Bunuh Diri Suatu Budaya, Budaya Yang Membunuh Budayanya Sendiri

Apabila anda orang Sunda mungkin telinga anda sudah tidak asing lagi mendengar pernyataan-pernyataan tidak rasional seperti “eh maneh, tong diuk di lawang panto, bisi nongtot jodo” artinya “ hai kamu, jangan duduk di gerbang pintu, nanti susah dapet jodoh” (NB: saya bingung mentranslate kata “nongtot” ke bahasa Indonesia). Atau mungkin anda tahu tentang legenda gunung Tangkuban Parahu yang menurut cerita budaya katanya tercipta karena sebuah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang yang sakti dan akhirnya berubah menjadi gunung. Dan juga mungkin anda sudah sering mendengar beberapa kepercayaan dan mitos yang beredar di masyarakat kita (Indonesia).

Kisah-kisah, mitos dan segala sesuatu yang berbau takhayul itu kita dapatkan secara narasi dari mulut-kemulut. Narasi adalah budaya yang diturunkan leluhur kepada kita bangsa Indonesia ini, dan kita semua tahu, narasi lebih membudaya di Indonesia daripada budaya menulis. Tidak terlalu menjadi masalah bagi saya jika bangsa ini begitu kental dengan budaya narasi itu, kendatipun memiliki kelemahan dalam hal reliabilitas dan validitas suatu informasi yang disampaikan dari mulut kemulut tersebut. Namun yang menjadi permasalahan bagi saya adalah dusta dibalik semua itu. Ya, saya tidak salah menulis, maksud saya memang ingin mengatakan kita semua lahir di tanah yang menyimpan budaya “dusta”. Sungguh, Bangsa ini terlalu banyak berdusta.

Dusta adalah salah satu budaya kita. Saya pernah membaca kisah tentang asal-usul nenek moyang Suku di Indonesia yang menceritakan bahwa mereka berasal dari keturunan seorang wanita  dipenuhi bulu yang tercipta dari sebatang bambu. Entah benar atau tidak kisah ini, yang pasti keadaan real atau keadaan yang sebenarnya sangat tidak mendukung kisah tersebut. Dengan kata lain kisah itu mengandung unsur dusta karena tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Berlaku dan bertahannya sebuah mitos seperti di atas mungkin bukan disebabkan ”ketaksadaran kolektif” manusia, sebagaimana dikatakan CG Jung. Namun, sebaliknya, diciptakan dengan penuh sadar. Karena mitologi adalah gelanggang yang paling baik bagi proses penguasaan narasi, sekaligus counter narasi atas kenyataan yang sebenarnya. (Riki Dhamparan, 2009).

Dengan demikian, narasi mitos itu adalah suatu bentuk pengelabuan fakta, yakni suatu dusta yang dikekalkan. Dusta yang telah berlangsung berabad-abad tentu akan membuat sebuah kebenaran publik. Orang sudah mengaggap hal-hal seperti mitos adalah sesuatu yang dipercayai, walau kadang tidak terlalu dianggap sebagai sebuah fakta. Hal ini dapat ditandai dengan lemahnya daya apresiasi (kritis) publik terhadap mitos yang beredar di lingkungan kita.

Sebagai salah satu pelaku didalamnya saya tidak sepenuhnya dapat menyadari adanya dusta dibalik semua itu. Karena saya merasa ragu akan kenyataan di lingkungan tentang kebenaran suatu mitos yang dipercaya oleh masyarakat disekitar. Kebingungan ini akhirnya akan terakumulasi menjadi kebingungan publik suatu suku, membuat suatu suku itu berkembang menjadi masyarakat yang rendah diri yang bahkan tidak percaya terhadap kisah asal-usul nenek moyangnya sendiri. Hal ini memuncak kepada ketidakmampuan mempertahankan budaya dan sangat mudah ditelan oleh budaya baru. Sungguh dengan sangat mudahnya kita menjadi melupakan sebuah pencapaian budaya yang sebenarnya pernah kita capai. Akibatnya suatu bangsa yang kehilangan budayanya maka akan juga kehilangan jati dirinya dimata bangsa lain. Maka wajar saja jika terlahirlah suatu sikap dari bangsa lain yang merendahkan dan  tidak menghormati bangsa kita tercinta ini.

Lihatlah disekitar anda, bagaimana perilaku anak-anak muda yang dengan rasa bangga dan mengatas namakan “gaul” telah sedikit demi sedikit menghapus budayanya, tanpa menyadari bahwa dirinya sebenarnya telah kehilangan jati diri. Kita bisa membayangkan,  kemanakah sebuah bangsa seperti ini menggapai masa depannya. Tragis, sungguh tragis.. karena anda, juga saya, ada didalamnya.

Jumat, 06 November 2009
Yoga Permana Wijaya

Referensi :
Riki Dhamparan.Invasi Budaya dalam Mitologi Etnik. Koran kompas edisi sabtu, 31 Oktober 2009

Credit ilustrasi :

4 thoughts on “Bunuh Diri Suatu Budaya, Budaya Yang Membunuh Budayanya Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s