Bunuh Seluruh Manusia Indonesia, Lalu Gantikan Dengan Manusia Yang Baru

Mungkin judul tulisan ini terkesan sarkastik, namun ini hanyalah sebuah lelucon didalam pikiran saya, yakni seorang mahasiswa bodoh yang kelak akan menjadi guru dan mencoba menjawab ruwetnya permasalahan yang melanda negara kita.

Perkuliahan SPK. Senin, 02 November 2009

“Hanya Masalah Budaya” Itulah kata-kata diluar tema perkuliahan yang masih melekat diingatan saya ketika mengikuti perkuliahan Sistem Pendukung Keputusan bapak Herbert Siregar. Dosen kami tersebut tampaknya tidak menyukai sikap kami sebagai mahasiswa yang terlihat kurang serius menyelesaikan tugas mata kuliah membuat suatu rancangan program Sistem Pendukung Keputusan yang ditujukan untuk membantu manajemen suatu restoran dalam menyediakan menu masakan dan stock bahan masakannya.

Ketika salah satu tumpukan kertas berisi tugas itu tidak disusun rapi dan dijepit dengan stapler karena alasan tidak ada yang mempunyai stapler (penjepit kertas) di kelas pada waktu itu, beliau berkata dengan lantang, “Lihat saya”. Sembari keluar dari ruangan dan tidak berselang lama, dalam waktu sekitar 1 menit beliau kembali memasuki ruangan kuliah dan menunjukkan lembaran-lembaran kertas tersebut yang sudah rapi terjepit stappler kepada kami. Padahal kita semua mengetahui, beliau tidak memiliki stapler. Beliau mendapatkan stapler itu dengan cara bertanya dan meminta kepada seluruh mahasiswa yang berada diluar kelas secara satu persatu.

Dengan wajah setengah tertunduk karena malu saya menyadari, bahwa betapa lemahnya mental saya selama ini yang begitu mudah menyerah dan banyak mengeluarkan alasan-alasan kreatif yang memang terdengar logis, padahal lebih tepatnya alasan itu didasari atas dasar rasa “malas”. Dan tidak hanya mahasiswa seperti kami, namun juga itulah mungkin potret sikap kebanyakan manusia bangsa ini, yakni selalu ingin memperoleh sesuatu secara instan, konsumtif, malu bertanya, malas berusaha dan malas berfikir mandiri.

Meskipun “hanya” masalah budaya, namun kata “hanya” tersebut tidak dapat diartikan sebagai sesuatu yang mudah untuk diperbaiki. Kebudayaan itu adalah suatu perpanjangan akibat kebiasaan-kebiasaan sekumpulan manusia yang telah berlaku di lingkungan, dan kebanyakan sangat sulit diperbaiki karena sudah menjadi simbiosis dan rantai yang saling mengikat dengan berbagai macam hal dan menciptakan pula suatu siklus yang disebut rantai setan/lingkaran setan.

Rantai setan adalah suatu hubungan sebab akibat yang sulit di cari jalan penyelesaiannya. Disini kita akan berpikir untuk mencari ujung rantai itu kemudian memutuskannya dan menggantikan ujung penyebab yang ternyata juga menular pada mata rantai yang lainnya sehingga tidak akan dapat dicari titik penyebabnya, dikarenakan kesemuanya saling berhubungan. Dengan kata lain apabila dikaitkan dengan permasalahan ini, “hanya” merubah budaya berarti harus merubah ke semua komponen yang mempengaruhi budaya itu- Memutuskan seluruh rantainya.

Ketika belajar dalam perkuliahan PLSBT, yang akhirnya saya memperoleh nilai C yang masih saya belum mengerti entah dari mana penilaian ini didapatkan. Mata Kuliah tersebut mengatakan bahwa Budaya itu muncul dari suatu kelompok. Jika kita jabarkan, maka akan diperoleh bahwa kelompok itu tercipta dari kumpulan beberapa individu. Individu saling berbeda satu sama lainnya, tergantung dari cara pandangnya masing-masing yang diakibatkan oleh faktor intern (faktor dari dalam inividu itu sendiri) dan eksternnya (faktor dari luar individu). Faktor ekstern ini berhubungan erat dengan budaya. Dan seterusnya yang apabila dicari titik permasalahan awalnya, akan sulit sekali dijabarkan karena kesemuanya saling berkaitan satu sama lain, (looping, perlu diingat budaya berasal dari suatu kelompok, maka kita menemukan kembali lagi ke pernyataan diatas) inilah rantai setan yang saya maksud.

Maka, pemecahan masalah budaya didalam bangsa ini adalah diperlukannya sinkronisasi (terjadi atau berlaku pd waktu yang sama; serentak) antara kesadaran seluruh kelompok (dalam hal ini seluruh masyarakat suatu bangsa) secara bersama-sama. Ungkapan menggelitik tentang persoalan ini yang pernah saya dengar adalah seperti judul dalam tulisan ini diatas “Bunuh seluruh manusia Indonesia terlebih dahulu, lalu gantikan dengan manusia-manusia yang baru”.

Credit ilustrasi: http://al-amien.ac.id/wp-content/uploads/2008/12/menjadi-indonesia.jpg

Iklan

2 thoughts on “Bunuh Seluruh Manusia Indonesia, Lalu Gantikan Dengan Manusia Yang Baru

    • hhe2.. 😀
      tapi spertinya membentuk negara baru, tidak dapat merubah keadaan menjadi lebih baik, malah mungkin menjadi lebih kacau. Permasalahannya ada di sumber dayanya terutama SDMnya. Kalau SDM nya tidak berubah, lingkungan, budayanya juga itu2 saja..

      Salam kenal mas Nafis.. 🙂

      Suka

Komentar ditutup.