirancang oleh sebuah pikiran yang memiliki informasi terkait. Pertama terdapat pikiran tersebut. Pikiran tersebut menuangkan informasi di dalamnya kedalam wadah materi dan kemudian muncullah rancangan itu.” singkatnya Informasi itu ada karena hasil dari pikiran sesuatu yang memiliki kecerdasan.

+ maka didapatkan pertanyaan, “Siapakah sang pemilik Informasi (sesuatu yang memiliki kecerdasan) yang menuangkan informasi itu kedalam DNA??”

= didapatkanlah sesuatu yang memiliki kecerdasan yang menuangkan informasi didalam DNA yang kita sebut “Tuhan”.

jika agan keberatan tentang bukti dan logika eksistensi Tuhan itu dan ingin menghancurkan kemungkinan keberadaan Tuhan, silahkan patahkan argumen diatas.

A:
Saya setuju produk pikiran tidak bisa tersentuh dengan tangan dan tidak terlihat. Mungkin lebih tepatnya disebut intangible. Seperti nilai uang. Dan benar juga tidak ada ‘pusat pikiran’. Kalau ini dicoba dijabarkan atau di-definisikan, itu merupakan produk pikiran juga, yang sebenarnya ngga ada. Terus kenapa anda menganggap Tuhan itu ada? bukankah yang anda sebut Tuhan atau yang dipercayai sebagai ’sang pencipta’ hanya produk pikiran? Disini tuhan mungkin boleh dibilang konsep, kepercayaan bahkan asumsi.
Kalau pikiran berhenti, apa tuhan masih ada?

S:
Produk pikiran itu ada,
nggak adanya itu secara materi, secara informasi itu adalah ada.
misalnya angka “0 (nol)”.
Kita sebutlah materi, misalnya materi itu bernama “jeruk”. Jika “jeruk” itu tidak ada, maka kita bisa menyebut “jeruk” itu adalah “0″.
namun jika kita menyebut “0″ untuk sebuah informasi, misalnya informasi itu bernama “suhu”. maka jika “suhu” itu bernilai “0″ kita tidak bisa mengartikan bahwa “0″ itu “ketiadaan suhu”.

bukankah saya sudah jelaskan dimuka tentang studi kasus DNA. perlu diingat kembali:

+ DNA itu adalah kode2 berisi informasi tentang makhluk hidup.

jika pikiran kita berhenti maka yang berhenti itu hanyalah pikiran kita yang menghasilkan informasi bernama Tuhan.
kita belum dapat memungkiri keberadaan Tuhan, sebab faktanya kode2 didalam DNA itu ada, dan dari jawaban diatas sang pemilik informasi didalam DNA itu adalah Tuhan.

A:
re. DNA. banyak banget yang bisa di debat disini: junk DNA, DNA similarites dsb..Kalo mau kita buka thread baru mengenai asal-usul DNA. Biar kita bisa belajar dan research sama-sama.

S:
silahkan agan debat bagaiamanapun tentang DNA itu, Bagaimanapun juga Fakta mengatakan bahwa DNA itu ada dan mengandung informasi didalamnya, maka agan belum mampu menghilangkan “Tuhan”. ingat argumen diatas yang berwarna orange dan argumen yang di post saya sebelumnya.

A:
argumen ‘tidak mungkin’ menjadi valid sewaktu semua kemungkinan dapat dieliminasi.

DNA yg berisi informasi tersusun berdasarkan evolusi (bukan intelligent design) dimana suatu sifat diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya.

selain itu asumsi awal kehidupan langsung terbentuk DNA tidak juga dapat dibuktikan. hipotesis abiogenesis terbaru bahkan menyatakan kemungkinan bahwa makhluk hidup pertama terbentuk dari RNA, bukan DNA.

bagaimana anda mengeliminasi opsi ini???

S:
abiogenesis menjelaskan tentang apa dan bagaimana materi itu membentuk RNA dan DNA, sedangkan yang kita singgung disini adalah keberadaan informasi yang terkandung didalam RNA dan DNA (entah terbentuk secara evolusi atau bagaiamana yang pasti di dalam RNA dan DNA kita tak dapat memungkiri disitu ada “informasi”.) Sejauh ini Tidak ada hukum alam yang diketahui, tidak ada proses yang diketahui, tidak ada rangkaian peristiwa yang diketahui yang dapat membuat informasi bermula dengan sendirinya di dalam materi.

saya ulang kembali.

