Kesederhanaan Itu Rumit

Aku sadari, kesederhanaan selalu membuat sebuah kerumitan, seperti kesederhanaan dirimu yang membuat rumitnya gejolak perasaan untuk selalu mengagumimu. Seperti itulah hidup. Dan aku mendapati diri menjadi seorang yang percaya akan adanya Tuhan dan akhirat namun skeptis terhadap agama, agnostik yang sedang kebingungan mencari cahaya petunjuk dari ajaran yang namanya tertulis di KTP mayoritas orang Indonesia.

Aku lakukan setiap perintah ajaran itu bukan karena rasa takut terhadap neraka, walaupun sebenarnya aku takut. Karena neraka itu panas membakar, dan panas atau kalor adalah pergerakan  partikel-partikel yang begitu cepat, saling menumbuk, serta acak. Partikel itu tentu tidak merasakan panas karena mereka yang bergerak untuk menghasilkan panas. Panas itu lemah karena memiliki pengecualian- tidak berlaku bagi partikel ataupun benda seukuran partikel. Kendatipun begitu tubuh manusia yang terdiri dari sangat banyak partikel dan berukuran sangat besar dibanding partikel itu sangat lemah dan hancur apabila terbakar. Pada akhirnya, manusia akan tunduk pada ketentuan Tuhan sang penguasa neraka.

Tunduk kepada ketakutan itu jauh dari keindahan, biarlah ketundukan kepada Tuhan muncul secara alami karena keindahan untuk memujinya. Keindahan untuk mesyukuri setiap penciptaan yang terdapat dalam setiap bagian kita. Bagian kita yang hanya terdiri secara kasar didunia dari 4 macam gaya. Yang mungkin lebih tepat disebut sepasang jenis saja, yakni tarik-menarik.

Dan sial telah melanda pikiran dan jiwaku. Karena ketakutan itu semakin merayap kedalam aliran darah. Menyebar seirama detakan jantung. Selama aku masih hidup, selama jantungku masih berdetak, mungkin selama itu pula tetap menyebar. Ketakutan itu adalah ketakutan tentang sesuatu yang memaksa aku untuk selalu menjadi bagian dirimu. Selalu memaksa, dan tarikannya begitu kuat.

13 September 2009

Yoga Permana Wijaya

credit ilustrasi : http://www.ubergizmo.com/photos/2007/1/puzzle-alarm-clock.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s