Pengalaman KKN bagian 2: Cewek Taman Junghun

Oh saya lupa ini seharusnya ditulis di bagian 1, sebab kejadian ini lebih awal daripada kejadian yang naik delman yakni tanggalnya saya lupa lagi dan mungkin kejadiannya memang tidak lebih awal daripada kejadian yang naik delman. Maka Kejadian ini saya tulis di bagian 2 nya, yakni bertemu dengan seorang wanita. Sebut saja dia itu wanita, karena saya yakin dia itu berjenis kelamin wanita meskipun saya tidak melihat langsung jenis kelaminnya (Ups.. bcanda denk).

Entah pagi atau sore hari ya, saya lupa lagi kapan. Yang pasti keadaan langit Lembang saat itu adalah cerah. Tidak ada tanda-tanda akan hujan. Dan sebenarnya didalam hati saya teringat bait-bait syair lagunya Melly Goeslaw “Bagaikan langit di sore hari, berwarna biru secerah hatimu..”. Ya walaupun pada kenyataanya saya tidak tahu siapa itu “mu” pada kata “hatimu” dan entah “sore hari” ataukah pagi hari kejadiannya itu, saya lupa lagi.

Kami berempat, saya sendiri sebagai tokoh utama dan Wina, Winda serta Indi yang menjadi tokoh figuran. Selain itu ada juga syetan serta masing-masing dua orang malaikat yang menyertai kami perorang dan selalu menemani kemanapun berada, tokoh-tokoh ini jarang disebut dan diingat. Seharusnya kita harus senantiasa mengingatnya agar waspada, semoga Allah selalu memberikan  perlindunganNya kepada kami dari godaan syetan yang terkutuk, dan semoga Allah mengampuni dosa yang telah kami dan belum sempat kami perbuat. Amin.

Kami berempat menuju Junghun, suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Junghun itu adalah sebuah taman, dimana pepohonan besar dan beberapa rumput, serta tugu yang lebih mirip kuburan berada disana. Saya tidak tahu kalau disana juga akan ada seorang wanita yang melintas. Entah itu wanita dari kaum manusia ataupun dari kaum jadi-jadian sebangsa… Ah saya jadi merinding, yang pasti titik-titik setelah kata sebangsa itu bukan “dan setanah air”. Beruntung kami tidak bertemu dengan penampakan, yang nampak dimata saya ketika itu hanya Wina, Winda dan Indi. Tentu saja bukan penampakan yang menyeramkan. Walaupun sebenarnya didalam hati saya menganggap ketika marah wajah mereka sangat menyeramkan, terutama wajah ibu ketu. Tentu saja ini rahasia, maka saya tidak mengatakan hal yang sejujurnya sebab saya takut Wina sang ibu ketu marah dan menyeramkan apabila saya berkata jujur.

Narsis didalam diri kami berempat tampaknya menjadi-jadi. Kami semua berfoto-foto ditempat itu. Dan saya sangat tidak tahu malu, sebab saya sebenarnya belum mandi. Saya beruntung lagi, karena saya menjadi lelaki yang paling ganteng disitu, sebab saya adalah satu-satunya lelaki disitu. Dan kita semua tahu Winda itu bukan seorang lelaki, sayalah yang seorang lelaki.

Dan akhirnya tibalah moment yang sebenarnya tidak dinanti-nantikan. Momentum itu dalam fisika adalah hasil massa dikali kecepatan. Tapi bukan itu yang saya maksud, saya disini membicarakan moment, yakni luapan emosi dikali waktu, atau dalam hal ini seorang wanita yang melewat dan saya cegat tanpa tahu malu. Kami memintanya untuk men-take foto kami berempat, dan puncaknya saya memintanya berfoto berdua. Dan anehnya dia itu mau saja, padahal didalam hati saya juga mau saja kalau di foto berdua. Aneh sekali. Dan sekali lagi aneh sekali lagi aneh sekali lagi. Dan sekali lagi aneh sekali. Maaf kata-kata sebelumnya itu saya terlalu banyak mengetik, tapi biarlah saya malas untuk medeletenya.

Dan semua itu berlalu begitu cepat, saya sama sekali tidak berminat untuk meminta no HP nya, karena yang saya ingin adalah hatinya. Jadi untuk apa meminta no HP wanita itu, saya tidak memerlukannya, sekali lagi yang saya inginkan adalah hatinya. Kesempatan itu tidak muncul dua kali, tetapi muncul beberapa kali. Hanya saja tidak akan muncul kesempatan yang sama untuk kedua kali, ke tiga kali, keempat dan berulang kali. Dan mungkin saya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dia kembali. Peluang munculnya kejadian untuk tidak bertemu dia kembali adalah 99,99 % dan peluang tidak memperoleh hatinya lebih besar lagi dari itu. Oh saya mendapati diri ini tetap menjadi seorang jomblo. Shit!

Bersambung ke bagian ke [3]…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s