+ DNA dan RNA berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik,

+ Teori informasi mengatakan: “Jika sebuah materi fisik mengandung informasi, maka materi itu tentu telah dirancang oleh sebuah pikiran yang memiliki informasi terkait. Pertama terdapat pikiran tersebut. Pikiran tersebut menuangkan informasi di dalamnya menjadi materi dan kemudian muncullah rancangan itu.” singkatnya Informasi itu ada karena hasil dari sesuatu yang memiliki kecerdasan.

= didapatkanlah sesuatu yang memiliki kecerdasan yang menuangkan informasi didalam DNA dan RNA yang kita sebut “Tuhan”.

penjelasan tentang RNA : http://en.wikipedia.org/wiki/RNA

A:
duh gimana sich?

1. bukankah adanya perbedaan DNA kupu2 abu2 & putih dimana kupu2 abu2 yg survive & kupu2 putih menghilang sudah merupakan bukti bahwa informasi dalam DNA populasi kupu2 dapat berubah/tersusun dengan natural? ini sudah cukup sebenarnya untuk menyanggah DNA harus disusun oleh ID i.e tuhan.
2. RNA melalui chemical evolution adalah penjelasan logis lainnya dimana wadah informasi dapat tersusun secara natural.
gak perlu diulang2 soal teori informasi. loe tinggal menunjukkan kedua hal diatas adalah tidak mungkin sehingga teori ‘tidak mungkin’ loe tetap valid.

S:
1. Kita Analogikan menjadi Sebuah buku kembali, Sebuah buku memiliki informasi didlamnya, buku itu terdiri dari berlembar2 halaman yang berisi huruf2. Jika suatu saat buku itu ternyata jatuh dari atas rak yang tinggi karena gempa sehingga halaman2 nya copot dan sebagian urutan susunannya halamannya sudah tidak sesuai dengan informasi sebenarnya yang dikandung dari awal, apakah kita sudah dapat meniadakan bahwa informasi didalam buku itu pada awalnya tidak berasal dari pikiran si penulis buku??

2. Boleh saya tahu darimana agan mendapatkan fakta seperti itu ?
In Fact:

+ Semakin dekat para peneliti mengkaji konsep dunia RNA, semakin banyak masalah muncul. Bagaimana RNA muncul pertama kali secara alami? Di laboratorium, dalam kondisi terbaik sekalipun, RNA dan komponennya sangat sulit disintesis, apalagi dalam kondisi seadanya.?
+ Kode RNA dan DNA tidak berarti jika tidak diterjemahkan. Perangkat penerjemah modern sel-sel itu terdiri dari paling sedikit lima puluh komponen makromolekuler yang juga dikode dalam DNA: kode-kode ini tidak dapat diterjemahkan kecuali oleh hasil penerjemahannya sendiri. Ini sesuai dengan ungkapan omne vivum ex ovo (ayam atau telur yang lebih dulu). Kapan dan bagaimana lingkaran ini berujung? Ini sangat sulit untuk dibayangkan.
+ Jika kita menganggap RNA terbentuk secara kebetulan secara natural, bagaimana mungkin RNA yang hanya terdiri dari rantai nukleotida ini “memutuskan” untuk mereplikasi diri, dan mekanisme apa yang mungkin digunakannya untuk proses itu? Dari mana RNA mendapatkan nukleotida untuk replikasinya?

A:
Gan, yang menulis informasi yang terkandung dalam tiap unit dna sebuah individu itu bukan induk dengan mengkopi DNA??
Retorika ane kemudian akan agan sangkal dengan alasan kausalitas: trus yang nulis informasi di DNA pertama di planet atau bahkan alam semesta ini syapa??
Jawab:
Abiogenesis:

Prototip2 DNA pertama mungkin sangat primitif dan hanya berasal dari senyawa2 kimia yang membentuk serangkaian reaksi yang berkelanjutan. Informasi yang dimuat mulanya untuk mereproduksi struktur senyawa dan hanya didasarkan sifat dasar reaktif senyawa kimia tersebut.
Berbagai hal mulai dari kondisi reaksi yang beragam, persilangan reaksi dengan prototip2 lain atau baru, dan karena keacakan2 lainnya, menghasilkan varian-varian yang beragam.

Varian-varian yang kemudian saling bereaksi ini kemudian membentuk struktur reaksi yang lebih kompleks dan akhirnya (setelah minimal beberapa ratus juta tahun… poin penting neh!!) mulai membentuk apa yang kita kenal dengan DNA walaupun bentuknya tentu masih jauh lebih sederhana dari DNA kita ,yang umur perubahannya dari DNA pertama kurang lebih 3,5 Ga (miliar tahun)…

Bayangkan betapa kompleksnya suatu sistem peng-informasian (informasi yang dimaksud berupa struktur susunan/urutan reaksi kimia.. penting juga!) yang telah mengalami perubahan selama ratusan juta atau miliaran tahun.

S:
teori RNA word mengatakan yang lebih primitif dari DNA itu adalah RNA,
namun…
abiogenesis justru menyimpan tanda tanya besar dan paradox yang rumit.
untuk saat ini belum ditemukan hukum alam yang memungkinkan dapat menyusun RNA dan penyusunan kode2 itu secara natural.

silahkan baca sekilas artikel ini : http://www.usnews.com/science/articles/2009/05/13/how-rna-got-started-scientists-examine-the-origins-of-life.html

saya tulis lagi :

+ Semakin dekat para peneliti mengkaji konsep dunia RNA, semakin banyak masalah muncul. Bagaimana RNA muncul pertama kali secara alami? Di laboratorium, dalam kondisi terbaik sekalipun, RNA dan komponennya sangat sulit disintesis, apalagi dalam kondisi seadanya.?
+ Kode RNA dan DNA tidak berarti jika tidak diterjemahkan. Perangkat penerjemah modern sel-sel itu terdiri dari paling sedikit lima puluh komponen makromolekuler yang juga dikode dalam DNA: kode-kode ini tidak dapat diterjemahkan kecuali oleh hasil penerjemahannya sendiri. Ini sesuai dengan ungkapan omne vivum ex ovo (ayam atau telur yang lebih dulu). Kapan dan bagaimana lingkaran ini berujung? Ini sangat sulit untuk dibayangkan.
+ Jika kita menganggap RNA terbentuk secara kebetulan secara natural, bagaimana mungkin RNA yang hanya terdiri dari rantai nukleotida ini “memutuskan” untuk mereplikasi diri, dan mekanisme apa yang mungkin digunakannya untuk proses itu? Dari mana RNA mendapatkan nukleotida untuk replikasinya?

Kesimpulan :
kita disini ingin menunjukan eksisitensi Tuhan, adanya RNA dan DNA (cetak biru makhluk hidup) akan semakin menambah kemungkinan bahwa kehidupan ini tidak serta merta terjadi karena hukum alam dalam kondisi natural, karena ternyata awal mula makhluk hidup itu belum mampu dipecahkan bagaimana dapat terjadi secara natural. Dibutuhkan sesuatu yang berkecerdasan untuk membentuk RNA, DNA beserta informasi didalamnya. kita menyebut sesuatu itu dengan “Tuhan”.

A:
Kita bicara perubahan dalam jangka waktu ratusan juta bahkan miliaran tahun, jangan remehkan proporsi ini gan. Inilah kenapa informasi yang agan bilang itu seperti ada sesuatu yang memiliki kecerdasan yang menuliskannya. Kecerdasan itu ternyata adalah hukum alam itu sendiri, hukum alam yang intinya hanya hukum energi dan hukum peluang/keacakan.

Ini sekedar mematahkan argumen menggunakan “informasi yang ditulis dengan kecerdasan sesosok Tuhan”. Ga harus Tuhan gan…

S:
tepat sekali. Gak harus Tuhan!
maka setelah ada yang mematahkan ini, saya akan arahkan lagi kesesuatu pertanyaan penyebab yang lebih atas lagi hingga terus dan terus sampai akhirnya sampai pada sesuatu yg disebut dgn hukum alam. atau penyebab yang lebih tinggi dari hukum alam itu.
saya kurang mendalami fisika, namun saya pernah mendengar ada Bigbang yang menyebutkan bahwa alam semesta itu memiliki sebuah permulaan dari ketiadaan. Apakah sebenarnya hukum alam yang menyebabkan Bigbang ataukah Bigbang yang menyebabkan hukum alam?
atau keduanya diawali pada saat bersamaan?

Taruhlah diketahui hukum alam, maka masalahnya kita semua tidak mengetahui apakah hukum alam itu mempunyai penyebab yang mengawalinya yang kita kenal sebagai sosok maha ataukah hukum alam adalah akhir dari penyebab (hukum alam adalah causa prima).
namun berdasarkan argumen Tuhan adalah Causa Prima maka didapatlah :

+ Ingat: Tuhan adalah Causa Prima/Penyebab paling awal

+ Tuhan sosok yang Maha Cerdas dan berkehendak

+ Informasi itu ada karena hasil dari sesuatu yang memiliki kecerdasan. (didapat dari teori informasi)

+ Hukum alam ada dan merupakan bentuk dari Informasi

= Tuhan itu ada dan Tuhan penyebab hukum alam

A:
clear!
sejauh prima causa terbukti valid, lho.
saya tanya: mengapa segala sesuatu harus ada penyebab sementara prima causa tidak?


S:
Menurut Aristoteles, dengan asas berpikir prinsip “kausalitas”, yakni bahwa setiap akibat pasti memerlukan sebab, maka dapat kita lihat bahwa setiap sesuatu yang kita ketahui itu memerlukan sesuatu yang lain supaya dirinya bisa terwujud. Dari sini kita peroleh 2 hal;
1. Realitas yang bergantung pada sesuatu yang lain (disebut akibat),
2. Realitas yang digantungi oleh sesuatu yang lain (disebut sebab).
Bila ternyata realitas sebab itu memerlukan sesuatu yang lain juga, maka dapat dikatakan dia juga sebagai akibat bagi sesuatu yang digantungi itu…. dst.
Maka, kausalitas atau sebab-akibat ini pun membentuk suatu rantai sebab-akibat.
Nah, rantai sebab-akibat ini memiliki beberapa kemungkinan sbb:
1. Tidak berujung ( A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D disebabkan E, dst.— tak berujung)
2. Berujung pada sebab yang tidak lagi disebabkan (A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D disebabkan X, X tidak lagi disebabkan oleh apapun — berujung pada X sebagai sebab awal)
3. Berputar atau daur.(A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan A.)

Nah, kemungkinan ke-3 adalah mustahil. Mengapa? Karena berdasarkan kaidah “Setiap Sebab tentu lebih sempurna daripada akibatnya”, maka kemungkinan ketiga adalah mustahil adanya. Yakni mustahil C disebabkan oleh A, padahal A tidak lebih sempurna daripada C, sehingga tidaklah mungkin mengakibatkan C.

Beralih kepada kemungkinan ke-1, itupun mustahil. Mengapa? karena bila rantai sebab-akibat ini tidak berujung, artinya semua yang ada ialah akibat. Bila semuanya adalah akibat, bagaimana mungkin ia bisa terwujud..??
(Ibaratnya katakanlah ada 15 orang pelari yang tidak akan mulai berlari sebelum salah satu di antara mereka ada yang berlari terlebih dahulu. Maka, agar mereka sungguh-sungguh mulai berlari, harus ada setidaknya salah satu diantara mereka yang mau berlari tanpa syarat.)
Nah, bila kenyataannya kini akibat itu memang ada (dalam analogi tadi 15 orang pelari itu memang berlari) itu berarti memang ada Sebab awal yang tidak memerlukan sebab lain bagi keberadaannya (Alias Sebab Primer/ prima causa, dalam analogi tadi adalah pelari yang berlari tanpa syarat).

Maka, kemungkinan ke-2 lah yang benar.

Nah dengan demikian, keberadaan Sebab awal yang tidak lagi disebabkan itu terbukti kebenarannya.
Dan, dengan kaidah, setiap sebab pasti lebih sempurna daripada akibatnya, maka sebab awal ini pastilah yang paling sempurna dari segala yang ada, yang karenanya, dikatakanlah bahwa itulah yang disebut dengan “Tuhan”.
Demikian argumen Aristoteles…”

A:
Pada dasarnya argumen tadi berangkat dari pemahaman bahwa:
1. Segala sesuatu yang terjadi disebabkan oleh sesuatu yang lain… selayaknya B menyebabkan C dan B disebabkan oleh A.
2. Mereka bergerak dalam rangkaian sebab akibat dalam artian bahwa tanpa B tidak akan ada C dan tanpa A tidak akan ada B
3. Rangkaian sebab akibat itu bukanlah tanpa titik, sebaliknya, rantai itu memiliki titik awal dimana segalanya diawali, titik penyebab itulah yang kita sebut Prima Causa (T), The First Mover.

Kalo pingin digambar, kira-kira kayak gini:

(T)==>A==>B==>C==>Dst…
Atau ilustrasi sederhananya:
Saya mengambil batu>saya melempar batu ke kaca>kaca pecah
Tapi PROBLEMNYA, argument ini TIDAK MEMBERI RUANG BAGI TUHAN YANG BERPRIBADI, BERINISIATIF DAN BERKEHENDAK. Tuhan hanya akan jadi The FIRST MOVER, detonator, pemicu pertama….TUHAN YANG INAKTIF DAN PASIF.

Logikanya, dia hanya berkuasa atas SEBAB PERTAMA, tapi dia tidak berkuasa atas SEBAB KEDUA dan SETERUSNYA.

Pertanyaan saya:
Apakah Tuhan bisa mengubah B menjadi Y secara langsung? Jika saya melempar batu kearah kaca, dapatkah lemparan itu menyebabkan pintu di sebelah ruang terbuka? TIDAK BISA! Inilah konsekuensi dunia dalam kausalitas, dimana sebab akibat bekerja. Tidak ada ruang buat Tuhan yang Berpribadi dan Berinisiatif. Mau-tidak mau Tuhan harus mengubah A untuk mengubah B. Hingga satu-satunya cara yang mungkin adalah menjadi seperti ini:

(T)==>(A=)X==>Y==>Z

Coba lihat, disini berlaku hukum bahwa A menghasilkan B dan B sebagai turunan dari A menghasilkan C. Apakah Tuhan mampu memanipulasi ini?
Tidak bisa! Jawabnya, untuk mengubah B jadi Y kita tidak bisa main sulap dalam jagad kausalitas. Sebab dengan sendirinya keteraturan akan runtuh. Jika mendadak setelah A muncul Ymaka otomatis C tidak dapat muncul. Dan A sendiri kehilangan keterlanjutannya. Satu-satunya konsekuensi logis adalah untuk mengubah B jadi Y, kita harus mengubah A terlebih dahulu. Untuk membuka pintu, saya tidak perlu melempar batu tapi saya harus berjalan kearah pintu dan membukanya.

LIHAT DILEMANYA?
SEKARANG, KALO KITA DEFINISIKAN MAHA KUASA SEBAGAI PLAYING ABOVE THE RULES, BUKAN PLAYING BY THE RULES. ADAKAH TUHAN YANG MAHA KUASA KETIKA KEKUASAAN TUHAN DIBATASI OLEH HUKUM CIPTAANNYA SENDIRI?

Oke, sedikit tambahan untuk lebih jelas. Saya ambil satu contoh. Mukjizat!
Mukjizat adalah salah satu ciri khas dalam kisah keagamaan. Mukjizat adalah tema sentral yang menunjukkan Tuhan yang aktif. Turut ambil bagian dan berperan serta dalam pergulatan hidup hambanya. Tapi Argumen Prima Causa tidak memberi ruang bagi Tuhan yang bermukjizat. Kenapa?

Urutan logikanya seperti ini:
1. bahwa tuhan maha berkehendak
2. bahwa tuhan mahakuasa
3. maka tuhan bermukjizat
4. bahwa semesta adalah ada
5. terdapat pola dimana semesta bekerja secara teratur dalam suatu kausalitas
6. maka semesta didasarkan pada hukum dan keteraturan alam

Anggaplah kalau kita berandai-andai bahwa tuhan membuat salah satu rasulnya terbang seperti superman wussss….

Maka kita akan masuk kedalam alur logika kenapa mukjizat itu adalah tidak logis, karena:
1. TUHAN, kalau memang ada, tidak hanya menciptakan eksistensi ALAM SEMESTA, tapi juga MEKANISME yang menjalankannya

2. Mekanisme itu terdiri atas hukum alam (misal: gravitasi, orbit planet, manusia bernafas dengan oksigen, dll.)

3. Mekanisme itu membentuk satu rangkaian dari hukum-hukum alam yang saling bergantung dengan teratur satu sama lain dengan keseimbangan yang sempurna.

4. Mukjizat dapat kita maknai sebagai pelanggaran terhadap mekanisme. (mukjizat terbang berarti melanggar hukum gravitasi)

5. Pelanggaran terhadap hukum alam ini, sekecil apapun, dapat merusak keseluruhan mekanisme alam yang telah seimbang dan dapat menimbulkan efek tak terbayangkan (gaya gravitasi berpengaruh kuat terhadap peredaran orbit planet, jika gaya gravitasi diutak atik seenaknya hanya agar ada MUKJIZAT biar MANUSIA percaya, maka akan menimbulkan masalah besar)

6. Therefore, dari sudut logika, mukjizat itu TIDAK ADA

7. Kalau kita masih pingin berandai-andai untuk melakukan itu, maka tuhan harus memberi manusia sayap atau mengubah hokum alam itu sendiri, misalkan mengubah gravitasi jadi 0. ingat. Untuk mengubah B jadi Y, maka kita harus mengubah A terlebih dahulu.

Sekarang alur logika ini akan membawa kita ke misteri-misteri yang membingungkan:
DARI SUDUT MOTIF DAN TUJUAN, APA YANG INGIN TUHAN BUKTIKAN LEWAT MUKJIZAT DAN INTERVENSI ILAHINYA? AGAR MANUSIA PERCAYA?
SUNGGUH BODOHKAH TUHAN MELANGGAR MEKANISMENYA SENDIRI DAN MEMBAHAYAKAN KESELURUHAN KESEIMBANGAN SEMESTA HANYA AGAR MANUSIA PERCAYA?
Jadi akhirnya, kira-kira bandingkan saja seperti ini, TUHAN yang berusaha membuktikan dirinya TUHAN kepada manusia sama bodohnya dengan gw yang berusaha membuktikan kalo gw MANUSIA kepada ANJING gw sendiri.

INTI DARI SELURUH PROBLEMATIKA INI SEDERHANA:
TUHAN PRIMA CAUSA DALAM JAGAT KAUSALITAS ADALAH TUHAN YANG PASIF DAN INAKTIF, BUKAN TUHAN YANG PERSONAL, BERPRIBADI, BERINISIATIF DAN BERKEHENDAK.
APA BEDANYA TUHAN YANG PASIF DAN INAKTIF DENGAN TIADA TUHAN?
SELAMA KEBERADAAN TUHAN TAK DAPAT DIBUKTIKAN BAHWA ADA ATAU TIDAK ADA MAKA SATU-SATUNYA POSISI YANG DAPAT KITA AMBIL ADALAH PRADUGA TIADA (PRESUMPTION OF ATHEISM) yaitu,
JADI, SELAMA TIDAK ADA SATUPUN YANG DAPAT MEMBUKTIKAN BAHWA TUHAN TIDAK ADA DAN TIDAK PULA ADA SATUPUN YANG DAPAT MEMBUKTIKAN BAHWA TUHAN ADA, MAKA SATU-SATUNYA POSISI YANG DAPAT KITA AMBIL DAN MASUK AKAL ADALAH POSISI BAHWA TUHAN TIDAK ADA. HINGGA DIBUKTIKAN SEBALIKNYA.

S:
Coba lihat urutan logika yang agan tulis, Agan melupakan sesuatu, Tuhan maha kuasa.

pertanyaan agan, jika Tuhan hanya akan jadi The FIRST MOVER, detonator, pemicu pertama…. ADAKAH TUHAN YANG MAHA KUASA KETIKA KEKUASAAN TUHAN DIBATASI OLEH HUKUM CIPTAANNYA SENDIRI?

jawab:
+ tentu Tuhan berkuasa membuat suatu detonator dalam hukum baru yang lain. Hukum baru itu adalah pemicu suatu mukjizat itu.
+ tentu juga Tuhan mampu berkuasa menciptakan hukum baru yang tidak membuat keteraturan hukum yang lama atau mekanisme keseluruhan yang telah ada menjadi runtuh dan hancur keseimbangannya.

dalam hal ini misalnya hukum lama itu adalah gravitasi yang membuat seseorang tidak mampu terbang. Tuhan bisa saja menciptakan hukum baru yang bernama gravitanot (misalnya, gravitanot ini membuat kerutan ruang dan waktu alias gravitasi ini menjadi mengembang he..) dan akhirnya triing.. si nabi mampulah dia menjadi terbang. gravitanot seperti yang saya ceritakan diatas tentu tidak membutuhkan penyebab lain, penyebabnya adalah Tuhan, sang pemicu pertama itu/penyebab pertamanya. dan sekali lagi karena Tuhan Maha kuasa maka Dia berkuasa pula menciptakan hukum yang tidak merusak keseimbangan keseluruhan mekanisme yang sudah ada.

kalo digambar kira-kira seperti ini:
(T)==>A1==>B1==>C1==>Dst..

.

maka setelah dibuat hukum baru A2

(T)==>A2==>B2==>C2==>Dst…

jadinya (T) ==> /A1 ==> B1==> C1==> Dst…
A2 ==> B2==> C2==> Dst…

kalau pertanyaan agan diatas sudah terjawab, Maka semua problematika yang diatas jatuh dengan sendirinya…

A:
Baik, bagaiamana agan menjawab problematika ini?
ANTARA BAIK DAN JAHAT

Urutan logikanya seperti ini:
1. Bahwa tuhan adalah mahabaik
2. Bahwa tuhan adalah mahakuasa
3. Bahwa dunia terdapat derita dan sengsara

Bahwa tuhan mahabaik dan mahakuasa tidak perlu saya jelaskan. Sebab kalau tidak mahabaik dan mahakuasa tentu bukan tuhan. Sama seperti yang tidak berpikir dan bernafas tentu bukan manusia.

Tapi pertanyaannya, apa itu sengsara dan derita?
Pertama saya tidak memaknai sengsara dan derita sebagai ketiadaan dari bahagia dan sejahtera. Mungkin ada yang akan berkata: “Bung, darimana anda tahu anda bahagia kalau anda tak pernah menderita, darimana anda tahu anda susah kalau anda tak pernah senang.” Kita tidak perlu menjebak diri dalam dualitas itu.

Pertama, tentu ketika kita ngomong soal definisi kebahagiaan sebagai rush of emotions, kita bakal terjebak dalam konsep “kebahagiaan” dan “penderitaan” sebagai KONSEP YANG ABSTRAK. Kenapa? Karena pada hakikatnya manusia adalah mahluk berhasrat. dari titik ini kita dapat maknai bahwa kebahagiaan adalah ketika hasrat manusia terpenuhi dan penderitaan adalah ketika hasrat manusia tidak terpenuhi.

HASILNYA TENTULAH SUBYEKTIF SEKALI! Karena pada dasarnya hasrat semua orang berbeda. hasilnya apa yang kita maknai “kebahagiaan” dan “penderitaan” bakal menjadi sesuatu yang semu dan sangat personal. Kalo sudah begini bagaimana kita bisa membawa diskusi kita?

Dalam pemahaman saya (dan dalam argumen saya), “penderitaan” dan “kebahagiaan” adalah sesuatu yang obyektif. Bagaimana bisa? karena saya TIDAK MENGANGGAP “kebahagiaan” dan “penderitaan” HANYA SEKEDAR rush of emotions. saya melihat “kebahagiaan” dan “penderitaan” sebagai “WELLNESS OF BEING”. dalam artian “kebahagiaan” ada ketika terpenuhinya hakikat seseorang sebagai manusia, hakikat kemanusiaannya, secara obyektif, baik dalam artian fisik maupun mental, dan ketidak bahagiaan adalah ketika WELLNESS OF BEING itu tak terpenuhi.

Saya persingkat dengan analogi seperti ini: buat saya “Hidup susah dan tidak makan kenyang berhari-hari.” itu BUKAN PENDERITAAN!

PENDERITAAN ADALAH ketika seorang janin di aborsi sebelum dia sempat lahir. Hingga dia tidak pernah menjadi manusia. Bukan karena dia tidak punya kesempatan, tapi karena tidak diberi kesempatan. Sama seperti balita kecil di Darfur yang mengais-ngais bak sampah dan berebut makanan dengan segerombolan anjing hanya untuk hidup. Itulah PENDERITAAN. PENDERITAAN terjadi ketika seorang terjebak dalam keadaan dimana seluruh eksistensinya sebagai manusia turun hingga dia gagal menjadi manusia yang utuh. Keadaan yang tidak manusiawi dan mengingkari hakikatnya sebagai manusia.

Dititik ini kita akan masuk dalam dua kontradiksi:
Kontradiksi #1 tuhan adalah mahakuasa tapi dia tidak mahabaik, sebab dia tahu bahwa ada sengsara dan derita namun dia tak melakukan apapun untuk meniadakannya. Hingga derita dan sengsara tetap ada di dunia.
Kontradiksi #2 tuhan adalah mahabaik tapi dia tidak mahakuasa, sebab dia tahu bahwa ada derita dan sengsara dan berkehendak menghentikannya sebab dia mahabaik, namun dia tak mampu melakukan apa-apa sebab dia tidak mahakuasa. Hingga derita dan sengsara tetap ada di dunia.
Dua paradoks ini akan membawa kita pada satu paradoks puncak:

BAGAIMANA MUNGKIN TUHAN YANG MAHA SEMPURNA MENGADAKAN DUNIA YANG TAK SEMPURNA? BAGAIMANA MUNGKIN SESUATU YANG SEMPURNA MENGADAKAN SESUATU YANG CELA? BUKANKAH MENGADAKAN SESUATU YANG CELA ITU MELANGGAR HAKIKAT KESEMPURNAANNYA SENDIRI DAN MEMPERLIHATKAN BAHWA WALAU DENGAN ATRIBUT KEMAHA-SEMPURNAANNYA SEBENARNYA DIA TAK SEMPURNA??

S:
subjektif sekali… darimana agan tahu sengsara dan derita itu adalah hal yang cela?
ya walaupun misalnya agan mendefinisikan bahwa penderitaan itu ialah :
[copas] PENDERITAAN ADALAH ketika seorang janin di aborsi sebelum dia sempat lahir. Hingga dia tidak pernah menjadi manusia. Bukan karena dia tidak punya kesempatan, tapi karena tidak diberi kesempatan. Sama seperti balita kecil di Darfur yang mengais-ngais bak sampah dan berebut makanan dengan segerombolan anjing hanya untuk hidup. Itulah PENDERITAAN. PENDERITAAN terjadi ketika seorang terjebak dalam keadaan dimana seluruh eksistensinya sebagai manusia turun hingga dia gagal menjadi manusia yang utuh. Keadaan yang tidak manusiawi dan mengingkari hakikatnya sebagai manusia.[/copas]

apakah mungkin ternyata yang anda sebut penderitaan itu adalah hal yang terbaik untuk si janin?
apakah mungkin ternyata yang anda sebut penderitaan bagi balita kecil didarfur itu adalah hal yang terbaik untuknya?

sampai sini. tentu saja agan beranggapan seperti itu sesuai dengan akal dan pengetahuan agan. Subjektif terhadap pengertian dan penalaran agan yang TIDAK MAHA BAIK dan tidak menutup kemungkinan penalaran dan pengetahuan nya itu dalam hal ini sedang masuk ke lubang TIDAK BAIK, yang mengakibatkan tentu saja “SALAH”.

sekarang kita masuk ke pengertian bahwa
+ Tuhan itu maha baik
+ Agan tidak maha baik

karena Tuhan maha baik dan tidak seperti agan yang tidak maha baik tentu Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak baik sedikitpun, berbeda dengan agan yang sewaktu-waktu bisa dalam keadaan yang tidak baik.

= maka menarik suatu kesimpulan dalam menebak isi pikiran Tuhan yang maha baik akan menjadi salah apabila yang menarik kesimpulannya itu tidak bersifat maha baik pula.

A:
oke, mari fokus pada kata sifat “maha”
anda terima nggak kalo dikatakan tuhan maha kuasa dan maha pencipta?
kalo ya, kuasakah tuhan membuat sesuatu yang dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
jika jawabannya ya, maka tuhan tidak kuasa mengangkatnya.
jika jawabannya tidak, maka tuhan tidak maha pencipta.

S:
Hal seperti itu tidak mungkin terjadi, karena argumen diatas sudah menyalahi logika. sesuatu pernyataan (premis) yang menyalahi logika tentu akan mengakibatkan kesimpulan yang membuat kesalahan logika.
untuk membetulkannya yang harus dirubah tentu adalah premisnya.

Liat lagi Argumen Causa Prima lagi diatas,
ada kaidah seperti ini, saya paste lagi yang diatas. .
===== deleted ============
Dan, dengan kaidah, setiap sebab pasti lebih sempurna daripada akibatnya, maka sebab awal ini pastilah yang paling sempurna dari segala yang ada, yang karenanya, dikatakanlah bahwa itulah yang disebut dengan “Tuhan”.
=====deleted=============
Oke, sudah dapet logikanya gan?

perkataan agan yang mengatakan membuat sesuatu yang dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya sudah berarti melenceng dari prinsip kausalitas.

Tidak ada yang melebihi dari Tuhan. kecuali yang melebihinya itu adalah Tuhan.

A:
lho..melenceng di mana bos?
bukankah sebab (tuhan?) lebih sempurna dari akibat (sesuatu)?
kalau iya, haruslah tuhan sanggup membuat sesuatu tersebut kan?
.
.
.
.
next: anda terjebak paradoks.

*baca dengan teliti dikit lah mas.

S:
beginih gan…

misalnya deh:

premis 1 : Manusia bisa membaca
premis 2 : Ayam = Manusia << premis ini salah

kesimpulan yang didapat : Ayam bisa membaca << Noh jadi dapet kesimpulan yang salah.

supaya bernilai benar, maka premisnya harus dibuat benar juga.

premis 1 : Manusia bisa membaca
premis 2 : Ayam ==/== manusia << benar

kesimpulan ang didapat : Ayam tidak bisa membaca. << jadi benar kan?

*ket, P => Q tidak equivalen dengan ~P => ~Q. Namun dalam contoh ini yang saya tekankan adalah bagaiamana sebuah kesalahan premis membuat suatu kesalahan kesimpulan fakta walaupun tampaknya logika sudah benar.

Masalah agan adalah di premisnya, sedangkan kita dah mengetahui bahwa

“Dan, dengan kaidah, setiap sebab pasti lebih sempurna daripada akibatnya, maka sebab awal ini pastilah yang paling sempurna dari segala yang ada, yang karenanya, dikatakanlah bahwa itulah yang disebut dengan “Tuhan”.

sedangkan premis : dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya, berarti menyalahi aturan fakta prinsip diatas. (menyatakan tidak paling sempurna dari sesuatu)

A:
BEAUTIFUL!
anda orang pertama yg saya kenal yg sanggup melihat kejanggalan pertanyaan tsb.

next time kita akan jumpa lagi, khusus pada tema prima causa.
Congratulation!
* tolong diingat, ini bukan berarti saya akui eksistensi tuhan, lho. cuma sekedar mengakui bahwa pertanyaan tadi sebetulnya tidak bermakna sehingga sama sekali tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak.

S:
Thanks buat pujiannya.. haduh jadi malu..

Lain kali semoga akhirnya agan bisa tahu kalau ternyata Tuhan itu memang ada…

Iklan

13 thoughts on “Logika dan Bukti Tuhan itu ADA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s